IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Nilai Pendidikan Islam dalam Legenda Gunung Pinang

Ahad 9 September 2018 8:45 WIB
Nilai Pendidikan Islam dalam Legenda Gunung Pinang
Tumpukan batu di Gunung Pinang, Serang (histori.id)
Jakarta, NU Online
Legenda Gunung Pinang merupakan salah satu legenda yang berasal dari Serang, Banten. Legenda Gunung Pinang menceritakan seorang janda yang hidup bersama putranya bernama Dampu Awang. Keinginan sang anak yang begitu besar untuk merantau agar dapat mengubah nasib keluarganya. Dengan berat hati, Sang Ibu akhirnya mengizinkan anaknya merantau dengan catatan ia harus memelihara Si Ketut, seekor burung yang sangat mahir mengirim pesan.

Suatu hari datang seorang saudagar kaya, yaitu Teuku Abu Matsyah bersandar di Banten. Dampu berniat ikut bersama kapal tersebut. Karena sikapnya yang jujur, rajin dan pekerja keras, putri Teuku Abu Matsyah tertarik kepada Dampu dan mereka menikah. Dampu lambat laun menjadi saudagar kaya pula. Setelah bertahun-tahun merantau, Dampu pun menyandarkan kapalnya di pelabuhan Banten. Kabar ini membuat Ibunya gembira. Namun, kegembiraan itu lenyap. Saat bertemu Ibunya, Dampu tidak mengakuinya, bahkan menghinanya. 

Ibu Dampu pun berdoa, “Oh Tuhan, jika memang benar pemuda itu bukan putra hamba, biarkanlah ia tetap pergi. Tapi, kalau ia putra hamba, Dampu Awang, berilah ia pelajaran karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri." Tiba-tiba langit gelap, siang hari itu mendadak menjadi malam yang gelap gulita, petir, kilat, guntur bersahutan. Bahkan menyambar kapal Dampu yang bersandar, hingga terbalik. Kapal itu menjadi Gunung Pinang.

Dalam artikel berjudul Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Banten: Legenda Gunung Pinang dan Berbakti kepada Orang Tua, yang ditulis Asep Saefulloh dan dimuat Jurnal Dialog Volume 40, Nomor 2 yang diterbitkan Desember 2017 oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, disebutkan Legenda Gunung Pinang merupakan salah satu karya warisan bangsa yang sangat bernilai. Karena, legenda tersebut mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pelajaran bagi kehidupan masyarakat sekarang.

Sebuah karya merupakan refleksi atas kehidupan manusia. Pesan di dalamnya dapat berupa nilai, pikiran, dan falsafah yang hendak disampaikan kepada masyarakat hinggap dapat membentuk sikap dan moral mereka. Pada gilirannya juga diharapkan mampu memberikan andil bagi proses perubahan ke arah yang lebih baik. 

Legenda Gunung Pinang bisa menjadi popular karena kondisi masyarakat setempat saat itu sedang mengalami kemerosotan moral. Mungkin pada saat itu sedang terjadi banyak kasus anak-anak yang durhaka kepada orang tuanya dan melupakan orang tuanya ketika si anak telah sukses merantau jauh. Dari hal demikian dibuatlah cerita rakyat yang mengaitkan dengan keadaan alam sekitar seperti gunung, pulau, bukit yang menyerupai bentuk benda-benda nyata seperti kapal, yang bertujuan untuk memberikan kesan moral positif kepada anak-anak agar tidak menjadi durhaka kepada orang tuanya. 

Nilai-nilai yang terdapat dalam Legenda Gunung Pinang dari perspektif pendidikan agama Islam, setidaknya dapat dilihat dari dua nilai, yaitu nilai keimanan dan nilai akhlak. Nilai pendidikan tersebut didasarkan pada pokok ajaran Islam, yang secara garis besar terdiri dari tiga hal, yaitu: iman, Islam, dan ihsan. Iman terkait dengan akidah atau keyakinan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai turunannya. Islam menyangkut syariah atau ibadah, tata cara menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt sebagaimana diajarkan para nabi dan rasul-Nya. Sedangkan ihsan adalah perilaku baik atau akhlak yang mulia, baik terhadap Allah Swt, sesama makhluk, maupun alam semesta. 

Berikutnya nilai keimanan, disebutkan setiap agama memiliki keyakinan akan adanya Tuhan. Nilai ini merupakan nilai keimanan atau dalam Islam disebut nilai akidah, yang meliputi bentuk kepercayaan atau keyakinan seseorang akan keberadaan, kebesaran, dan kemahakuasaan Allah Swt. Dari Legenda Gunung Pinang di atas dapat diketahui bahwa ibu Dampu Awang mempunyai kepercayaan akan kekuasaan Tuhan sebagaimana terlihat saat ia marah karena Dampu Awang tidak mengakuinya sebagai ibunya, karena ibunya tidak kuasa menahannya maka ia menyerahkannya kepada Allah. 

Allah Yang Maha Kuasa disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain dalam Surah Al-Mukminun ayat 116, yang artinya, "Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia." Selain itu, kekuasaan Tuhan dapat terdapat pula dalam Surah Bad ayat 66, yang artinya, "Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun."

Dari ayat-ayat Allah di atas dapat diketahui bahwa Allah adalah Penguasa langit dan bumi seutuhnya; Tidak ada kekuatan yang melebihi Dia. Allah dapat mendengar dan melihat apapun yang dilakukan oleh hamba-Nya. 

Selain nilai akidah, dalam Legenda Gunung Pinang, terdapat nilai akhlak yang sangat penting dan harus menjadi pelajaran, khususnya bagi anak-anak terhadap orang tua mereka. Nilai akhlak yang dapat diambil dari legenda ini antara lain sabar. Sabar adalah tahan menghadapi penderitaan dengan keridaan dan kepasrahan kepada Allah. Rasulullah Saw bersabda, "Sabar adalah penerang." (H.R. Muslim).

Allah Swt akan menguji manusia, apalagi seorang Mukmin, dengan berbagai cobaan, baik kesenangan maupun kesedihan. Cobaan ada untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang bersabar dalam menghadapi ujian tersebut. Allah Swt berfirman, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innâ lillâhi wa innâ ilahi râji‘ûn' (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Muhammad Al-Ghazali menyebutkan, sabar setidaknya dapat dilihat dalam tiga keadaan, yaitu sabar dalam menjauhi kejahatan, menahan diri untuk menghindarkan dari perbuatan jahat, tidak memperturutkan hawa nafsu, menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalam kehinaan dan merugikan orang lain. Kedua, sabar dalam menahan kesusahan ketika menjalankan kewajiban, yakni sabar dalam beribadah. Ketiga, sabar dalam perjuangan, menahan diri untuk tidak berpaling dari perjuangan menegakkan kebenaran. (Kendi Setiawan)

Kamis 6 September 2018 1:30 WIB
Masjid Agung Paris Simbol Toleransi Islam
Masjid Agung Paris Simbol Toleransi Islam
Masjid Agung Paris (wikipedia)
Jakarta, NU Online
Pada jurnal Dialog Volume 40, Nomor 2 yang diterbitkan Desember 2017 oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Muhammad Rais menyertakan tulisannya yang berjudul Masjid Agung Paris di Jantung Kiblat Mode Dunia. Tulisan tersebut mengupas masjid-masjid di Paris salah satunya Masjid Agung Paris atau dalam bahasa setempat Le Grande Mosquee de Paris.

Le Grande Mosquee de Paris hadir di tengah romantisme, glamor, dan hiruk pikuknya kota nan cantik dan penuh kejutan, sebagai oase yang menyediakan etalase yang mampu menyambungkan segala doa dan harapan seorang hamba di tengah penat dan banalnya kota Paris. La Grande Mosquee de Paris, sebuah masjid megah nan indah yang terletak di jantung kota tersebut. 

Meskipun bukan agama mayoritas di Prancis, Islam telah menjadi salah satu dari beragam agama di Prancis yang pertumbuhannya semakin meningkat. Imigrasi massal muslim ke Prancis di awal abad ke-20 sampai 21 menyulap negara ini menjadi salah satu negara dengan komunitas Muslim di Eropa. Kini pertumbuhan Islam mulai didorong oleh penduduk pribumi yang memeluk Islam.

Sebagai kaum minoritas di negara Prancis, sekilas yang terbayang dalam benak kita mungkin adalah kalangan Muslim di negara Prancis akan sangat kesulitan (masyaqqah) dalam melaksanakan ibadah dan bermuamalah. Jangankan masjid besar, sekedar menemukan mushalla saja sudah bersyukur. Tetapi, sebuah masjid megah nan indah justru tergelar di sini, dengan segala fasilitas yang menawarkan layanan, ibadah, pendidikan, dan dakwah. 

Le Grande Mosquee de Paris diklaim sebagai masjid pertama di negara Prancis dan bahkan masuk tiga besar di Benua Biru ini. Letak masjid berada tepat di jantung kota mode, tepatnya di distrik V Kota Paris, yang jaraknya hanya satu kilometer dari Notre Dame. Masjid Agung Paris memperlihatkan keagungan Islam, sebuah mozaik Islam yang ditunjukkan lewat lukisan arsitektur dan mozaik-mozaik didominasi arsitektur Moor (style hispano-mauresque) langsung terlihat, begitu memasuki pintu gerbang masjid ini. 

Tak ada kubah, hanya terdapat beberapa desain heksagonal dan beberapa sisi dinding yang dilengkapi mozaik dan keramik artistik indah dan memanjakan mata. Masjid ini memiliki arsitektur tipikal negara-negara Afrika Utara, seperti Al-Jazair, Tunisia dan Maroko (Moor). Dengan dinding putih bersih, atap bercorak hijau biru dan bagian-bagian bangunan tertata rapi, menjadikan masjid ini tempat ibadah yang nyaman, sejuk memesona.

Pendapat lain mengemukakan, bahwa Le Grande Mosquee de Paris ini terinspirasi dari gaya arsitektur masjid terkenal dan salah satu yang tertua di dunia yaitu masjid Al-Qaraouiyyin yang terletak di kota Fés, Maroko. 

Masjid ini dilengkapi dengan menara setinggi 33 meter yang terinspirasi dari Masjid Al-Zitouna yang berada di Tunisia. Sedangkan seluruh bagian dekorasi dibuat oleh pengrajin dari Afrika Utara dengan menggunakan bahan-bahan tradisional dari negara yang sama. Misalnya saja pahatan kayu, batu mozaik bahkan di ruang kamar mandi dilengkapi dengan batu marbel dari Turki. Informasi yang paralel dan elaboratif dikemukakan bahwa "First Muslim site in France the Paris Mosque was built by 450 North African craftsmen and artists. It’s Moorish style originated in Andalusia in 711/1492."
 
Situs Muslim pertama di Prancis itu dibangun oleh 450 tenaga terampil Afrika Utara dan seniman. Gaya Moor berasal Andalusia di 711/1492. Maka, tepat klaim Akbar S Ahmad (2007: 142) bahwa kepingan contoh arsitektur Muslim yang digunakan di Masjid Agung Paris sebagai duplikat istana Al Hambra. Dipadukan dengan istana-istana Muslim di Afrika Utara membantu kita memahami baik masa lalu Muslim maupun masa mereka sekarang ini. Contoh-contoh peninggalan ini merentang dalam putaran waktu. 

Di masjid yang berada di atas lahan seluas satu hektar ini, terdapat taman indah nan asri yang sangat menarik perhatian siapa saja yang berkunjung. Taman khas Prancis ini memiliki kolam berwarna biru cerah. Di tengahnya lengkap dengan pepohonan hijau di sekelilingnya, sebagian dinding ditutupi tetumbuhan hijau merambat, sangat serasi dengan lantainya yang berwarna hijau tosca, sangat indah dan pada salah satu sisi taman terlihat jelas menara masjid (le minaret) berdiri kokoh setinggi 33 meter.

Masjid Agung Paris memiliki sejarah yang khas dan kental. Salah satu poin menarik adalah masjid yang cukup besar ini dibangun atas bantuan Pemerintah Prancis setelah berakhirnya Perang Dunia I. Masjid ini merupakan tanda terima kasih Pemerintah Prancis kepada imigran Muslim seperti warga Al-Jazair, Maroko dan Tunisia yang turut berperang melawan pasukan Nazi-Jerman. 

Mereka sama-sama berperang dalam sebuah pertempuran yang berlangsung dalam pertempuran di daerah perbukitan utara kota Verdun-ser-Meuse pada tahun 1916 (la bataille de Verdun qui durant l’année 1916). Pada peperangan tersebut, sekitar seratus ribu tentara Muslim tewas di medan perang dengan semangat patriotik membela kedaulatan negara Prancis. Dalam salah satu jurnal dikemukakan alasan pendirian masjid ini, “Le gouvernement français décide de construire un mosquée en 1920 pour rendre en hommage aux cent mille musulmans morts pour la France durant la guerre mondiale” (Jurnal al-Salam, “Special Mosquee de Paris, Desember 2008, hlm. 3). 

Masjid ini menjadi simbol abadi persaudaran Prancis dengan orang-orang Islam (la fraternité franco-musulmane). Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Prancis mengalokasikan dana sebesar 500.000 Francs, alih-alih dialokasikan hanya untuk pembangunan sarana ibadah. Dana ini diperuntukkan buat kepentingan yang lebih luas meliputi masjid, perpustakaan, ruang belajar dan konferensi atau seminar dengan kapasitas yang memadai (500.000 Francs pour la construction à Paris d’une mosquée, d’une bibliothéque, d’une salle d’étude et de conférences).

Seluruh pendanaan pembangunan masjid yang dibangun di lokasi yang dulu merupakan rumah sakit Mercy ini disediakan oleh Pemerintah Prancis, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1922. Pada 15 Juli 1926, bangunan Masjid Agung Paris diresmikan secara simbolis oleh Presiden Prancis kala itu masih dijabat oleh M Deschanel. Seremoni peresmian ini juga sempat dihadiri Sultan Moulay Youssef dari Maroko. Pada momentum yang sama pula pelaksanaan shalat berjamaah pun dilangsungkan dengan diimami oleh salah seorang tokoh sufi warga keturunan Al-Jazair bernama Ahmad Al-Alawi. 

Sejak awal dibangun, masjid agung Paris ini menjadi sebuah simbol toleransi di negara Prancis. Ketika perang dunia II tengah berkecamuk, tentara Nazi memburu warga Yahudi untuk dibantai sebagai bagian proyek Holocoust mereka. Umat Islam di Paris membantu ratusan warga Yahudi, kebanyakan dari kalangan anak-anak, warga Al-Jazair menyembunyikan sekirat 1700-an warga Yahudi yang melarikan diri dari kamp-kamp pembantaian Nazi. 

Mereka disembunyikan di dalam bangunan ruangan masjid. Imam masjid saat itu, Khaddour Ben Ghabrit, membantu orang-orang Yahudi mendapatkan 'dokumen palsu' seperti sertifikat, kartu identitas sebagai warga Muslim-Prancis, akta kelahiran hingga surat nikah. Sang imam tidak segan-segan menyembunyikan mereka di masjid dan di rumah-rumah warga di sekitar lingkungan masjid. Acap kali bahkan membantu mereka menyelamatkan diri dengan menyusuri Sungai Sienna dan menumpang kapal kargo. 

Masjid ini menjadi pesan toleransi dan harmonisasi antara pemeluk antaragama di Prancis khususnya, dan di Eropa pada umumnya. Masjid yang kini didapuk sebagai pusat studi Islam di Prancis ini, sangat terbuka bahkan banyak dikunjungi oleh non-Muslim untuk berwisata. Bagi kalangan Muslim gratis, sedangkan bagi non-Muslim dikenakan biaya dengan cara memasukan ke guci yang telah disediakan. Dana yang terkumpul itu pun semata-mata diperuntukkan untuk perawatan masjid.

Masjid agung Paris telah memperlihatkan sebuah bangunan di sebuah negara minoritas, serta menunjukkan bentuk ajaran Islam yang sangat toleran. (Kendi Setiawan)

Senin 3 September 2018 9:30 WIB
Kunjungi Jerman, Balitbang Kemenag Jajaki Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara
Kunjungi Jerman, Balitbang Kemenag Jajaki Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara
Tim Benchmarking Puslitbang LKKMO Balitbang Diklat Kemenag di Jerman
Jakarta, NU Online
Pada bulan Mei 2018 lalu, Tim Benchmarking Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama berkunjung ke Hamburg, Jerman. Tim terdiri dari Asep Saefullah, Nurman Kholis, dan Novita Siswayanti. Tim disambut Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Bambang Susanto. Tim selanjutnya menyampaikan salam silaturrahmi berikut surat tugas dari Kepala Puslitbang LKKMO, Mohamad Zain terkait kegiatan benchmarking model kajian dan pengeloloaan khazanah keagamaan di Hamburg. 

Tim juga menyampaikan maksud diadakan kegiatan antara lain untuk mendukung visi Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam rangka pendirian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara. Melalui kegiatan ini tim juga berupaya menjajagi kemungkinan kerja sama yang diwujudkan dengan Memorandum of Understanding antara Puslitbang LKKMO dengan Centre for The Study of Manuscript Cultures (CSMC), Universitat Hamburg atau lembaga-lembaga terkait lainnya di Hamburg.

Berdasarkan koordinasi dengan pihak KJRI, Tim berkunjung ke Universität Hamburg. Tim ini disambut oleh Alan Darmawan, mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah program doktor tradisi lisan Melayu. Ia pun selanjutnya mengantar tim hingga bertemu Prof. Jan van der Putten, Guru Besar Filologi pada Asia-Afrika Institut Universität Hamburg yang didampingi oleh Yanti dosen bahasa Indonesia pada kampus ini.

Profesor Jan yang fasih berbahasa Indonesia, memaparkan sekilas kondisi yang kondusif di Jerman dalam pemeliharan serta penelitian dan pengembangan kajian manuskrip. Menurut filolog asal Belanda ini, kondisi tersebut antara lain ditunjang oleh tradisi umumnya orang Jerman yang kritis. Tradisi berpikir masyarakat Jerman hingga banyak menghasilkan banyak pemikir ini berpengaruh terhadap bagusnya hasil penelitian orang-orang Jerman. Namun, hasil penelitian itu banyak juga yang tidak go internasional. Hal ini sehubungan kebanggan bangsa Jerman terhadap bahasa mereka sendiri yang secara gramatikal dan aspek-aspek lainnya yang rumit namun bisa bertahan hingga saat ini. Karena itu, bahkan ada filolog Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris padahal kajiannya terkait bahasa.

Demikian juga aspek penilaiannya terkait jurnal berbahasa Inggris. Banyak para petinggi kampus tidak peduli dengan urusan ranking ini hingga mereka tetap tidak mengembangkan penerbitan jurnal-jurnal berbahasa Inggris.

Kajian filologi yang kondusif di Jerman juga ditunjang oleh paradigma pemangku kebijakan di Jerman yang mengapresiasi dan memfasilitasi minat dan keahlian seseorang hingga dapat dikembangkan. Hal ini sebagaimana adanya Institut Asia-Afrika di Universitat Hamburg. Kajian lembaga ini semula secara khusus tentang negara tertentu seperti Indonesia. Tergabungnya  kajian Indonesia dan negara-negara lain di Asia dan Afrika dalam satu lembaga ini merupakan upaya untuk mempertahankan kajian secara khusus tentang negara-negara dan secara umum tentang kedua benua itu.

Di sisi lain dengan mergernya kajian negara-negara dalam satu lembaga yang dikemas dengan nama dua benua itu, agar dalam mengkaji suatu teks misal berbahasa Indonesia tidak hanya secara obyektif tentang bahasa negara ini juga kaitannya dengan teks-teks yang berasal atau berbahasa negara-negara bertetangga dengan Indonesia dan dengan negara-negara lainnya yang satu benua. Dengan demikian, kajian negara-negara ini tetap bertahan meskipun pasang surut. Hal ini juga ditunjang oleh paradigma para petinggi terkait pendidikan di Jerman. Menurut mereka, mungkin saja ada suatu kajian yang saat ini kurang diminati, suatu saat lima atau sepuluh tahun lagi diminati.

Profesor Jan pada kesempatan lain memandu Tim untuk berkunjung ke Centre for The Study of Manuscript Cultures (CSMC), Universitat Hamburg. Lembaga ini didirikan dalam rangka menginventarisasi hingga mengkaji manuskrip (naskah yang ditulis tangan) dari berbagai penjuru dunia. Adapun salah satu kegiatan yang telah dikembangkan oleh CSMC adalah teknologi untuk mengungkap teks dari masa lalu yang hilang karena dihapus dan diganti dengan teks lain. Berkat teknologi bernama multispectal image ini, teks yang hilang itu bisa tampak terlihat. Hal ini misalnya ada tulisan dalam manuskrip yang dihapus lalu pada hapusan itu digoreskan dengan kata yang lain. Melalui teknologi ini, teks yang belakangan ditulis menjadi tampak gelap maka teks yang sudah dihapus itu dapat tampak kembali.

Tim Puslitbang LKKMO dengan diantar oleh Tommy, diplomat yang berdinas di KJRI Hamburg, selanjutnya berkunjung ke Museum fur Volkerkunde yang berlokasi di seberang Universitat Hambur. Dari desain eksterior bangunan ini, tampak upaya Jerman dalam hal ini pemerintah kota Hamburg untuk menampilkan nuansa dunia. Hal ini sebagaimana pada gapura terdapat ucapan selamat datang dalam aksara Latin berbahasa Inggris dan Jerman serta beraksara dan berbahasa Arab.

Kepala Bagian Oceania museum ini, Dr Jeanette Kokott pun menyambut kedatangan tim. Ia memandu perjalanan tim untuk sekilas melihat-lihat berbagai koleksi hingga memasuki ruang Direktur Museum Volkerkunde, Prof Dr Barbara Plankensteiner.

Dalam pertemuan yang menggunakan bahasa Inggris campur bahasa Jerman ini, Profesor Barbara menyatakan, koleksi-koleksi pada musium etnologi ini merupakan hasil eksebisi orang-orang Jerman ke berbagai negeri di dunia.

Karena itu, pada peringatan museum Volkerkunde yang ke-125, museum ini menerbitkan buku luks berketebalan 344 halaman yang dikemas dalam judul Hamburgs Tor zur Welt”(Pintu Gerbang Hamburg Menuju Dunia).

Sementara koleksi dari Indonesia pada museum ini hanya terdapat dari Bali. Hal ini sehubungan dengan inisiasi seorang konglomerat di Jerman yang beristrikan perempuan dari Bali. 

Visi menuju dunia yang dicanangkan oleh Universitat Hamburg dan Museum Volkerkunde ini merupakan estafet visi para pemimpin Jerman dari masa ke masa. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Helmut Kohl sejak berhasil melakukan reunifikasi Jerman pada tahun 1990. Saat berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Soeharto pada tahun 1996, Kohl saat itu menyampaikan visi Jerman yang ingin menjembatani hubungan yang disebutnya Euro-Asia (Eropa-Asia).

Visi tersebut berlanjut dan dikembangkan dari Euro-Asia menuju dunia. Hal ini sebagaimana kebijakan masa pemerintahan Angela Merkel yang menerima sejuta lebih pengungsi dari Suriah. Karena itu, penduduk Muslimnya menjadi lima jutaan hingga Jerman menjadi negara yang dihuni muslim terbanyak di Eropa.

Visi pendirian Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara diharapkan dapat berkesinambungan dari masa ke masa kepemimpinan di lingkungan kementerian Agama. (Kendi Setiawan)

nk/as/ns/diad
Sabtu 1 September 2018 3:30 WIB
Tradisi Merti Deso Rekatkan Kerukunan Antarumat Beragama di Magelang
Tradisi Merti Deso Rekatkan Kerukunan Antarumat Beragama di Magelang
Tradisi merti deso di Magelang (foto: Antara)
Jakarta, NU Online
Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang Diklat Kemenag, menerbitkan jurnal Harmoni Volume 16 tahun 2016 lalu. Jurnal ini memuat beberapa tulisan hasil penelitian salah satunya berjudul Konflik dan Kerukunan Antarumat Beragama di Grabag Kabupaten Magelang.

Tulisan hasil penelitian Zakiyah, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Semarang mengungkapkan terdapat berbagai tradisi lokal dan tradisi keagamaan yang berkembang di Desa Grabag, Losari dan Ngrancah, Magelang, Jawa Tengah. Tradisi lokal dan tradisi keagamaan tersebut dapat berfungsi sebagai perekat sosial dan peredam perselisihan antarwarga, karena dalam kegiatan tersebut semua masyarakat mempunyai kesempatan untuk saling bertemu dan berinteraksi antara satu dengan lainnya. 

Misalnya, di Dusun Tukbugel, Desa Ngrancah dan Dusun Losari terdapat tradisi merti deso. Tradisi ini merupakan acara ulang tahun desa ataupun dusun yang diikuti seluruh warga kampung. Pada acara tersebut setiap keluarga akan membawa makanan nasi dan lauk pauknya. Di antara keluarga tersebut akan ada yang membawa nasi tumpeng dan ingkung ayam. Hasil wawancara dengan bayan dan warga Tukbugel, serta wawancara dengan warga desa Losari, 31 Juli-1 Agustus 2015 ditemukan, di dusun Tukbugel yang biasa membawa tumpeng dan ingkung adalah bayan dusun dan tokoh masyarakatnya. 

Pada acara tersebut, selain makan bersama semua warga, juga menjadi ajang bertemu dan mengurai masalah masalah yang dihadapi masyarakat pada saat itu. Misalnya, disebutkan oleh seorang tokoh agama Islam Desa Losari bahwa pada waktu perayaan merti deso akan ada sambutan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat, biasanya mereka akan bicara tentang pentingnya kebersamaan antarwarga dan peneguhan kembali kerukunan yang sudah terjalin. 

Warga juga mempunyai kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya dan memberikan usulan terkait program desa atau masalah yang dihadapi warga iuran uang banyak sekaligus maka mereka akan keberatan, oleh karenanya untuk meringankan beban warga maka iuran dilakukan secara bertahap melalui jimpitan.

Sementara di Dusun Ponggol I dan II, Desa Grabag terdapat tradisi nyadran yaitu tradisi Jawa yang dapat berfungsi sebagai ruang bersama warga dari berbagai latar belakang agama, sosial dan ekonomi. Di Dusun Ponggol, tradisi nyadran tersebut pernah surut dan tidak dilaksanakan, tetapi mulai tahun 2015, tradisi ini dihidupkan kembali atas inisiatif masyarakat desa dan beberapa tokoh masyarakat. Dalam acara tersebut ada doa yang dibacakan dan makan bersama seluruh warga yang hadir. Tradisi nyadran juga terdapat di Dusun Losari dan dusun Tukbugel desa Ngrancah (wawancara dengan warga dusun Tukbugel dan Losari, 12-18 Juni 2015). 

Tradisi lokal yang juga mengandung ajaran agama adalah tradisi memperingati hari kematian (satu hari, tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, satu tahun, mendak). Tradisi ini dilaksanakan oleh semua pemeluk agama yang ada di desa Losari. Masing-masing mengadakan doa berdasarkan agama mereka.

Misalnya, ketika umat agama Budha mengadakan gendurenan memperingati hari kematian salah satu anggota keluarga maka akan membaca doa sesuai dengan ajaran agama Budha, sedangkan umat lain yang diundang mendoakan menurut keyakinannya masing-masing atau hanya diam saja. Ketika umat Islam mengadakan gendurenan memperingati hari kematian, maka akan didoakan menurut agama Islam, sedangkan umat agama lain yang hadir sebagai undangan mendoakan menurut keyakinannya masing-masing atau hanya diam saja. 

Begitu pula jika ada umat Katolik atau Kristen yang mengadakan gendurenan memperingati kematian, akan didoakan menurut ajaran Katolik dan Kristen, sedangkan warga yang beragama lain akan mendoakan sesuai dengan keyakinannya (wawancara dengan tokoh agama Buddha, Katholik, Islam, dan warga Losari, 29-31 Juli 2015). Kehadiran warga pada acara tersebut merupakan aksi saling menghormati meskipun mereka beda agama. 

Selain tradisi lokal tersebut, kerukunan antarumat beragama dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya, di antaranya adalah budaya saling menghormati antar warga dan interaksi yang telah terbangun sejak lama serta prinsip-prinsip agama dan nilai-nilai Jawa yang masih dipegang oleh masyarakat sehingga dapat menjadi perekat sosial di antara mereka. (Kendi Setiawan)