PROFIL DAI GAMBUT

Kesan Ustadz Yusuf Menjadi Dai Gambut

Kesan Ustadz Yusuf Menjadi Dai Gambut
Ustad Yusuf mengaku dengan menjadi dai gambut ada peningkatan wawasan baru untuk mengelola lingkungan gambut. (Foto: Dok Istimewa)
Ustad Yusuf mengaku dengan menjadi dai gambut ada peningkatan wawasan baru untuk mengelola lingkungan gambut. (Foto: Dok Istimewa)
Jakarta, NU Online
Pelatihan dan peningkatan kapasitas dai gambut oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 2019 menjadi momentum tersendiri bagi Ustadz Yusuf (47 tahun). 
 
Alumni Pesantren Hidayatul Islamiyah, Jambi ini merasa mendapatkan wawasan baru dari kegiatan yang digelar hampir satu pekan itu. Pelatihan itu dianggapnya mampu membuka cakrawala Ustadz Yusuf kaitannya dengan ilmu pengetahuan alam. 
 
Pria yang tinggal di Desa Tanjung Jambu Kecamatan Bram Itam Kabupaten Tanjung Jambu Barat ini merasa ketagihan ditemukan dengan para pendakwah yang memiliki ragam rumpun ilmu agama Islam. 
 
"Iya saya sangat berkesan sekali, karena pelatihan itu saya mulai mengerti betapa pentingnya menjaga alam, merawat bumi, menjaga ekosistem gambut," kata Ustadz Yusuf kepada NU Online.
 
Setelah diterjunkan langsung ke masyarakat, pengajar sekaligus petani ini mulai banyak memberikan stimulus kepada masyarakat untuk tidak melakukan perusakan alam terutama mengelola lahan gambut dengan cara dibakar. 
 
Ia menuturkan, cara-cara lama itu telah banyak memberikan dampak buruk kepada kehidupan. Karena itu tidak boleh diulangi, bahkan masyarakat harus berani beralih sehingga percepata restorasi gambut oleh pemerintah terlaksana dengan maksimal. 
 
"Iya intinya janganlah kita merusak lahan gambut, apalagi dengan cara dibakar," tuturnya. 
 
Pria yang lahir di Jambi tahun 1973 ini menceritakan awal mula bergabung dengan dai gambut BRG. 
 
Memang, ucap dia, sebelum menjadi dai gambut, dirinya sudah banyak diperaya masyarakat untuk memimpin agenda-agenda keagamaan. Itu pula yang melatarbelakangi pihak desa merekomendasikan Ustadz Yusuf mengikuti pelatihan yang dianggapnya spesial itu. 
 
Intinya, kata ayah dua anak ini, dirinya bahagia dan ingin selalu melakukan pengabdian kepada masyarakt melalui seorang dai gambut di Jambi . Meski lingkup kerjanya tidak luas, bagi dia, hal itu tidak menjadi masalah sebab yang paling penting adalah bermanfaat untuk orang lain. 
 
Ia  tidak ingin kejadian pilu  kembali menyelimuti masyarakata Jambi tahun 2019 dimana kebakaran lahan dan hutan telah mengganggu aktivitas warganya. Bahkan, kata dia, berdasarkan data Warsi menunjukkan sepanjang 2019 tersebut terdeteksi 30.947 titik panas di Jambi. 
 
Kemudian, ada 157.137 hektar hutan dan lahan terbakar, kerugiannya mencapai Rp12 triliun. Kerugian besar itu tak lain adalah dampak kebakaran gambut seluas 101.418 hektar. Lebih buruk dibanding 2015 yang hanya merusak seluas 90.363 hektar.
 
Sementara itu, data Walhi Jambi sampai 31 Oktober 2019 lalu menunjukan kebakaran merusak sekitar 165.186,58 hektar, 114.000 hektar diantaranya adalah lahan gambut. 
 
Kejadian itu melumpuhkan sektor perekonomian, 1.000 lebih sekolah libur, 63.000 orang terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan kerusakan lingkungan yang serius. 
 
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori 
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile