Home Balitbang Kemenag Diktis Lingkungan Ketenagakerjaan Pertanian Parlemen Video Foto Download

Helfison Syawir Ajak Warga Ubah Tumbuhan Gambut Jadi Duit

Helfison Syawir Ajak Warga Ubah Tumbuhan Gambut Jadi Duit
Kehadiran Helfison membujuk warga-warga agar mau terlibat pengolahan pohon pandan yang hidup di lahan gambut menjadi tas yang bisa dijual dengan harga tinggi. (Foto: Istimewa)
Kehadiran Helfison membujuk warga-warga agar mau terlibat pengolahan pohon pandan yang hidup di lahan gambut menjadi tas yang bisa dijual dengan harga tinggi. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Di antara tiga tugas yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Badan Restorasi Gambut (RG) adalah penataan ulang pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan. Artinya, masyarakat diminta menggunakan lahan gambut menjadi sesuatu yang menebarkan manfaat untuk kehidupan sosial ekonominya. 

 

Caranya, seperti mengelola lahan gambut menjadi lahan perkebunan atau pertanian. Selanjutnya, memanfaatkan tumbuhan yang hidup di lahan gambut yang dinilai bisa menjadi sesuatu yang berpotensi menambah penghasilan mereka. 

 

Sebelum Covid-19 menyerang, aktivitas inilah yang dilakukan Helfison Syawir (47) di Jambi. Salah satu Fasilitator Desa (Fasdes) BRG yang ditugaskan di Desa Rukam Kecamatan Taman Rajo, Kabupatan Muaro Jambi ini setiap hari mendatangi kelompok masyarakat. Kehadirannya tak lain membujuk warga-warga agar mau terlibat pengolahan pohon pandan yang hidup di lahan gambut menjadi tas yang bisa dijual dengan harga tinggi. 

 

"Saya sudah mendampingi beberapa desa DPG. Kali ini saya dan masyarakat memanfaatkan tanaman pandan menjadi kerajinan tas. Saya menggandeng kelompok wanita peduli gambut yang sudah saya bentuk sebelumnya," kata Helfison kepada NU Online, Ahad (29/11). 

 

Pria yang lahir di Solok 25 Februari 1973 ini meyakini tas-tas yang terbuat dari pandan bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat. Karena itu dia bersungguh-sungguh akan terus mendorong masyarakat tersebut mau mengolah daun pandan menjadi barang berharga. 

 

Kegiatan, lanjutnya, sudah berjalan sejak beberapa bulan yang lalu. Meski usianya belum lama, eksistensi kelompok masyarakat binaan BRG tersebut sudah mulai dikenal masyarakat luas. Hal itu dapat dibuktikan dari keterlibatan kelompok masyarakat binaan BRG pada kegiatan pameran Disperindag Provinsi Jambi yang digelar belum lama ini. 

 

Helfison aktif mendatangi kelompok masyarakat binaan BRG sekedar ingin mengajarkan bagaimana cara membuat tas dari daun pandan. Ide dan keterampilan mengolah pandan menjadi tas berharga tersebut didapatkan Helfison saat pelatihan-pelatihan BRG . 

 

Kini seluruh hasta karya kelompok ibu-ibu binaan BRG mulai di promosikan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Tas dari daun pandang itu pun akan dibandrol dengan harga yang terjangkau. "Tapi semua itu baru skema, karena ini sedang berjalan. Beberapa tahapan tengah dilangsungkan," katanya. 

 

Keuntungan dari kegiatan koperasi masyarakat tersebut diberikan 100 persen kepada warga yang ikut terlibat mensukseskan pengolahan daun pandan itu. Dia optimis semua skema yang telah dibuat bisa berjalan dengan lancar. 

 

Capaian lain yang saat ini dialami Desa Rukam adalah masyarakatnya yang sudah menjauhi pembukaan lahan dengan cara dibakar. Sebaliknya, kini mereka melakukan pembuatan pupuk organik dan biopestisida. 

 

"Semua pengetahuan yang saya ajarkan ini didapat dari pelatihan sekolah lapang yang diikuti oleh utusan masing-masing DPG," ungkapnya.

 

Program pemberdayaan masyarakat di perdesaan itu dinilai Helfison Syawir telah menginspirasi banyak kalangan. Dia menyebut beberapa kegiatannya sudah ditayangkan di televisi nasional dan internastional antara lain DW TV dan TVRI. Program itu menjelaskan terkait teknik kelompok masyarakat dalam mengelola lahan gambut.

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori 
Editor: Kendi Setiawan

Posisi Bawah | Youtube NU Online