Tiga Pendekatan BRG untuk Restorasi Lahan Gambut Indonesia

Tiga Pendekatan BRG untuk Restorasi Lahan Gambut Indonesia
Sekretaris Badan Restorasi Gambut RI, Hartono mengatakan BRG melakukan pemantauan dan pemeriksaan kembali lahan-lahan gambut yang terbakar terutama apa saja sebab-sebab terjadinya kebakaran (Foto: BRG)
Sekretaris Badan Restorasi Gambut RI, Hartono mengatakan BRG melakukan pemantauan dan pemeriksaan kembali lahan-lahan gambut yang terbakar terutama apa saja sebab-sebab terjadinya kebakaran (Foto: BRG)
Jakarta, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG)  RI terus mengoptimalkan pemulihan ekosistem gambut di tujuh provinsi yang ada di Indonesia. Ada tiga langkah yang dilakukan BRG saat merestorasi kawasan gambut. 
 
Sekretaris Badan Restorasi Gambut RI, Hartono menuturkan, tiga langkah pendekatan yang dilakukan BRG tersebut antara lain. 
 
Pertama, pemantauan dan pemeriksaan kembali lahan-lahan gambut yang terbakar terutama apa saja sebab-sebab terjadinya kebakaran. BRG menilai, kebakaran gambut disebabkan oleh mengeringnya serat gambut. Selain itu, pengeringan lahan tersebut diakibatkan telah terjadi pembangunan kanal di hutan atau lahan gambut. 
 
"Terjadinya kebakaran di lahan gambut karena gambutnya kering, gambut kering ini dikarenakan pembangunan kanal, kanal itu untuk mengeringkan gambut. Agar lahan gambut bisa dimanfaatkan sebagai lahan budidaya tanaman tanaman kering," kata Hartono saat membuka Diskusi Virtual Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Dampak dan Solusinya, Rabu (20/5). 

Kemudian, pada diskusi yang disiarkan langsung channel YouTube BRG RI itu, Hartono mengungkapkan. Pendekatan kedua yang dilakukan BRG adalah
melakukan pembahasan kembali bagi lahan-lahan gambut yang mengering. Juga dilakukan penanaman tumbuhan vegetasi.
 
Terakhir, BRG membudidayakan lahan gambut menjadi lahan yang produktif dan meningkatkan perekonomian masyarakat. 
 
"Ketika melakukan pembasahan kembali atau respons dari para pemilik lahan biasanya tidak terlalu welcome. Sehingga kita perlu melakukan pendekatan dengan pendekatan sosial ekonomi," tuturnya.
 
Ia menegaskan, tiga pendekatan yang telah diuraikannya itu akan berjalan jika masyarakat di perdesaan gambut menerima pendidikan dan sosialisasi terkait lahan gambut dari pemerintah atau dalam hal ini BRG RI. Jika itu sudah terjadi, lanjutnya, masyarakat dalam jangka yang cukup panjang bisa terus mendukung upaya rehabilitasi dan restorasi lahan gambut di Indonesia.
 
"Upaya ini secara terus menerus dilakukan karena secara pengalaman bahwa restorasi gambut itu tidak gampang dan tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek tapi perlu waktu bertahun tahun," ungkapnya.
 
Hartono menyebut, lima tahun pertama, BRG mampu melakukan perubahan-perubahan lahan gambut yang ada. Meski begitu terdapat hal-hal yang dievaluasi misalnya penakaran areal gambut yang belum sistematis.
 
"Karena dari yang ada dilapangan banyak budidaya yang dilakukan pada lahan gambut yang fungsingnya lindung. Jadi di lahan gambut itu menurut regulasi ada yang bisa dimanfaatkan tapi ada juga sebagian harus disisakan sebagai fungsi lindung, agar bisa menyimpan air untuk pembasahan ketika musim kemarau," paparnya. 
 
Selanjutnya, yang juga penting untuk disampaikan bahwa terdapat lima pihak yang seyogianya terlibat dalam menyehatkan ekosistem gambut di Indonesia. Mereka adalah para pemilik konsesi atau pemegang izin, masyarakat perdesaan gambut, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan BRG. 
Karena itu pula, BRG intens melakukan koordinasi dengan semua pihak agar kegiatan restorasi lahan gambut terus dilakukan dengan tanpa kendala berarti. 
 
"Salah satu program yang dilaksanakan BRG adalah pembinaan desa peduli gambut. Diprogram ini tidak hanya berisi bagaimana mengelola lahan gambut ada juga pendidikan atau edukasi masalah hukum yang mesti di fasilitasi di desa itu," kata dia. 
 
Belum lagi, BRG menghadirkan program pengadaan pos pengaduan untuk konsultasi jika terjadi kebakaran hutan atau lahan. 
 
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile