IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Perjuangan Kiai Bisri Membangun Pesantren Mambaul Ma'arif

Ahad 30 September 2018 18:30 WIB
Perjuangan Kiai Bisri Membangun Pesantren Mambaul Ma'arif
Asrama putra Pesantren Mambaul Ma'arif (denanyar.or.id)
Jakarta, NU Online
Artikel Jejak-jejak Perjuangan KH Bisri Syansuri Jombang yang ditulis Subhan Ridlo dan dimuat dalam buku Khazanah Islam Jawa terbitan Balai Litbang Semarang, menyebut sangat menarik untuk dikaji bagaimana Kiai Bisri Syansuri menghadapi berbagai tantangan dengan pendekatan yang sangat lentur dalam sikap tetapi tegar dalam pendirian. 

Bantuan yang diberikan kepada mereka yang lemah, bukannya dalam bentuk pemberian harta benda dan sejenisnya, melainkan dengan memperlakukan semua orang yang berurusan dengan dirinya sesuai dengan hak-hak dan kewajiban masing-masing. Lambat laun akhirnya usaha itu dapat mengubah pandangan orang terhadap diri Bisri, terutama kalangan elit di desa itu.

Kiai Bisri bukanlah orang yang dengan tiba-tiba datang lalu menjungkir-balikan semua nilai kehidupan yang dianut secara umum, melainkan seorang warga masyarakat yang tidak memisahkan diri dari jalur umum kehidupan. Kalaupun ada perbedaan antara moralitas atau nilai yang dianutnya dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, itu diupayakan dengan tidak menghadapkan moralitas dan nilainya itu secara frontal.

Kiai Bisri melakukannya dengan memberikan contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Bisri tidak berdakwah keluar, melainkan hanya berdakwah di tempat sendiri. Dengan begitu, mereka berkeinginan mengubah diri mereka sendiri secara pelan-pelan.

Pendekatan ini menghasilkan dua hal sekaligus, yaitu mengubah pola hidup masyarakat sekeliling secara berangsur-angsur, dan mengundang datangnya orang luar desa untuk belajar ilmu-ilmu agama darinya. Murid pertama Kiai Bisri datang dari anak tetangga desa, di samping Abi Darda yang datang dari desa tetangga, sekitar empat kilometer arah selatan Denanyar. 

Murid awal sebanyak empat orang, tinggal di surau yang didirikan Kiai Bisri pada tahun 1917 M dengan jalan menyekat sebagian ruang suarau itu untuk kamar tempat tinggal mereka. Sistem pendidikan yang digunakan masih bersifat sorogan, yaitu bimbingan individual untuk menguasai teks-teks lama secara bertahap. Pendidikan dengan sistem itu dilakukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun tanpa ada tanda-tanda akan dilakukannya cara lain untuk mendidik para santrinya.

Pada waktu itu KH Bisri Syansuri hanya menyediakan tempat untuk santri putra. Karena, santri putra dianggap sangat vital untuk digembleng secara fisik. Kala itu, penjajah tidak hanya dianggap telah menjajah secara ekonomi tapi juga secara kultur. Penjajah telah membawa budaya barat yang berbeda dengan budaya setempat yang lambat laun dapat mempengaruhi masyarakat setempat. Secara moral masyarakat setempat dianggap telah bobrok akhlaknya, kekejaman di mana-mana, moral para wanita menjadi rusak, wanita menjadi binal,dan tak mau menerima bimbingan ulama. 

Oleh karena itu pondok pesantren berusaha membentengi santrinya dari pengaruh budaya yang dapat merusak akhlak. Pembinaan akhlak santri ditanamkan bahkan sampai cara berpakaianpun para santri harus berbeda dengan penjajah dan pengikut-pengikutnya. Kemudian semakin hari pembinaan akhlak di pesantren semakin dapat dirasakan oleh masyarakat dan PP Mambaul Ma’arif semakin di kenal oleh masyarakat luas.

Madrasah di Pesantren Mambaul Ma’arif

Pendidikan Pesantren Mambaul Ma’arif semakin lama semakin di tuntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu pada tahun 1923, KH Bisri Syansuri mendirikan madrasah salafiyah yang pelajarannya dikhususkan pada pelajaran agama. Lama pelajaran enam tahun dengan nama Madrasah Mabai’ul Huda. Model madrasah tersebut hanya diberikan kepada santri putra. Adapun kurikulum bagi santri putri tetap seperti sediakala. 

Setelah berdiri madrasah putri pada tahun 1930, dengan menyediakan empat kelas, ternyata keberadaan madrasah putrid ini banyak mendapatkan kritikan dari masyarakat. Hal itu karena masyarakat kurang memahami duduk persoalan secara jelas.

Sejak tahun 1930, Pesantren Mambaul Ma’arif beserta madrasahnya semakin maju sampai datang penjajah Jepang. Ketika Jepang datang, Mambaul Ma’arif beserta madrasahnya dibuka kembali, setelah ditutup setengah tahun lamanya. Selama perang berkecamuk Mambaul Ma’arif tetap dibuka, kecuali waktu bergeloranya agresi Belanda yang kedua, madrasah ini terpaksa ditutup selama satu tahun, karena keluarga besar Mambaul Ma’arif turut mengambil bagian dalam perang melawan penjajah Belanda.

Saat perang tersebut, tenaga-tenaga yang dikirim oleh Pesantren Mambaul Ulum untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan Islam di berbagai tempat berangsur-angsur kembali pulang. Mereka diberi tugas untuk membina dan mengelola pesantren yang sebelumnya dipikul oleh KH Bisri Syansuri. Pelimpahan tugas dilakukan mengingat semakin banyaknya aktivitas baik di pondok pesantren maupun di madrasah, di samping bertambahnya tugas-tugas kemasyarakatan yang harus dilakukan oleh KH Bisri Syansuri di luar lingkungan pondok pesantren.

Walaupun sibuk, ia tetap melakukan pengawasan secara aktif pada perkembangan pondok pesantren. Ia menunjuk KH Ahmad Bisri sebagai penanggungjawab terlaksananya proses kegiatan pendidikan di madrasah dan pondok pesantren sehari-hari.

Perkembangan pondok pesantren Mambaul Ma’arif semakin lama semakin meluas. Pimpinan dituntut untuk mengubah bentuk madrasah, yang semula salafiyah menjadi madrasah modern. Pada kurikulum salafiyah yang khusus mengkaji pelajaran agama kemudian disesuaikan dengan menambah pelajaran umum. Setelah ia berjuang bersama istrinya di pondok pesantren selama 38 tahun (1917-1955), istrinya dipanggil pulang ke pangkuan-Nya.

Beberapa bulan meninggalnya sang istri, ia kemudian menikah dengan Nyai Maryam Mahmud dari Jember. Pada tahun 1956 atas prakarsa KH Achmad Bisri dibukalah madrasah tsanawiyah putra yang memiliki pelajaran setara dengan SLTP. Pada tahun 1958 berdiri madrasah tsanawiyah putri. Pekembangan selanjutnya tahun 1962, pimpinan pondok pesantren Mambaul Ma’arif bermufakat untuk mendirikan lembaga lanjutan, berupa madrasah aliyah putra dan putri, dengan kurikulum setara dengan SLTA. Tahap demi tahap madrasah berjalan sampai akhirnya, kedua madrasah tersebut diajukan permohonan untuk penegerian.

Perubahan status dari madrasah swasta menjadi negeri dikabulkan pemerintah. Sejak tahun 1969, madrasah yang sebelumnya bernama Madrasah Tsanawiyan menjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri dan madrasah yang semula Madrasah Aliyah menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri dengan SK. Menteri Agama R.I. No. 24/1969 tertanggal 4 Maret 1969.

Sejak ada penegerian itu, hubungan kerja sama antara pondok pesantren Mambaul Ma’arif dengan Departemen Agama tampak semakin erat. Proses penegerian lembaga-lembaga pendidikan bukanlah menjadi tujuan pondok pesantren Mambaul Ma’arif. Proses itu akan diusahakan terlaksananya, jika ada jaminan bahwa proses seperti itu tidak akan mengganggu kepentingan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang menjadi pandangan hidupnya sendiri.

Setelah selesai meletakkan sendi-sendi pendidikan di Pesantren Mambaul Ma’arif dari tingkat ibtidaiyah sampai dengan tingkat aliyah, rupanya masih belum cukup. Hal itu terjadi karena pendidikan berkembang semakin pesat, dan perguruan tinggi bermunculan di sana sini bagaikan tumpukan jamur di musim hujan. Dengan segala usaha dan upaya, pondok pesantren Mambaul Ma’arif bermaksud menampung mereka yang sudah tamat dari madrasah swasta maupun negeri, agar bisa meneruskan belajar ke tingkat yang lebih tinggi sampai perguruan tinggi. 

Atas dasar konsensus antara pimpinan pondok pesantren Mambaul Ma’arif dengan pimpinan Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, akhirnya pada tanggal 19 Desember 1973, dibuka Fakultas Ushuluddin Unhasy dalam lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif.

Karena beberapa pertimbangan, pada tahun 1075, Fakultas Ushuluddin diganti menjadi Fakultas Tarbiyah. Pada tahun 1978, pemerintah Indonesia dengan S.K. Menteri Agama R.I. No. 27 tanggal 11 Maret 1978, mengakui persamaan ijazah Fakultas Tarbiyah Unhasy dengan ijazah IAIN. (Kendi Setiawan)

Jumat 28 September 2018 5:0 WIB
Pentingnya Nilai Kepemimpinan Kepala Madrasah
Pentingnya Nilai Kepemimpinan Kepala Madrasah
Kaban Diklat Kemenag, H Abdurrahman Mas'ud
Jakarta, NU Online
Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggelar diklat dua angkatan, yaitu Diklat Fungsional Calon Kepala Madrasah Angkatan I dan Diklat Fungsional Calon Kepala Perpustakaan Madrasah Angkatan I. Diklat ini dibuka Kamis (27/9).

Kepala Bidang Penyelenggaraan, Efa Ainul Falah melaporkan bahwa Diklat dua angkatan tersebut bertujuan untuk menyiapkan Kepala Madrasah dan Kepala Perpustakaan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap sehingga mampu melaksanakan tugas sebagai Kepala Madrasah dan Kepala Perpustakaan secara profesional.

Diklat tersebut akan berlangsung selama enam belas hari, dari tanggal 27 September sampai dengan 12 Oktober 2018, bertempat di Kampus Diklat Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan.

Dalam arahannya, Kepala Balitbang Diklat Kemenag, H Abdurrahman Mas'ud menekankan nilai-nilai positif dalam diri seorang pemimpin. Di antara nilai-nilai positif tersebut adalah trust, honesty, amanah, atau jujur dalam memimpin sebuah lembaga, mulai dari lembaga yang paling kecil, yaitu keluarga, hingga lembaga formal termasuk madrasah.

Menurut Kaban, leadership memiliki faktor dominan dalam keberhasilan sebuah lembaga. Leadership menyumbang kesuksesan mencapai 40 persen. Angka ini paling tinggi dibanding faktor lainnya. “Karena itu, posisi kepala sangat sentral,” ungkap Kaban.

Selain jujur, pemimpin juga harus memiliki sikap kepercayaan diri, self-confidence. "Salah satu kelebihan negara-negara maju adalah kuatnya kepercayaan diri mereka. Ketika bergaul dengan pihak yang lebih maju, sering kali kita minder tidak percaya diri. Ini bukanlah sikap pemimpin yang siap maju. Ketidakpercayaan diri dengan sendirinya akan menghambat kemajuan," tegas Kaban.

Selain itu, pemimpin juga harus memiliki pikiran terbuka atau open minded, jangan berpikiran tertutup atau close minded. Seorang pemimpin harus membuka diri terhadap kelebihan orang lain, siap menerima saran dan kritik yang disampaikan orang lain, serta terbuka terhadap inovasi dan kreasi baru.

Nilai lain yang tidak kalah pentingnya bagi seorang pemimpin adalah kemauan untuk belajar, willing to learn from the people. Seorang pemimpin harus terus belajar agar semakin banyak memiliki referensi yang menjadi rujukan untuk memajukan lembaganya. Seorang pemimpin jangan bersikap seolah-olah sudah mengetahui segala hal, atau bersikap sebagai orang yang sudah serba tahu, atau know it all. 

Kaban menyitir meme pribadinya tentang pembelajaran dalam Islam, "Akar utama pembelajaran dunia Islam adalah abainya umat terhadap perintah iqra". Juga, "Pusat intelektualisme sudah lama pindah dari dunia Islam karena budaya ini tidak dinomorsatukan lagi oleh umat, meski merupakan perintah pertama Sang Maha Pencipta".

Selain itu Kaban mengungkapkan, "Guru yang berhasil adalah tokoh anutan yang bisa melahirkan anak didik pencinta baca, membudayakan iqra, belajar mandiri, dan semangat meneliti, spirit of enquiry." (Kendi Setiawan)

 
Ahad 23 September 2018 10:30 WIB
Awal Pernikahan Kiai Bisri Syansuri dan Pembangunan Pesantren Denanyar
Awal Pernikahan Kiai Bisri Syansuri dan Pembangunan Pesantren Denanyar
Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar
Jakarta, NU Online
Subhan Ridlo dalam tulisanya Jejak-jejak Perjuangan KH Bisri Syansuri Jombang yang dimuat dalam buku Khazanah Islam Jawa terbitan Balai Litbang Semarang, juga menyebutkan masa awal berumah tangga Kiai Bisri. 

Rumah tangga Kiai Bisri diawali dengan kisah pada suatu saat Nur Khodijah, adik perempuan Abd Wahab Hasbullah dan ibunya menunaikan ibadah haji di Makkah. Tak lama dari kedatangan mereka berdua di Makkah, Abdul Wahab berupaya menjodohkan adiknya dengan Bisri Syansuri. Niat baik Abd. Wahab direspons dengan baik sehingga perjodohan antara Nur Khodijah dengan Bisri Syansuri dilakukan oleh Abd Wahab berjalan dengan lancar.

Setelah menikah KH Bisri Syansuri pulang Indonesia. Pada awalnya KH Bisri Syansuri ingin pulang ke Tayu. Namun, atas permintaan keluarga istrinya, ia bersedia menetap di Tambak Beras. Proses mencari menantu yang dianggap mumpuni dalam ilmu agama di kalangan pesantren telah menjadi kultur, karena dapat meneruskan perjuangan syiar agama, apalagi Jombang termasuk daerah pedalaman yang budayanya berbeda dengan budaya santri. Oleh karena itu KH Bisri sangat dibutuhkan di Jombang, khususnya di Tambak Beras.

Walaupun KH Bisri Syansuri hanya dua tahun tinggal di Tambak Beras, ia mempergunakan waktunya untuk membantu mertuanya di bidang pendidikan dan pertanian. Selama dua tahun itu pula ia menggunakan waktunya untuk belajar bagaimana menghidupi keluarganya dengan cara bertani. Ia juga belajar bagaimana mendidik dan mengelola pesantren sebagai basis perjuangan. Maka setelah dipandang cukup mapan oleh mertuanya, ia diberi sebidang tanah di desa Denanyar, tak jauh dari Tambak Beras untuk dikelola dan kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang.

Pernikahan antara Bisri Syansuri dengan Nor Khodijah, gadis rupawan putrid H Hasbullah Tambak Beras dikaruniai sembilan orang anak. Anak pertama meninggal waktu kecil; kedua Ahmad Atoillah, yang dikenal dengan nama KH Ahmad Bisri; ketiga, Muassomah. Berikutnya Muslihatun, Sholihah, Musyarofah, Sholihun, Ali Abd Aziz, dan Shohib.
Membangun Pesantren Mambaul Ma’arif

KH Bisri Syansuri beserta istrinya pada tahun 1917 M mendirikan pesantren di atas tanah milik pribadi di Denanyar Jombang (Arsip daftar sejarah hidup lengkap KH Bisri Syansuri). Hal tersebut juga tidak lepas berkat dorongan mertua, H Hasbullah dan restu gurunya, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

Pesantren Mambaul Ma’arif berada di Desa Denanyar, 1,5 kilometer dari kota Jombang arah barat. Keberadaan pesantren ini berawal dari kedatangan sepasang suami istri yang mendirikan rumah dan kemudian sebuah surau untuk tempat beribadah di tempat baru itu. Tidak lama setelah itu, tempat itu berfungsi sebagai tempat menerima santri yang datang dari tempat lain untuk belajar kepada pendiri suaru itu. Dengan kehadiran satu, dua orang santri, dan dengan munculnya seorang kiai di tengah-tengah masyarakat, makaterbentuklah sebuah pesantren. 

Desa Denanyar adalah lokasi paling rawan yang ada di Jombang waktu itu. Letaknya di pinggiran kota dekat sebuah pabrik gula dan di tepi jalan negara yang menghubungkan Surabaya dan Madiun. Hal ini memberikan kesan tersendiri kepada desa tersebut yaitu desa yang penuh kekerasan, karena terkikisnya nilai-nilai moral yang luhur dan kuatnya peranan modal pada tingkah laku masyarakat. 

Bromocorah merajalela, dan pembunuhan terjadi setiap hari. Perampokan pada pejalan kaki yang melalui desa itu merupakan kejadian yang hampir setiap hari terjadi. Besarnya jumlah wanita tuna susila yang dilokalisisr oleh pemerintah di tempat itu, merupakan gambaran pola umum kehidupan masyarakat di desa tersebut. Medan yang sulit bagi tujuan pengembangan ajaran agama, tetapi juga merupakan tantangan menarik bagi pribadi-pribadi luar biasa, seperti KH Bisri Syansuri.

Dimulai dari kiprahnya secara perorangan, ia memberikan contoh agama dapat membawa kepada kesejahteraan hidup bila ajaran-ajarannya dilaksanakan dengan tuntas. Upaya kiai baru di desa Denanyar itu merupakan permulaan dari sebuah usaha besar, yang belum selesai hingga saat ini.

Kiai Bisri memulai kiprahnya dalam kehidupan bermasyarakat dengan bekerja. Mula-mula ia mengatur kehidupan pertaniannya sendiri, untuk menyangga pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan tersebut.

Kemudian ia memulai upaya mengajar anak-anak para tetangga sekitarnya. Upaya ini pada awalnya mendapat tantangan hebat dari mereka yang tidak menyetujui usahanya. Pemerintah desa Denanyar kalaupun tidak menentang usahanya itu, paling tidak telah menunjukan sikap tidak memberikan perhatian terhadap usaha itu.

Hal itu dapat dimengerti karena para lurah dan perangkatnya di daerah Denanyar dan sekitarnya terkenal sebagai tokoh-tokoh yang justru membangun kekuasaan mereka karena keberanian yang mereka tunjukan dalam pertarungan-pertarungan fisik. Kekerasan adalah bagian dari latar belakang kehidupan mereka, juga acara hiburan seperti tayuban yang tidak memperdulikan nilai-nilai susila dan keagamaan. (Kendi Setiawan)

Jumat 21 September 2018 9:45 WIB
Kiai Bisri Syansuri Menuntut Ilmu
Kiai Bisri Syansuri Menuntut Ilmu
Kiai Bisri Sansyuri
Jakarta, NU Online
Dalam buku Khazanah Islam Jawa terbitan Balai Litbang Semarang, dimuat salah satu artikel berjudul Jejak-jejak Perjuangan KH Bisri Syansuri Jombang. Tulisan tersebut hasil penelitian Subhan Ridlo. 

Disebutkan KH Bisri Syansuri lahir pada hari Rabu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886. Dia lahir di Tayu, sebuah ibu kota kecamatan yang letaknya 100 km arah timur laut Semarang, di Jawa Tengah. 

Tayu merupakan pesisir pantai utara Jawa yang memiliki budaya sosial keagamaan yang taat. Sebagai salah satu titik dalam jalur daerah yang penduduknya teguh memegang tradisi keagamaan mereka, yang membentang dari Demak hingga Gresik, Tayu merupakan latar belakang geografis yang sangat mewarnai pandangan hidup Bisri di kemudian hari.

Bisri lahir dari pasangan Abd Shomad dan Mariah. Bisri anak ketiga dari lima bersaudara. Kelima saudara Bisri terdiri atas tiga saudara laki-laki dan dua saudari perempuan. Bisri pada akhirnya ditakdirkan menjadi bagian dari proses sejarah pada pengembangan ajaran agama Islam di pedalaman Jawa Timur. 

Bisri memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Ia lahir dari keturunan yang memiliki jalur keululamaan yang jelas di pihak ibunya, dan ia dibesarkan di Lasem, sekitar 90 kilometer sebelah timur Tayu. Keluarganya adalah keluarga yang menurunkan beberapa orang ulama besar dalam beberapa generasi, seperti Kiai Khalil dari Lasem dan kiai Ma’sum serta Kiai Baidawi dari Tayu.

Mencari Ilmu

Setelah enam tahun hidup bersama orang tuanya, pada usia tujuh tahun ia mulai belajar agama, seperti belajar membaca Al-Qur’an pada KH Soleh Tayu. Ia juga belajar pada KH Abd Salam Tayu, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. KH Abd Salam dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Tak heran jika kemudian hari sifat selalu berpegang pada aturan agama secara tuntas menjadi salah satu tanda pengenal kepribadian Bisri yang khas. 

Gemblengan yang diterimanya dari Kiai Abd Salam di masa anak-anak sampai menginjak masa remaja ternyata sangat membekas, dan sangat menentukan corak kepribadian yang berkembang dalam dirinya di kemudian hari. Sehingga, sikap dan ketokohannya sangat membekas pada diri KH. Bisri Syansuri di kemudian hari.

Pada usia sekitar 15 tahun, ia mencoba mencari ilmu agama di luar tempat kelahirannya, Tayu. Atas izin dan dukungan orang tuanya ia belajar ilmu agama pada kedua tokoh agama yag terkenal pada waktu itu yaitu KH. Kholil Kasingan Rembang (Wafat: 1358/1939) dan KH. Syu’aib Sarang Lasem. Hanya saja belajar yang dilakukannya hanya pada bulan puasa selama satu bulan.

Selain di Rembang, KH Bisri Syansuri melanjutkan pendidikan di pesantren Demangan Bangkalan. Ia berguru pada KH Kholil, seorang ulama besar, guru dari semua kiai yang ada di Jawa pada masanya. KH Kholil di kenal sebagai wali Allah karena ia mempunyai keistimewaan yang bersifat supranatural. Ia dianggap kiai yang dapat menguasai antara fiqih dan tariqat (fiqih dan tasawuf). Karena itulah KH Bisri tertarik belajar kepadanya. 

Selain berguru ilmu agama kepada KH Kholil Bangkalan, ia juga bertemu dengan KH Wahab Hasbullah, seorang santri asal Tambak Beras Jombang yang kemudian menjadi teman karib dalam menyebarkan agama Islam baik melalui partai maupun lembaga keagamaan. Selain menjadi teman karib dalam perjuangan ia juga menjadi kakak ipar, karean KH Bisri Syansuri dinikahkan dengan adik perempuan KH Wahab Hasbullah.

Selain itu, KH Bisri Syansuri juga berguru kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang pada tahun 1906. Kemudian ia pun pindah ke Pondok Pesantren Tebuireng dari Bangkalan atas ajakan teman karibnya, KH Wahab Hasbullah. Tak hanya itu, karena KH Hasyim ‘Asy’ari dipandang sebagai ulama yang mendalam ilmunya, ia mendapat gelar Hadratus Syekh.

Di Pondok Tebuireng selama enam tahun, ia belajar tentang fiqih, tauhid, tafsir, hadits dan lain-lain. Lamanya ditempat itu menjadikan hubungan antara murid dan guru semakin erat. Hubungan antara dia dengan Wahab Hasbullah semakin erat karena telah lama menemaninya, sejak sama-sama berada di Bangkalan.

Di Pondok Pesantren Tebuireng dia juga belajar bersama santri lain, seperti Abd Manaf dari Kediri, As’ad dari Situbondo, Ahmad Baidowi dari Banyumas, Abd Karim dari Gresik, Nahrowi dari Malang, Abbas dari Jember, Ma’shum dari Maskumambang Sedayu. Santri-santri Pesantren Tebuireng seangkatan KH Bisri Syansuri menjadi kiai-kiai yang tangguh dalam ilmu fiqih dan menjadi rujukan dalam mengambil keputusan hukum fiqih. Mereka hampir seluruhnya mempunyai pesantren di Pulau Jawa. 

Sebagaimana dikutip oleh Masyhuri bahwa menurut KH Syukri Ghazali, ketua umum MUI, mereka adalah generasi paling baik yang dididik Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari di Tebuireng selama hampir setengah abad lamanya.

Selama enam tahun di Tebuireng, KH Bisri Syansuri mendapatkan ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang populer di dalam literatur pesantren. Di pesantren Tebuireng ia menonjol sekali dalam penguasaan ilmu agama, terutama dalam pendalaman pokok-pokok hukum fiqih, sehingga dia sangat terkenal dikemudian hari.

Menurut KH Abdul Aziz, dia termasuk orang yang cerdas. Suatu ketika pada waktu pergi bersamanya, KH Abdul Aziz bertanya tentang soal hukum haji, lalu ia menunjukan kitab dan juga hafal halamannya. Ketika dicek oleh KH Abd Aziz ternyata benar sebagaimana yang ditunjukkan oleh dia KH. Bisri Syansuri (Wawancara, tanggal 7 September 2013).

Setelah selesai pendidikan enam tahun di Pesantren Tebuireng, KH Bisri melanjutkan pendidikan ke Makkah beserta sahabat karibnya, KH Wahab Hasbullah. Ia belajar di Makkah dari tahun 1911 sampai tahun 1914 M. Selama di Makkah ia belajar pada ulama terkenal, yaitu Syekh M Bakir, Syekh M Sa’id al-Yamani, Syekh Umar Bajened, Syekh M Sholeh Bafadhol, Syekh Jamal al-Maliki, Syekh Abdullah, Syekh Ibrahim al-Madni, dan lain-lain.

Ia juga berguru kepada guru dari Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari seperti Syekh Ahmad Khotib Padang (Wafat 1334/1915), Syekh Syu’aib Doghestani, dan Kiai Mahfud Termasi dari Pacitan (wafat 1338/1919). (Kendi Setiawan)