IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Publik Berharap Punya Pemimpin Peduli Gambut

Rabu 6 Juni 2018 8:0 WIB
Publik Berharap Punya Pemimpin Peduli Gambut
Ilustrasi (BRG)
Jakarta, NU Online
Mayoritas masyarakat khususnya di sekitaran daerah berlahan gambut menganggap persoalan gambut sebagai sesuatu yang penting diperhatikan pemimpin lokal terutama para calon pasangan kepala daerah yang maju dalam dalam pilkada tahun ini. 

Hal ini terungkap dari data penelitian Pantau Gambut, inisiatif independen dari berbagai lembaga swadaya masyarakat di Indonesia yang memanfaatkan teknologi, kolaborasi data, dan jaringan masyarakat untuk memberikan informasi dan meningkatkan partisipasi publik dalam memastikan keberhasilan komitmen restorasi ekosistem gambut yang dilakukan oleh segenap pemangku kepentingan di Indonesia.

“Dari 100 responden, 98 di antaranya menjawab bahwa penting bagi para pasangan calon kepala daerah atau pemerintah daerah memiliki komitmen perlindungan gambut,” bunyi hasil kajian Pantau Gambut sebagaimana dirilis akhir Mei 2018.

Alasan pentingnya komitmen kepala daerah atau pemerintah daerah dari para responden ini dapat dikelompokkan menjadi 4 klaster. Pertama, perlindungan ekosistem dan kehidupan. Kedua, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga, mencegah kebakaran. Keempat, sinergi kebijakan pemerintah pusat dengan daerah.

Sayangnya, dari sekian banyak calon pemimpin daerah yang terdapat gambut, hanya sebagian kecil saja yang menyebut gambut sebagai bagian dari program rancangannya. Dari 75 paslon, hanya dua yang memiliki program, visi, dan misi yang spesifik terkait restorasi gambut.

Terkait bencana asap pada tahun 2015 yang menjadi perhatian dunia, pemerintah berupaya merestorasi 2 juta hektare lahan gambut hingga 2020 mendatang. Jika pemerintah daerah belum memiliki program tersebut, tentu akan menghambat jalannya restorasi.

Menurut kajian tersebut, perlindungan dan restorasi 2 juta hektare lahan gambut merupakan program nasional yang melibatkan berbagai pihak di berbagai tingkat pemerintahan. Untuk menjalankan program restorasi di 7 provinsi prioritas ini, peran pemerintah daerah tidak dapat dikesampingkan. (Mahbib)
Rabu 6 Juni 2018 16:35 WIB
Bersikaplah Adil terhadap Lingkungan
Bersikaplah Adil terhadap Lingkungan
Jakarta, NU Online
Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. “Kendalikan Sampah Plastik” menjadi tema besarnya tahun ini. Indonesia dan negara-negara lainnya bergerak bersama mengatasi sampah yang mengancam ekosistem lingkungan hidup.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan harus bersikap adil terhadap lingkungan. Hal ini sebagai bagian dari bentuk keimanan.

''Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia di bulan Ramadhan ini, diharapkan dapat menambah semangat kita dalam berperilaku adil terhadap lingkungan, khususnya dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari iman'' katanya dalam rilis sambutan HLH 2018, Selasa (5/6).

Reduce, reuse, dan recycle (pembatasan, guna ulang, dan daur ulang) atau yang biasa disebut 3 R, katanya, perlu ditingkatkan demi kelestarian alam. 

Menteri Siti, dalam sambutannya, mengatakan perlu upaya bersama dan kolaborasi semua pihak, pemerintah/pemda, masyarakat dan dunia usaha untuk mengendalikan sampah plastik.

Sampah plastik kemasan makanan dan minuman, kantong belanja, dan pembungkus barang lainnya menjadi penyumbang terbesar sampah plastik. Saat ini, ada 16 persen sampah plastik dari total sampah secara nasional dan 17 persen di kota-kota besar seperti Jakarta.

Sementera itu, sampah yang didaur ulang baru mencapai 10 sampai 15 persen dari total keseluruhan sampah plastik, sedangkan 60 sampai 70 persen lainnya tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA). Selebihnya, sekitar 15 sampai 30 persen belum terkelola dan bahkan terbuang ke lingkungan, khususnya perairan, seperti sungai, danau, laut, dan pantai. (Syakir NF/Mahbib)

Rabu 6 Juni 2018 14:35 WIB
367 Titik Api Muncul di Delapan Provinsi Prioritas Restorasi Gambut
367 Titik Api Muncul di Delapan Provinsi Prioritas Restorasi Gambut
Ilustrasi (© Reuters)
Jakarta, NU Online
Dalam kurun waktu sepekan terakhir (31 Mei sampai 5 Juni), ada 367 titik api yang perlu disiagakan yang tersebar di delapan provinsi prioritas restorasi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, dan Papua Barat.

Dipantau dari situs Global Forest Watch (GFW) Fires, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan titik api terbanyak. Ada 73 titik yang muncul dalam pantauan situs tersebut dengan Ketapang sebagai kota terbanyak titik apinya, yakni 23 titik. Di Riau, ada 68 titik api dengan Rokan Hilir sebagai kota terbanyak titik apinya, yakni 21.

Persebaran titik api itu seluruhnya berada di luar hutan lindung. “100 % outside protected areas,” situs tersebut menunjukkan persentase datanya.

Dilihat dari sisi penggunaan lahannya, titik api tersebar sebanyak 46 persen di luar lahan konsesi, 33 persen di perkebunan kayu, 19 persen di lahan konsesi kelapa sawit, dan dua persen di lahan konsesi logging.

Sementara itu, di lahan konsesi yang dalam moratorium terdapat enam persen, sedangkan di lahan konsesi yang tidak dalam moratorium terdapat 95 persen titik api.

Adapun di tanah gambutnya sendiri, terdapat 46 persen titik api, sisanya di lahan non-gambut.

Total keseluruhan titik api yang muncul pada tahun 2018 ini berjumlah 3.972 titik. Hal ini sudah cukup baik mengingat penurunan jumlah titik yang terus terjadi setiap tahunnya setelah kejadian hebat pada tahun 2015 dengan jumlah 180.133 titik. Pada tahun 2016 dan 2017, secara berurutan, terdapat 24.705 titik dan 18.020 titik.

Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Selasa (5/6) kemarin, situs tersebut mendeteksi 75 titik api di delapan provinsi tersebut.

“75 titik api terdeteksi per tanggal 5 Juni 2018,” Pantaugambut.id melaporkan di berandanya berdasarkan data GFW Fires. (Syakir NF/Mahbib)

Rabu 6 Juni 2018 5:15 WIB
Hujan Buatan, Upaya Pemerintah Kurangi Potensi Karhutla
Hujan Buatan, Upaya Pemerintah Kurangi Potensi Karhutla
Ilustrasi (straitstimes.com)
Jakarta, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Sumatera Selatan sebagai salah satu tempat perhelatan Asian Games 2018 Agustus mendatang.

Hujan buatan menjadi salah satu alternatif upaya KLHK untuk mengurangi titik-titik yang berpotensi menimbulkan asap. Selama kurun waktu dua pekan, 16 Mei hingga 2 Juni, 27 ton garam terlah dihabiskan untuk kegiatan tersebut.

“Dari periode 16 Mei - 2 Juni 2018 total garam yang telah dijatuhkan sebanyak 27 ton yang terpusat di Provinsi Sumatera Selatan yaitu di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI),” tulis rilis KLHK pada Ahad (3/6).

Upaya pembuatan hujan buatan, lanjutnya, dilakukan dengan menggunakan pesawat Casa 212 PK-PCT dengan sekali semai garam sebanyak satu ton sehingga dalam dua minggu tersebut, total sudah 27 kali semai.

“Hal ini diharapkan dapat mempercepat pembentukan butir-butir hujan sehingga kawasan-kawasan rawan karhutla tetap basah dan meminimalkan potensi kekeringan yang rawan memicu karhutla,” tulisnya.

Selain hujan buatan, KLHK juga menjatuhkan bom air sejumlah lebih dari 6 juta liter di Provinsi Riau dan Sumatera Selatan guna mengusahakan berkurangnya titik api.

Tak kalah dengan gerakan dari udara, satgas darat juga tidak berhenti bergereak dengan selalu melakukan patroli terpadu dan mandiri, serta sosialisasi. 288 posko dari 816 desa di enam provinsi rawan karhutla, yakni Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara telah melakukan patroli tersebut.

Menurut Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU Ali Yusuf, dampak negatif yang diakibatkan dari karhutla cukup memprihatinkan. Penduduk atau pengusaha yang membuka lahan dengan cara membakar menimbulkan mudarat lebih besar dibanding hasil upah yang mereka peroleh dari aksinya.

Oleh karena itu, LPBI NU mengajak masyarakat agar dapat mencegah terjadinya karhutla, khususnya di lahan gambut. Sebab, lahan tersebut, katanya, manfaatnya cukup besar untuk ekosistem. “Mari kita jaga lahan terutama gambut karena ia memiliki manfaat yang sangat banyak untuk kelangsungan ekosistem kita,” katanya. (Syakir NF/Mahbib)