IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Mengunjungi Desa Wisata Religi Mlangi

Jumat 27 Juli 2018 12:0 WIB
Mengunjungi Desa Wisata Religi Mlangi
Masjid Pathok Negoro Mlangi (gudeg.net)
Jakarta, NU Online
Pada tahun 2017 lalu, Puslitbang Pendidikan dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama menerbitkan buku Top 10 Ekosantri, Pionir Kemandirian Pesantren. Terdapat 10 pesantren atau lokasi yang kemandirian ekonominya dikupas dalam buku hasil penelitian tersebut, salah satunya di Desa Mlangi.

Disebutkan dalam tulisan Muhammad Murtadho ini bahwa di Desa Mlangi, ada sekitar 16 pesantren. Memasuki wilayah Mlangi, kita menemukan dusun ini dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Warung-­warung biasanya buka sore hari setelah Ashar sampai Maghrib. Buka lagi setelah shalat Isya, bahkan ada warung makanan yang buka setelah jam 23.00 WIB. Jam malam lebih terasa hidup dibanding siang hari. 

Pesantren-pesantren yang kebanyakan salafiyah dalam melaksanakan aktivitas lebih banyak malam hari. Pada pagi hari, saat jam­-jam sekolah formal, Dusun Mlangi terasa lengang.  Waktu wawancara yang seharusnya dijadwalkan pada pagi pun, tulis Murtadho, harus digeser menjadi malam hari. Penulis bahkan diminta bertamu pada jam 21.00 WIB. Malam Jumat akan lebih ramai lagi karena hampir masing-­masing pondok mengadakan acara pembacaan Barzanji dengan memakai alat musik terbang (rebana).

Identitas keislaman penduduk  bukan sesuatu yang dibuat-­buat. Buktinya dapat dilihat dari cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju Muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.

Setiap Ramadhan, dusun ini selalu ramai dengan ritual ibadah yang dijalankan warganya. Mulai  tadarus, pengajian anak-­anak, dan sebagainya. Tak sedikit masyarakat dari luar Mlangi yang datang untuk 'wisata' agama, semacam pesantren kilat. Nah, bila ingin berkunjung ke Mlangi, inilah saat yang tepat. Sepanjang siang selama bulan Ramadhan, anda juga akan melihat betapa akrab anak-­anak bermain petasan. 

Mlangi saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Sebagai gambaran sosio­kultural, Desa Wisata Religi Mlangi didukung oleh keberadaan lima modal sosial dan budaya yang dimiliki masyarakat setempat. Pertama, Masjid Pathok Negoro Mlangi merupakan salah satu masjid di Yogyakarta yang disebut­-sebut sebagai pathok negoro bersama-­sama empat masjid yang lainnya. Berturut-­turut kelima masjid Pathok Negoro di Yogyakarta adalah Masjid Jami di Mlangi, Masjid Sultoni di Ploso Kuning, Masjid Ad­darojah di Babadan Baru, Masjid Nurul Huda di Dongkelan dan Masjid Taqwa di Wonokromo Bantul.

Keberadaan masjid pathok negoro di Mlangi menjadi ikon utama desa wisata religi Mlangi. Arsitektur masjid Jami Mlangi pada awalnya sama dengan masjid keraton lainnya. Masjid ini mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan banyak penyangga kayu. Dahulu, soko guru masjid ini berjumlah 16 buah termasuk soko utama di ruang utama masjid. Pawestri menjadi tempat khusus sholat untuk kaum putri. Sementara, bagian sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang (sejenis kolam kecil) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.

Seiring dengan perkembangan zaman, Masjid Jami Mlangi pun mengalami banyak perubahan. Setelah mendapatkan izin dari Keraton, masjid mengalami beberapa proses renovasi tanpa menghilangkan keaslian bentuk bangunan dari Masjid Jami sebelumnya yakni dengan menjadikannya gedung bertingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar­-pilar beton. Sekalipun demikian, mimbar yang ada di masjid ini juga termasuk yang masih asli. Beduk-nya juga menyerupai replika aslinya. Hingga saat ini, masjid jami mempunyai pesona tersendiri yang dapat memikat banyak orang untuk datang baik yang bertujuan shalat maupun berziarah.

Kedua, Ekonomi Kreatif. Di desa Wisata Mlangi, masyarakat secara dinamis dan turun temurun mengembangkan ekonomi mereka berbasis industri rumah tangga. Hampir 90 persen penduduk Desa Mlangi adalah wiraswasta. Mereka berusaha mulai dari usaha konveksi, kerajinan, kuliner, jamu-jamuan, maupun bidang-­bidang yang lain. Banyak produk tercipta dari rumah-­rumah produksi di Mlangi, di antaranya konveksi.

Beberapa usaha konveksi bisa disebutkan seperti celana londo, baju–celana endul, jumput Mlangi, kaos oblong, celana turis, rukuh, mukena, kerudung lukis, hingga kerajinan. Beberapa hasil kerajinan rakyat yang pernah dihasilkan di Mlangi meliputi net voli, net bulu tangkis, jaring gawang, tas raket, bola voli plastik.

Berikutnya, Tradisi Budaya. Dari daftar inventaris tradisi dan budaya masyarakat Mlangi hingga sekarang, Mlangi memiliki berbagai ragam upacara tradisi. Tradisi dan budaya itu telah dijiwai semangat keislaman. Tradisi itu mewarnai masyarakat Mlangi sejak ada dalam janin hingga di wafat. Warga umumnya akan melakukan semacam upacara saat istri­-istri mereka hamil, melahirkan, hingga adanya anggota masyarakat yang meninggal dunia.

Tradisi slametan atau syukuran pun terjadi saat pernikahan, dolanan anak hingga tradisi sunatan dan perkawinan. Adat kebiasaan yang mereka jalankan merupakan kolaborasi tentang keislaman dengan tradisi jawa yang memang sudah dari nenek moyang. Tradisi itu kemudian ditafsirkan dari perspektif islam sebagai upaya untuk menjawab kekinian. 

Keempat, Kesenian. Ketua tim pengembangan Desa Wisata Mlangi, Ihsan, menyebutkan bahwa di desa wisata Mlangi ini terdapat berbagai macam  kesenian rakyat. Hingga sekarang, kesenian ini masih dibudayakan oleh masyarakat setempat. Ragam jenis kesenian tersebut yakni slawatan jowo, kojan, seni rodad, rengeng­rengeng, Berjanjen, hadrah–Ngarak, Simthud Duror dan sebagainya.

Pada saat pengkaji datang, bertepatan dengan malam Jumat, Peneliti mendapati beberapa grup santri di masing-­masing pesantren melakukan pembacaan Barzanji dengan diiringi musik rebana. Suara bersahut-­sahutan antara kelompok satu dengan yang lainnya. Hentakan musik pukul itu terdengar ingar bingar karena datang dari berbagai arah. 

Kelima, Kuliner Khas. Tidak lengkap kiranya di dalam wisata tidak ada kuliner. Di sini bisa ditemukan beraneka macam lauk pauk yang bisa menjamu para wisatawan ketika lapar. Jika  ingin mencicipi makanan yang khas, banyak panganan tradisional diproduksi dari olahan tangan santri maupun masyarakat Mlangi. Salah satu kuliner paling khas adalah opor bebek. Opor bebek khas Mlangi ini konon menjadi makanan kegemaran Sultan Hamengkubuwono IX kalau berkunjung ke tempat itu.

Selain opor bebek, ada beberapa menu santapan yang bisa didapat di desa ini.  Hidangan berbentuk lauk pauk seperti jangan bobor, sego tumpeng sambel pitu, jangan kelontoko, jangan urip­urip, jangan kothok, jangan besengek, uyah salam, brambang salam. Selain itu, tersedia makanan ringan, yakni janagel, trasikan, legondo, lemper, mendut, jadah, wajik, jenang Mlangi, rambak, tetel gedang, carang gesing, krekes, klepon-puthu. (Kendi Setiawan)

Rabu 25 Juli 2018 6:30 WIB
Tiga Manuskrip di Jakarta Temuan Kemenag 2017
Tiga Manuskrip di Jakarta Temuan Kemenag 2017
Manuskrip ‘Uddat al-Lafāẓ bi żayli Ṭabaqāt al-Huffāẓ
Jakarta, NU Online
Pada tahun 2017, Puslitbang Lektur dan Khasanah Keagamaan, Balitbang Diklat Kemenag melakukan penggalian manuskrip di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan DKI Jakarta. Di DKI Jakarta ditemukan sejumlah manuskrip, tiga di antaranya adalah manusrkirp kitab Ṡamarātu at-Tūt fī  Buldāni Hadramaut, kitab ‘Uddat al-Lafāẓ bi żayli Ṭabaqāt al-Huffā, dan Riwayah bil Fi’l. 
 
Naskah Ṡamarātu at-Tūt fī  Buldāni Hadramaut ditemukan dalam kondisi baik. Ia dikarang Habib Salim ibn Jindan. Dalam naskah tidak ditemukan informasi tahun penulisannya. Naskah dimiliki oleh Habib Ahmad ibn Novel dan saat ini naskah tersimpan rapi di Pondok Pesantren Al-Fachriyah Jakarta, Otista Raya.

Naskah berjumlah 36 halaman dengan jumlah baris pada setiap halaman secara umum 13 baris. Naskah berukuran 27x19 centimeter dan ukuran teksnya 21x12 centimeter. Naskah ditulis dalam Bahasa Arab menggunakan aksara Arab dengan jenis khat Naskhi. Tulisannya ditulis dalam bentuk prosa. Sedangkan alas naskah yang digunakan untuk menulis isi teks adalah kertas bergaris. Naskah ditulis dengan tinta warna biru-coklat. 

Naskah memiliki sampul jilid kover baru berwarna biru. Terdapat juga penomoran dengan aksara Arab. Jumlah lembar naskah 18 lembar dengan jumlah halaman kosong 19 halaman. Isi ringkas naskah ini adalah berisi tentang sejarah nama-nama kota yang ada di Hadaral Maut, seperti Tin`a, al`Ijz, Al-`arsamah.

Kutipan awal pada naskah ini adalah Bismillāhirraḥmānirraḥīmi al-ḥamdulillāhi ‘alā mā aulānā min an-ni’ami wa żakkirnā bihī  minhā wa naḥnu fī  al-qadami. ṡumma wālāhā ‘alā ad-dawāmi.

Dan kutipan akhirnya, ‘alaihi wa ālihi wa sallam ajāba ad- da‘wati masru‘an  wa aslama ṡumma rafada ilaihi ṣallallāhu’alaihi wa sallam sanah  tis’a wa lahū min al-aulādi ‘alaqatun … wa ‘innī  ṡumma baina...wa każālika..jā’ a min aṡ-ṡamar….. 

Kemudian, naskah ‘Uddat al-Lafāẓ bi żayli Ṭabaqāt al-Huffāẓ, pengarangnya Habib Salim ibn Jindan. Dalam naskah tidak ditemukan informasi tahun penulisannya. Naskah dimiliki oleh Habib Ahmad ibn Novel. Sekarang, naskah ini tersimpan rapih di Pondok Pesantren Al-Fachriyah Jakarta di Otista Raya.

Halaman naskah berjumlah 36 halaman dengan jumlah baris pada setiap halaman secara umum 24 baris. Naskah berukuran 22,5x17,5 centimeter dan ukuran teksnya 17,5x12 centimeter. Naskah ditulis dalam Bahasa Arab menggunakan huruf Arab dengan jenis khat Naskhi. Tulisannya ditulis dalam bentuk prosa. Sedangkan alas naskah yang digunakan untuk menulis isi teks adalah Kertas Bergaris. Naskah ditulis dengan tinta warna hitam.

Kutipan awal pada naskah, akhbaranā majīdī ibn ‘abdu aṣ-ṣomad iqtadā bi jamī‘i..ḍīqāti al-ḥuffāẓ al-Musammā ‘uddatu al-lafāẓ sanah 1352 qāla akhbaranī mu’alifihi...

Adapun kutipan akhirnya, wa qāla wa tuwaffā raḥimahullāh lailatal arbi ‘ā’I fī jumādil ūlā sanah ba‘da mā… ṭawīlan fī ṭā‘atillāhi ‘azza wa jalla waraqat biżanbihi wa ṣalla ‘alaihi marrātin kaṡīratin wa kharaja bi janāzatihi ‘āmatu amrin tarīmin.

Sedangkan naskah Riwayah bil Fi’l tidak lengkap dan tidak terdapat judul, baik di bagian awal maupun tengahnya. Peneliti yang mendeskripsikan naskah ini memberikan judul Riwayah bil Fi’l sesuai dengan isi kandungan buku ini. Pengarangnya Habib Salim bin Jindan.

Dalam naskah tidak ditemukan informasi tahun penulisannya. Naskah dimiliki oleh Habib Ahmad bin Novel. Sekarang, naskah ini tersimpan rapi di Pondok Pesantren Al-Fakhriyah Jakarta/Otista Raya.

Naskah terdiri 28 halaman, dengan jumlah baris pada setiap halaman secara umum 19 baris. Naskah berukuran 19,5x16,5 centimeter dan ukuran teksnya 15x12,5 centimeter. Naskah ditulis dalam Bahasa Arab menggunakan huruf Arab dengan jenis khat Naskhi. Tulisannya ditulis dalam bentuk prosa. Sedangkan alas naskah yang digunakan untuk menulis isi teks adalah folio bergaris. Naskah ditulis dengan tinta warna biru.

Kondisi naskah tidak lengkap, bagian awalnya hilang dan sampul jilid hilang dan diganti dengan sampul baru. Penomoran ada dengan aksara Arab ditulis menggunakan pulpen. Jumlah lembar naskah 14 lembar dengan jumlah halaman kosong 2 halaman.

Isi ringkas naskah ini adalah berisi tentang periwayatan hadis yang dilakukan dengan cara perbuatan. Misalnya, setelah guru menyebutkan rantai sanadnya, lalu guru tersebut memerintahkan muridnya agar membuka mushaf. Kutipan awal:
Allah Muhammad ibn  Sulaiman al-Makii al-Mishrī wa  ma’ṣūm ibn ‘abdir Rasyīd ibn  Sa’īd ibn abī sa‘īd Ahmad al-‘umarī al-Muḥaddadi an-Naqsyabandi....

Kutipan akhir, fasyakata ‘ainī fatakūna ilahi faqāla lī unẓur fi al-muṣḥaf qāla ḥaddaṡanī Muhammad ibn Muqbil al-Ḥalabi  Ibnu Zain…..fasyakata ‘ainī  fasyakautu  ilaihi.... (Kendi Setiawan)

Senin 23 Juli 2018 11:0 WIB
Mengenal Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag
Mengenal Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kemenag
Kegiatan peneletian Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan
Jakarta, NU Online
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan semula bernama Puslitbang Lektur Keagamaan, salah satu unit kerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Agama. Badan tersebut dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 45 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen, yang kemudian dijabarkan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 18 tahun 1975 (yang disempurnakan).

Pada mulanya, lembaga ini disebut Puslitbang Lektur Agama, sebagai kelanjutan dari unit kerja yang telah ada sebelumnya, yaitu Lembaga Lektur Keagamaan. Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. B.III/2-0/7413, tanggal 1-12-1971. Lembaga ini dipimpin oleh B Hamdani Ali, MA., M.Ed. Salah satu tugas pokoknya yaitu meneliti lektur keagamaan, mentashih dan memberikan izin menerbitkan lektur agama.

Perkembangan selanjutnya, berdasarkan KMA No. 10 tahun 2010, nomenklatur Puslitbang Lektur Keagamaan berubah menjadi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan yang berada di bawah Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Sesuai Renstra Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI 2010-2014, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan mempunyai program strategis, yaitu tersedianya data dan informasi, rumusan rekomendasi, pokok pikiran pengembangan, dan bahan atau draft kebijakan berbasis hasil penelitian bidang lektur dan khazanah keagamaan dalam rangka mendukung perumusan kebijakan pimpinan dan unit-unit tekhnis Kementerian Agama; meningkatnya pemanfaatan produk-produk penelitian dan pengembangan bidang lektur dan khazanah keagamaan dalam perumusan kebijakan pimpinan dan unit-unit teknis Kementerian Agama.

Berikutnya meningkatnya komunikasi, sosialisasi dan publikasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan kepada stakeholders dan masyarakat secara umum; meningkatnya pemberdayaan jaringan dan kerjasama penelitian dan pengembangan bidang lektur dan khazanah keagamaan; meningkatnya kualitas tenaga peneliti bidang lektur dan khazanah keagamaan berdasarkan spesifikasi akademik dan bidang tugasnya; tersalurkannya beasiswa dan bantuan belajar bagi peneliti bidang lektur dan khazanah keagamaan; serta tersedianya dukungan administrasi dalam penyelenggaraan penelitian dan pengembangan lektur dan khazanah keagamaan.

Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan mempunyai visi yakni mewujudkan kebijakan pembangunan agama berlandaskan hasil riset lektur dan khazanah keagamaan. Adapun misi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan adalah Meningkatkan kualitas Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan Klasik; Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan Kontemporer; Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Pengembangan Khazanah Keagamaan;  Meningkatkan Kualitas Penelitian dan Pengembangan Kitab Suci

Tugas Pokok, Fungsi, Struktur Organisasi dan Program

Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagaman mempunyai tugas melakukan penelitian dan pengembangan di bidang lektur dan khazanah keagamaan dengan sasaran utama tersedianya data dan informasi serta rancangan kebijakan dalam rangka mendukung terwujudnya kebijakan berbasis hasil riset di bidang lektur dan khazanah keagamaan.

Dalam melakukan tugas di atas, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan menyelenggarakan fungsi-fungsi: Penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penelitian dan pengembangan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi, penyusunan evaluasi, pelaporan dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan; Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi, penyusunan evaluasi, dan pelaporan dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan; dan Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan.

Untuk mendukung fungsi tersebut, susunan organisasi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan terdiri atas: Bidang Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan; Bidang Penelitian dan Pengembangan Khazanah Keagamaan; dan Bidang Pelayanan Administrasi, Evaluasi, dan Pelaporan Hasil Penelitian dan Pengembangan.

Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan, di antaranya Inventarisasi Naskah Klasik Keagamaan Nusantara; Konservasi/ Preservasi Naskah Klasik Keagamaan Nusantara; Kajian Naskah Keagamaan Kontemporer; Penyusunan Katalog Naskah Klasik Keagamaan; Penyusunan Katalog Karya Ulama.

Selanjutnya, Penelitian dan Penulisan Sejarah Kesultanan/ Kerajaan Islam Nusantara; Penelitian dan Penulisan Rumah Ibadah Kuno; Penelitian dan Penulisan Seni Budaya Keagamaan; Penyusunan Ensiklopedia Pemuka Agama Indonesia; Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Daerah; Kajian Evaluasi Buku PAI di Sekolah; Studi Kasus Buku-buku Keagamaan Bermasalah; Penyusunan Kamus Istilah Keagamaan.

Selain program-program di atas, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan juga menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan lektur dan khazanah keagamaan, baik berbahasa Indonesia maupun asing (Inggris-Arab). Di samping menerbitkan media untuk mengomunikasikan kajian atau penelitian lektur dan khazanah keagamaan, yaitu Jurnal Nasional Lektur Keagamaan, Jurnal Internasioal Heritage of Nusantara, serta Riset News. (Kendi Setiawan)
Sabtu 21 Juli 2018 7:0 WIB
Hasil Riset Kemenag soal Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa
Hasil Riset Kemenag soal Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa
Masjid di Minangkabau (kanan/foto: ranahminang.info)
Jakarta, NU Online
Pada tahun 2017, Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balitbang Diklat Kemenag menerbitkan Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 15, No. 2. Salah satu artikel pada jurnal ini berjudul Varian Islam Nusantara: Jawa, Minangkabau dan Gorontalo. Artikel tersebut merupakan tulisan Donald Qomaidiansyah Tungkagi dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam tulisan tersebut diungkapkan bahwa Islam Nusantara bukanlah upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan setempat, akan tetapi justru agar budaya itu tidak hilang. Karena itu inti Islam Nusantara adalah kebutuhan bukan untuk menghindarkan polarisasi antara agama dan budaya.

Sebab polarisasi demikian tidak terhindarkan. Islam Nusantara dengan demikian menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang autentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya. 

Pada praktiknya, konsep Islam Nusantara ini dalam semua bentuknya dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekara-gaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama di setiap wilayah yang berbeda-beda. Islam bukan hanya dapat diterima masyarakat Nusantara, tetapi juga layak mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan lil 'alamin.

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul; Islam yang membina, bukan menghina; Islam yang memakai hati, bukan memaki-maki; Islam yang mengajak tobat, bukan menghujat; dan Islam yang memberi pemahaman, bukan memaksakan.

Paparan soal Islam Nusantara di Minangkabau diawali dengan penjelasan bahwa Mingkabau merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kental Islam dan teguh adat istiadatnya. Hal ini juga yang menjadikan warna dalam varian Islam di Minangkabau. Proses perjumpaan Islam dan tradisi di Minangkabau mengalami dinamika pasang surut, tak jarang menimbulkan konflik dan ketegangan antara dua kubu yang saling memiliki peranan besar di Minangkabau. Adapun kedua kubu tersebut dijelaskan Iskandar Kemal, berikut:

Pada hakikatnya terdapat dua golongan utama yang memegang peranan di Minangkabau. Pertama golongan masyarakat kaum adat atau orang-orang yang masih terikat pada adat lama, serta golongan masyarakat individu. Golongan pertama yaitu masyarakat pendukung dari adat sedangkan golong kedua terdiri dari golongan alim ulama, cerdik pandai, pemuda-pemudi, serta kalangan yang telah mengalami perubahan secara evolutif sehingga menjadi golongan masyarakat indi-vidu. Untuk memudahkan akan menyebutnya sebagai golongan genealogis dan golongan individu.

Antara kedua golongan ini terjadi pertentangan yang begitu besar. Perbedaan antara golongan genealogis yang mempertahankan adat lama dan golongan individu yang berusaha untuk memberantas hal-hal yang dianggap menyimpang begitu di Minangkabau. Kepala-kepala adat takut menjadi kurang memiliki pengaruh di masyarakat. Ini kemudian memicu perang saudara yang dikenal dengan perang Padri. Gerakan Padri ini, menurut MC Ricklefs terjadi tahun 1780-an. Padri diinspirasi gerakan Wahabi yang dibawa para jemaah haji.

Perang saudara pecah di Minangkabau dan hasilnya, pada 1815, kaum Padri keluar sebagai pemenang mutlak. Belanda dimintai bantuannya untuk campur tangan oleh kaum bangsawan Minangkabau yang kalah, dan mereka menyanggupi permintaan tersebut pada 1821, sehingga pecahlah Perang Padri yang berdarah-darah yang baru berakhir pada 1838 dengan penakhlukan Belanda atas Sumatera Barat dan pemberlakuan peraturan kolonial di daerah tersebut.

Akibat konflik tersebut terjadi evolusi sosio-religius yang mengubah adat kuno sampai ke akar-akarnya. Dari sinilah terjadi negosiasi antara Islam dan Adat yang kemudian melahirkan sebuah falsafah "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah,” di mana nilai-nilai adat sebagai kebiasaan orang minang berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. 

Adat mengatur kehidupan manusia semenjak dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. Adat mengatur hubungan manusia sesama manusia, baik peseorangan maupun cara bermasyarakat dan berbangsa dengan berdasarkan hubungan tersebut kepada ketentuan adat, yaitu nan elok dek awak katuju dek urang, atau nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiek iyolah budi, nan endaih iyolah baso.

Snouck Hurgronje mengungkap teori yang dikenal dengan teori Receptio, maksudnya adalah Islam sebagai agama atau hukum normatif umat Islam dapat diterima di kalangan masyarakat jika tidak bertentangan dengan budaya. Dengan menggunakan teori ini dapat dilihat bahwa perjumpaan antara Islam dan tradisi Minangkabau melalui proses yang penuh dinamika dan berujung pada negosiasi, di mana bentuk penerimaan tradisi Minangkabau terhadap Islam merupakan proses saling melengkapi antara satu sama lain yang tercermin dalam falsafah pendukung: syarak mangato, adat memakai Tuhan bersifat qadim, manusia bersifat kilaf.

Akulturasi yang paling dominan terjadi antara Islam dengan budaya (tradisi) Jawa, sebab keduanya sama-sama kuat. Kebudayaan dan tradisi Jawa di masa silam, sejak berdiri dan kejayaan kerajaan Demak, Pajang hingga Mataram tetap mempertahankan tradisi Hindu-Budha dan Animisme-Dinamisme sebagai produk budaya pra Hindu-Budha. Tradisi ini diperkaya dan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Istana kerajaan Pajang dan Mataram bernuansa Islam, tetapi adat istiadat masih dipertahankan.

Gambaran Islam lokal ini terjadi pada masa lampau, dan realitasnya masih terpateri secara jelas hingga sekarang ini. Banyak sekali budaya, tradisi, dan adat istiadat lokal yang diwarnai Islam terus berkembang, dan sebaliknya juga banyak pemahaman serta pengamalan ajaran Islam yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi lokal yang telah berkembang dan mengakar di masyarakat. Islam dengan wujud ‘Sintesis Mistik’ begitu MC Ricklefs menggambarkan hasil proses rekonsiliasi antara identitas, keyakinan serta gaya Jawa dan Islam. Fakta itu dideskripsikan Ricklefs, berikut: 

"...bahwa Islam mengakomodasi dirinya sendiri dengan lingkungan budaya Jawa sekaligus tidak demikian. Di satu sisi bukti dari adanya satu budaya hibrid di mana menjadi orang Jawa dan orang Muslim di sekaligus tidak dipandang sebagai hal yang problematis; suatu budaya di mana istilah-istilah lokal yang lebih tua, misal Tuhan, sembahyang, surga dan jiwa dipakai, bukan istilah-istilah dari bahasa Arab."

Kemudian dalam batas-batas sufisme, 'sintesis mistik' ini terbagi dalam tiga pilar utama, yaitu suatu kesadaran identitas Islami yang kuat, menjadi orang Jawa berarti menjadi orang Muslim; pelaksanaan lima rukun ritual dalam Islam; penerimaan terhadap realitas kekuatan spiritual khas Jawa seperti Ratu Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu, yang pada dasarnya adalah dewa angin) dan banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih rendah.

Sedangkan menurut Martin Van Bruinessen, Islam di Jawa, sebenarnya tidak lebih dari lapisan tipis yang secara esensial berbeda dengan transendentalisme orientasi hukum Islam di wilayah Timur Tengah. Hal ini disebabkan kerena praktik keagamaan orang-orang Indonesia banyak dipengaruhi oleh agama India (Hindu dan Budha) yang telah lama hidup di kepulauan Nusantara, bahkan lebih dari itu dipengaruhi agama-agama penduduk asli yang memuja nenek moyang dan dewa-dewa serta roh-roh halus. 

Membahas perjumpaan Islam dan budaya di Jawa tidak bisa lepas dari kiprah Walisongo. Mereka selalu menghargai tradisi dan budaya asli dalam menyebarkan agama Islam. Metode mereka sesuai dengan ajaran Islam yang lebih toleran dan melalui proses akomodasi dengan budaya lokal. Hal ini juga merupakan kemasyhuran cara-cara persuasif yang dikembangkan Walisongo dalam mengislamkan Pulau Jawa atas kekuatan Hindu-Budha pada abad 15 dan 16 Masehi.

Apa yang terjadi adalah bukan suatu intervensi, tetapi lebih pada akulturasi dan hidup berdampingan secara damai. Ini merupakan suatu ekspresi dari 'budaya Islam' yaitu ulama sebagai agent of change, dipahami secara luas telah memelihara dan menghargai tradisi lokal dengan cara subordinasi budaya tersebut terhadap nilai-nilai Islam. 

Sintesis mistik ini dapat dilihat dari budaya slametan misalnya, dalam pandangan Andrew Beatty sebagai suatu upacara makan yang terdiri atas sesajian, makanan simbolik, sambutan resmi, dan doa, adalah peristiwa yang sangat sederhana, akan tetapi upacara ini setara dalam tatanan dan kepadatan simbol.

Peserta upacara slametan memandangnya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka sebagai makhluk sosial dan dalam pemahaman mengenai diri mereka sendiri. Peserta upacara slametan memandangnya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka sebagai makhluk sosial dan dalam pemahaman mengenai diri mereka sendiri sebagai orang Jawa; mereka memandangnya sebagai ringkasan tradisi lokal. Namun, totalitasnya memperdaya.

Slametan adalah peristiwa komunal, namun tidak mendefinisikan komunitas secara tegas; slametan berlangsung melalui ungkapan verbal yang panjang di mana semua orang setuju dengannya, akan tetapi hadirin secara perorangan belum tentu sepakat akan maknanya; dan, manakala upacara ini menyatukan semua orang dalam perspektif bersama mengenai, Tuhan, dan dunia, maka upacara sesungguhnya tidak mewakili pandangan siapa pun secara khusus. (Kendi Setiawan)