IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

8000 Sekat Kanal untuk Pembahasan Gambut Terbangun di 2017

Sabtu 28 April 2018 20:31 WIB
8000 Sekat Kanal untuk Pembahasan Gambut Terbangun di 2017
Kepala BRG Nazir Foead. (Foto: Antara)
Banjarmasin, NU Online
Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan sekitar 8000 sekat kanal untuk pembasahan gambut (rewetting) sudah terbangun di 2017.

"Di 2017 kemarin, kami melakukan kegiatan pembasahan kerjasama dengan TRGD (Tim Restorasi Gambut Daerah) membangun sampai 8000 sekat kanal. Luasannya 200 ribu hektare (ha)," kata Nazir di Banjarmasin, Jumat.

BRG, lanjutnya, juga sudah mulai melakukan percobaan untuk upaya revegetasi (revegetation) di sejumlah lokasi. Dan melakukan revitalisasi "livelihood" (revitalization livelihood) dengan membantu 101 kelompok yang ada di 75 desa.

Selain itu, ia mengatakan Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah memberikan arahan pada perusahaan untuk melakukan pemulihan gambut di kawasan perusahaan.

Dari target lebih dari 2,4 juta ha lahan gambut yang harus direstorasi dalam lima tahun sejak 2016, sekitar 1,4 juta ha ada di kawasan perusahaan, sehingga mereka perlu diarahkan.

Sampe 2017, ada sejumlah perusahaan HTI dan perkebunan sawit dengan total luas area gambut mencapai 1,2 juta ha yang telah sepakat untuk melakukan restorasi, ujar dia.

"Tapi tentu dampaknya harus kita pantau terus, apakah betul sudah basah. Ilmu restorasi gambut itu relatif baru. Ilmu tanam padi dan reforestasi mungkin sudah lama jadi tidak perlu ada pengarahan, tapi ilmu memperbaiki gambut itu baru sehingga perlu arahan agar bisa menjalankannya," lanjut Nazir.

BRG juga melakukan pemantauan tinggi muka air di lahan gambut secara real time dengan water logger hasil pengembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bekerja sama dengan Jepang guna melihat kerentanan gambut terbakar. (Antara/Mahbib)

Sabtu 28 April 2018 21:15 WIB
Gelar Jambore Gambut, Tukar Pengalaman, Perkuat Perekonomian
Gelar Jambore Gambut, Tukar Pengalaman, Perkuat Perekonomian
Banjar, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG) menggelar Jambore Masyarakat Gambut di Kiram Park, Banjar, Kalimantan Selatan 
Sabtu (28/4). Kegiatan ini mengangkat tema "Rayakan Gambut, Pulihkan Indonesia".

Deputi III BRG Myrna A Safitri menggambarkan bahwa dalam dua tahun terakhir semakin tumbuh kepercayaan diri dan menguatnya masyarakat Indonesia, hal ini ditandai dengan kenaikan perekonomian masyarakat gambut. 

Selama itu, mereka mendapatkan pendampingan untuk pengolahan lahan gambut dan pembekalan perekonomian seperti pengemasan hasil lahan gambut, mempercantik kerajian yang mereka buat, dan sebagainya.

Sekitar 2000 peserta dari 265 desa yang mengikuti jambore akan bertukar pikiran dan pengalaman mereka masing-masing. Mereka juga akan mendapat edukasi pengolahan lahan dan perekonomian dengan kelas-kelas khusus.

Selain itu, menurut Myrna, mereka juga akan dipertemukan dengan praktisi bisnis dan berdialog tentang peluang ekonomi dan peluang investasi. Oleh karena itu, Myrna mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan modal sosial dan ekonomi yang penting sehingga dinanti masyarakat.

"Jambore masyarakat gambut forum yg dinantikan oleh masyarakat," ujarnya saat memberikan sambutan.

Sementara itu, Ketua BRG Nazir Foead menegaskan bahwa BRG tidak hanya bertugas untuk memulihkan kembali lahan gambut, tetapi juga meningkatkan masyarakat.

"Restorasi tidak saja penting untuk mengurangi asap tapi juga meningkatkan masyarakat," katanya.

Hadir juga Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor mengingatkan bahwa subjek restorasi adalah rakyat.

"Tidak berhenti dengan pemulihan ekologi, tapi juga menyejahterakan," ucapnya.

Sebelum membuka kegiatan secara resmi, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Hendroyono menyampaikan pentingnya membangun kemandirian ekonomi dan menciptakan komoditas strategis. Hal ini terwujud dengan adanya pameran hasil gambut. 

Bambang membuka jambore secara resmi dengan pemukulan gong didampingi oleh Ketua BRG Nazir Foead dan Gubernur Kalimantan Selatan. (Syakir NF/Muiz)
Jumat 27 April 2018 15:30 WIB
Pendekatan Agama Salah Satu Kunci Sukses Restorasi Gambut
Pendekatan Agama Salah Satu Kunci Sukses Restorasi Gambut
Banjarmasin, NU Online
Bersama da'i, kerja Badan Restorasi Gambut (BRG) akan lebih ringan. Hal ini disampaikan oleh KH Zulkifli, salah satu peserta Lokalatih Peningkatan Kapasitas Dai Restorasi Gambut.

"Tugas berat BRG akan lebih ringan," katanya saat memberikan pesan dan kesan pada penutupan acara tersebut di hotel Royal Jelita, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (27/4).

Masyarakat Indonesia agamais, kehidupannya diatur oleh agama, sejak sebelum bangun tidur sampai tidur lagi. Termasuk dalam mengelola lingkungan hidup. 

"Dengan pendekatan agama menjadi salah satu kunci keberhasilan restorasi gambut," ujar peserta asal Pontianak tersebut.

Senada dengan Zulkifli, Ketua BRG Nazir Fuad juga menyampaikan hal yang sama. Ia bercerita tentang seseorang yang lebih memilih pekerjaan yang sederhana ketimbang yang lebih dari sebelumnya. Hal itu atas dasar petunjuk dari guru mengajinya. 

Gambut, menurut Nazir, tidak boleh menyengsarakan masyarakat. Justru harus memberikan berkah kepada mereka.

Ia mengungkapkan bahwa beberapa profesor pernah menyatakan bahwa gambut bakal menjadi penyelamat dunia.

"Mungkin lahan gambut bisa menjadi penyelamat manusia," ujarnya sebelum menutup kegiatan itu.

Satu hektar lahan gambut, lanjutnya, setiap tahun bisa menghasilkan 3 kali lipat sagu daripada ditanam di tanah biasa. Terlebih Indonesia, negara dengan lahan gambut terluas di dunia di antara negara-negara tropis.  (Syakir NF/Muiz)
Jumat 27 April 2018 12:30 WIB
Lokalatih Lahirkan Asosiasi Dai Gambut
Lokalatih Lahirkan Asosiasi Dai Gambut
Wakil Katib PWNU Kalimantan Barat KH Ahmad Zamroni
Banjarmasin, NU Online
Lokalatih Peningkatan Kapasitas Dai Restorasi Gambut melahirkan perkumpulan dai gambut. Hal ini disampaikan oleh KH Ahmad Zamroni, salah satu peserta.

"Kami menginisiasi asosiasi dai gambut," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu saat ditemui NU Online sebelum acara penutupan di Hotel Royal Jelita, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (27/4).

Ia mengungkapkan bahwa asosiasi itu dibentuk agar para dai bisa berperan lebih aktif dan maksimal.

Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu mengungkapkan bahwa acara lokalatih ini sangat strategis karena melibatkan para dai untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanganan kerusakan lahan gambut.

Sebagai organisasi terbesar, menurutnya, Nahdliyin punya tanggung jawab besar untuk menjaga lingkungan.

"Tanggung jawab ini merupakan bentuk eksistensi sebagai khalifatullah fil ardl," ujarnya.

Kiai Zamroni berencana menyampaikan hal ini di majelis ta'lim dan mimbar khutbah. Ia juga akan menjelaskan apa yang telah ia peroleh dari lokalatih tersebut kepada para santri dan pelajar, baik di pesantren maupun madrasah. NU secara organisasi, menurutnya, tentu akan beriringan dengan pemerintah dalam hal penanggulangan bencana. 

Untuk pencegahan terhadap bencana lingkungan, langkah teknisnya sudah ia dapatkan, seperti membuat sekat kanal dan sumur bor.  Tetapi, kiai asal Malang itu menegaskan bahwa yang paling penting adalah kesadaran manusianya.

"Yang paling penting dari semua itu adalah manusianya yang terus disadarkan, dicerahkan. Tidak lagi melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar," pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)