IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Mengulas Nilai-nilai Ritual Penjaroan Rajab di Masjid Saka Tunggal Banyumas

Senin 19 November 2018 5:0 WIB
Mengulas Nilai-nilai Ritual Penjaroan Rajab di Masjid Saka Tunggal Banyumas
Gerbang Masjid Saka Tunggal (banyumasku.com)
Pada Jurnal Dialog Vol. 41, No.1, Juni 2018, dimuat tulisan Novitasiswayanti berjudul Penjaroan Rajab di Masjid Sakatunggal. Tulisan hasil penelitian peneliti Balitbang Diklat Kemenag ini menyebutkan Penjaroan Rajab berarti penggantian pagar pada kompleks pemakaman di Masjid Saka Tunggal, sebagai rangkaian dari upacara keagamaan yang terdiri dari ziarah kubur, haul Kiai Mustolih, selametan, pengajian dan gelar budaya. 

Penjaroan Rajab sebagai ritual oleh masyarakat Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, setiap tahun tanggal 26 Rajab bertepatan dengan haul Kiai Mustholih. Kiai Mustolih dipercaya sebagai tokoh penyebar Islam di Desa Cikakak pada abad 17 Masehi. Ia adalah keturunan Sunan Panggung, salah seorang murid Syeh Siti Jenar.Ia mendirikan masjid yang memiliki keunikan tersendiri dengan tiang utama tunggal sehingga masjid tersebut dinamai Masjid Saka Tunggal. 

Selain masyarakat setempat, Penjaroan Rajab diikuti keturunan dan murid Kiai Mustholih serta utusan dari keturunan kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat pada khususnya. Pihak Keraton Surakarta Hadiningrat mengaitkan hubungan kekerabatan Kiai Mustholih masuk silsilah Kraton Surakarta. Hal ini dikarenakan Kali Pakis yang mengalir di depan makam kramat Kiai Mustholih merupakan jejak Kraton Suarakarta. Padahal menurut KRH Palilo Diningrat (Kasepuhan Adat Paguyuban Keluarga Mataram) Kiai Mustholih berasal dari Mataram Kuno yang bernama Cakra Buana. Ritual ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat, aparat pemerintah desa dan kecamatan setempat, serta dinas kabupaten yang terkait. (Subagyo, 2013).

Ritual Penjaroan Rajab dilaksanakan secara bergotong royong dan bekerja sama baik itu kaum laki-laki maupun perempuan. Kaum perempuan tidak ikut serta dalam penggantian dan pemasangan pagar, tetapi mempersiapkan bahan makanan dan aneka konsumsi hidangan untuk kenduri slametan yang lokasinya berada di halaman Masjid Saka Tunggal dan rumah juru kunci. 

Tahapan Ritual 

Pada ritual tersebut, dilaksanakan sejumlah kegiatan atau tahapan. Pertama adalah pada jam enam pagi setelah Subuh. Kaum laki-laki berduyun-duyun datang ke Masjid Saka Tunggal dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah ladang, hutan, dan semak-semak. Mereka dengan suka rela membawa batang bambu yang akan digunakan untuk membuat pagar. Bambu itu diambil di sekitar pekarangan rumah mereka.

Kemudian jam sembilan pagi pekerjaan penggantian pagar dimulai dan dipimpin langsung oleh keturunan Kiai Mustholih yaitu Bambang Jauhari yang menjadi juru kunci makam Kiai Mustholih dan Sopani juru kunci Masjid Saka Tunggal.

Secara bergotong royong warga berbagi tugas terhadap bambu-bambu yang dibawanya untuk mengerjakan penggantian dan pemasangan pagar yang mengelilingi pemakaman. Ada yang memotong dan membelahnya dengan ukuran satu meter, ada yang mencucinya di sungai pintu masuk makam agar bersih dan terbebas dari kotoran, dan ada yang mengganti bambu lama dan memasangnya dengan bambu yang baru.

Selama melakukan penjarohan, warga dilarang berbicara dengan suara keras, serta tidak boleh mengenakan alas kaki. Sehingga, saat penggantian dan pemasangan pagar bambu di pemakaman, tidak terdengar suara warga. Yang muncul hanya suara dari pagar bambu yang dipukul oleh warga. Dengan bekerjasama saling tolong-menolong dan bahumembahu dalam suasana hening tanpa suara, penggantian dan pemasangan pagar di komplek pemakaman selesai dikerjakan dalam jangka waktu dua jam.

Ziarah Kubur

Setelah pelaksanaan penggantian dan pemasangan pagar bambu di kompleks pemakaman selesai, kaum laki-laki membersihkan dan menyucikan badan mereka di kali yang berada di halaman pemakaman untuk kemudian melakukan ziarah makam. Sebelum memasuki areal makam para warga melepaskan alas kaki dan melakukan persembahan dan sungkem kepada leluhur. Mereka menabur bunga dan membaca doa di makam para leluhur sebagai bentuk pengormatan kepada leluhur.

Rangkaian upacara penjaroan selanjutnya adalah kenduren atau slametan dalam bentuk upacara makan bersama. Slametan merupakan unsur terpenting dari ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa. Slametan diadakan untuk memelihara rasa solidaritas di antara peserta ritual keagamaan sekaligus dalam rangka menjaga hubungan baik dengan arwah leluhur.

Upacara slametan pada Penjaroan Rajab ini dimaksudkan agar dapat menciptakan suasana damai, rukun dan tenteram di antara peserta ritual penjaroan dan bebas dari rasa permusuhan dan prasangka terhadap orang lain. Selain itu ritual ini juga diyakini dapat menghilangkan berbagai sifat jahat dan tidak baik yang terdapat pada diri pribadi tiap orang. Upacara slametan bersifat keramat di mana orang-orang yang hadir dalam acara tersebut merasakan getaran emosi keramat penuh kekhusyukan dalam suasana penuh khidmat mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan terlepas dari insiden-insiden ataupun malapetaka yang tidak dikehendaki.

Pada ritual slametan disajikan gunungan tumpeng dan hasil bumi yang diusung dengan tandu mengelilingi kompleks Masjid Saka Tunggal. Gunungan terdiri dari dua tumpeng setinggi setengah meter, jajanan pasar, buah-buahan dan sayur-sayuran. Setelah dibacakan doa gunungan tersebut diarak-arak seperti kirab mengelilingi kompleks Masjid Saka Tunggal. Di titik akhir halaman masjid, warga memperebutkan isi gunungan. Warga meyakini apabila memperoleh salah satu isi dari gunungan tersebut dan dikonsumsi oleh mereka, maka akan memperoleh berkah berupa rezeki yang banyak. Sedangkan jika isi gunungan itu disebarkan di sawah pertanian, perkebunan atau pekarangan rumah, maka akan dapat memberikan kesuburan dan kesejahteraan, (Rohimah: 2013).

Beragam jenis makanan yang terdapat pada gunungan memiliki simbol dan makna tersendiri dalam tradisi Jawa. Tumpeng melambangkan sebuah pengharapan kepada Tuhan agar permohonan terkabul. Ingkung (ayam yang dimasak utuh) melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan. Pisang raja lambang pengharapan supaya kelak hidup bahagia. Jajan pasar simbol harapan berkah dari Tuhan; ketan, kolak, dan apem merupakan satu kesatuan yang bermakna permohonan ampun jika melakukan kesalahan. Kemenyan merupakan sarana permohonan pada waktu berdoa; dan bunga melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati tulus.

Beraneka 'bawaan' ini merupakan unsur sesaji sebagai dasar landasan doa. Setelah berdoa, makanan-makanan tersebut menjadi rebutan para peziarah yang hadir. Inilah arti kebersamaan dalam penjarohan. Di dalam penjarohan juga terdapat inti budaya Jawa, yaitu harmoni atau keselarasan, (w. Suegito: 2013).

Pengajian
Setelah Magrib, ritual penjarohan ditutup dengan serangkaian prosesi pengajian dan sarasehan budaya yang menghadirkan penceramah yang didatangkan dari luar Desa Cikakak. Dalam tradisi keagamaan Jawa kekinian prosesi pengajian disebut juga mujahadah yang mengacu pada ‘disiplin asketis dan perjuangan di jalan sufi.’ Inti mujahadah adalah pembacaan tahlil dan surat-surat pendek Al-Qur ’an, barjanjen, yasinan, ceramah agama dan pembacaan doa, (Pranowo, 2011:141).

Pengajian dilaksanakan di Masjid Saka Tunggal dan dipimpin oleh seorang modin yang berperan sebagai pemimpin acara pengajian. Modin adalah pejabat agama tingkat desa bisa saja seorang ulama atau keturuan Mbah Tolih. Sebagai tuan rumah juru kunci Makam Mbah Mustholih memberikan sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan bambu, makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya.

Setelah itu, modin maju untuk memimpin zikir tahlilan dan yasinan. Kemudian menutupnya dengan doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga doa keselamatan, agar Tuhan senantiasa memberkahi hidup mereka dengan kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Acara inti pengajian adalah ceramah agama dan pertunjukan seni tradisional yang menampilkan genjring Banyumasan yaitu pembacaan shalawatan barzanji yang diirimgi dengan tabuhan rebana, (w. Puwoko: 2013).

Nilai-nilai yang Terkandung

Pada ritual Penjaroan Rajab, terkandung nilai-nilai. Pertama, nilai keikhlasan. Ikhlas dalam bekerja berarti tidak melihat pada besar-kecilnya hasil yang harus dicapai, tetapi lebih mementingkan apa yang harus dikerjakan (sepi ing pamrih, rame ing gawe). Mereka selalu bersikap menerima apa pun yang telah diberikan Tuhan (nrimo ing pangdum). Sebuah keyakinan bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima dan terus berusaha dan berdoa, (Herusatoto, 2000:72).

Keikhlasan warga dalam penjaroan tampak terlihat dari kesediaan dan kesukarelaan mereka untuk ikut serta dalam ritual itu dengan tanpa mengharap pamrih atau balas. Mereka rela mengumpulkan bambu-bambu dari hutan dan dibawanya ke Masjid Saka Tunggal dengan berjalan kaki. Kemudian bambu-bambu tersebut dipasang dijadikan pagar yang mengelilingi pemakaman. Selain itu kaum perempuannya ikhlas memasak dan menyediakan makanan untuk kenduren atau slametan yang nantinya akan dinikmati bersama-sama sebagai perwujudan solidaritas dan kebersamaan, (w. Tohari: 2013).

Kedua, nilai kerukunan. Etika Jawa berpegang teguh pada filsafat budaya damai rukun agawe santosa (kerukunan akan menyebabkan seseorang kuat dan sentosa). Kerukunan hidup terjadi karena masing-masing saling menghormati, saling mengasihi, sopan santun, dan saling menghargai satu sama lain. (Endraswara, 2003: 38-39) Hubungan antarsesama seluruh ingin menjaga ketentraman, hayuning bawana) (Suseno, 1984: 39). Nilaikerukunan identik dengan kaidah dasar etika Jawa yang berada dalam keadaan selaras, tenang, dan tentram tanpa perselisihan dan pertentangan. (w. Bambang 2013).

Dalam ritual penjaroan nilai kerukunan tampak terlihat adanya sikap dan perilaku warga yang saling lung tinulung; tolong-menolong untuk melakukan pekerjaan penggantian pagar bambu secara bergotong-royong dan bersama-sama. Mereka ber-tepo seliro saling mengontrol diri dan menjaga hubungan baik antarsatu dengan lainnya, saling menghormati dan menghindari terjadinya persinggungan maupun pertengkaran antarteman.

Berikutnya, nilai keberagamaan (religiusitas). Enkulturasi budaya Jawa yang animistis magis dengan unsur budaya Islam yang monotheistis telah melahirkan Jawa Sinkretis. Nilai budaya yang religius magis ikut memberikan arah pembentukan sistem budaya, sistem sosial dan hasil kebudayaan fisik ynag bercorak Islam Jawa. (Amin, 2002: 279-281). Dalam ritual penjaroan religiusitas yang telah tertanam dan menjadi adat-istiadat sebagai warisan leluhur budaya Jawa berakulturasi dengan nilai-nilai keislaman yang berperan dalam pengemasan isi dari ritual keagamaan Jawa.

Ritual penjarohan sebagai refleksi ziarah kubur persembahan kepada arwah leluhur menjadi sarana untuk mendoakan agar arwah leluhur tentram dan diampuni Allah. Slametan merefleksikan solidaritas kerukunan antarsesama diberi warna keislaman dengan adanya kajian keislaman, pembacaan tahlilan dan yasinan serta doa. Sesajen yang semula berupa daging mentah diganti dengan makanan hasil bumi atau pertanian dan peternakan yang sudah dimasak kemudian dimakan bersama sebagai perwujudan syukur kepada Allah. Dalam ritual Penjaroan Rajab tampak identitas kepribadian bangsa sekaligus elemen perekat lintas warga serta lintas agama dan kepercayaan yang dapat memberikan warna kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Cikakak.

Keempat, nilai kebangsaan dan nasionalisme. Dalam konteks sosial dan budaya, ritual penjarohan dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. (Priyadi, 2011: 23). Dalam prosesi ritual atau tradisi penjarohan warga  berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai. Penjaroan menjadi ajang untuk bersilaturahmi berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. (w. Sugeng Priyadi: 2013).

Apabila penjarohan ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun dan tenteram. (Kendi Setiawan)

Senin 19 November 2018 1:0 WIB
Mengulas Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul
Mengulas Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul
Jalan di Kecamatan Panggang (kabarhandayani.com)
Salah satu hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag yang kemudian dimuat dalam Jurnal Harmoni edisi Januari-April 2016 adalah Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Akmal Salim Ruhana, peneliti pada Balitbang Diklat Kemenag mengutarakan bahwa relasi tersebut terjadi karena adanya ‘sabuk’ relasi Muslim-Buddhis di Panggang.

Akmal menyebutkan jika upaya modal sosial berfokus pada penguatan soliditas internal untuk mempertahanan eksistensi kelompok, social bridging lebih melintas batas identitas kelompok untuk pemerkuatan kehidupan bersama. Dalam konteks relasi mayoritas Muslim dan minoritas Buddha di Panggang, jaring-jaring yang menguatkan ikatan antarwarga berbeda identitas tampak nyata. Dalam civic engagement sebagaimana dibagi dua oleh Ashutosh Varshney, asosiasional dan quotidian, temuan lapangan penelitian ini mengonfirmasi teori tersebut.

Secara asosiasional, relasi antara Muslim-Buddhis terjalin dengan adanya sejumlah forum bersama yang merekatkan relasi antarwarga (baca: antarumat). Forum-forum tersebut seperti arisan warga sepuluhan, arisan RW/dukuh, organisasi pemelihara kambing oleh kaum pria, dan tim bola voli di setiap RT yang berlomba antar-RT setiap 17-an.

Adapun secara quotidian yang terjadi adalah adanya budaya saling kunjung saat kenduren reroyo (Idul Fitri), makan bersama dalam acara kenduren ruwahan atau sedekah bumi, saling partisipasi saat hari besar keagamaan, saling mengunjungi, budaya sambatan jika ada tetangga yang membangun rumah, serta gotong royong warga membangun fasilitas publik.

Dari pengamatan dan live in di lokasi, ikatan quotidian tampak lebih kuat dibanding asosiasional. Pergaulan sehari-hari antarwarga berbeda agama tampak lebih menonjol mendekatkan, dibanding forum-forum, yang bahkan tak ada forum lintas agama di sini. Hal ini cocok atau mengonfirmasi pendapat Varshney, bahwa dalam kategori masyarakat perdesaan kerja sama sehari-hari (quotidian) lebih menonjol dibanding kerja sama asosiasional. Berbanding terbalik kondisinya dengan di perkotaan. 

Last but not least, yang menguatkan kerukunan di daerah ini adalah adanya nilai-nilai budaya Jawa yang dipertahankan. Meski beragama Islam ataupun Buddha, masyarakat masih melakukan acara kenduren ruwahan, sedekah bumi, dan lainnya secara bersama-sama. Bahkan, ada mekanisme kontrol, jika ada yang tidak ikut akan ditegur oleh kawan lainnya atau bahkan dihukum
sosial, dikucilkan.

Mengapa Mau Berrelasi-Harmonis?

Dari hal itu, tampak bahwa terbangun relasi antara umat Buddha dan Islam di Girikarto, Panggang, Gunung Kidul. Merujuk pada konsep 'relasi' sebagaimana didefinisikan Koentjaraningrat, maka di antara kedua umat yang notabene mayoritas dan minoritas itu telah melakukan interaksi dan bentuk-bentuk aksi-reaksi dalam bermasyarakat. Relasi antarumat tercipta lebih karena adanya kebutuhan bersama untuk hidup bersama, guyub, rukun, saling menolong.

Selain itu, masyarakat juga telah menyejarah mengalami pluralitas agama dan toleransi. Hal ini misalnya tersirat dari pernyataan Mur, pemuka agama Buddha, "Kalau masalah kerukunan di sini itu gak ada bandingnya, Mas, dibanding kalau lain kecamatan. Lain kecamatan kan kadangkala itu ada bentrok. Kalau di sini gak ada [kenapa?] ya karena... ya meskipun lain agama kepercayaan orang sini kan satu jalan, Tuhan, sama, Tuhannya sama. Yang bedanya ya pada waktu kita ibadah, atau kalau kita berdoa di wihara, kalau Islam di masjid. Lain tempatnya tapi kan tujuannya sama, Tuhan." (Wawancara 24 Mei 2015)

Modal sosial dalam agama Islam dan Buddha tentang budaya damai cukup tersedia. Namun, modal sosial berupa budaya bersama juga sangat menonjol. Bahwa meskipun beragama berbeda, masyarakat sangat menjunjung budaya Jawa/Kejawen, dengan mengatakan “karena itu sudah kebiasaan orang tua kami.” ‘Sabuk budaya’ ini bahkan melampaui keberbedaan identitas agama dan lainnya.

Dalam membangun relasi antarumat beragama, umat Islam dan Buddha di Panggang melandaskan pada kebutuhan bersama untuk guyub, hidup rukun. Selain ada landasan perintah teologis untuk hidup bersama dalam damai, masing-masing umat agama terikat kuat dalam 'sabuk budaya' leluhur Jawa, yang bahkan di atas ikatan keagamaan.

Dengan adanya relasi bersifat social bridging, yakni dalam lingkup asosiasional dan quotidian di atas, kedua kelompok umat beragama dapat hidup bersama dalam damai. Social bonding yang dilakukan masing-masing kelompok agama tidak mendorong pada eksklusivisme kelompok, melainkan sebentuk pemerkuatan eksistensi untuk mendukung tujuan bersama yang dicita-citakan. (Kendi Setiawan)

Jumat 16 November 2018 21:0 WIB
Peneliti Puslitbang Bimas Agama Dalami Penyusunan Policy Brief
Peneliti Puslitbang Bimas Agama Dalami Penyusunan Policy Brief
Pada tanggal 13-15 November 2018 yang lalu, Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Badan Litbang dan Diklat menyelenggarakan Workshop Penyusunan Policy Brief bagi Para Peneliti. Kegiatan ini bertempat di Hotel Artotel, Jakarta.

Kasubbag Tata Usaha Puslitbang BALK, Haris Burhani mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari Program Analisis Kebijakan. Diharapkan kegiatan dapat menghasilkan dokumen pemikiran untuk menguatkan kebijakan Kementerian Agama di bidang Kehidupan Keagamaan.

Kegiatan ini dibuka oleh Kabid Litbang Bimas Agama, Kerukunan, dan Aliran, Sholahuddin. Hadir sebagai narasumber Meita Ahadiyati, kabid Seleksi dan Pengembangan Pusat Pembinaan Analisis Kebijakan LAN; dan Dadi Darmadi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta.

Dalam paparannya, Meita menjelaskan urgensi dan formula Policy Brief. Menurutnya, Policy Brief memiliki urgensi untuk meningkatkan kebermanfaatan sebuah penelitian bagi masyarakat. Dokumen kebijakan ringkas ini berfungsi sebagai media advokasi dan media eksplorasi. Ia ditujukan terutama untuk pengambil kebijakan (decision maker), dengan menitikberatkan pada rekomendasi yang ditawarkan.

Karena itu, sebisa mungkin dibuat ringkas dan isinya langsung menuju pada inti (to the point) dengan hanya berkisar dua sampai empat  halaman. Soal format, tidak ada yang baku dalam penyusunan Policy Brief. “Hanya saja, unsur utamanya adalah analisis masalah, analisis solusi dan komunikasi serta advokasi kebijakan,” kata Meita.

Sedangkan Dadi berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Policy Brief yang pernah disusun oleh PPIM UIN Jakarta. Sama dengan Meita, Dosen UIN Jakarta ini juga mengatakan memang tidak ada format baku dalam penyusunan Policy Brief. PPIM sendiri, kata Dadi, menyusun Policy Brief terdiri dari judul, rekomendasi, latar belakang, temuan penelitian, simpulan dan daftar pustaka, ditambah info grafis.

"Sangat mungkin bila Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan ingin membuat format Policy Brief tersendiri sebagai ciri khasnya," ujarnya.

Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 13 sampai 15 November 2018. Diikuti peserta sebanyak 20 orang terdiri dari peneliti dan pegawai Jabatan Fungional Umum (JFU) di lingkungan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan.

Kegiatan ini berjalan sangat dinamis dan produktif. Hal yang tak kalah penting, menghasilkan format Policy Brief dengan komposisi meliputi Judul, Rekomendasi, Latar Belakang, Temuan dan Analisis, Simpulan, Apendiks (optional), dan Daftar Pustaka.

"Kesepakatan format ini merupakan 'oleh-oleh' yang dihasilkan melalui kegiatan ini untuk tahapan penelitian Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan mendatang," ungkap Haris Burhani. (Kendi Setiawan)

 
Jumat 16 November 2018 15:15 WIB
Radikalisme Bukan Melulu Terkait Motif Anti-Barat
Radikalisme Bukan Melulu Terkait Motif Anti-Barat
ilustrasi (elshinta)
Pada 7 November 2018 yang lalu, Badan Litbang dan Diklat menyelenggarakan  International Symposium on Religious Life di Yogyakarta. Kepala Balitbang Diklat, H Abdurrahman Mas'ud dalam simposium yang bekerjasama dengan The Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) ini, menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya terkait mtif anti-Barat. 

Kaban juga meyampaikan hasil beberapa studi mengenai sikap keagamaan masyarakat menggambarkan adanya jarak sosial antara kelompok-kelompok etnik dan umat antaragama, menguatnya penggunaan politik identitas, dan meningkatnya intoleransi dan konservatisme.

Potensi radikalisme di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan temuan penelitian Badan Litbang dan Diklat berkategori mengkhawatirkan, di mana terdapat kecenderungan radikalisme meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu terjadi di semua agama. Namun, perkembangan radikalisme di Indonesia menunjukkan ada perbedaan pola dengan kesimpulan dan teori-teori besar arus utama radikalisme yang ada.

Menurut Mas’ud, sementara studi-studi konvensional menunjukkan potensi radikalisme acap kali dimotivasi dan didasarkan pada konteks sosio-politik gerakan anti-Barat, penelitian Badan Litbang dan Diklat menggunakan gabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan temuan berbeda.

Pertama, potensi radikalisme muncul di kalangan siswa karena faktor internalisasi pemahaman agama yang cenderung ideologis dan tertutup serta tidak melulu  terkait dengan gerakan radikalisme yang secara politis didasarkan pada motif anti-Barat. Kedua, potensi radikalisme yang didasarkan pada pemahaman ideologis yang cenderung kaku dan hitam putih terjadi di semua agama, baik di kalangan Muslim, Katolik, Kristen, Hindu maupun Budha.

Untuk itu, Mas’ud merekomendasikan beberapa hal. Pertama, perlu merumuskan konsep dan perspektif teoritis tentang Islam moderat yang bisa dipahami dan memperkuat masyarakat. Kedua, perlu menyebarkan seluruh sumber daya arus utama Islam moderat. Ketiga, menginternalisasikan dan menebarkan pendidikan Islam yang santun, toleran, dan rahmatan lil’alamin. Keempat, pembentukan karakter siswa bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. (Kendi Setiawan)