IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Cara Santri Pesantren Buntet Pelopori Pengelolaan Sampah

Senin 28 Mei 2018 18:0 WIB
Cara Santri Pesantren Buntet Pelopori Pengelolaan Sampah
Santri Buntet Cirebon kelola sampah jadi BBM
Cirebon, NU Online
Cirebon tengah berada di ujung tanduk untuk persoalan sampah. Terlebih, 30 Mei 2018 nanti menjadi tenggat waktu terakhir beroperasinya TPA Ciledug yang merupakan TPA satu-satunya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Di tengah makin mendesaknya keberadaan lahan TPA, seorang santri di Komplek Buntet Pesantren datang menawarkan solusi. Dia sudah beberapa tahun ini melakukan uji coba pengolahan sampah secara mandiri untuk mengatasi masalah sampah, terutama sampah plastik.

Dia adalah Muhammad Majdi yang mengaku sudah sejak 2013 mulai melakukan pengolahan sampah secara mandiri, meskipun saat ini masih dengan skala kecil.

"Awalnya saya prihatin, kepedulian kita akan sampah dan lingkungan begitu kurang. Saya pun saat itu sebagai santri tertantang untuk bisa berbuat lebih untuk membantu mengatasi persoalan sampah," ujarnya.

Dikutip dari radarpekalongan.co.id, Lulusan IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang kini tengah sibuk menyelesaikan pendidikan S3-nya tersebut, menyempatkan diri untuk mengelola dan mengatasi persoalan sampah yang ada di lingkungannya, meski hal tersebut masih dilakukan dengan biaya sendiri.

"Saya sekolah jurusan pendidikan biologi. Ilmu yang saya dapatkan harus saya implementasikan untuk membantu dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat," imbuhnya Ahad (27/5).

Majdi sendiri kemudian membuat alat dengan barang-barang sederhana dan bekas pakai untuk bisa mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. 

"Ini sebenarnya bukan barang baru. Di Jepang sudah digunakan sejak lama. Ini efektif untuk mengatasi sampah plastik. Tapi tidak semua sampah bisa diolah. Ada beberapa kategori yang bisa diolah menjadi BBM, ada juga yang diolah ke dalam bentuk lain," jelasnya.

Secara teknis, Majdi menyebutkan jika sampah-sampah yang diterima dari masyarakat harus dipilah-pilah terlebih dahulu, agar BBM yang dihasilkan bermutu dan berkualitas bagus. Sampah plastik tersebut harus bebas dari unsur kertas, tanah dan lain-lainnya.

"Makanya, kita siapkan bak atau ember cuci. Sampah plastik yang kita terima, dibersihkan dan kemudian dikeringkan. Yang terpenting sampah plastik ini harus dipilah-pilah dulu. Yang bisa untuk membuat BBM itu yang plastik bening atau plastik kresek. Sementara plastik-plastik seperti bekas minuman kemasan, bungkus kopi dan sampah plastik yang banyak gambar tidak bisa karena kadar kertas dan lain-lainnya tinggi," paparnya.

Sampah-sampah plastik yang sudah dipilah, dicuci dan dijemur tersebut, kemudian diletakkan ke dalam alat yang sudah dimodifikasi berupa kaleng yang diberikan penutup, dan diberikan selang penyulingan. Sementara kaleng tersebut diletakan di atas tungku dan kemudian dibakar.

"Cara ini untuk melelehkan plastik. Setelah meleleh, nanti baru terpisah kandungan plastiknya. Ada residu yang mengendap, sementara minyaknya teralirkan melalui selang, dan kemudian masuk ke dalam penampung yang terbuat dari botol," katanya.

Untuk setiap kilogram sampah plastik, Majdi mampu memproduksi minyak kurang lebih sampai setengah liter. Diakuinya, biaya yang dikeluarkan untuk memproses sampah tersebut menjadi minyak lebih besar ketimbang nilai ekonomis minyaknya sendiri.

"Kendalanya itu, biaya untuk membakar dan memproses sampah plastik menjadi minyak ini lebih mahal, ketimbang minyaknya sendiri. Jadi, kalau hitung-hitungannya untuk usaha dan mencari nilai ekonomis gak akan ketemu. Ini harusnya untuk program penanggulangan sampah plastik," tambahnya.

Setiap harinya, sampah-sampah yang dihasilkan masyarakat sebagian besar adalah sampah plastik yang akan sangat lama membutuhkan waktu untuk terurai. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan penanganan, sampah-sampah tersebut menjadi masalah yang nantinya akan sulit ditangani.

"Setiap hari manusia itu memproduksi sampah plastik setidaknya 70 sampai 80 persen. Sisanya adalah sampah-sampah organik seperti sisa makanan, minuman dan lain-lain. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana bisa mengurangi volume sampah plastik ini agar tidak menimbulkan masalah," tukasnya.

Di akhir pembicaraan, Majdi menegaskan jika seluruh hal yang dilakukan tersebut tidak akan berarti apa-apa, jika kesadaran masyarakat tidak dibangun dan diperbaiki. Menurutnya, masyarakat menjadi elemen penting dari pengelolaan dan penanganan sampah di Kabupaten Cirebon. (Red: Muiz)
Ahad 27 Mei 2018 4:15 WIB
Soal Kerusakan Kanal Gambut, BRG Minta Kepolisian Tindak Lanjuti Pengaduannya
Soal Kerusakan Kanal Gambut, BRG Minta Kepolisian Tindak Lanjuti Pengaduannya
Ilustrasi (Harian Terbit)
Jakarta, NU Online
Tiga sekat kanal di Desa Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau, mengalami kerusakan. Kepala Subpokja Kemitraan, Resolusi Konflik Sosial, dan Pengaduan Badan Restorasi Gambut (BRG) Eko Novi menuturkan sudah melayangkan surat kepada kepolisian untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut.

“Kita sudah meminta kepolisian tindak lanjuti,” ujarnya kepada NU Online pada Sabtu (26/5).

Ia menyatakan bahwa BRG sudah mengirim surat ke Polres Bengkalis dan Polda Riau. Rencananya, ia akan berkunjung ke Ditreskrimsus Polda Riau guna konfirmasi surat yang telah ia kirim.

Tim penanganan pengaduan BRG, kata Eko, bersama dengan perangkat desa telah melakukan pemeriksaan ke lapangan. Hasilnya, kanal yang rusak tidak dapat diperbaiki lagi. Hal itu disebabkan patahan kayu nibung dan cor semen yang hancur. Bahkan, katanya, terdapat jejak eskavator.

“Diduga dirusak oleh korporasi,” katanya.

Eko menegaskan bahwa pembangunan sekat kanal sudah melalui mekanisme persetujuan di awal tanpa paksaan (pediatapa) dengan masyarakat sekitar. “Pelaksana pembuatan sekat kanal juga melibatkan masyarakat,” tuturnya.

BRG, kata Eko, akan terus mendampingi masyarakat menangani permasalahan gambut yang mereka hadapi. (Syakir NF/Mahbib)

Sabtu 26 Mei 2018 19:6 WIB
Program Sekat Kanal Bantu Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Program Sekat Kanal Bantu Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Ilustrasi (kompas.id)
Pulang Pisau, NU Online
Program unggulan Badan Restorasi Gambut (BRG) mengenai pembangunan sekat kanal menuai pujian dari masyarakat Desa Mulyasari, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah.

Sekat kanal yang dibangun BRG tahun 2017 dianggap sangat membantu kegiatan pembasahan lahan gambut. Akhir 2015 lalu terjadi kebakaran lahan gambut disana, namun setelah adanya sekat kanal tidak pernah terjadi lagi sampai sekarang.

“Dengan adanya sekat kanal ini, potensi kebakaran lahan tertanggulangi apalagi saat ini banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan di sini,” ujar Fasdes Mulyasari di Pulang Pisau, Khairull Arifin.

Tak hanya itu, keberadaan sekat kanal juga ikut membantu masyarakat dalam mengairi areal persawahan, dimana saat ini Desa Mulyasari memproduksi padi hibrida.

“Alhasil produksi padi lebih meningkat dibanding tahun sebelumnya, dalam satu hektar areal persawahan rata-rata menghasilkan 3-4 ton per sekali panen,” ujarnya.

Selain itu sekat kanal ini merupakan percontohan se-Kecamatan Pandih Batu.

Sementara itu manfaat sekat kanal juga diakui oleh masyarakat Desa Mekar Tani, Kecamatan Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah terutama dalam memasuki musim kemarau saat ini.

Fasdes Mekar Tani di Katingan, Maria Chrisella Malango mengatakan dengan keberadaan sekat kanal, saat ini kebun karet milik warga tidak mudah terbakar dan itu memperkecil potensi Karhutla.

“Desa Mekar Tani mendapat bantuan sekat kanal dari BRG tahun 2017 yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya (UPR) dalam bentuk swakelola oleh kelompok Masyarakat Peduli Tabat (MPT). Saat ini ada 11 sekat kanal dalam kondisi yang baik dan telah berfungsi,” katanya.

Seperti diketahui, sekat kanal ini merupakan program unggulan dari Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bertujuan untuk menaikkan tinggi muka air gambut minimal hingga 40 cm dari permukaan. (BRG/Mahbib)
Sabtu 26 Mei 2018 11:53 WIB
Lestari, Perempuan Pejuang Antibakar Lahan dari Sebangau Jaya
Lestari, Perempuan Pejuang Antibakar Lahan dari Sebangau Jaya
Pulang Pisau, NU Online
Perempuan juga memegang peranan sangat penting dalam menjaga gambut dengan mengelolanya secara arif tanpa perlu membakar lahan. Salah satunya diperlihatkan oleh Kisruh Sekar Tran Lestari, Kepala Desa Sebangau Jaya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Lestari sadar betapa bahayanya membuka lahan dengan membakar. Cara ini memang lebih praktis dan murah, tapi akibatnya bisa fatal seperti kebakaran hebat pada 2015.

“Awal penanaman swadaya dan sekarang alhamdulilah ada bantuan dari Badan Restorasi Gambut pengembangan 7 hektare,” kata Lestari.

Tahun lalu BRG meninjau persawahan di Desa Pantik, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. BRG ingin melihat secara langsung kesiapan metode persawahan tanpa bakar di lahan gambut. Lestari mendapat undangan untuk mengikuti metode ini lalu rela menempuh perjalanan jauh dan akses jalan buruk demi mendapatkan pengetahuan ini.

“Saya mendapatkan info Pak Camat, BRG akan melihat praktek bersawah tanpa membakar lahan di Desa Pantik. Meski jauh dan jalanan buruk, kami ingin ikut kegiatan ini. Warga kami sudah tidak berani membakar untuk memulai tanam. Jadi ladang kami sudah banyak ditinggalkan. Sementara pangan kami mulai berkurang. Kami tidak tahu harus bertanya dan meminta tolong kepada siapa. Kami ingin mendapatkan pengetahuan ini,” kata Lestari.

Lestari bercerita pada awal mulanya para petani di desanya terbiasa bertanam dengan lebih dulu membakar. Pada 2015 terjadi kebakaran hebat sehingga muncullah peraturan dilarang membakar. “Di situ saya merasa miris melihat keadaan di desa sehingga pada waktu itu ada undangan ke Desa Pantik dan saya melihat prospek lahan tanpa bakar yang sangat banyak manfaatnya,” ujar ibu dari tiga putra itu.

Hatinya tergerak untuk menerapkan metode ini di desanya. “Saya pikir mungkin petani akan lebih maju dalam pertanian walaupun itu sangat sulit diterapkan di desa kami, namun itu tak membuat saya surut atau putus asa, dan pada akhirnya saya berusaha semampu saya agar mendapat panen yang baik,” kata perempuan yang berusia 37 tahun itu. Harapannya terwujud. Walau kemampuan cetak sawah melalui swadaya hanya satu hektare, sawahnya bisa menghasilkan beras 4 ton lebih.

“Harapan desa saya muncul dan pada akhirnya kami mendapat bantuan penanaman dari BRG dan Wetlands,” kata Lestari. “Walau tertatih-tatih kami terus berusaha untuk petani khususnya Sebangau Jaya.”

Lestari berharap ada pelebaran cetak sawah lagi dan ada investasi di desa-desa khususnya Sebangau Jaya. “Semoga desa saya lebih maju, syukur-syukur bisa menjadi desa penghasil beras terbesar walau saat ini cuma mimpi. Semoga ini menjadi nyata. Amin,” pungkas Lestari.

Usaha ini sepantasnya dicontoh dan dilestarikan demi menjaga gambut Indonesia dari kebakaran. (BRG/Mahbib)