IMG-LOGO
Trending Now:
Diktis

Menengok Bank Sampah Berbasis Syariah di Sumenep

Ahad 6 Oktober 2019 6:0 WIB
Menengok Bank Sampah Berbasis Syariah di Sumenep
Ilustrasi tempat sampah.
Dampak pembuangan sampah merupakan masalah utama persoalan lingkungan di Indonesia. Berdasarkan riset, Indonesia menjadi negara kedua sebagai penghasil sampah, terutama sampah sejenis plastik.

Persoalan tersebut membuat Anna Zakiyah Hastriana dan Ubaidullah Muayyad pada 2018 melakukan penelitian yang kemudian dituliskan dalam tulisan Bank Sampah Berbasis Syariah: Sebuah Model Penanganan Lingkungan dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Desa Pasongsongan. Penelitian yang didukung oleh Diktis Kemenag itu bertujuan untuk perubahan sosial dalam menangani sumber masalah utama pencemaran lingkungan tersebut dan bagaimana strategi untuk mencapai tujuan itu dapat tercapai dengan menggunakan sebuah model yaitu bank sampah khususnya yang berbasis syariah.
 
Selain itu, penelitian juga untuk mengalisis dampak dari pendirian bank sampah tersebut terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di Desa Pasongsongan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Forum Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan pendekatan kualitatif. Dan hasilnya adalah terbentuknya bank sampah berbasis syariah yang diberi nama BSBS iQtishadia.
 
BSBS iQtishadia adalah bank sampah yang dalam operasionalnya menggunakan prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam. Sebagai model penanganan lingkungan, BSBS iQtishadia masih kurang optimal dalam pelaksanaannya meskipun dalam sebulan BSBS iQtishadia dapat mereduksi sampah rumah tangga yaitu sekitar kurang lebih tiga kuintal sampah. Kurang optimal yang dimaksud salah satunya disebabkan oleh kurangnya partisipasi dari masyarakat yang masih menganggap sampah sebagai suatu masalah yang perlu disingkirkan.
 
Namun demikian, kehadiran BSBS iQtishadia ini dalam realitanya telah menjadi sebuah wadah untuk peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat Desa Pasongsongan, Sumenep, Jawa Timur.
 
Penelitian juga mengungkapkan bahwa masyarakat Desa Pasongsongan yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan memiliki pendapatan di bawah UMK Kabupaten Sumenep yaitu Rp1.645.146. Dengan adanya Bank Sampah Berbasis Syariah dapat menjadi pendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat Desa Pasongsongan dilihat dari sisi pendapatan.
 
Sedangkan apabila dilihat dari sisi penanganan dan pengelolaan sampah, masyarakat Desa Pasongsongan juga masih minim pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik yang diakibatkan oleh perubahan gaya hidup dan pola konsumsi.

Hal ini dibuktikan dengan pertama, kurang sadarnya masyarakat akan dampak bahaya sampah yang dibuang tidak pada tempatnya, semisal: pembuangan sampah di pinggir sungai, penumpukan sampah di bibir pantai, pembuangan akhir sampah di lahan kosong yang bertuan dan dekat pemukiman, dan seringnya dilakukan pembakaran sampah. Kedua, masyarakat kurang bisa membedakan masalah klasifikasi sampah padahal terdapat sampah yang benilai ekonomi dan bermanfaat untuk hal lain, seperti pembuatan pupuk kompos dari sampah basah.
 
Ketiga, masyarakat tidak memahami tentang pentingnya penanganan sampah sehingga pencemaran lingkungan dapat teratasi. Dan keempat, masyarakat masih awam tentang bagaimana mengelola sampah dengan baik melalui bank sampah khususnya yang berbasis syariah.
 
Bank sampah dalam operasionalnya memiliki alur kerja yaitu pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya oleh rumah tangga; penyetoran sampah ke Bank Sampah; registrasi atau pendaftaran menjadi nasabah; penimbangan sampah; pencatatan atau pembukuan sampah yang telah ditimbang; penerimaan buku tabungan oleh nasabah; sampah dapat didaur ulang oleh Bank Sampah sendiri; dan sampah disetorkan kepada pengrajin atau pengepul. Secara singkat, mekanisme bank sampah adalah pemilahan sampah penyetoran, pencatatan, penimbangan, dan pengangkutan.

Dalam pembentukan bank sampah untuk pengelolaan timbulan sampah yang berada di lingkungan pemukiman penduduk dibutuhkan partisipasi masyarakat dalam dua aspek, yaitu keterlibatan masyarakat dan pelancaran pengaruhnya.
 
Pengelolaan Sampah dengan Pendirian Bank Sampah Berbasis Syariah
 
Dalam pendirian BSBS iQtishadia sebagai bank sampah berbasis syariah sudah melalui beberapa tahapan sebagaimana yang dijelaskan dalam buku panduan, mulai dari sosialisasi awal yang salah satu kendalanya banyaknya peserta tidak hadir dalam acara tersebut. Padahal sosialisasi sangat penting sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai sampah dan pengelolaannya yang baik, bagaimana cara pemilahan sampah yang disesuaikan dengan jenis-jenisnya, dan bagaimana mekanisme pendirian bank sampah termasuk pendirian BSBS iQtishadia.
 
Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan teknis yang dilanjutkan dengan pelaksanaan sistem BSBS iQtishadia, seperti penentuan kerjasama dengan pengepul, penentuan nama bank sampah, pemilihan pengurus, penentuan lokasi, penentuan jadwal penyetoran dan jangka waktu penarikan, persiapan administrasi, dan penyediaan alat operasional. Sedangkan, mekanisme kerja BSBS iQtishadia lebih mendekati mekanisme perbankan dibandingkan mekanisme koperasi yaitu pengisian formulir, penyetoran, penjemputan, pemilahan, penimbangan, pencatatan, penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, dan evaluasi.
 
Artinya, dalam pendirian bank sampah berbasis syariah ini dapat terlaksana dengan nama BSBS iQtishadia, meskipun terdapat beberapa kendala khususnya dalam eksistensi dan pengembangan BSBS iQtishadia.
 
Editor: Kendi Setiawan
 

Baca Juga

Ahad 6 Oktober 2019 15:45 WIB
Bank Sampah Berbasis Syariah Model Penanganan Lingkungan
Bank Sampah Berbasis Syariah Model Penanganan Lingkungan
Pengelolaan sampah yang baik dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat (Ilutrasi: Kominfo)
Penelitian berbasis pengabdian masyarakat yang dilakukan Anna Zakiyah Hastriana dan Ubaidullah Muayyad pada 2018 menemukan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan yang disebabkan oleh ulah mereka dengan pembuangan sampah, belum terlalu tinggi. Masyarakat juga mengabaikan dampak negatif yang akan ditimbulkan. Padahal  salah satu tujuan pengelolaan sampah dengan metode bank sampah berbasis syariah ini ialah mengolah sampah menjadi sesuatu atau materi yang tidak membahayakan terhadap lingkungan hidup.
 
Kedua peneliti kemudian menyebutkan bahwa salah satu solusi untuk mengelola sampah dengan baik yaitu melalui bank sampah yang ramah lingkungan dengan pendekatan 3R. Sampah dapat direduksi dengan cara mengolah atau menggunakan kembali sampah anorganik, seperti botol bekas pakai yang bisa digunakan kembali dengan cara diolah oleh perusahaan air minum, dan lain sebagainya.
 
Penelitian berjudul Bank Sampah Berbasis Syariah: Sebuah Model Penanganan Lingkungan dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Desa Pasongsongan itu didukung oleh Diktis Kemenag. Penelitian berfokus pada Bank Sampa Berbasis Syariah (BSBS) iQtishadia di Desa Pasong, Sumenep, Jawa Timur.
 
Penelitian juga menyebutkan adanya kendala-kendala yang dialami oleh BSBS iQtishadia selama ini dalam mempertahankan keeksistensiannya dan pengembangannya. Di antaranya adalah adanya kompetisi dalam memenangkan pasar antara BSBS iQtishadia dan pengepul dalam hal merebut pelanggan dengan memberikan pelayanan ekstra dan harga yang lebih kompetitif. Di samping itu, pengelola BSBS iQtishadia yang masih berorientasi pada keuntungan atau pendapatan bukan karena sukarela.
 
Kendala lainnya yang dialami oleh BSBS iQtishadia adalah minimnya modal untuk kegiatan operasional. Kurangnya partisipasi aktif dari rumah tangga, swasta, dan pemerintah terhadap keberadaan BSBS iQtishadia merupakan salah satu hambatan lainnya yang dialami leh BSBS iQtishadia.
 
"Oleh karena itu, BSBS iQtishadia harus membuat strategi yang efektif dan mengedepankan kreativitas dan inovasi dalam berbagai aspek sehingga nantinya BSBS iQtishadia akan semakin berkembang dan menjadi leader dalam penanganan kelestarian lingkungan," tulis peneliti dalam laporannya. 
 
Adapun penyebab adanya persaingan pasar dengan para pengepul adalah patokan harga yang sama bahkan ada yang lebih tinggi harga yang ditetapkan oleh BSBS iQtishadia. Akibatnya, warga setempat dapat membandingkannya dan akan memilih pada harga yang lebih menguntungkan bagi mereka. Dampak berikutnya, bank sampah berbasis syariah kurang dapat bersaing secara kompetitif dengan pengepul.
 
Kendala tersebut ditambah juga dengan strategi pengepul untuk mendapatkan pelanggan yaitu dengan mendatangi masyarakat secara langsung dengan mengendarai mobil pengangkut sampah seperti mobil pick up dan bahkan truk. Hal ini berdampak pada minimnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan bank sampah berbasis syariah dikarenakan masyarakat sudah nyaman dengan pelayanan dengan metode dikunjungi ke tempat mereka dibandingkan mereka harus mendatangi bank sampah berbasis syariah untuk menyetorkan sampah yang mereka kumpulkan.
 
Padahal, keeksistensian bank sampah tergantung dari dukungan para stakeholder termasuk masyarakat, swasta, dan juga pemerintah. Diketahui bahwa partisipasi dari berbagai pihak adalah salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan suatu kegiatan ataupun program bank sampah berbasis syariah yang meliputi pengambilan keputusan, pelaksanaan, penilaian, dan pemanfaatan hasil. 
 
Atas persoalan tersebut, kedua peneliti merekomendasikan agar ke depannya BSBS IQtishadia perlu memliki strategi yang bagus untuk memenangkan kompetisi dengan pengepul. Pertama, strategi door to door. Yaitu, mempengaruhi masyarakat untuk menjadi nasabah bank sampah berbasis syariah dengan mendatangi mereka dari rumah ke rumah, sehingga masyarakat merasa ada layanan lebih yang diberikan oleh bank sampah berbasis syariah ini, selain juga memberikan pengetahuan secara intensif dan efektif kepada masyarakat.
 
"Sebab semakin meningkat pengetahuan masyarakat berdampak pada meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan  dan partisipasi mereka terhadap kegiatan yang diprogramkan bank sampah," sebut peneliti dalam laporannya.

Kedua, kreativitas dan inovasi produk yang ditawarkan oleh BSBS iQtishadia harus lebih variatif. Tujuannya adalah untuk memberikan rangsangan kepada masyarakat sehingga perhatian mereka tertarik untuk bergabung menjadi nasabah bank sampah berbasis syariah. Kreativitas produk merupakan salah satu keberhasilan dalam pemasaran. Misalnya, adanya produk pembiayaan dan jasa.
 
Produk tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, karena pada umumnya masyarakat terutama masyarakat Desa Pasongsongan sangat membutuhkan pembiayaan untuk membuka atau mengembangkan usaha mereka, khususnya untuk usaha kecil dan menengah. 
 
Model Penanganan Lingkungan
 
Tujuan pengelolaan sampah dengan metode bank sampah berbasis syariah ini ialah mengolah sampah menjadi sesuatu atau materi yang tidak membahayakan terhadap lingkungan hidup.
 
Selanjutnya yaitu dengan metode daur ulang sampah misal  mengambil  kalori dari  sampah  untuk dijadikan pembangkit tenaga listrik atau menjadi bahan bakar alternatif yang terbarukan.  
 
Menentukan dan mempengaruhi pengelolaan lingkungan hidup yang baik berarti cerminan dari penyelenggaraan pemerintahan yang baik, karena tanpa adanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik, maka sangat sulit mengharapkan terpenuhinya pengelolaan lingkungan hidup yang baik pula. Dengan demikian, pemerintah memiliki peran dan andil yang besar dengan barbagai program khususnya dalam pengelolaan sampah secara preventif maupun represif.  
 
Adapun salah satu yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menjalin kemitraan dengan masyarakat melalui kegiatan bank sampah sebagai bentuk dari pengelolaan sampah. Tujuan dari kemitraan ini adalah pemerintah bersama masyarakat dapat menemukan solusi dari permasalahan yang datang dari mereka  sendiri. Kemitraan adalah sebagai salah satu upaya pemberdayaan melalui kegiatan bank sampah sebagai media menguatkan komitmen dan partisipasi masyarakat dari setiap kegiatan. Caranya, dengan membentuk  kelompok  masyarakat mandiri dan saling membantu antara satu dengan lain.
 
Dengan didirikannya bank sampah berbasis syariah ini sebagai komitmen untuk kepentingan bersama dalam kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu solusi yang dapat mengurangi permasalahan sampah yang menjadi salah satu permasalahan yang masih belum terpecahkan sampai saat ini di lingkungan sekitar kita, yang pada umumnya adalah permasalahan utama di Indonesia.
 
Oleh karena itu, dengan kehadiran BSBS iQtishadia merupakan salah satu bentuk solusi alternative yang ditawarkan sebagai model penanganan lingkungan. Karena, selain sebagai wadah dalam penampungan sampah yang bernilai dan berdaya guna juga terdapat program pendampingan masyarakat untuk peyadaran tentang arti pentingnya kebersihan lingkungan, kemudian mencari akar permasalahan mengenai timbulan sampah yang semakin menumpuk, dan menjadi mediasi untuk mencari solusi bersama masyarakat dan aparat desa setempat secara secara progresif,  terpadu, dan simultan.  
 
Keuntungan dengan pendirian BSBS iQtishadia selama ini yang dirasakan oleh masyarakat setempat adalah sampah rumah tangga dapat direduksi dengan perkiraan kurang lebih tiga kg per orang dalam sekali penyetoran. Dan, dalam sekali penjualan, sampah yang dapat direduksi oleh BSBS iQtishadia adalah sebesar kurang lebih dari tiga kuintal sampah.
 
Editor: Kendi Setiawan

 
Jumat 2 Agustus 2019 22:0 WIB
Teks Dzikir Manaqib Kiai Muzakki
Teks Dzikir Manaqib Kiai Muzakki
Ilustrasi
Penelitian Diktis Kemenag tahun 2018 berjudul Geneologi Tasawuf Transformatif: Studi Multikasus di Majelis Maiyah Ainun Nadjib dan Majlis Dzikir Manaqib Syech Abdul Qodir Jailani Kyai Muzakki Syah juga menemukan, kegiatan berupa pembacaan dzikir dan penyampaian hikmah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap malam Jumat terutama malam Jumat Legi. Kegiatan ini kemudian dipopulerkan oleh KH Muzakki Syah melalui kegiatan Dzikir Manaqib.
 
Majelis Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Jailani di bawah bimbingan KH Ahmad Muzakki Syah, adalah salah satu bentuk ibadah melalui majelis dzikir yang berusaha mengantarkan jamaahnya untuk mengenal, akrab, sampai menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Hasil penelitian yang dilakukan Sayyidah Syaikhotin dan Hasyim Asy’ari tersebut menyebutkan antusiasme masyarakat dengan adanya majelis zikir manaqib beliau begitu besar.
 
Adapun bacaan dzikirnya pada majelis ini yaitu, "Bilbarakah walkaramah syeikh Abdul Qadir waliyullah bi syafaat Nabi Muhammad biidznillah waridlallahi, ya Allah 3x…. innaka ‘ala kulli syaiin qadir…. Taqdi haajatina…. Alfatihah. 

Kiai Muzakki juga memberikan arahan kepada para jamaah, jika para jamaah ingin mendapat cinta Allah maka dia harus mengamalkan dzikiran, "Bil barakati, wal karamati Sulthonul Auliya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, bi syafa’ati Nabiyyina Muhammadin Saw, bibidznillahi wa Ridlollah ya Allah, ya Allah innaka ‘ala kulli syay’in qadir." 

Artinya: Dengan sebab barakah dan karamah rajanya para wali Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dengan sebab syafaat Nabi Muhammad Saw, dan dengan sebab izin dan ridha Allah yang Maha Menguasai segala sesuatu. Dzikir Ini merupakan kalimat langsung dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang konon datang langsung ketika Kiai Muzakki ber-tahannus atau bertapa di Gua Payuddan. 

Selain berdzikir penuh kekhusyukan, hal yang sangat perlu dilakukan oleh jamaah menurut Kiai Muzakki adalah menyinergikan antara nilai ketauhidan dengan rasa kemanusiaan. Selain harus bertawakkal kepada Allah, Kiai Muzakki mengarahkan para jamaah untuk mempunyai sikap kasih sayang kepada sesama ciptaan-Nya.
 
Karenanya, ada tiga nilai yang tidak pernah luput diajarkan oleh Kiai Muzakki, yakni nilai tauhid, nilai humanis, dan nilai cinta. Ketiganya dikenal sebagai 'Piramid Cinta'. Saling membentuk dan saling berkaitan.

Dzikir mampu membuat hati seorang hamba semakin kokoh dan condong kepada Allah. Namun, seorang hamba tersebut perlu untuk memurnikan niat dan tujuan mengingat-Nya dan mengenal Allah sebaik-baiknya. Dengan kedekatan itu muncullah nilai tauhid dalam aplikasi bertawakkal, bahwa segala urusan yang akan dan telah terjadi adalah milik-Nya. Fokus pada nilai tauhid ini harus dibarengi dengan nilai humanis, sebab ia harus menyadari tentang realitas kehidupan dunia di depan matanya. 

Setelah mampu menumbuhkan rasa humanisnya, seorang hamba juga harus menyertai nilai-nilai tersebut dengan nilai cinta. Cinta yang dimaksud adalah rasa tulus yang ditumbuhkan dalam hatinya. Seorang hamba harus meyakini bahwa apa yang ia lakukan semata sebagai wujud cinta kepada Allah, dan hanya mengharap balasan cinta dari-Nya. Tidak dari mana pun. 

Jika sudah tumbuh ketiga nilai itu, dan mampu menyelaraskan maka kehidupan seorang hamba akan terasa seimbang dan hari-harinya akan selalu diwarnai rasa cinta. Jika rasa cinta akan ketulusan ini sudah terbangun dengan ajeg maka akan sulit melihat apapun dengan pandangan kebencian. 
 
Karena dzikir yang sudah didawamkan menjaga kesucian relung batinnya, sehingga out put-nya pun juga demikian, penuh cinta dan ketulusan. Seorang hamba yang kehidupannya penuh cinta inilah yang kemudian mengantarkan seorang hamba tersebut dibalas cintanya oleh Allah Swt. (Sufyan/Kendi Setiawan)
Jumat 2 Agustus 2019 11:45 WIB
Meraih Cinta Allah melalui Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani
Meraih Cinta Allah melalui Dzikir Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani
KH Ahmad Muzakki Syah, pencetus Dzikir Manaqib.
Beribadah adalah cara seorang hamba mengenal Tuhan-Nya. Beribadah juga merupakan bentuk ketaatan sebagai wujud cinta seorang hamba. Bentuk ibadah pun bermacam-macam, tidak terbatas pada shalat saja. Berdzikir mengingat nama Allah dan merenungi kekuasaan-Nya pun, termasuk bagian dari ibadah.
 
Hanya saja, yang membedakan keseluruhan ibadah, adalah berkualitas tidaknya sebuah ibadah tersebut. Bisa sedikit kita ukur dari niat dan tujuan yang hendak dicapai. Seseorang yang beribadah murni hanya kepada Tuhan-Nya, tidak mendambakan balasan apapun dalam ibadahnya selain ganjaran berupa balasan akan rasa cinta dari Tuhan-Nya.
 
Majelis Dzikir Manaqib Syech Abdul Qadir Jailani di bawah bimbingan KH Ahmad Muzakki Syah, adalah salah satu bentuk ibadah melalui majelis dzikir yang berusaha mengantarkan jamaahnya untuk mengenal, akrab, sampai menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Hasil penelitian yang dilakukan Sayyidah Syaikhotin dan Hasyim Asy’ari tahun 2018 dalam meneliti Dzikir Manaqib ini menyebut, antusiasme masyarakat dengan adanya majelis zikir manaqib beliau begitu besar.
 
Penelitian keduanya yang bekerja sama dengan Diktis Kemenag berjudul Geneologi Tasawuf Transformatif: Studi Multikasus di Majelis Maiyah Ainun Nadjib dan Majlis Dzikir Manaqib Syech Abdul Qodir Jailani Kyai Muzakki Syah menemukan, kegiatannya berupa pembacaan dzikir dan penyampaian hikmah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap malam Jumat terutama malam Jumat Legi. Kegiatan ini kemudian dipopulerkan oleh KH Muzakki Syah melalui kegiatan Dzikir Manaqib.

Dzikir Manaqib digunakan oleh KH Ahmad Muzakki Syah di dalam menyebarkan dakwah islami yang berorientasi pada ritual sufistik untuk menjadikan umat selalu dekat dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta mampu menghadapi segala persoalan hidup yang ada. Zikir Manaqib berbentuk asma, tasbih, hamdalah, dan sebagainya maupun selalu ingat pada Allah di saat dia senang dan susah, di kala dia bahagia dan melarat.
 
Apabila umat Islam sudah sangat dekat dan cinta pada Allah maka mereka akan dimudahkan segala urusannya baik persoalan duniawi maupun ukhrawi-nya. Dalam artian, tujuan yang hendak diraih bukan terselesaikannya hajat duniawi melalui dzikir itu, tetapi lebih agar setiap jamaah memiliki kekuatan spiritualitas yang kokoh dan mengenal siapa Tuhan-Nya lebih dekat. Sehingga, setiap sang jamaah tidak mudah risau dan galau ketika masalah kehidupan silih menghadang.
 
Zikir Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani yang dikembangkan Kiai Muzakki bukanlah tarekat sebagaimana umumnya melainkan lebih berbentuk amalan dzikir atau majelis dzikir. Menurut Kiai Muzaki, kendati dirinya sangat menghormati terhadap semua macam tarekat yang ada tetapi ia pribadi tidak mengikuti tarekat-tarekat tersebut. Ia memilih melihat makna tarekat dalam perspektif yang lebih luas. Tarekat Rasulullah menurut pandangan Kiai Muzakki adalah segala sesuatu yang dicontohkan baginda Rasulullah Saw, menyangkut akhlak, keyakinan, cara beribadah, maupun menyangkut karakteristik. Bahkan sampai sifat-sifat dan prinsip hidup yang diterapkan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
 
Keluwesan inilah yang mungkin dirasakan para jamaahnya, sehingga kuantitas jamaahnya terus bertambah. Jamaah yang tergabung dalam majelis zikir ini tidak hanya berada di kawasan tempat di mana majelis ini berdiri (Jember dan sekitarnya), namun sudah merambah ke beberapa penjuru dunia. Sebut saja Malaysia, Brunei Darussalam, India, Australia, Mesir, dan Arab Saudi.

Beberapa jamaah menyebut, alasan ketertarikan mereka terhadap Dzikir Manaqib tidak hanya bentuk zikirnya yang mendamaikan ruhani, tetapi juga berasal dari ciri kepemimpinan KH Ahmad Muzakki Syah yang memiliki pengaruh signifikan dalam konstelasi perubahan sosial masyarakat sekitar. Kepiawaian Kiai Muzakki, panggilan akrabnya, dalam bergaul, membuat masyarakat mudah tersentuh hatinya.
 
Warga Gebang Poreng yang mulanya adalah masyarakat yang gemar, berjudi, berzina dan tidak melaksanakan shalat, tidak membuat Kiai Muzakki membatasi diri. Bahkan hampir setiap hari ia bersilaturahim mendatangi mereka door to door, mengundang mereka untuk datang ke mushala yang baru didirikannya untuk sekedar mengobrol agar saling mengenal satu sama lain.
 
Pendekatan persuasifnya ampuh mengajak masyarakat untuk mengikuti dzikir tersebut meski memiliki latar belakang yang beragam. Ia menjelaskan bahwa wujud cinta seorang hamba kepada Tuhannya adalah dengan mencintai makhluk-Nya. (Sufyan/Kendi Setiawan)