Home Balitbang Kemenag Diktis Lingkungan Ketenagakerjaan Pertanian Parlemen Video Foto Download
RISET BALITBANG KEMENAG

Komponen Keberhasilan Prodi Melalui Profil Lulusan Kompeten

Komponen Keberhasilan Prodi Melalui Profil Lulusan Kompeten
Proses wisuda sebagai akhir mas studi mahasiswa di perguruan tinggi. (Foto: Dok UNU Surakarta, 2018)
Proses wisuda sebagai akhir mas studi mahasiswa di perguruan tinggi. (Foto: Dok UNU Surakarta, 2018)

Tingkat keberhasilan sebuah program studi (prodi) di perguruan tinggi atau universitas dapat dinilai dari beberapa hal. Salah satunya, yaitu dengan melihat bagaimana kualitas profil lulusan yang dihasilkan. Lulusan yang berkualitas adalah lulusan yang memiliki kompetensi dan profesionalisme sesuai dengan bidang yang ditekuninya.

 

Untuk mewujudkan profil lulusan yang berkualitas dibutuhkan sumber daya manusia serta fasilitas yang disediakan. Hal ini bergantung pada pemimpin dalam melakukan pengelolaan, pelaksanaan program, serta evaluasi yang harus dikuasai oleh seorang pimpinan. Pemimpin yang berkualitas di tingkat prodi, fakultas, maupun universitas akan memengaruhi capaian kinerja prodi. 

 

Peneliti pada Balitbang Diklat Kemenag, berdasarkan penelitiannya tahun 2019, menjelaskan bahwa tahap yang paling utama dirumuskan dalam mencapai mutu lulusan prodi, yaitu dengan menentukan profil lulusan. Hal ini dilakukan bersama di tingkat asosiasi prodi. Lulusan sudah menujukan profesi apa yang akan dihasilkan sesuai dengan nama prodinya. Seperti prodi PAI, prodi Pendidikan Bahasa Arab, dan prodi Pendidikan Bahasa Inggris, jelas melahirkan guru sesuai nama prodinya. 


Selain itu, dalam menentukan profil lulusan sebuah prodi sebaiknya hanya berfokus pada satu profil utama. Hal ini dilakukan untuk memfokuskan standar kurikulum yang didesain memang hanya untuk membekali pengetahuan dan keterampilan serta sikap tertentu yang sesuai dengan satu profesi. Jika profil lulusan terdiri dari profil utama dan profil tambahan hal ini dapat menyebabkan kurikulum yang dirancang tidak relevan dengan profesi yang dituju, sehingga menyebabkan perpanjangan masa studi dan tambahan biaya yang cukup besar. Hal terburuk yang dikhawatirkan ketika profil lulusan tidak berfokus pada satu profesi akan berpotensi untuk menghasilkan lulusan yang tidak kompeten.

 


Setelah profil lulusan ditentukan, maka hal yang perlu dilakukan yaitu menyusun kurikulum yang sesuai dengan profil lulusan. Kurikulum yang dirancang dapat berupa mata kuliah yang diajarkan di kelas, program di lingkungan dan di luar kampus, hingga pengabdian terhadap masyarakat secara langsung. Kurikulum yang telah disusun dapat diaplikasikan menjadi beberapa model pembelajaran yang mampu mengembangkan kreativitas mahasiswa.

 

Ketika model pembelajaran yang dipilih tidak tepat, akan menyebabkan mahasiswa memberikan respons pasif terhadap pembelajaran yang diberikan. Model-model pembelajaran yang disarankan di antaranya small group discussion, problem base learning, project best learning, dan research base learning.

 

Selain merancang model pembelajaran yang tepat, fasilitas yang disediakan juga akan mempengaruhi tingkat keberhasilan proses pembelajaran. Semakin lengkap fasilitas yang disediakan maka tingkat keberhasilan proses pembelajaran juga akan meningkat.


Setelah model pembelajaran disusun dengan tepat, penilaian proses belajar mengajar juga hal penting yang harus dilakukan oleh pengajar atau dosen. Penilaian harus menyentuh keterampilan tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS) mahasiswa dan mendekatkan mereka dengan masalah-masalah kontekstual. Soal-soal esai, resume buku, dan makalah yang dilakukan dengan baik akan melatih mahasiswa menawarkan ide dan solusi atas persoalan yang ada, baik lokal maupun global. 


Selain hal-hal di atas, SKPI juga akan menunjukkan beragam keterampilan yang dimiliki mahasiswa selama menjalani proses pembelajaran. Dengan demikian SKPI ini berguna untuk para pengguna lulusan terkait keterampilan apa yang dikuasai oleh yang bersangkutan. Kebijakan SKPI seharusnya tidak hanya terbatas pada bahasa asing, kuliah kerja nyata (KKN), praktik di sekolah, praktik ibadah yang dilaksanakan di kampus, tetapi harus kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar kampus.


Penulis: M Irwan ZA
Editor: Kendi Setiawan
 

BNI Mobile