RISET BALITBANG KEMENAG

Manfaat Folklore bagi Penguatan Keberagaman Masyarakat Indonesia

Manfaat Folklore bagi Penguatan Keberagaman Masyarakat Indonesia
Edukasi terhadap puncak-puncak atau wujud-wujud kultural perlu adanya suatu pemahaman agama, baik dari value agama maupun ide-ide yang ada untuk meresap dan membentuk suatu kebudayaan tersebut. (Foto: Media Indonesia)
Edukasi terhadap puncak-puncak atau wujud-wujud kultural perlu adanya suatu pemahaman agama, baik dari value agama maupun ide-ide yang ada untuk meresap dan membentuk suatu kebudayaan tersebut. (Foto: Media Indonesia)

Pendidikan Agama diakui sangat penting oleh semua lapisan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu prioritas utama seperti yang telah tercantum dalam sila pertama, pendidikan agama juga menjadi peran penting yang didesain dalam bingkai kebangsaan yang juga sesuai dengan paparan konteks nasional di Indonesia. 

 

Polemik mengatasnamakan suatu agama tetap menjadi momok yang dapat menghilangkan eksistensi cita-cita ideal itu sendiri. Maka suatu konsep dan tawaran dalam pembelajaran pendidikan agama harus mempertimbangkan pendekatan secara kultural selain juga pendekatan normatif ajaran agama.  

 

Tak terlepas dari pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan. Di mana Ki Hajar Dewantara mengungkapkan pandangannya di dalam kebijaksanaan lokal telah berkembang dan terakumulasi kebijakan-kebijakan pendidikan yang luhur. Oleh sebab itu dapat dijadikan sebagai sarana di dalam habitus pendidikan.

 

Demikian simpulan dari hasil penelitian Badan Litbang dan Diklat Kemenag tahun 2019. Para peneliti juga memberikan alasan mengapa kajian penelitian ini lebih fokus pada nilai-nilai pendidikan agama. Pertama, karena adanya peningkatan pemahaman keagamaan dan kerukunan antar umat beragama yang menjadi penting dalam rencana strategis pembangunan agama di Kementerian Agama. Kedua, pentingnya pendidikan agama yang mempertimbangkan pendekatan kultural, selain pendekatan normatif-ajaran agama, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. 


Edukasi terhadap puncak-puncak atau wujud-wujud kultural perlu adanya suatu pemahaman agama, baik dari value agama maupun ide-ide yang ada untuk meresap dan membentuk suatu kebudayaan tersebut. Kutipan dari beberapa tokoh banyak megungkapkan bahwa nilai agama dianggap sangat penting dalam pengkajian khazanah kebudayaan melayu, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga simpul perekat kesamaan sebagai jati diri, yakni adat istiadat, bahasa dan agama. Melalui ketiga ciri tersebut kita dapat bicara tentang orang dalam dan orang luar, orang kita dan orang lain, dan lain-lain.

 

Pendekatan kultural sangat dirindukan oleh masyarakat. Pendekatan kultural memiliki tiga aspek yakni mampu berorientasi kepada kesempurnaan yang dinamis atau beragam, berlandaskan pemikiran terbuka secara konseptual, dan keberagaman terus berkembang sesuai dengan karaktristik-karakteristik yang dilahirkan. 

 

Pendekatan kultural dinilai sangat efektif dan lebih berhasil karena memberikan edukasi pendidikan keagamaan tanpa menumbuhkan kekerasan. Munculnya para budayawan memberikan ruang pikir dan interpetasi  kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Folklore, sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh Danandjaja pada tahun 2015 lalu. 
 

Folklore merupakan kolektivitas masyarakat, yang sebagian kebudayaan dapat diwariskan secara turun-temurun. Terdapat dua unsur arti dari Folklor yaitu masyarakat dan tradisi di dalam masyarakat tersebut, dua unsur merupakan objek dalam penelitian bahan-bahan tradisi lisan. Menelaah dua unsur yaitu masyarakat dengan menggunakan teknik pengumpulan data kepustakaan, hasil wawancara masyarakat dan observasi lapangan.

 

Untuk melihat kebudayaan serta tradisi yang diwariskan secara lisan dapat ditinjau dengan hasil observasi lapangan, untuk melihat secara langsung  tradisi lisan dari luar hingga ke dalam dan melukiskan secara tepat seperti apa yang telah dilihat.  

 

Terdapat empat cara yang dapat diamati dalam proses observasi meliputi; (1) lingkungan fisik suatu bentuk tradisi lisan dilakukan; (2) lingkungan sosial suatu bentuk tradisi lisan; (3) interaksi para peserta suatu bentuk tradisi lisan; (4) pertunjukan bentuk tradisi lisan itu sendiri; (5) masa atau waktu bentuk tradisi lisan tersebut.

 


Adapun tiga wilayah yang menjadi pusat penelitian yaitu wilayah provinsi yang ada di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Pemilihan wilayah tersebut atas dasar gambaran bentuk atau ungkapan keudayaan dari beerapa etnis/suku yang ada di Indonesia. Penelitian ini juga menekankan kepada tradisi yang hidup di masyarakat baik dilihat dari segi teks dan konteks masyarakat yang menjadi tempat lokasi penelitian.


Dalam hal ini peneliti mampu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman kebudayaan yang sangat banyak dan luas. Yang memiliki sarat akan nilai-nilai pendidikan agama yag menjadi landasan identitas masyarakatnya. Nilai-nilai pendidikan keagamaan mampu direfleksasikan pada masyarakat bbaik yang heterogen maupun homogen. 

 


Penulis: Endang Agoestian
Editor: Kendi Setiawan
 

BNI Mobile