IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Kiai Bisri Syansuri Menuntut Ilmu

Jumat 21 September 2018 9:45 WIB
Kiai Bisri Syansuri Menuntut Ilmu
Kiai Bisri Sansyuri
Jakarta, NU Online
Dalam buku Khazanah Islam Jawa terbitan Balai Litbang Semarang, dimuat salah satu artikel berjudul Jejak-jejak Perjuangan KH Bisri Syansuri Jombang. Tulisan tersebut hasil penelitian Subhan Ridlo. 

Disebutkan KH Bisri Syansuri lahir pada hari Rabu tanggal 28 Dzulhijjah tahun 1304 H atau 18 September 1886. Dia lahir di Tayu, sebuah ibu kota kecamatan yang letaknya 100 km arah timur laut Semarang, di Jawa Tengah. 

Tayu merupakan pesisir pantai utara Jawa yang memiliki budaya sosial keagamaan yang taat. Sebagai salah satu titik dalam jalur daerah yang penduduknya teguh memegang tradisi keagamaan mereka, yang membentang dari Demak hingga Gresik, Tayu merupakan latar belakang geografis yang sangat mewarnai pandangan hidup Bisri di kemudian hari.

Bisri lahir dari pasangan Abd Shomad dan Mariah. Bisri anak ketiga dari lima bersaudara. Kelima saudara Bisri terdiri atas tiga saudara laki-laki dan dua saudari perempuan. Bisri pada akhirnya ditakdirkan menjadi bagian dari proses sejarah pada pengembangan ajaran agama Islam di pedalaman Jawa Timur. 

Bisri memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Ia lahir dari keturunan yang memiliki jalur keululamaan yang jelas di pihak ibunya, dan ia dibesarkan di Lasem, sekitar 90 kilometer sebelah timur Tayu. Keluarganya adalah keluarga yang menurunkan beberapa orang ulama besar dalam beberapa generasi, seperti Kiai Khalil dari Lasem dan kiai Ma’sum serta Kiai Baidawi dari Tayu.

Mencari Ilmu

Setelah enam tahun hidup bersama orang tuanya, pada usia tujuh tahun ia mulai belajar agama, seperti belajar membaca Al-Qur’an pada KH Soleh Tayu. Ia juga belajar pada KH Abd Salam Tayu, seorang ahli dan hafal Al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. KH Abd Salam dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Tak heran jika kemudian hari sifat selalu berpegang pada aturan agama secara tuntas menjadi salah satu tanda pengenal kepribadian Bisri yang khas. 

Gemblengan yang diterimanya dari Kiai Abd Salam di masa anak-anak sampai menginjak masa remaja ternyata sangat membekas, dan sangat menentukan corak kepribadian yang berkembang dalam dirinya di kemudian hari. Sehingga, sikap dan ketokohannya sangat membekas pada diri KH. Bisri Syansuri di kemudian hari.

Pada usia sekitar 15 tahun, ia mencoba mencari ilmu agama di luar tempat kelahirannya, Tayu. Atas izin dan dukungan orang tuanya ia belajar ilmu agama pada kedua tokoh agama yag terkenal pada waktu itu yaitu KH. Kholil Kasingan Rembang (Wafat: 1358/1939) dan KH. Syu’aib Sarang Lasem. Hanya saja belajar yang dilakukannya hanya pada bulan puasa selama satu bulan.

Selain di Rembang, KH Bisri Syansuri melanjutkan pendidikan di pesantren Demangan Bangkalan. Ia berguru pada KH Kholil, seorang ulama besar, guru dari semua kiai yang ada di Jawa pada masanya. KH Kholil di kenal sebagai wali Allah karena ia mempunyai keistimewaan yang bersifat supranatural. Ia dianggap kiai yang dapat menguasai antara fiqih dan tariqat (fiqih dan tasawuf). Karena itulah KH Bisri tertarik belajar kepadanya. 

Selain berguru ilmu agama kepada KH Kholil Bangkalan, ia juga bertemu dengan KH Wahab Hasbullah, seorang santri asal Tambak Beras Jombang yang kemudian menjadi teman karib dalam menyebarkan agama Islam baik melalui partai maupun lembaga keagamaan. Selain menjadi teman karib dalam perjuangan ia juga menjadi kakak ipar, karean KH Bisri Syansuri dinikahkan dengan adik perempuan KH Wahab Hasbullah.

Selain itu, KH Bisri Syansuri juga berguru kepada KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang pada tahun 1906. Kemudian ia pun pindah ke Pondok Pesantren Tebuireng dari Bangkalan atas ajakan teman karibnya, KH Wahab Hasbullah. Tak hanya itu, karena KH Hasyim ‘Asy’ari dipandang sebagai ulama yang mendalam ilmunya, ia mendapat gelar Hadratus Syekh.

Di Pondok Tebuireng selama enam tahun, ia belajar tentang fiqih, tauhid, tafsir, hadits dan lain-lain. Lamanya ditempat itu menjadikan hubungan antara murid dan guru semakin erat. Hubungan antara dia dengan Wahab Hasbullah semakin erat karena telah lama menemaninya, sejak sama-sama berada di Bangkalan.

Di Pondok Pesantren Tebuireng dia juga belajar bersama santri lain, seperti Abd Manaf dari Kediri, As’ad dari Situbondo, Ahmad Baidowi dari Banyumas, Abd Karim dari Gresik, Nahrowi dari Malang, Abbas dari Jember, Ma’shum dari Maskumambang Sedayu. Santri-santri Pesantren Tebuireng seangkatan KH Bisri Syansuri menjadi kiai-kiai yang tangguh dalam ilmu fiqih dan menjadi rujukan dalam mengambil keputusan hukum fiqih. Mereka hampir seluruhnya mempunyai pesantren di Pulau Jawa. 

Sebagaimana dikutip oleh Masyhuri bahwa menurut KH Syukri Ghazali, ketua umum MUI, mereka adalah generasi paling baik yang dididik Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari di Tebuireng selama hampir setengah abad lamanya.

Selama enam tahun di Tebuireng, KH Bisri Syansuri mendapatkan ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang populer di dalam literatur pesantren. Di pesantren Tebuireng ia menonjol sekali dalam penguasaan ilmu agama, terutama dalam pendalaman pokok-pokok hukum fiqih, sehingga dia sangat terkenal dikemudian hari.

Menurut KH Abdul Aziz, dia termasuk orang yang cerdas. Suatu ketika pada waktu pergi bersamanya, KH Abdul Aziz bertanya tentang soal hukum haji, lalu ia menunjukan kitab dan juga hafal halamannya. Ketika dicek oleh KH Abd Aziz ternyata benar sebagaimana yang ditunjukkan oleh dia KH. Bisri Syansuri (Wawancara, tanggal 7 September 2013).

Setelah selesai pendidikan enam tahun di Pesantren Tebuireng, KH Bisri melanjutkan pendidikan ke Makkah beserta sahabat karibnya, KH Wahab Hasbullah. Ia belajar di Makkah dari tahun 1911 sampai tahun 1914 M. Selama di Makkah ia belajar pada ulama terkenal, yaitu Syekh M Bakir, Syekh M Sa’id al-Yamani, Syekh Umar Bajened, Syekh M Sholeh Bafadhol, Syekh Jamal al-Maliki, Syekh Abdullah, Syekh Ibrahim al-Madni, dan lain-lain.

Ia juga berguru kepada guru dari Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari seperti Syekh Ahmad Khotib Padang (Wafat 1334/1915), Syekh Syu’aib Doghestani, dan Kiai Mahfud Termasi dari Pacitan (wafat 1338/1919). (Kendi Setiawan)

Rabu 19 September 2018 4:0 WIB
Mengupas Fatwa Medsos MUI 2017
Mengupas Fatwa Medsos MUI 2017
Jakarta, NU Online
Salah satu penelitian yang dilakukan Balitbang Diklat Kemenag tahun 2017 adalah Peran dan Pengaruh Fatwa Medsos MUI dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Hasil penelitian Nasrullah Nurdin ini telah dimuat dalam Jurnal Dialog Volume 40 Nomor 2 yang terbit pada Desember 2017.

Penelitian mengungkapkan bahwa Majelis Ulama Indonesia menerbitkan Fatwa MUI Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Kala itu, Ketua umum MUI KH Ma’ruf Amin mengatakan, fatwa tersebut dibuat berdasarkan kekhawatiran akan maraknya ujaran kebencian (hate speech), perilaku kriminal, pornografi, pornoaksi, prostitusi, hal-hal negatif yang mengancam, dan pertikaian melalui media sosial. 

KH. Ma’ruf Amin berharap fatwa tersebut bisa mencegah (sebagai tindak preventif atau sadd al-dzari’ah) penyebaran konten media sosial yang berisi berita bohong dan mengarah pada upaya permusuhan, ujaran kebencian, serta adu domba di tengah masyarakat. Berikut ini penjabarannya

Gibah
Komisi Fatwa MUI menyebutkan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah. Gibah sendiri mempunyai arti membicarakan keburukan orang lain, termasuk di antaranya fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran sifat permusuhan.

Bullying
MUI juga mengharamkan aksi bullying dalam fatwa barunya ini. Mengingat maraknya cyber bullying, MUI juga memasukkan hal itu sebagai salah satu poin yang haram hukumnya dilakukan bagi pengguna media sosial. Bullying meliputi ujaran kebencian, ujaran permusuhan atas dasar suku, agama, ras dan antargolongan.

Istilah ini pertama kali dikenal sebagai mobbing, istilah tersebut diperkenalkan sekitar akhir 1960-an dan awal 1970-an oleh Heinemann yang merupakan seorang ahli fisika di sebuah sekolah di Swedia. Pada saat itu, mobbing oleh para ahli diartikan sebagai serangan sekelompok hewan kepada seekor binatang. Seiring perkembangan zaman, istilah tersebut diganti menjadi bullying. 

Pengertian bullying, menurut para ahli yaitu suatu agresi atau perilaku agresif di mana seseorang memberikan perlakuan agresif tersebut bertujuan untuk melukai atau membuat korbannya merasa tidak nyaman. Para ahli juga mengatakan, seorang anak dikatakan menjadi korban bully adalah ketika perlakuan agresif atau bentuk perlakuan negatif lainnya diberikan secara berulang, dan dalam waktu yang lama.

Sedangkan pengertian bullying secara umum yaitu salah satu bentuk dari perilaku agresi dengan kekuatan dominan pada perilaku yang dilakukan berulang-ulang dengan tujuan mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya

Hoaks
Haram pula bagi umat Muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup. Karena hoaks yang merebak inilah kerap kali kita hampir tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan bohong.

Dengan Fatwa Medsos ini, penyebaran informasi bohong diharapkan dapat diminimalisir. Informasi hoaks menyangkut informasi yang benar namun tidak sesuai dengan waktunya. Atau informasi dengan tujuan melucu, misalnya menyebarkan informasi tentang kematian seseorang padahal orang itu masih hidup.

Pornografi
Umat Muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, pornoaksi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syari. Konten porno menyangkut informasi berupa teks, foto, maupun video. MUI juga melarang penyebaran hal-hal yang bersifat maksiat. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan atau waktunya.

Buzzer
Aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun nonekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

KH. Ma’ruf Amin menyerahkan fatwa MUI tersebut kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Dia berharap fatwa tersebut bisa mencegah konten-konten negatif di media sosial. Rudiantara menegaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan MUI terkait implementasi fatwa di lapangan. "Kami akan minta petunjuk kepada MUI untuk menafsirkan praktik-praktik apa saja yang diharamkan di lapangan," kata Rudiantara. (Kendi Setiawan)

Senin 17 September 2018 4:30 WIB
Pentingnya Integritas Tenaga Administrasi Balitbang Diklat Kemenag
Pentingnya Integritas Tenaga Administrasi Balitbang Diklat Kemenag
Jakarta, NU Online
Pada 14 September 2018 ini, Pusdiklat Tenaga Administrasi Balitbang Diklat Kemenag menyelenggarakan Diklat Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Auditor) dan Diklat Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah bagi PPK/Pengelola. Diklat diadakan di Aula Saefudin Zuhri Gedung Pusdiklat Administrasi, Ciputat, Tangerang Selatan.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag, H Abdurrahman Mas’ud, membuka sekaligus memberikan arahan pada kegiatan tersebut. Mas’ud menyampaikan pentingnya integritas dimulai dari PPK yang akan dibawa ke instansi dan organisasinya. “Lima nilai Budaya Kerja Kementerian Agama akan menjadi ideologi seluruh pegawai, sehingga Kemenag akan mendapat nilai WTP (Wajar Tanpa Pengecualian)," kata Mas’ud.

Hal itu menurutnya sesuai dengan pesan ideologi yang terdapat dalam Al-Qur'an 13:12 yang menjelaskan jika mau melakukan perubahan, sungguh Tuhan tidak akan mengubah kondisi seseorang kecuali dia merubah dirinya sendiri.

Menurut Mas’ud, ayat ini juga merupakan ilustrasi atau contoh sunatullah hukum alam sebab akibat. Hal itu sesungguhnya mendominasi kehidupan individu dan masyarakat. Pasang surutnya kualitas akhlak seseorang, tergantung dalam nilai perubahan orang itu sendiri. Perumpamaan ini penting bagi Auditor dan PPK.

“Jangan biarkan apa yang terjadi dalam lingkungan memengaruhi kita. Maka kemudian akan menyebabkan keterpurukan. Sebab, jabatan juga dapat menistakan kita," pesan Mas’ud di akhir arahannya.

Sementara itu, Kepala Pusdiklat Tenaga Administrasi Saeroji melaporkan bahwa peserta kegiatan yang akan berlangsung dari tanggal 14-21 September 2018 ini  berjumlah 70 orang. Dari 70 orang ini, terdiri dari 30 orang Diklat Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (Auditor) dan 40 orang Diklat Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah bagi PPK/Pengelola yang berasal dari Auditor Itjen dan PPK Pusat.

Hadir sebagai narasumber pejabat Kemenag, Widyaiswara Pusdiklat Tenaga Administrasi, dan LKPP. Pada pembukaan hadir juga dalam pembukaan para pejabat Eselon III, IV dan para widyaiswara. (Kendi Setiawan)
Sabtu 15 September 2018 10:0 WIB
Metode Belajar RA Ikhlas Gunung Pangilun
Metode Belajar RA Ikhlas Gunung Pangilun
Siswa RA Ikhlas Gunung Pangilun (Kemenag Sumbar)
Jakarta, NU Online
Pada akhir Desember 2017, Badan Litbang Diklat Kemenag menerbitkan Jurnal Dialog Volume 40 Nomor 2. Salah satu tulisan yang dimuat dalam jurnal ini berjudul Pengembangan Karakter Anak melalui Program Unggulan di Raudhatul Athfal Ikhlas Kota Padang, Sumatera Barat.

Tulisan dari hasil penelitian Suprapto ini menyebutkan RA Ikhlas Gunung Pangilun Raudhatul Athfal Ikhlas Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Provinsi Sumbar pada awalnya dicetuskan pertama kali pada akhir 1984 oleh Ibu Ummi Hasnawi Karim yang pada waktu itu menjadi Kakanwil Departemen Agama Provinsi Sumatera Barat (sekarang Kementerian Agama) Provinsi Sumbar. 

Raudhatul Athfal Ikhlas DWP Kanwil Kemenag Sumatera Barat berstatus swasta didirikan pada tanggal 17 Desember 1984, berlokasi di gedung MAN 2 Padang, Jalan Gunung Pangilun Rt 03 Rw 07 Kelurahan Gunung Pangilun Kecamatan Padang Utara, Padang. Raudhatul Athfal Ikhlas bertujuan membantu meletakkkan dasar ke arah perkembangan sikap perilaku, menghayati dan mengenalkan agama serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan kepentingan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. 

Pada awalnya RA Ikhlas disebut TK karena letaknya di lingkungan Madrasah. Dalam perkembangannya RA Ikhlas hingga sekarang semakin diminati oleh masyarakat dan bertambah muridnya dari tahun ke tahun sampai sekarang ini. Kondisi ini menuntut Raudhatul Athfal Ikhlas RA melengkapi sarana dan prasarana antara lain gedung belajar, kantor, mushalla dan alat peraga sebagai penunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar (PBM). 

Visi Raudhatul Athfal Ikhlas adalah terwujudnya anak yang sehat, cerdas, berprestasi dalam menumbuhkembangkan kemampuan dasar anak pada usia dini dan berakhlak mulia. Sedangkan misinya adalah untuk membentuk sikap anak yang beriman dan bertaqwa sedini mungkin, mengembangkan kreatifitas anak pada usia dini dan bersosialisasikan dengan bermain, memotivasi bakat, minat, imajinasi anak melalui media sarana dan prasarana, dan mengarah pada peletakkan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial, emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi utuh.

Adapun tujuan Raudhatul Athfal Ikhlas adalah membantu meletakkan dasar-dasar terbentuknya pribadi muslim seutuhnya dalam mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal yang meliputi akhlak perilaku, intelektual serta fisik dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis dan kompetitif menyiapkan dirinya untuk mmelanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Strategi Pendidikan

Berhasilnya suatu pendidikan tergantung kepada fasilitas yang ada tetapi juga ditangani oleh tenaga pendidik yang mempunyai kualitas, dengan kata lain mempunyai kualifikasi di bidang pendidikan anak usia dini. Hal ini dimiliki oleh Raudhatul Athfal Ikhlas. Murid yang menamatkan pendidikan RA Ikhlas ini hasilnya sangat memuaskan. Hal ini dapat dicapai karena adanya spesifikasi pembelajaran yang dilakukan oleh Raudhatul Athfal Ikhlas di antaranya metode Iqro’, shalat berjamaah, pembacaan/hafalan ayat-ayat pendek, bacaan doa sehari-hari serta pembelajaran membaca dan menulis, mengenal dan menanamkan disiplin, serta mengenalkan anak dengan lingkungan sekitar. 

RA Ikhlas pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Strategi penyelenggaraan pendidikan di RA Ikhlas adalah: Taat asas, dengan cara membuat aturan lokal untuk ditaati; Pemanfaatan sumber daya semaksimal mungkin dengan bekerja sama dengan orangtua siswa dan masyarakat; Koordinasi dilakukan dengan instansi terkait baik vertikal maupun horizontal sehingga dapat bekerjasama saling membantu. 

Pembelajaran di RA Ikhlas menekankan: pengenalan nilai-nilai moral dan perilaku baik melalui kegiatan rutinitas atau pembiasaan perilaku baik, pengembangan motorik melalui kegiatan bermain, pengembangan kognitif agar anak didik dapat mengenal dunia melalui kegiatan eksplorasi dan bermain aktif sehingga anak didik dapat berfikir kritis, analitis dan problem solving, pengembangan bahasa untuk meningkatkan anak didik memiliki kemampuan bahasa, menyampaiakan dengan jelas dan runtun dan mengenal aksara, pengembangan sosial emosional untuk tumbuh kembangnya sikap dan ketrampilan sosial dalam konteks bermain dan pengembangan seni untuk tumbuh kembangnya apresiasi seni anak didik.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran yang dikembangkan di RA Ikhlas Gunung Pangilun Kota Padang adalah bermain sambil belajar. Suasana belajar-mengajar dibangun untuk memberikan rasa nyaman dan bahagia (happy learning). Untuk mencapai suasana tersebut, guru bersama murid duduk dalam lingkaran, supaya posisi mata guru sejajar dengan mata para murid, sehingga tidak ada jarak hierarkial. Maka, di kelas pun tidak ada papan tulis, sebab guru tidak memerlukannya. Materi ajar disampaikan secara interaktif dan kongkret, dengan menempatkan murid sebagai pusat. 

Selain itu, model pembelajaran yang dikembangkan RA Ikhlas adalah model sentra yang merupakan pendekatan pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya di lakukan di dalam 'ingkaran (circle time) dan sentra bermain'. Artinya pada saat pembelajaran guru duduk bersama sama anak didik dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan sebelum dan sesudah bermain. 

Model pembelajaran sentra yang dikembangkan RA Ikhlas terdiri dari sentra persiapan, sentra agama, sentra seni, sentra bermain peran, sentra balok. Sentra persiapan, bahan yang ada dalam sentra ini adalah buku, kartu huruf, kartu angka dan bahan untuk kegiatan menyimak, bercakapan persiapan menulis serta menghitung. 
Kegiatan yang dilaksanakan adalah persiapan membaca permulaan, menulis permulaan serta berhitung permulaan. Mendorong kemampuan intelektual anak, gerakan otot halus, koordinasi mata-tangan, belajar keterampilan sosial (berbagi, dan memecahkan masalah).

Sentra agama, bahan bahan yang disiapkan adalah berbagi maket tempat ibadah, perlengkapan ibadah, gambar-gambar, buku serta keagamaan dan sebainya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan beragama, keimanan, ketakwaan kepada Allah Swt. Guru dituntut dapat menefrjemahkan hal hal yang abtrak menjadi aktivitas yang konkret. 

Sentra seni, bahan yang diperlukan adalah kertas, cat air, krayon, spidol, gunting, kapur, tanah liat, pasir, lilin, kain, daun, potonganpotongan bahan/gambar. Sentra seni untuk memperluas pengalaman dalam mengembangkan ide, gagasan dan pengalaman anak didik ke dalam karya nyata. Sentra bermain peran, anak didik menjadi model dan menggunakan media boneka, meja kursi, rumah-rumahan dan sebagainya. 

Sentra bermain merupakan wujud dari kehidupan nyata yang dimainkan anak didik, membantu anak didik memahami dunia mereka dengan memainkan berbagai peran. Pemilihan bahan di dasarkan pada tema yang dipilih. Misal binatang, alat yang dipersiapkan boneka binatang. Sentra balok, berisi berbagai macam-macam balok dalam berbagai bentuk, ukuran dan tekstur. Anak didik didorong untuk menyusun, menghitung dan mengembangkan logika matematika, berfikir dan memecahkan masalah.

Pada model pembelajaran sentra, anak didik bermain di sentra yang berbeda (moving class). Di setiap sentra, kemampuan klasifikasi anak dibangun secara terus-menerus agar mereka bisa memiliki konsep berpikir yang benar, kritis, dan analitis. Semua pengetahuan diberikan secara kongkret. Anak-anak dirangsang untuk 'menemukan sendiri' konsep-konsep faktual mengenai bentuk, warna, ukuran, ciri, tanda, sifat, manfaat, serta rangkaian sebab-akibat. Sejak dini, anak didik dirangsang untuk bisa mengekspresikan diri dengan baik melalui kelisanan, tulisan dan gambar.

Oleh karena itu, selama proses pembelajaran, guru melakukan komunikasi interaktif dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, agar cara kerja otak anak didik terstruktur dengan baik. Bersamaan dengan itu, kita bisa memasukkan nilai-nilai agama serta penciptaan diri sebagai khalifah Allah di bumi berdasarkan Al-Qur'an dan hadits, serta sunnah Nabi Muhammad Saw. (Kendi Setiawan)