Home Balitbang Kemenag Diktis Lingkungan Ketenagakerjaan Pertanian Parlemen Video Foto Download

Urgensi Penelitian Etis Gali Informasi dari Responden

Urgensi Penelitian Etis Gali Informasi dari Responden
Etika penelitian sangat penting, apalagi jika penelitian yang dilakukan melibatkan interaksi dengan bisnis, atau anggota masyarakat umum.
Etika penelitian sangat penting, apalagi jika penelitian yang dilakukan melibatkan interaksi dengan bisnis, atau anggota masyarakat umum.

Aktivitas penelitian menjadi hal yang lazim dilakukan oleh mahasiswa maupun profesional. Sebagai subjek penelitian, maka perlu mempertimbangkan etika ketika berhubungan dengan responden. Untuk itu, peneliti harus memahami dasar-dasar penelitian etis dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi proyek penelitian. 

 

"Etika penelitian sangat penting, apalagi jika penelitian yang dilakukan melibatkan interaksi dengan bisnis, atau anggota masyarakat umum," ujar Dosen Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia, Dr Prudentia, dalam kegiatan  webinar nasional bertajuk Tantangan dan Strategi Penelitian Lisan di Masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ).

 

Menurutnya, saat meneliti, subjek penelitian pasti melakukan prosedur mulai Focus Group Discussion (FGD), survei, wawancara mendalam atau bahkan mengamati perilaku orang. Saat melaksanakan semua itu, yang perlu diperhatikan secara etika penelitian adalah jangan sampai merugikan, menginjak-nginjak kehormatan, bahkan membahayakan responden.

 

"Meskipun kita semua pasti lah ya, termasuk baik, termasuk berpikiran positif ketika melakukan penelitian lapangan tetapi ada banyak kemungkinan secara tidak sengaja ketika apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita tunjukkan, apa yang kita pahami baik tapi kenyataanya membahayakan responden kita," papar perempuan yang juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Indonesia ini.

 

Ditambahkan, yang seringkali terjadi seorang peneliti tidak sadar ketika responden yang diteliti sebagai objek penelitian terluka atau tercederai perasaan mereka. 

 

Paling tidak ada tiga hal yang termasuk penelitia yang bisa mencederai, mengganggu dan merugikan informan. Pertama, gangguan psikologis, kedua kerugian finansial, dan yang terakhir kerugian sosial. 

 

"Gangguan atau kerugian psikologis  misalnya ketika kita melakukan penelitian yang melibatkan informan seorang penari jaipong di Subang. Ketika ke sana saat mewawancarai responden ternyata tanpa disadari wawancara itu mengakibatkan gangguan psikologis bagi responden, karena responden merasa rendah diri dengan pekerjaan yang digelutinya," paparnya.

 

Lebih lanjut dijelaskan terkait kerugian finansial yang bisa terjadi misalnya ketika peneliti melakukan penelitian berbasis industri dapat secara tidak sengaja membagikan informasi sensitif kepada pesaing perusahaan yang mengakibatkan kerugian finansial bagi narasumber.

 

"Ketiga kerugian sosial, seperti ketika objek penelitian seseorang dengan gaya hidup yang mempengaruhi konsumsi publik, peneliti bisa saja secara tidak sengaja mengungkapkan orientasi seksual seseorang ketika orang tersebut ingin menjaga rahasia ini," terang Dr. Prudentia.

 

Yang jelas, meskipun semua peneliti bermaksud baik, ada kemungkinan interaksi antara peneliti dengan informan dapat secara tidak sengaja membahayakan mereka. 

 

Hal itu sangat perlu untuk diwaspadai, apalagi informan penelitian telah dengan suka rela menyampaikan banyak informasi kepada peneliti, padahal sebenarnya untuk kepentingan peneliti. Untuk itu, sebagai upaya menjaga  kehormatan yang bersangkutan dan kemungkinan rahasia informasi yang bersifat personal peneliti harus bisa dijamin keselamatannya. 

 

Sehingga, ketika informan meminta identitasnya dirahasiakan, peneliti wajib memenuhinya meskipun narasumber merupakan orang terdekat. Selanjutnya, peneliti tidak memiliki hak untuk menjadikan seseorang narasumber penelitian jika sedari awal responden menolaknya.

 

Intinya, semua yang terlibat dalam penelitian dapat menjalankan aktivitasnya dengan suka rela. Hal ini sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika hasil penelitian dipaparkan. 

 

Oleh karena itu, seorang peneliti harus pandai mengolah data penelitian serta bisa memaparkan hasil penelitian dengan bijak tanpa ada satu pihak pun yang dirugikan. 

 

Penulis: Nidlomatum MR
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile