IMG-LOGO
Trending Now:
Diktis

Tasawuf Transformatif sebagai Tasawuf Alternatif di Era Modern

Jumat 19 Juli 2019 6:30 WIB
Tasawuf Transformatif sebagai Tasawuf Alternatif di Era Modern
ilustrasi
Agama Islam mempunyai visi rahmatan lilalamin. Ajarannya mengarahkan penganutnya pada jalan yang memberi kemaslahatan diri sendiri, orang lain, bahkan lingkungan. Dengan visi itu, jika ada persoalan umat maka Islam harus melakukan upaya transformatif untuk mengatasi persoalan umat. Islam diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat untuk membebaskan manusia dari semua bentuk perbudakan atau penghambaan yang melawan nilai-nilai teologis dan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Islam tidak bisa diposisikan sebagai agama yang statis untuk dirinya sendiri, tetapi harus ditransformasikan dan ditafsirkan oleh umat manusia. Transformasi inilah yang bisa disebut sebagai bentuk riil dari gerakan sosial baru. Karenanya, Islam merupakan agama yang akan memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat yang ada di dunia.

Islam transformatif merupakan upaya agama untuk menganalisis dan memberikan alternatif solusi terhadap segala bentuk dehumanisasi sosial. Islam adalah agama yang hakikatnya bukanlah milik perseorangan atau kelompok. Dalam Islam terdapat unsur tasawuf yang menjadi bagian yang sangat signifikan bagi keberadaan Islam transformatif.

Tasawuf terus mengalami perubahan dari amaliah indiviudalistik ke sosial, dan dari zuhud anti dunia ke zuhud yang memperbaiki dan ‘membumikan’ dunia dengan nilai-nilai tauhid dan sufistik. Dari Islam tranformatif ini muncul istilah tasawuf transformatif. Tasawuf transformatif merupakan upaya untuk pelibatan diri seorang sufi dalam memperbaiki dan mengubah kehidupan masyarakat. Tasawuf transformatif tidak menekankan sikap spiritualisme pasif dan isolatif (i’tizaliyah), tetapi tasawuf dijadikan spiritualisme aktif dan dinamis dengan menjadikan tasawuf sebagai sumber nilai dan semangat untuk menjadikan masyarakat lebih berkarakter, mandiri, dan sejahtera.

Tasawuf transformatif ingin membantu masyarakat untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Salah satunya adalah problem dari keterasingan (alienasi). Keterasingan yang dimaksud antara lain: (1) alienasi kesadaran, (2) alienasi ekologis, dan (3) alienasi sosial. Karenanya, sistem yang biasanya dipakai berawal dan bermuara pada pengetahuan tentang Tuhan (makrifat) serta konsepsi transendensial (tauhid).

Dalam konteks tasawuf transformatif, pemahaman terhadap hakikat dari segala sesuatu yang mengantarkan seorang hamba ke derajat makrifat harus dikontekstualisasikan dalam ranah yang lebih bersifat sosial. Artinya, seseorang salik pada tasawuf transformatif ini, harus pandai menyampaikan tujuan dari ajaran yang ia terima, tidak semata untuk kebaikan dalam dirinya, tetapi bagi kemanfaatan yang lebih luas.

Jika di dalam beribadah hubungan dengan Tuhan adalah hakikatnya maka hubungan dengan masyarakat adalah manifestasi atau penjelmaannya. Mencintai Allah adalah hakikat, tetapi seseorang tidak akan sampai pada hakikat sebelum kecintaannya kepada Tuhan itu direalisasikan dengan cara mencintai makhluk-makhluk-Nya. Bukti mencintai Allah adalah mencintai makhluk-Nya, sedangkan bukti mencintai makhluk-Nya adalah mengulurkan kemungkinan-kemungkinan yang mampu mengembangkan diri dan kehidupan mereka.

Perbuatan yang baik dalam bentuk penyediaan fasilitas, informasi-informasi, pelatihan keterampilan, dan berbagai bentuk kegiatan sosial lainnya yang ditradisikan berulang-ulang, akan menjadi sebuah wirid. Perbuatan-perbuatan baik yang diulang-ulang secara terus-menerus adalah wirid implementatif yang memiliki daya efektivitas untuk mengubah semesta menuju ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, usaha memperoleh cinta sejati Allah merupakan langkah yang harus dilakukan oleh manusia untuk mencapai tingkat hakikat dan makrifat. 

Penelitian yang cukup concern tentang tasawuf transformatif dilakukan oleh Sayyidah Syaikhotin dan Hasyim Asy’ari. Penelitian yang bekerjasama dengan Pendis Diktis Kemenag ini berjudul Geneologi Tasawuf Transformatif. Penelitian ini difokuskan pada dua gerakan yang berorientasi terhadap makna tawasuf transformatif yang eksis di Indonesia. Dua gerakan tersebut adalah Majelis Maiyah oleh Ainun Nadjib dan Majelis Dzikir Manaqib Syech Abdul Qodir Jailani oleh Kiai Muzakki Syah.

Majelis Maiyah berdiri atas dasar kekecewaan terhadap sistem pemerintahan orde baru yang sudah keluar jauh dari cita-cita pendiri bangsa Indonesia dan kekecewaan terhadap sistem reformasi yang belum bisa menjawab terhadap segala persoalan yang ada di masyarakat. Tepatnya pada malam menjelang akan digelarnya Sidang Istimewa MPR 2001, pada tanggal 31 Juli 2001. Sedangkan Dzikir Manaqib Syech Abdul Qodir Jailani didirikan oleh KH Achmad Muzakki Syah di dalam menyebarkan dakwah islami yang berorientasi pada sufistik untuk menjadikan umat selalu dekat dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta mampu menghadapi segala persoalan hidup. 

Secara garis besar, kedua majelis ini memiliki tujuan dari tasawuf transformatif yang sama yakni tauhid dan tasawuf. Selain dua materi yang sangat mendasar tersebut, di majelis tasawuf transformatif diajari berbagai disiplin ilmu baik yang monodisipliner, multidisipliner, maupun interdisipliner. Tasawuf transformatif tidak memperbolehkan manusia meninggalkan dunia. Tuhan menciptakan dunia tidak untuk ditinggal lari oleh manusia. Melainkan untuk diurus, ditaklukan, dan dijadikan fasilitas untuk berkembangnya kemanusiaan. Majelis tasawuf transformatif memiliki berbagai cara untuk memperoleh cinta sejati. 

Adapun cara-caranya yaitu dengan dengan menerapkan konsep segitiga cinta dan piramida cinta. Konsep Segitiga Cinta merupakan konsep yang ditawarkan dalam Majelis Maiyah dan Konsep Piramida Cinta merupakan konsep yang ditawarkan oleh Majelis Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani. (Sufyan/Kendi Setiawan)

Sabtu 13 Juli 2019 6:0 WIB
13 Dampak Positif Pelatihan Baca Al-Qur’an di Pesantren Waria Yogyakarta
13 Dampak Positif Pelatihan Baca Al-Qur’an di Pesantren Waria Yogyakarta
Suyatno, salah satu santri di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta (foto: cnnindonesia)
Hasil pendampingan pada santri waria di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta tahun 2018 telah memberikan dampak positif. Dampak positif tersebut diuraikan Nur Aini dan Rohmat Dwi Winanta dalam laporan resume pengabdian kepada masyarakat terintegrasi. Kegiatan tersebut merupakan program Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Diktis Pendis Kemenag) RI.

Dua mentor pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang juga merupakan dosen di Intitut Ilmu Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta itu menuliskan, setelah mengikuti pendampingan, santri waria lebih tertib dalam belajar mengaji dibandingkan dengan sebelumnya. 

Santri waria mulai bersedia belajar kepada para guru atas kesadaran sendiri, mereka juga mulai tertib belajar ilmu tajwid serta aktif dalam berdiskusi tentang masalah-masalah sosial. Tidak hanya peduli tentang kehidupan diri mereka, para santri waria itu juga aktif mengikuti kegiatan mujahadah dan dzikir setelah Shata Maghrib dan Isya yang dilakukan berjamaah dengan masyarakat setempat. 

Kedua, santri waria mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Hal itu terlihat dari hasil pengujian yang dilakukan oleh para mentor saat pertemuan terakhir di Pesantren Al-Fatah. Ketiga, santri waria terbiasa belajar Al-Qur'an secara mandiri. Mereka mulai memaksakan diri belajar membaca Al-Qur'an menggunakan buku ajar humanis yang telah disediakan pihak pendamping. 

Keempat, santri waria terbiasa menjalankan shalat wajib secara berjamaah dengan tertib, ditandai dengan meningkatnya kualitas bacaan, gerakan shalat, dan tepat waktu. Mereka juga terlihat mengalami peningkatan dalam pengamalan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mampu mengenakan mukena atau sarung dengan baik, rapi, dan benar; serta mampu meluruskan shaf dalam shalat.

Dampak selanjutnya, santri waria mampu dan rajin berdzikir dengan baik. Mereka mampu melaksanakan dzikir secara mandiri, ber-mujahadah dan membaca Asmaul Husna yang dilafalkan dengan fasih. Misalnya, selesai shalat berjamaah, para santri waria tidak langsung pergi meninggalkan tempat. Mereka tetap duduk di tempat mereka shalat untuk berdzikir dan berdoa bersama dilanjutkan dengan Shalat Isya dan shalat sunah bakdiyah.

Sementara pada dampak positif keenam, waria mampu berdiskusi dengan baik. Hal itu ditandai dengan berjalannya diskusi secara demokratis. Santri mampu memimpin diskusi dengan sempurna. Tema-tema diskusi variatif, tidak hanya terbatas pada masalah kewariaan dibahas pula sejumlah masalah sosial yang krusial. Termasuk diskusi mengenai etika berjilbab, kemandirian santri, dan peran santri bagi bangsa serta agama.

Ketujuh, santri waria bersedia mengkaji ajaran agama Islam secara komprehensif. Santri waria mulai memaksakan diri berdiskusi tentang kehidupan yang sedang mereka jalani yakni kehidupan yang tidak dimiliki orang-orang kebanyakan. Mereka membahas bagaimana sesungguhnya Islam mengajarkan kehidupan yang baik. Selain itu juga, mereka menggali dan mengkaji terkait akidah, ibadah, dan akhlak. 

Kedelapan, santri waria mampu mengembangkan ego, mengenal diri dan tugas-tugasnya sebagai manusia dan sebagai umat Islam. Santri waria mulai mengenal diri dan tugas-tugasnya sebagai manusia dan sebagai umat Islam dengan menyadari dan menjalankan tugas-tugas dan kewajibannya sebagai manusia, anggota keluarga, anggota masyarakat, sebagai warga negara Indonesia dan sebagai umat Islam. Semua dilakukannya tanpa paksaan dan tanpa perintah siapa pun. 

Kesembilan, tumbuhnya jiwa sosial. Mereka mampu mengambil peran di tengah-tengah masyarakat sebagai orang yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain; seperti ikut serta pada kegiatan bakti sosial yang melibatkan masyarakat banyak. 

Kesepuluh, santri waria semakin bermoral baik, yaitu mampu dan bersedia berbuat baik kepada siapa pun. Santri mulai bersikap ramah kepada setiap tamu yang datang ke pesantren. Lemah lembut dalam berucap, juga terlihat lebih sopan. 

Kesebelas, santri waria mampu menilai dirinya sendiri secara aktif terkait dengan kemampuan membaca Al-Qur'an, beribadah, akhlak, maupun sikap humanisnya.

Keduabelas, santri waria mampu memiliki sikap pengendalian diri, mereka tidak mudah marah, tidak mudah terpengaruh dengan isu dan berita yang belum jelas kebenarannya. Mereka juga mampu mengklarifikasi setiap ada informasi yang menyebar, lalu menyikapinya dengan sikap yang bijaksana. 

Terakhir atau dampak ketigabelas, santri waria mampu mengambil peran di masyarakat, misalnya para santri aktif mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat terutama di sekitaran Pesantren Al-Fatah. Para santri waria juga mampu menjadi bagian masyarakat dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Rabu 10 Juli 2019 22:15 WIB
Catatan dari Pelatihan Baca Al-Qur’an Santri Waria di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta
Catatan dari Pelatihan Baca Al-Qur’an Santri Waria di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta
Praktik membaca Al-Qur'an di Pesantren Al-Fatah Yogyakarta (foto: bbcindonesia)
Terdapat beberapa catatan penting terkait dengan kegiatan Pelatihan Membaca Al-Qur’an Berbasis Nilai-nilai Humanis pada Santri Waria di Pesantren Al-Fatah Banguntapan Bantul Yogyakarta. Dalam kegiatan yang merupakan salah satu program Pengabdian kepada Masyarakat dan dilakukan oleh Nur Aini dan Rohmat Dwi Winanta tahun 2018 berkat dukungan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Dalam laporannya, dua mentor pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang juga merupakan dosen di Intitut Ilmu Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta ini menuliskan pada  5 Agustus 2018 dilakukan  kunjungan pertama ke Pondok Pesantren Waria Al-Fatah. Tujuan tim untuk meminta izin mengadakan program pengabdian kepada masyarakat dengan memfokuskan pada pembelajaran Al-Qur'an berbasis nilai-nilai humanis pada santri waria di Pesantren Al-Fatah.

Kemudian, tanggal 8 Agustus 2018, kunjungan kedua ke pondok pesantren tersebut. Pada kesempatan ini, tim Pengabdian Masyarakat IIQ An-Nur Yogyakarta bertemu dengan pemilik sekaligus Pengasuh Pondok Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Sinta Ratri.  Dalam pertemuan itu, selain beramahtamah dengan pimpinan Pesantren Waria Al-Fatah, pertemuan juga membahas mengenai program dan teknik pengabdian yang akan dilaksanakan. 

Diskusi berjalan lancar, pihak pesantren membeberkan sejumlah kegiatan dan program yang sudah dilakukannya. Untuk menindaklanjutinya, telah disepakati kegiatan pembelajaran Al-Qur'an kepada santri ditambah dengan materi pembelajaran membaca Al-Qur'an Berbasis Nilai-nilai Humanis.

Metode pembelajaran berdasarkan buku pedoman yaitu buku Insaniy karya H Munjahid. Setelah semua berhasil disepakati, pada 12 Agustus 2018 telah dimulai proses pembelajaran pertama di Pondok Pesantren Al-Fatah. Pada proses pembelajaran pertama hanya beberapa santri waria yang hadir. Pembelajaran langsung dimulai dengan kegiatan metode sorogan. Sebagian santri mengaji dengan Ketua Tim Pengabdian dari LP2M IIQ An Nur, Nur Aini. Sebagian santri lagi dibimbing Anggota Tim Pengabdian dari LP2M IIQ An Nur, Rohmat Dwi Yunianta. Selain itu, hadir pula beberapa peneliti berasal dari kalangan mahasiswa dari Amerika Serikat. Berdasarkan pengakuannya, mereka tertarik mengkaji proses belajar dan tingkat ketenangan santri setelah melakukan prosesi ibadah.

Materi dan metode pembelajaran meliputi dua hal, yaitu nilai-nilai humanis dan membaca Al-Qur'an. Adapun pembelajaran nilai-nilai humanis pada pertemuan pertama meliputi dua nilai humanis, yaitu pengembangan ego atau pengembangan identitas diri, pendidikan jiwa. 

Setelah pembelajaran nilai humanis, santri diminta untuk mempraktikkan sikap humanisnya dalam proses belajar membaca Al-Qur'an. Para santri diajak berdialog dan berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapai terkait dengan nilai humanis yang sedang dibahas.

Setelah itu pada tanggal 17 Agustus 2018, santri di Pesantren Waria Al-Fatah melaksanakan upacara bendera dalam rangka memeringati Hari Kemerdekaan ke-73 RI. Upacara dilakukan di Halaman Gerai Grapari Telkomsel Kotagede Yogyakarta.  Dalam kegiatan upacara peringatan HUT RI itu, para santri memerankan diri sebagai petugas upacara. Sebagian ada yang menjadi pasukan pengibar Bendera Merah Putih, sebagian menjadi tim paduan suara, sebagian lagi menjadi peserta.

Kegiatan dimaksudkan untuk menanamkan sikap nasionalisme para santri dan pengurus. Juga, sebagai upaya menanamkan sikap humanis santri yakni memperkuat sikap mengenal identitas diri bangsa. Kemudian, sikap tanggung jawab, keberanian, bekerja sama dalam tim, sabar dan tabah menghadapi panasnya terik matahari. 

Sementara itu, pada tanggal 19 Agustus 2018, pendampingan membaca Al-Qur'an berbasis nilai-nilai humanis kedua memuat materi pelajaran yang diberikan yaitu nilai humanis, tentang klarifikasi atas nilai-nilai atau menilai diri sendiri secara aktif. Tujuan utamanya adalah agar proses keikutsertaan subyek didik menilai dirinya sendiri lebih kuat. Pada pertemuan kedua ini, pembimbing membacakan ayat 18 Surat Al Hasyr, lalu menerjemahkan dan menjelaskan intisarinya. Setelah itu pembimbing memberikan contoh implementasi ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.  Materi kedua yakni pelajaran membaca Al-Qur'an tentang Iẓhār ḥalqiy, Iżgām bi gunnah, dan Iżgām bilā gunnah.

Setelah pertemuan kedua dilakukan, pihak kampus Al-Qur’an di Yogyakarta itu melanjutkan kegiatan dilakukan berbeda karena belajar berlangsung di luar kelas yaitu pada tanggal 25 Agustus 2018. Materi ajar adalah praktik nilai-nilai humanis dan ibadah sosial (gair al-mahzah), berkaitan dengan kegiatan sosial yaitu penyembelihan hewan qurban. Hewan yang dikurbankan adalah seekor kambing yang disembelih di halaman pesantren. 

Santri yang hadir diminta bergotong royong untuk menguleti, memotong, dan membagikan daging kurban kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Kegiatan bertujuan untuk latihan dan praktik sikap pengembangan identitas diri dan pendidikan jiwa terutama sifat sabar yang harus dimiliki. 

Pembelajaran keempat hanya fokus pada implementasi nilai humanis yakni model kepekaan pertimbangan. Tujuannya untuk meningaktkan kesadaran, kebutuhan, dan perasaan orang lain. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 26 Agustus 2018 ini memuat materi ajar berupa ayat-ayat Al-Qur'an, terjemah, dan penjelasan isi ayat tentang kesadaran pada kebutuhan dan perasaan orang lain. Ayat yang dibahas Surat Al-Maun ayat 1-7 dan Al-Baqarah ayat 267. Pada Surat Al-Maun, dijelaskan bahwa orang-orang yang melakukan shalat namun tidak memiliki kepedulian terhadap orang-orang miskin dan anak yatim, bahkan sebaliknya, mereka menghardiknya, dianggap oleh Allah Swt sebagai pendusta agama. 

Pertemuan keempat ini sekaligus dengan kegiatan peringatan PHBI Idul Adha 1439 H. Karena itu, santri juga diberikan pemahaman yang kuat soal kepedulian sosial. Pada praktiknya, santri menunjukan sikap humanis santri waria berupa kegiatan bakti sosial. Bakti sosial berlangsung di Dusun Polosiyo, Poncosari, Srandakan Bantul. Komunitas yang ikut meramaikan kegiatan ini adalah PKBI, Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya), Ikatan Waria Bantul (Iwaba), dan keluarga besar Pesantren Al-Fatah. Rangkaian Baksos antara lain, potong rambut gratis, pembagian sembako, dan pembagian pakaian laik pakai. 
                     
Beberapa hari dipertemuan terkahir yakni tanggal 2 September 2018, santri waria diberikan pelatihan materi synectics (sinektik) atau membangun kemampuan cipta dan imajinasi. Tujuan utama dari pembelajaran itu yaitu kemampuan kreatif dan imajinasi santri. Pembimbing meminta para santri waria untuk membaca Surat Ali Imran ayat 190-191 dan Surat Hud ayat 38 dengan memerhatikan bacaan tajwidnya secara bergantian. Pembelajaran membaca Al-Qur'an pada kesempatan ini mengulas tentang iqlab, ikhfa’haqiqiy dan izhar wajib. 

Kegiatan dimulai dengan menjelaskan pengertian iqlab, ikhfa’haqiqiy dan izhar wajib secara teoritis oleh pembimbing. Lalu pembimbing memberikan contoh bacaan iqlab, ikhfa’haqiqiy dan izhar wajib. Setelah itu, para santri diminta untuk membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang terdapat bacaan iqlab, ikhfa’haqiqiy dan izhar wajib secara bergantian.

Sebagai penutup, pada tanggal 9 September 2018 dilakukan proses pembelajaran terakhir. Pada pertemuan ini pembelajaran nilai humanis adalah confluent education (pendidikan konfluen) atau pendidikan pertemuan. 
Tujuannya untuk menggabungkan tingkat belajar kognitif dan afektif serta meningkatkan tingkat tanggung jawab. Pembimbing membacakan Al-Qur'an Surat Al-Furqan ayat 63, Annahl ayat 112, dan Fuṣṣilat ayat 46; lalu menerjemahkannya. Setelah itu, santri waria diminta untuk membaca ayat-ayat tersebut secara bergantian. Tim Pengabdian Masyarakat dari IIQ An-Nur Yogyakarta menerjemahkan ayat-ayat tersebut, lalu menjelaskan isi dan kandungan ayat. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Rabu 10 Juli 2019 12:0 WIB
Menanamkan Nilai Toleransi di Tingkat Kanak-kanak
Menanamkan Nilai Toleransi di Tingkat Kanak-kanak
TK Negeri Pembina Karangmalang, Sragen, Jateng (foto: kemdikbud.go.id).
Indonesia adalah negara yang memiliki beragam suku, budaya, dan keyakinan beragama. Sebagai wilayah yang multikultural ini, perbedaan adalah hal mutlak yang tidak bisa dipisahkan. Di antara komponen keberagaman itu adalah agama. Badan Pusat Statistik merilis, penduduk Indonesia yang beragama Islam berada pada angka 87%, sedangkan sisanya adalah Kristen Protestan, Khatolik, Hindu, serta Khonghucu. Belum ditambah agama-agama lokal yang masih ajeg dianut oleh sebagian masyarakat kita. Statistik ini mendorong terjadinya dikotomi kelompok minoritas dan mayoritas. Serta menjadi rentan terhadap konflik identitas agama. Karenanya setiap warga negara perlu diingatkan tentang hikmah perbedaan ini, bahkan sejak usia dini. Agar ketika dewasa, potensi untuk melakukan tindakan rasisme yang mengantarkan kepada keretakan kita sebagai Bangsa bisa dihilangkan. Harmonitas antar pemeluk agama dapat terus terjaga dengan baik.

Penanaman nilai toleransi sejak dini bisa kita lihat pada penelitian Jumiatmoko di TK Negeri Pembina Karangmalang Sragen, Jawa Tengah. Pada TK ini, diterapkan pengayaan nilai-nilai keberagaman toleransi. Dalam materi sekolah tersebut juga ditekankan untuk melepaskan sekat-sekat beragama, meskipun di dalamnya terdapat peserta didik dengan latar belakang agama yang berbeda. Meskipun melepaskan sekat agama, materi keagamaan tetap menjadi prioritas bagi peserta didiknya. 

Penelitian yang bekerjasama dengan Diktis Pendis Kemenag ini juga menyebut bahwa nilai-nilai toleransi beragama bisa dilakukan kepada anak-anak dengan cara yang mudah. Sekurang-kurangnya terdapat empat komponen penting bagi institusi atau lembaga yang ingin melakukan hal serupa. Empat hal itu adalah Pola Pembiasaan, Kurikulum, Peran Guru, dan Peran Orang Tua.

Pertama, Pola Pembiasaan. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengayaan atau pembiasaan yang dilaksanakan dengan tujuan utama memberikan pengetahuan dan penanaman sikap spiritual sesuai dengan agamanya masing-masing. Tiap anak diberikan waktu khusus untuk mendalami tata cara agamanya dengan melafalkan dua kalimat syahadat beserta terjemahnya, menghafal doa-doa harian, dan menghafal hadits-hadits pilihan. Sedangkan bagi anak Non-Muslim, kegiatan dilaksanakan dalam bentuk doa bersama, bernyanyi, maupun kegiatan bermain lainnya, biasanya yang dilaksanakan adalah mewarnai gambar dengan tema- tema keagamaan. Keduanya dilakukan di ruangan yang berbeda.

Situasi ini menjadikan anak-anak setiap pagi, mulai hari Senin hingga Sabtu terlatih dan terbiasa mengetahui, memahami, dan menjalani pengalaman untuk bertoleransi dalam melaksanakan tata cara ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Selain kegiatan ritus di atas, di dalam kelas, anak-anak diberikan waktu pula untuk mengenal perbedaan lainnya. Terdapat kegiatan makan dan doa bersama, di mana setiap anak secara bergiliran diberikan kesempatan untuk memimpin doa sebelum dan sesudah makan, dan doa bersama dengan kepercayaannya masing-masing. Setiap anak diminta untuk diam dan mendengarkan ketika ada anak lainnya yang berdoa sesuai dengan ajarannya.

Kedua, Kurikulum. Secara keseluruhan, komposisi jadwal pembelajaran TK Negeri Pembina Karangmalang mengandung muatan toleransi beragama sebanyak 43,99%. Penelitian menyimpulkan bahwa kurikulum yang diterapkan telah mengakomodasi keinginan lembaga  untuk mengenalkan hingga menanamkan sikap toleransi beragama sejak usia dini. Hal ini disebabkan jenjang usia 5-6 tahun, lingkup perkembangan Nilai Agama dan Moral menjadi salah satu tingkat pencapaian perkembangan anak.  Pada masa itulah anak diharap mampu mengenal perbedaan agama orang lain dan menghormati agama lain. Dari hasil 43,99%  di atas cara paling efektif adalah dengan menyisipkan nilai-nilai menghargai perbedaan melalui pembiasaan-pembiasaan dalam setiap kegiatan.

Ketiga, Peran Guru. Perilaku toleransi anak muncul secara alamiah berdasarkan situasi maupun kondisi lingkungan dan dapat berkembang sesuai yang diharapkan dengan bimbingan. Sebagai sosok yang bertanggungjawab di sekolah, guru mendapat peran penting pada proses ini. Untuk mendapatkan materi yang adil dan berimbang, guru perlu dibagi antara guru kelas dan guru agama. 

Guru kelas betugas secara khusus pada pembelajaran masing-masing kelas dari awal hingga akhir jadwal harian. Guru kelas menyampaikan materi sekolah TK pada umumnya, hanya saja terdapat sebagian materi nilai menghargai perbedaan (toleransi) yang disisipkan guru pada kegiatan belajar anak. Di antaranya; membimbing anak agar saling menghargai perbedaan isi doa, membimbing anak agar saling menghargai perbedaan tata cara berdoa, membimbing anak agar saling menghargai perbedaan simbol agama, memberikan pemahaman kepada anak mengenai konsep halal dan haram, serta membimbing anak untuk memahami perbedaan Tuhan yang disembah. 

Adapun guru agama, adalah guru yang melakukan pembinaan materi keagamaan. Guru Agama melaksanakan tugasnya dengan jumlah tatap muka sebanyak lima kali dalam seminggu. Dengan perincian, sebanyak satu kali dalam jadwal Agama dan empat kali dalam jadwal Religius. Artinya anak memiliki waktu yang lebih banyak dalam bentuk pengamalannya, tidak fokus pada materi agama saja. 

Pada sekolah yang di dalamnya terdiri dari anak dengan agama yang berbeda-beda, guru agama memiliki peran yang amat penting. Dalam hal ini, masing-masing guru agama senantiasa memberikan pengetahuan, pemahaman, dan pembiasaan sikap maupun perilaku toleransi beragama. Selain agar agar anak mendapatkan materi keagamaan yang memadai, pembagian guru agama dan guru kelas ini juga dibutuhkan agar tidak terlalu menitikberatkan pada satu sudut pandang agama saja. Setiap anakpun bisa melihat perbedaan-perbedaan yang dimiliki antar siswa dan guru kelas kemudian menjadi penengah melalui bimbingan-bimbingan.

Keempat, Peran Orang Tua. Orang tua memiliki peran untuk menyamakan persepsi pada setiap awal tahun pelajaran, membangun komitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat, dan berperan serta dalam kegiatan implementasi toleransi beragama. Tatkala komponen sekolah; guru dan perangkatnya, sudah membimbing sedemikian rupa di sekolah, maka tugas orang tua selanjutnya adalah meneruskan atau menjaga pengayaan tersebut. Orang tua bisa bertanya dan meminta pendapat kepada anaknya tentang perbedaan-perbedaan yang ia dapatkan di sekolah. 

Orang tua bisa juga ikut berperan aktif memantau kegiatan dan perkembangan anak bersama sekolah. Misalnya dengan terhubung grup khusus diskusi melalui aplikasi WhatsApp Messenger. Diskusi itu bisa menjadi media menarik guna memunculkan ide-ide baru untuk kegiatan anak sekolah selanjutnya. Misalnya yang pernah dilakukan TK Negeri Pembina Karangmalang dalam agenda menjaga nilai toleransi bersama, yakni menghias telur pada saat Paskah dan menulis kartu ucapan lebaran pada saat hari Lebaran.

Empat komponen di atas dinilai cukup baik dalam menanamkan toleransi kepada anak usia dini. Tentu dengan melakukan evaluasi dan monitoring dari pihak pendidikan terkait secara bertahap. Selain sinergitas antar empat komponen ini, yang juga dibutuhkan adalah pengkajian lebih lanjut mengenai perbandingan konsep-konsep pembinaan toleransi beragama pada lembaga negeri dan swasta, baik swasta Islam maupun Non-Islam. Selain itu juga dibutuhkan pelatihan peningkatan kompetensi bagi guru dalam melaksanakan pembinaan toleransi beragama di sekolah-sekolah lainnya. (Sufyan/Kendi Setiawan)