IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Hasil Riset Kemenag soal Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa

Sabtu 21 Juli 2018 7:0 WIB
Hasil Riset Kemenag soal Islam Nusantara di Minangkabau dan Jawa
Masjid di Minangkabau (kanan/foto: ranahminang.info)
Jakarta, NU Online
Pada tahun 2017, Puslitbang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balitbang Diklat Kemenag menerbitkan Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 15, No. 2. Salah satu artikel pada jurnal ini berjudul Varian Islam Nusantara: Jawa, Minangkabau dan Gorontalo. Artikel tersebut merupakan tulisan Donald Qomaidiansyah Tungkagi dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam tulisan tersebut diungkapkan bahwa Islam Nusantara bukanlah upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan setempat, akan tetapi justru agar budaya itu tidak hilang. Karena itu inti Islam Nusantara adalah kebutuhan bukan untuk menghindarkan polarisasi antara agama dan budaya.

Sebab polarisasi demikian tidak terhindarkan. Islam Nusantara dengan demikian menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang autentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya. 

Pada praktiknya, konsep Islam Nusantara ini dalam semua bentuknya dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi keanekara-gaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama di setiap wilayah yang berbeda-beda. Islam bukan hanya dapat diterima masyarakat Nusantara, tetapi juga layak mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya, yakni rahmatan lil 'alamin.

Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah yang moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul; Islam yang membina, bukan menghina; Islam yang memakai hati, bukan memaki-maki; Islam yang mengajak tobat, bukan menghujat; dan Islam yang memberi pemahaman, bukan memaksakan.

Paparan soal Islam Nusantara di Minangkabau diawali dengan penjelasan bahwa Mingkabau merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang kental Islam dan teguh adat istiadatnya. Hal ini juga yang menjadikan warna dalam varian Islam di Minangkabau. Proses perjumpaan Islam dan tradisi di Minangkabau mengalami dinamika pasang surut, tak jarang menimbulkan konflik dan ketegangan antara dua kubu yang saling memiliki peranan besar di Minangkabau. Adapun kedua kubu tersebut dijelaskan Iskandar Kemal, berikut:

Pada hakikatnya terdapat dua golongan utama yang memegang peranan di Minangkabau. Pertama golongan masyarakat kaum adat atau orang-orang yang masih terikat pada adat lama, serta golongan masyarakat individu. Golongan pertama yaitu masyarakat pendukung dari adat sedangkan golong kedua terdiri dari golongan alim ulama, cerdik pandai, pemuda-pemudi, serta kalangan yang telah mengalami perubahan secara evolutif sehingga menjadi golongan masyarakat indi-vidu. Untuk memudahkan akan menyebutnya sebagai golongan genealogis dan golongan individu.

Antara kedua golongan ini terjadi pertentangan yang begitu besar. Perbedaan antara golongan genealogis yang mempertahankan adat lama dan golongan individu yang berusaha untuk memberantas hal-hal yang dianggap menyimpang begitu di Minangkabau. Kepala-kepala adat takut menjadi kurang memiliki pengaruh di masyarakat. Ini kemudian memicu perang saudara yang dikenal dengan perang Padri. Gerakan Padri ini, menurut MC Ricklefs terjadi tahun 1780-an. Padri diinspirasi gerakan Wahabi yang dibawa para jemaah haji.

Perang saudara pecah di Minangkabau dan hasilnya, pada 1815, kaum Padri keluar sebagai pemenang mutlak. Belanda dimintai bantuannya untuk campur tangan oleh kaum bangsawan Minangkabau yang kalah, dan mereka menyanggupi permintaan tersebut pada 1821, sehingga pecahlah Perang Padri yang berdarah-darah yang baru berakhir pada 1838 dengan penakhlukan Belanda atas Sumatera Barat dan pemberlakuan peraturan kolonial di daerah tersebut.

Akibat konflik tersebut terjadi evolusi sosio-religius yang mengubah adat kuno sampai ke akar-akarnya. Dari sinilah terjadi negosiasi antara Islam dan Adat yang kemudian melahirkan sebuah falsafah "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah,” di mana nilai-nilai adat sebagai kebiasaan orang minang berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. 

Adat mengatur kehidupan manusia semenjak dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada masalah yang lebih luas dan besar. Adat mengatur hubungan manusia sesama manusia, baik peseorangan maupun cara bermasyarakat dan berbangsa dengan berdasarkan hubungan tersebut kepada ketentuan adat, yaitu nan elok dek awak katuju dek urang, atau nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiek iyolah budi, nan endaih iyolah baso.

Snouck Hurgronje mengungkap teori yang dikenal dengan teori Receptio, maksudnya adalah Islam sebagai agama atau hukum normatif umat Islam dapat diterima di kalangan masyarakat jika tidak bertentangan dengan budaya. Dengan menggunakan teori ini dapat dilihat bahwa perjumpaan antara Islam dan tradisi Minangkabau melalui proses yang penuh dinamika dan berujung pada negosiasi, di mana bentuk penerimaan tradisi Minangkabau terhadap Islam merupakan proses saling melengkapi antara satu sama lain yang tercermin dalam falsafah pendukung: syarak mangato, adat memakai Tuhan bersifat qadim, manusia bersifat kilaf.

Akulturasi yang paling dominan terjadi antara Islam dengan budaya (tradisi) Jawa, sebab keduanya sama-sama kuat. Kebudayaan dan tradisi Jawa di masa silam, sejak berdiri dan kejayaan kerajaan Demak, Pajang hingga Mataram tetap mempertahankan tradisi Hindu-Budha dan Animisme-Dinamisme sebagai produk budaya pra Hindu-Budha. Tradisi ini diperkaya dan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Istana kerajaan Pajang dan Mataram bernuansa Islam, tetapi adat istiadat masih dipertahankan.

Gambaran Islam lokal ini terjadi pada masa lampau, dan realitasnya masih terpateri secara jelas hingga sekarang ini. Banyak sekali budaya, tradisi, dan adat istiadat lokal yang diwarnai Islam terus berkembang, dan sebaliknya juga banyak pemahaman serta pengamalan ajaran Islam yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi lokal yang telah berkembang dan mengakar di masyarakat. Islam dengan wujud ‘Sintesis Mistik’ begitu MC Ricklefs menggambarkan hasil proses rekonsiliasi antara identitas, keyakinan serta gaya Jawa dan Islam. Fakta itu dideskripsikan Ricklefs, berikut: 

"...bahwa Islam mengakomodasi dirinya sendiri dengan lingkungan budaya Jawa sekaligus tidak demikian. Di satu sisi bukti dari adanya satu budaya hibrid di mana menjadi orang Jawa dan orang Muslim di sekaligus tidak dipandang sebagai hal yang problematis; suatu budaya di mana istilah-istilah lokal yang lebih tua, misal Tuhan, sembahyang, surga dan jiwa dipakai, bukan istilah-istilah dari bahasa Arab."

Kemudian dalam batas-batas sufisme, 'sintesis mistik' ini terbagi dalam tiga pilar utama, yaitu suatu kesadaran identitas Islami yang kuat, menjadi orang Jawa berarti menjadi orang Muslim; pelaksanaan lima rukun ritual dalam Islam; penerimaan terhadap realitas kekuatan spiritual khas Jawa seperti Ratu Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu, yang pada dasarnya adalah dewa angin) dan banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih rendah.

Sedangkan menurut Martin Van Bruinessen, Islam di Jawa, sebenarnya tidak lebih dari lapisan tipis yang secara esensial berbeda dengan transendentalisme orientasi hukum Islam di wilayah Timur Tengah. Hal ini disebabkan kerena praktik keagamaan orang-orang Indonesia banyak dipengaruhi oleh agama India (Hindu dan Budha) yang telah lama hidup di kepulauan Nusantara, bahkan lebih dari itu dipengaruhi agama-agama penduduk asli yang memuja nenek moyang dan dewa-dewa serta roh-roh halus. 

Membahas perjumpaan Islam dan budaya di Jawa tidak bisa lepas dari kiprah Walisongo. Mereka selalu menghargai tradisi dan budaya asli dalam menyebarkan agama Islam. Metode mereka sesuai dengan ajaran Islam yang lebih toleran dan melalui proses akomodasi dengan budaya lokal. Hal ini juga merupakan kemasyhuran cara-cara persuasif yang dikembangkan Walisongo dalam mengislamkan Pulau Jawa atas kekuatan Hindu-Budha pada abad 15 dan 16 Masehi.

Apa yang terjadi adalah bukan suatu intervensi, tetapi lebih pada akulturasi dan hidup berdampingan secara damai. Ini merupakan suatu ekspresi dari 'budaya Islam' yaitu ulama sebagai agent of change, dipahami secara luas telah memelihara dan menghargai tradisi lokal dengan cara subordinasi budaya tersebut terhadap nilai-nilai Islam. 

Sintesis mistik ini dapat dilihat dari budaya slametan misalnya, dalam pandangan Andrew Beatty sebagai suatu upacara makan yang terdiri atas sesajian, makanan simbolik, sambutan resmi, dan doa, adalah peristiwa yang sangat sederhana, akan tetapi upacara ini setara dalam tatanan dan kepadatan simbol.

Peserta upacara slametan memandangnya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka sebagai makhluk sosial dan dalam pemahaman mengenai diri mereka sendiri. Peserta upacara slametan memandangnya sebagai bagian integral dari kehidupan mereka sebagai makhluk sosial dan dalam pemahaman mengenai diri mereka sendiri sebagai orang Jawa; mereka memandangnya sebagai ringkasan tradisi lokal. Namun, totalitasnya memperdaya.

Slametan adalah peristiwa komunal, namun tidak mendefinisikan komunitas secara tegas; slametan berlangsung melalui ungkapan verbal yang panjang di mana semua orang setuju dengannya, akan tetapi hadirin secara perorangan belum tentu sepakat akan maknanya; dan, manakala upacara ini menyatukan semua orang dalam perspektif bersama mengenai, Tuhan, dan dunia, maka upacara sesungguhnya tidak mewakili pandangan siapa pun secara khusus. (Kendi Setiawan)

Kamis 19 Juli 2018 11:45 WIB
Karakteristik Masjid-masjid di Jawa
Karakteristik Masjid-masjid di Jawa
Masjid Pethok Negoro (foto: brilio.net)
Jakarta, NU Online
Hasil penelitian Balai Litbang Semarang pada tahun 2015 yang dibukukan dalam bunga rampai Khazanah Islam Jawa, juga menyebutkan bahwa Setiadi David Hutama melihat kesejajaran antara tata letak masjid di Lemah Wungkuk Cirebon. Berdasarkan peta yang dibuat Belanda tahun 1719 dengan tata letak desa di Bali. Tata letak desa-desa di Bali terdiri atas empat titik, yaitu istana, wantilan (tempat pertemuan), pasar, dan desa kuil. Keempat titik itu terletak di perempatan dan dipisahkan oleh jalan perempatan sehingga keempatnya berada di sudut-sudut jalan.

Hal sama ditemukan pula di pusat kota Cirebon, tempat Kerajaan Cirebon berada. Ada empat titik yang dipisahkan oleh perempatan, yaitu istana, paseban (tempat pertemuan), pasar, dan masjid (Hutama 2003: 184-185). Namun, berdasarkan bukti penggalian sejarah di Wasit, Fustat, dan Yordan dapat diketahui bahwa dalam sejarah Islam pun masjid adalah salah satu elemen dari pembangunan kota (amsar). Masjid menjadi pusat kota dalam Islam, atau dibangun di tengah-tengah markas tentara (MilWright 2011: 673; Gazalba 1983: 281).

Masjid biasa dibangun berdekatan dengan rumah Gubernur dan berdekatan pula dengan pusat bisnis. Konstruksi abad kedelapan Masehi di masjid-masjid Samarkad, Yerusalem, dan Aman menunjukkan adanya ruang pemisah antara masjid dengan kantor administrasi atau istana. Ruang pemisah itu diisi dengan jalur yang digunakan untuk pelaksanaan upacara. Pemisahan ini terjadi pada masa Abbasiyah karena adanya pergeseran pusat kota dari masjid ke istana (MilWright 2011: 674; Gazalba 1983: 282).

Pola pembangunan kota dengan masjid dan istana sebagai pusatnya itu sejak awal perkembangan kekuasaan Islam di Jawa. Pendirian Kota dan Kerajaan Demak diikuti dengan pendirian Masjid Demak pada tahun 1478 M atau 1506 M. Pembangunan Masjid Cirebon dilakukan setelah Sunan Gunung Jati menjadi kepala pemerintahan. Masjid Agung Banten dibangun bersama dengan pembangunan Surasowan, sebagai ibu kota Kesultanan Banten. Masjid-masjid Agung di luar Jawa pun dibangun di pusat kerajaan, seperti Masjid Baiturrahman di Banda Aceh (Tjandrasasmita 2006: 78-80).

Fungsi dan pengembangan bangunan masjid pada perkembangannya ditentukan oleh perkembangan zaman. Fungsi sosial masjid yang telah berkembang pada masa Nabi Muhammad mengalami pergeseran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Masjid keraton memiliki beberapa fungsi yang berbeda dengan masjid desa atau masjid komunitas karena masjid keraton berfungsi pula sebagai tempat pengadilan, sedangkan masjid desa atau komunitas tidak digunakan untuk fungsi tersebut.

(Baca: Fungsi dan Bangunan Masjid Sejak Zaman Rasulullah)

Pada masa sekarang, ada berbagai ragam masjid yang berkembang di dunia Islam. Ragam masjid saat ini berkembang ke dalam beberapa bentuk, yaitu masjid patronase, ialah masjid yang dibangun dan dibiayai oleh syekh, pangeran, atau tokoh penting sebagai bentuk amal; masjid dengan negara sebagai klien/masjid negara (seperti masjid istiqlal); masjid yang dibentuk oleh komisi pemerintah daerah (seperti masjid Said Naum Jakarta); masjid untuk lembaga umum dan komersial (seperti masjid Salman ITB dan Masjid UI Depok); masjid proyek komunitas sosial; dan masjid sebagai Islamic Center (seperti di negara-negara Barat) (Lihat dalam Holod and Khan 1997).

Perkembangan itu menunjukkan kemampuan masjid untuk bersinergi dengan perkembangan hidup umat Islam. Masjid memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai pusat kohesi sosial umat Islam dan sekaligus bagi pengembangan budaya masyarakat muslim. Sementara itu, dalam bidang arsitektur, masjid terbuka terhadap berbagai pengaruh. Karena tidak adanya aturan tegas dari sumbersumber ajaran Islam mengenai model masjid, arsitektur masjid berkembang sejalan dengan perkembangan zaman.

Ada berbagai pengaruh yang bisa ditemukan dalam konstruksi masjid. Di Jawa, pengaruh Hindu bisa ditemukan jejaknya dalam masjid. Pengaruh budaya asing pun bisa ditemukan jejaknya di dalam masjid. Pengaruh Cina dalam masjid ditemukan dalam bentuk bedug dan atap bertingkat. Arsitektur dan simbol Jawa tampak, misalnya, di Masjid Demak. Masjid Demak dibangun dengan saka (tiang penyangga) dari kayu dan terdapat simbol kura-kura yang melambangkan tahun pembangunannya.

Pengaruh Arab tampak dalam inskripsi dan ornamen kaligrafi yang ada di masjid maupun di makam, seperti di Masjid Setono Gedong yang diteliti oleh Guillot dan Kalus (2008: 133 dst).

Buku Khazanah Islam Jawa juga mengulas beberapa masjid, yaitu masjid Mlangi, masjid Menara, dan Masjid Agung.

Masjid Mlangi mewakili masjid pathok nagara, Masjid Menara di Kampung Melayu Semarang mewakili masjid komunitas, dan Masjid Agung Kauman mewakili masjid agung, yang dalam jangka waktu lama berada di luar kekuasaan keraton Jawa. Masjid pathok nagara pada dasarnya adalah masjid komunitas, namun dibangun atas perintah Sultan dan berada di komunitas.

Masjid pathok negari/nagara di tempatkan di tanah perdikan (swapraja dan bebas pajak), di tempat ulama/kiai dan menjadi pusat pengkajian agama, khususnya hukum Islam. Para kiai tersebut berfungsi sebagai penasehat penghulu kerajaan. Pada masa Kasultanan Yogyakarta terdapat empat masjid pathok negari dan masjid agung menjadi yang kelima, sebagai pusatnya (Budi 2005: 6). Masjid Mlangi adalah salah satu dari empat masjid pathok nagari tersebut, selain Masjid Kasongan (dekat Bantul) dan Masjid Papringan (antara Yogyakarta dan Prambanan).

Masjid Mlangi yang berjarak hanya tiga kilometer dari Tegalrejo menjadi saksi Perang Jawa yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro. Salah satu guru di Mlangi, yaitu Kiai Taptajani, sangat dihormati oleh Pangeran Diponegoro dan memberikan saran pada Diponegoro untuk melakukan perang sabil melawan Belanda (Carey 2008: 89-90).

Masjid Menara yang berada di wilayah Layur Semarang merupakan masjid komunitas yang menggambarkan keragaman budaya pesisiran; pertemuan orang-orang Melayu dan Arab. Masjid komunitas ini menunjukkan dinamika penyebaran masyarakat Muslim, khususnya Arab dan Melayu di Nusantara. Masjid Manara sendiri merupakan saksi sejarah interaksi interetnik di wilayah pesisir utara Jawa. Masjid ini bisa diduga awalnya sebagai masjid sekunder, yaitu masjid untuk peribadatan sehari-hari, karena letaknya yang tidak jauh datri masjid Agung Kauman.

(Baca: Khazanah Islam di Jawa Sajian Balai Litbang Semarang)

Sementara itu, Masjid Agung Kauman merupakan salah satu dari tiga masjid agung di Semarang. Letak Masjid Agung Kauman awalnya berada di dekat alun-alun sebelum alun-alun itu berubah menjadi Pasar Johar. Masjid yang konon dibangun oleh Sunan Pandanaran/Pandan Arang, dibangun kembali karena terbakar pada tahun 1885 dan selesai dibangun pada tahun 1890. Masjid ini menarik karena terletak di jantung kekuasaan Kompeni dan kemudian kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Jawa Tengah.

Masjid Agung Kauman merupakan satu masjid jami yang lama keberadaannya tidak dalam kontrol keraton atau kerajaan Islam, melainkan dalam kontrol Bupati yang menjadi bawahan Kompeni dan lalu pemerintah Hindia Belanda sampai pada era kemerdekaan.

Kajian mengenai elemen keislaman di Pura Pakualaman dan Perjuangan Kiai Bishri Syansuri dalam buku tersebut juga memberikan dimensi berbeda dengan pengkajian masjid. Pengkajian Pura Pakualaman berarti mengkaji mengenai istana sedangkan pengkajian Kiai Bishri Syansuri mengkaji tokoh.

Pengkajian mengenai khazanah keislaman keraton, utamanya keraton yang menjadi bagian dari kerajaan Islam di Nusantara memiliki arti penting dalam membaca elemen Islam di pusat budaya Jawa yang dikenal akulturatif. Sementara itu, pengkajian tokoh agama menekankan dimensi sosiologis dalam pengkajian Islam itu sendiri. (Kendi Setiawan)

Selasa 17 Juli 2018 8:45 WIB
Fungsi dan Bangunan Masjid Sejak Zaman Rasulullah
Fungsi dan Bangunan Masjid Sejak Zaman Rasulullah
Masjid Nabawi (foto: viva)
Jakarta, NU Online 
Islam, selain sebagai ajaran, merupakan fenomena historis/ deskriptif. Perwujudan Islam dalam tataran deskriptif itu dapat dilihat pada masyarakat Muslim, tokoh Muslim, organisasi keagamaan, dan bentuk fisik bangunan. Kajian terhadap fenomena historis/deskriptif Islam menarik minat para akademisi karena fenomena historis Islam menggambarkan dinamika dan persentuhan Islam dengan berbagai budaya masyarakat penganutnya. Satu perwujudan deskriptif/ historis Islam, misalnya masjid, bisa menunjukkan keterkaitan erat antara ajaran agama, struktur sosial, budaya, dan bahkan arsitektur. Hal itu menunjukkan bahwa spirit agama membawa di dalamnya perubahan sosial dan budaya. 

Hasil penelitian Balai Litbang Semarang pada tahun 2015, mengemukakan masjid, sebagai pusat peradaban Islam, memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah perkembangan agama Islam. Hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah ditandai dengan pendirian masjid di Quba pada Senin 12 Rabiul Awal (28 Juli 622 Masehi), di Tanah milik Bani Najjar. Pendirian masjid menjadi titik tolak bagi pembangunan masyarakat Islam karena masjid memainkan berbagai fungsi sosial maupun kultural, selain fungsi peribadatan. Masjid pada zaman Nabi Muhammad digunakan untuk berbagai keperluan, yaitu: ibadah, pertemuan umat Islam, pengembangan pengetahuan/pendidikan, tempat baitul mall, tempat penyelesaian perkara, pengumuman masalah sosial, menyalatkan orang meninggal, dan penginapan bagi musafir (Gazalba 1983: 121, 126-130). 

Hal itu menunjukkan bahwa fungsi masjid sebagai pusat kegiatan sosial dan peradaban telah berlangsung sejak masa Rasulullah sendiri. Bentuk yang dipandang sebagai model dasar bagi pembangunan masjid adalah masjid Nabawi di Madinah. Masjid Nabawi dibangun dalam bentuk segi empat, dengan berdinding tembok. Bentuk sederhana itulah yang menjadi model dasar bagi pembangunan masjid hingga saat ini.

Perkembangan arsitektur masjid yang mendasar terjadi pada Masjid Fustat (kairo) di Mesir, yang dibangun oleh Amru bin Ash, yang juga merupakan masjid ketiga dalam sejarah Islam. Masjid Fustat menjadi contoh bagi pembangunan masjid jami. Pada Masjid Fustat inilah diperkenalkan mimbar bagi khatib, maqshurah (dinding rendah pembatas antara imam dan makmum), menara bagi muazzin, dan mihrab tempat imam memimpin jamaah (Hoesin 1964: 128, 133).

Hosein berpendapat bahwa model masjid tidaklah mengacu kepada budaya Arab, pengaruh gereja, maupun pengaruh arsitektur Romawi, melainkan kreasi Islam. Ia melihat tidak ada pengaruh budaya Arab, gereja, maupun arsitektur Romawi yang bisa dlihat dalam masjid (Hoesin 1964: 134-136). Akan tetapi, beberapa sarjana melihat adanya pengaruh peradaban lain dalam pembangunan masjid. Menara, misalnya, yang mulai ada pada masjid Kairo, baru berkembang pada masa Abbasiyah. Di Syiria dan di Afrika Utara, menara masjid diduga mendapatkan pengaruh dari menara lonceng gereja era Byzantium. 

Meskipun demikian, ada faktor budaya lokal yang mempengaruhi model dan bentuk menara sehingga menara di Mesir, Iran, dan di Turki memiliki ciri khas tersendiri. Termasuk, adanya fenomena masjid tanpa menara di India karena di India menara bukan sebuah fenomena yang berlaku umum (Andrew Paterson 1996: 187-190).

Di Indonesia sendiri, menara masjid juga bervariasi. Salah satu bentuk menara yang menggambarkan pengaruh tradisi pra-Islam adalah menara masjid Kudus. Menara di Masjid Kudus menunjukkan kesamaan dengan bentuk bangunan candi, khususnya Candi Singasari. Penempatan menara itu sendiri mengingatkan kepada penunggun karang atau monumen penjaga situs, yaitu tempat ruh penjaga keselamatan dan pengingat, dalam tradisi Hindu (Wiryomartono 2009: 37-38). 

Pembangunan masjid dalam sejarah Islam awal dilakukan oleh para panglima perang. Masjid dibangun di tengah-tengah komunitas, dekat kediaman panglima perang, dan di sekitarnya terdapat tempat tahanan dan tempat musyawarah di depannya. Pembangunan masjid oleh panglima perang tidak menjadi tren di Indonesia karena masuknya Islam ke Indonesia dimulai melalui jalur perdagangan. Wajar jika masjid dibangun oleh para tokoh agama.

Di Indonesia, masjid juga dipandang sebagai kelengkapan dari kerajaan Islam sehingga masjid dibangun di dekat kraton dan alun-alun. Ada kalanya panglima perang (adipati) memiliki masjid sendiri di tempat kedudukannya (Gazalba 1983: 256- 259). Oleh karena itu, bisa dipahami mengapa di Demak ada Masjid Agung Demak dan di sebelah timurnya (tepatnya di Kudus) terdapat masjid Kudus, karena Sunan Kudus adalah qadli (hakim) dan juga pernah berperan sebagai panglima Perang Kerajaan Demak ketika menaklukkan kekuasaan terakhir Majapahit di Kediri (Guillot dan Kalus 2008: 104, 117). 

Dalam tradisi Islam klasik, terdapat dua jenis masjid, yaitu masjid jami dan masjid biasa. Masjid jam adalah masjid khusus yang dipergunakan untuk shalat Jumat, sedangkan masjid biasa dipergunakan untuk shalat sehari-hari. Masjid jami didirikan dengan izin khalifah dan memiliki khatib untuk shalat Jumat. Khalifah pula yang menunjuk imam shalat. Masjid jami berperan pula sebagai tempat pembelajaran dengan adanya halaqah-halaqah kajian keislaman di dalamnya. Jumlah masjid jami lebih sedikit dibandingkan masjid biasa.

Di Bagdad pada abad kesebelas masehi, misalnya, hanya ada enam masjid jami, sedangkan masjid biasa jumlahnya mencapai tiga ribuan (Makdisi 1981: 12-14). Di Indonesia, pembedaan masjid jami dan masjid biasa mungkin lebih cair. Masjid jami dibangun oleh raja, atau oleh para tokoh agama, sebagaimana dalam hal Masjid Demak. Masjid biasa menjadi masjid sekunder, yang dibangun oleh etnis maupun oleh masyarakat desa dan komunitas. Pengaruh etnis itu melahirkan masjid Pakojan, masjid Pacinan, dan Masjid Melayu, misalnya di Semarang. Masjid-masjid desa dibangun oleh masyarakat desa atau komunitas Ada pula masjid yang dibangun di dekat makam-makam keramat, yang awalnya dibangun untuk tempat shalat penziarah (Lombard 2005: II. 218-219).
 
Di Indonesia pada dasarnya tidak ada model tunggal bagi bentuk masjid. Denah masjid, misalnya, selalu berbentuk bujur sangkar, namun di denah Masjid Cirebon berbentuk persegi panjang. Masjid-masjid lama tidak dilengkapi dengan menara, namun beberapa masjid di Banten, seperti Masjid Agung Banten, Masjid Kasunyatan dan Masjid Pacinan memiliki menara sejak awal. Kolam air di masjid yang terletak di undak-undakan menuju ruang shalat dan ada pula yang kolamnya mengelilingi masjid.

Ciri khas masjid di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah atap berbentuk tumpang ganjil (lima atau tujuh). Atap itu diduga dipengaruhi oleh meru (gunung mistik) di Bali atau dalam relief candi-candi Jawa, yang menggambarkan duplikat kosmos tentang tingkatan alam surgawi. Ada pula yang berpendapat atap tumpang dipengaruhi oleh bangunan bertingkat di Kashmir dan Malabar (Lombard 2005: II. 219).

Selain atap tumpang, masjid-masjid lama di Indonesia memiliki beberapa ciri khas lainnya, yaitu adanya serambi di depan atau di samping ruang utama masjid, adanya kolam di samping atau depan masjid, dan adanya pagar tembok di sekeliling masjid dengan satu sampai tiga pintu gerbang. Pintu masjid lama cukup rendah sehingga harus menundukkan kepala ketika melewatinya. Letak masjid umumnya di Bagian Barat alun-alun (Tjandrasasmita 2009: 239-240). Posisi masjid yang berada di alun-alun itu ada yang menafsirkan sebagai bagian dari tata letak gaya Hindu (Bagoes Wiryomartono 2009: 37-38). (Kendi Setiawan)

Baca hasil penelitian lainnya DI SINI.

Ahad 15 Juli 2018 3:0 WIB
Khazanah Islam di Jawa Sajian Balai Litbang Semarang
Khazanah Islam di Jawa Sajian Balai Litbang Semarang
Buku-buku hasil penelitian Balai Litbang Semarang dipamerkan pada Temu Peneliti Kemenag 2018
Jakarta, NU Online
Pada tahun 2015, Balai Litbang Semarang merealisasikan 'Penerbitan Buku Keagamaan'. Penerbitan buku tersebut merupakan hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang, yang meliputi tiga bidang, yakni Kehidupan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Lektur dan Khazanah Keagamaan. 

Terdapat 12 naskah buku yang diterbitkan kala itu. Sebanyak enam naskah diterbitkan dalam bentuk bunga rampai; dan sisanya terbit dalam bentuk prosiding. Penerbitan dalam bentuk bunga rampai meliputi judul-judul Belajar Kearifan Budaya Membangun Kerukunan Beragama (Sebuah Bunga Rampai tentang Kearifan Lokal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bimbingan Manasik Haji Upaya Membangun Kemandirian Jemaah Haji (Sebuah Bunga Rampai Pelayanan Bimbingan Manasik Haji oleh Kementerian Agama di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat);

Berikutnya Tiga Pilar Manajemen Menuju Madrasah Ideal (Bunga Rampai tentang Implementasi Tiga Pilar MBM di Jateng, Kalsel, dan NTB), Pendidikan Multikultural di Pulau Dewata (Bunga Rampai tentang Pendidikan Multikultural pada SMA di Provinsi Bali, Indigeneous Pemikiran Ulama Jawa , dan Khazanah Islam di Jawa.

Adapun judul-judul dalam bentuk adalah Problematika Pendirian Rumah Ibadah di Jawa Tengah, Agama dan Kearifan Lokal: Model Kerukunan Umat Beragama Komunitas Samin dan Tengger, Peran Rohis di Sekolah dan Pelaksanaan Kurikulum 2013 di Madrasah, Nasionalisme dan Pendidikan Agama di Beranda Depan Indonesia, Kajian dan Evaluasi Buku Manasik Haji di Jawa Tengah, dan Kajian Buku-Buku Keagamaan Pada SMA di Jawa Tengah.

Penerbitan ini telah melalui proses evaluasi dan editing yang ketat dari Tim Penjamin Mutu Internal Peneliti (TPMIP) Balai Litbang Agama Semarang. Tim dibentuk untuk kepentingan peningkatan kualitas hasil penelitian dan penerbitan.
Balai Litbang Agama Semarang.

Penerbitan buku tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan khazanah sosial keagamaan, serta sebagai bahan masukan bagi para pengambil kebijakan tentang pelbagai perkembangan dan dinamika social keagamaan di Indonesia.

Selain itu, diharapkan pula sebagai acuan sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan bagi semua pihak tentang informasi kehidupan keagamaan, dan dapat memberikan wawasan pengetahuan bagi masyarakat luas, terutama berkaitan dengan data dan informasi penelitian.

Khazanah Islam di Jawa

Joko Tri Haryanto, editor buku Khazanah Islam Jawa mengatakan, suatu bentuk khazanah atau kekayaan budaya dari suatu agama sangat menarik untuk dikaji. Khazanah tersebut dapat mencitrakan ekspresi estetika yang muncul dari nilai-nilai yang mendapatkan ruh dari ajaran agama. Bahkan agama seringkali menjadi inspirasi munculnya estetika dan seni dalam komunitasnya. Tak terkecuali seni Islam, seringkali kita temukan berkelindan antara falsafah ajaran, ritual, dan nilai fungsionalnya.

Dari masjid misalnya, kita bisa menemukan masjid di berbagai belahan dunia, yang tidak saja menjadi tempat umat Islam melakukan shalat, tetapi menjadi ekspresi keindahan. Masjid dibangun tidak saja untuk memenuhi kebutuhan fungsional masjid, tetapi ia dibangun juga untuk mengungkapkan simbol-simbol spiritual, sekaligus ekspresi keindahan pembuatnya.

Berbagai khazanah estetika dalam lingkup budaya Islam dalam realitas antropologisnya berkelindan dengan budaya-budaya lokal. Oleh karena itu, banyak kita temukan masjid-masjid dan juga batu nisan di Indonesia yang sangat bercorak Nusantara. Istilah bercorak Nusantara untuk menunjukkan bahwa ekspresi keindahan dalam khazanah budaya Islam sangat beragam, dan yang ada di Indonesia memiliki kekhasan, unik, dan indigenous yang berbeda dengan budaya Islam di belahan dunia lainnya.

Warisan khazanah Islam dengan warna Nusantara ini menjadi sangat penting sebagai penanda keragaman ekspresi keindahan dalam nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini juga menjadi bukti otentik identitas Islam keindonesiaan. Terlebih lagi di Jawa, di mana masyarakatnya semenjak sebelum Islam masuk, telah memiliki sistem budaya yang mapan. Hadirnya Islam di Jawa melahirkan sintesa yang unik dan saling mengisi sehingga menjadi khazanah Islam bercorak Jawa.

Menara Masjid al-Aqsa di Kudus yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Menara, menunjukkan betapa Islam dikembangkan tidak dengan memarjinalkan budaya Jawa yang telah ada. Menara masjid di Kudus itu bercorak meru dan candi yang sangat khas sebagai corak pra-Islam.

Kemudian Masjid Menara yang berada di wilayah Layur Semarang merupakan masjid komunitas yang menggambarkan keragaman budaya pesisiran dan menggambarkan pertemuan budaya Melayu dan Arab, dan berbagai corak sintesa lainnya begitu mudah kita temui di berbagai daerah di Jawa.

Bunga rampai dalam Khazanah Islam Jawa bermaksud menyajikan tulisan-tulisan mengenai khazanah Islam, khususnya masjid-masjid klasik di Jawa. Beberapa kajian mencoba memaparkan sejarah masjid dan fungsi-fungsinya dalam konteks religi, sosial, dan politik. Beberapa kajian lainnya mencoba mengungkapkan makna-makna simbolik estetik dari arsitektur dan ornamen-ornamen masjid.

Khazanah ini sesungguhnya tidak melulu berupa peninggalan dalam bentuk fisik, tetapi khazanah juga meliputi yang tidak berbentuk fisik seperti ide-ide dan pemikiran. Oleh karena itu, buku ini juga menampilkan satu tulisan tentang ketokohan ulama Jawa. Dengan demikian, buku tersebut diharapkan dapat mengantarkan untuk mengenal beberapa kekayaan budaya, dan pemikiran yang hadir di tanah Jawa ini. (Kendi Setiawan)