IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Mengulas Nilai Kebangsaan Generasi Muda di Kawasan Timur Indonesia

Ahad 9 Juni 2019 10:30 WIB
Mengulas Nilai Kebangsaan Generasi Muda di Kawasan Timur Indonesia
Rakor Kerukunan Umat Beragama 2018 (foto: kemenag.go.id)
Penetrasi ideologi trans-nasional dan munculnya gerakan separatisme di beberapa daerah di kawasan Timur Indonesia diasumsikan menggerus integritas kebangsaan, khususnya kalangan generasi muda. Oleh karenanya, menjadi perlu untuk dilakukan riset tentang integritas kebangsaan generasi muda. 

Penelitian dilakukan oleh Balai Litbang Agama (BLA) Makassar Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI pada tahun 2018 bertujuan mengetahui integritas kebangsaan generasi muda perkotaan di kawasan Timur Indonesia dengan menggunakan metode penelitian yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif (mix method). Penelitian ini dilakukan di lima kota yang dipilih secara acak dari 21 kota di kawasan Timur Indonesia, yaitu Balikpapan (Kaltim), Parepare (Sulsel), Kendari (Sultra), Ambon (Maluku), dan Jayapura (Papua).

Penelitian dilakukan pada interval bulan Juli hingga Agustus 2018 dengan lama pengumpulan data selama 25 hari. 
Populasi penelitian ini adalah generasi muda, yaitu generasi Y yang lahir antara tahun 1982 hingga 2000. Teknik penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dengan galat duga 0,029 (1200 responden). Instrumen penelitian berupa angket untuk mengukur indeks integritas kebangsaan pada tiga variabel; Integritas kepada NKRI, integritas pada Pancasila, UUD 1945, dan lambang negara, serta integritas pada lebhinekaan. Tahapan kedua adalah penelitian kualitatif eksplanatif dengan tujuan menjelaskan temuan data kuantitatif.  

Temuan Penelitian

Integritas kebangsaan generasi muda di kawasan timur Indonesia berada pada angka  3,29 (sangat tinggi) dengan rincian indeks tiga variabel; indeks integritas pada NKRI 3,37 (sangat tinggi), indeks integritas pada Pancasila, UUD 1945, dan lambang negara 3,39 (sangat tinggi), yang agak berbeda pada variabel ketiga, indeks integritas pada kebhinekaan 3,11 (tinggi). Di lima kota yang menjadi lokasi sampel, Balikpapan dan Kendari indeks integritas kebangsaan berada pada kategori tinggi, masing-masing 3,19 dan 3,18. Kota Parepare 3,32 (sangat tinggi), Jayapura 3,33 (sangat tinggi), dan Ambon 3,43 (sangat tinggi). 

Kalangan milenial yang menjadi populasi dalam penelitian ini masih memandang bahwa Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai dasar dan bentuk negara yang tepat dan final untuk Indonesia. Variabel yang sedikit ‘bermasalah’ adalah integritas pada kebhinekaan, di empat kota indeks pada variabel ini terlihat ‘timpang’ dibandingkan 2 variabel sebelumnya. Hanya di kota Jayapura indeks pada variabel ini relatif ‘stabil’ dan berada pada kategori sangat tinggi. Paham teologi keagamaan yang cenderung eksklusif memberi pengaruh pada sebagian responden Muslim sehingga menyikapi pertanyaan tentang relasi antar agama dengan respons yang negatif. 

Temuan kualitatif dari penelitian ini melengkapi hasil analisis kuantitatif. Berdasarkan wawancara kepada berbagai sumber dari kalangan akademisi, tokoh pemuda, dan sebagian responden mengkonfirmasi tentang adanya penguatan nasionalisme di kalangan generasi muda, khususnya berkenaan dengan integritas pada NKRI serta integritas pada Pancasila, UUD 1945, dan lambang negara. Penelusuran kualitatif memperkuat problem berkenaan dengan integritas pada kebhinekaan, khususnya berkenaan dengan relasi antar agama dan relasi antar etnis/suku yang menjadi temuan kuantitatif. 

Faktor paham keagamaan, khususnya di kalangan responden Muslim memengaruhi respons mereka terhadap relasi antaragama, sehingga pada tujuh pertanyaan yang berkenaan dengan relasi antar agama pada responden Muslim direspons ‘negatif’ oleh cukup banyak responden. Paham keagamaan yang dipengaruhi oleh cara pandang teologi yang eksklusif di sebagian responden pada tujuh pertanyaan tersebut direspons secara ‘negatif’ oleh sekitar 20-40% responden Muslim, utamanya pada item kesediaan mengucapkan selamat hari raya pada penganut agama lain dan kesediaan dipimpin oleh kepala daerah yang berbeda agama. 

Aksi 212 dan propaganda keharaman mengucapkan 'Selamat Hari Raya' pada agama lain memberi pengaruh cukup besar kepada responden Muslim tersebut. Hal yang sebaliknya tidak terjadi pada resonden non-Muslim yang umumnya memberi respons yang positif pada item pertanyaan tentang relasi antaragama. 

Rekomendasi Kebijakan
 
Berdasarkan temuan dan analisis data, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal. Pertama, perlunya memperbanyak kegiatan kepemudaan yang berorientasi pada peningkatan rasa nasionalisme dan latihan bela negara oleh stakeholder terkait, seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan KNPI.
 
Kedua, perlunya pengarusutamaan (mainstreaming) nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) dalam hal ini Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan pada generasi milenial dengan cara-cara lebih pop culture. Pembuatan film pendek, komik, meme dengan memanfaatkan media sosial (Facebook, Youtube, Instagram dan lainnya).  Untuk hal ini bisa dilakukan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), bekerjasama dengan Kementerian Infokom.

Berikutnya, Kemeterian Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) perlu melakukan kegiatan berbasis pada peningkatan pemahaman tentang kebhinekaan di kalangan generasi muda; dan Kementerian Agama dan Ormas Islam perlu melakukan edukasi teologi dan paham keagamaan yang inklusif kepada generasi milenial Muslim. (Ibnu Nawawi/Kendi Setiawan)

Rabu 5 Juni 2019 19:15 WIB
Tradisi Ritual Keagamaan di 8 Daerah Kawasan Selat Sunda
Tradisi Ritual Keagamaan di 8 Daerah Kawasan Selat Sunda
Tradisi sekura dari Lampung (foto: Indonesiakaya)
Meningkatkan pemahaman keagamaan dan kerukunan antarumat beragama merupakan salah satu isu penting dalam rencana strategis pembangunan agama di Kementerian Agama (Kemenag) RI.  Dalam khazanah kebudayaan Melayu, nilai agama merupakan bagian penting tiga simpul perekat kesamaan jati diri, yakni adat istiadat, bahasa dan agama.

Melalui ketiga ciri tersebut manusia dapat bicara tentang orang dalam dan orang luar, orang kita dan orang lain, dan lain sebagainya. Di samping itu, tradisi ritual mengandung beberapa pesan tertentu, baik nilai budaya dan agama yang berguna bagi pemilik dan pelaku tradisi maupun bagi masyarakat luas. 

Tradisi ritual tersebut dimaknai sebagai simbol komunikasi, sekaligus penghormatan manusia secara kolektif terhadap Tuhan dan makhluk-makhluk gaib, yang dipandang memiliki kekuatan luar biasa yang dapat menjamin keberlangsungan dan keharmonisan hidup masyarakat. 

Dengan kata lain ritual-ritual tersebut dimaknai sebagai ‘bujukan’ atau rayuan manusia kepada Tuhan atau makhluk-makhluk gaib agar dapat memberikan perlindungan, keselamatan, sekaligus juga berkah kepada masyarakat setempat.

Hasil Penelitian Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2018 di delapan wilayah sekitar Selat Sunda, meliputi Sumatera, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Penelitian terkait tradisi yang hidup di masyarakat dalam hal ini adalah nilai-nilai agama dan budaya dalam upacara 'Seren Taun' masyarakat adat Sunda Wiwitan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Kemudian, Ratib Tegak (Ratib Seman) di Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Sitinjau Laut dan Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Jambi; Wuku Taun masyarakat Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung; tradisi 'Melemang' di Desa Karangraja dan Kepur, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Berikutnya, tradisi Sekura pada Kepaksian Skala Brak di Lampung Barat; Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten; tradisi Baritan di DKI Jakarta; dan tradisi Besaman di desa Kelumu, Lingga, Kepulauan Riau.

Tradisi yang ditemukan dalam penelitian itu menunjukkan bahwa Indonesia banyak sekali memiliki keragaman kebudayaan yang sarat akan nilai-nilai agama dan budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. 

Nilai-nilai keagamaan yang terefleksikan dalam tradisi yang telah dipaparkan tersebut sangat beragam, masing-masing mempunyai keistimewaan sesuai dengan masyarakat pendukungnya baik yang heterogen maupun homogen. 

Dalam hal ini, kebanyakan dari tradisi ritual tersebut mengandung nilai etika, ketuhanan (tauhid) dan ibadah yang menjadi inti nilai agama Islam seperti yang termuat dalam tradisi Ratib Tegak (Ratib Seman), Wuku Taun, tradisi 'Melemang', tradisi Sakura, tradisi Baritan, dan tradisi Besaman. 

Dua tradisi memadukan beberapa kepercayaan dalam ritualnya, yakni upacara Seren Taun masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan dan Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten. 

Nilai etika itu terlihat dari rasa hormat menghormati, sopan santun, rendah hati, rasa syukur dan adil. Sedangkan nilai ketuhanan (tauhid) terlihat dari penyebutan simbol-simbol agama dalam tahapan-tahapan sebuah tradisi, yakni kata penghormatan kepada Tuhan dan Nabi Muhammad Saw, media menanamkan nilai-nilai ketuhanan (ketauhidan) dan media meningkatkan dan menumbuhkan nilai spiritualitas masyarakat, serta media mengajarkan hakikat diri.

Sebagian besar nilai budaya yang teraktualisasi dalam beberapa tradisi ritual yang telah dipaparkan sebelumnya berfungsi sebagai media perekat di masyarakat. Beberapa bentuk tradisi digunakan sebagai media menyampaikan pesan-pesan yang berupa nilai-nilai agama dan budaya untuk memperkuat kohesi sosial seperti yang terlihat dalam tradisi yang disebutkan di atas. 

Beberapa tradisi tersebut juga biasanya berhubungan dengan identitas komunal masyarakatnya seperti yang terdapat dalam tradisi upacara Seren Taun masyarakat Adat Sunda Wiwitan Cigugur Kabupaten Kuningan, Seren Taun di Kasepuhan Cisungsang, Lebak Banten dan tradisi Sakura pada Kepaksian Skala Brak di Lampung Barat. 

Beberapa nilai-nilai budaya yang teraktualisasi dari beberapa tradisi tersebut adalah, kerjasama atau gotong royong (cooperation), keterbukaan (openess) dan penghargaaan (respect), musyawarah untuk mufakat, hormat menghormati antar suku, bertimbang rasa (empaty, solidarity, dan tolerance), mengedepankan perdamaian dan tenggang rasa, nilai ekonomi dan keselarasan sosial.  

Hasil-hasil kajian itu juga membuktikan bahwa agama dan tradisi dapat berjalan seiring dan tidak saling berbenturan. Seperti dikemukakan oleh peneliti yang mengkaji Ratib Saman di Lingga, Angga Marzuki, tradisi Ratib Saman di Lingga tersebut menunjukkan bagaimana warga Lingga menghayati dan mempraktikkan keislaman mereka yang dipadukan dengan tradisi yang sudah mereka jalani jauh sebelum Islam datang. 

Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa berkembangnya berbagai tradisi ritual di Indonesia, menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia merupakan orang-orang yang mengedepankan keselarasan dan keseimbangan hidup dengan lingkungan di mana mereka hidup. 

Tradisi ritual yang berkembang merupakan wujud rasa syukur atas berbagai karunia Tuhan yang disediakan di lingkungan mereka. Masuknya agama-agama baru kemudian tidak lantas menghapus tradisi-tradisi tersebut, justru malah memperkaya tradisi ritual dengan masuknya berbagai unsur-unsur agama ini. Tradisi-tradisi ritual yang berbaur dengan unsur-unsur agama ini seperti hendak menguatkan filosofi; siapa menyayangi yang di bumi, maka akan disayang 'Yang di Langit'.  

Upaya menjaga tradisi ritual di masyarakat merupakan bentuk kepedulian dan penghargaan masyarakat akademis dan pemerintah pada warisan budayanya, serta juga memberikan banyak temuan dan masukan yang berguna bagi banyak pihak terkait. 

Karena itu, sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan penelitian, penulis merekomendasikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemangku kepentingan. Pertama, mengembangkan program-program pembangunan yang bersifat multidimensi dan berjangka menengah dan panjang, yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan budaya dalam masyarakat agar sanggup menghadapi tekanan terhadap nilai budayanya.

Kedua, pemberdayaan masyarakat secara sosial, ekonomi, dan budaya lewat tradisi ritual agar setiap masyarakat memiliki ketahanan secara budaya dalam menghadapai perubahan di era modern ini. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Senin 27 Mei 2019 19:30 WIB
Temuan dan Rekomendasi Penelitian Aplikasi Qur'an Kemenag 2018
Temuan dan Rekomendasi Penelitian Aplikasi Qur'an Kemenag 2018
Screenshot tampilan aplikasi Al-Qur'an Digital Kemenag versi website.
Hasil temuan penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kemeterian Agama RI tahun 2018 memperlihatkan bahwa aplikasi 'Qur’an Kemenag' kurang banyak dikenal dan diketahui oleh masyarakat. Meskipun mayoritas responden, yaitu 96,2% mengaku tahu bahwa sekarang ada aplikasi Al-Qur’an digital di smartphone mereka, tetapi mayoritas responden sebanyak 69,7% mengaku tidak tahu aplikasi 'Qur’an Kemenag', dan hanya 30% yang mengaku mengetahuinya.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa institusi LPMQ selaku lembaga yang bertanggungjawab terhadap urusan terkait Al-Qur’an digital, kurang dikenal oleh instansi vertikal Kemenag di tingkat bawah (KUA, Kantor Kabupaten/Kota termasuk jajaran Kanwil Kementerian Agama). Beberapa karyawan ASN/ PNS Kemenag yang di wawancara mengaku tidak mengetahui apa dan bagaimana LPMQ serta tugas dan fungsinya terkait Al-Qur’an. 

Dari 30% masyarakat yang mengetahui 'Al-Qur’an Digital' Kemenag, sebagian besar mengetahui dari Plyastore sebanyak 66%, mesin pencari (search engine) seperti google, yahoo, bing dan lainnya sebanyak 13,6%, dari website 12% dan sisanya kurang 10% dari lain lain. 

Data memperlihatkan juga bahwa selama ini masih belum maksimalnya sosialisasi pengenalan 'Al-Qur'an Digital' produk Kemenag. Tidak hanya kepada masyarakat luar tapi juga kepada jajaran internal ASN/ PNS Kemenag mulai tingkat pusat sampai tingkat bawah. Para ASN/PNS Kemenag sebagaian besar tidak menggunakan atau memasang aplikasi 'Al-Qur’an Digital' dalam smartphone. 

Dari 30,1% responden yang mengaku tahu aplikasi 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag, berdasarkan jenis penggunaannya sebagian besar masyarakat lebih banyak menggunakan Al-Qur’an Digital dalam versi smartphone, dan sedikit yang menggunakan versi website. Pengguna 'Al-Qur’an Digital' versi smartphone hampir merata kesemua kategori responden kecuali untuk responden yang berasal dari dosen, di mana mereka selisih tipis yaitu lebih banyak yang menggunakan Al-Qur’an versi website sebanyak 29,5% ketimbang smartphone sebanyak 28,7%.

Pengguna 'Al-Qur’an Digital' versi smartphone sebanyak 21,7 % dan website sebanyak 13,5%. Sedangkan penggunaan 'Al-Qur’an Digital' versi website yang sedikit lebih besar dibandingkan versi smartphone di kalangan para dosen, karena fungsinya yang sangat membantu untuk kebutuhan tidak hanya untuk aktifvtas keagamaan, melainkan juga non-keagamaan seperti kebutuhan akademik. 

Secara nasional, dari 14 lokasi penelitian, hampir sebagian besar masyarakat mengatakan tidak tahu dan tidak mengenal 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag. Responden Jakarta dan Banjarmasin yang banyak mengetahui dan mengenal 'Al-Qur’an Digital', sisanya rata rata di bawah lima puluh persen tahu ada 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag. Temuan menarik adalah beberapa kota besar yang selama ini diidentikan memiliki kultur keagamaan sangat kuat, justru tidak mengetahui adanya aplikasi 'Al-Qur’an Digital' Kemenag seperti Makassar, Aceh, Padang, Ternate dengan prosentase dibawah lima puluh persen.  

Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan temuan di atas, implikasi rekomendasi kebijakan yang bisa dilakukan untuk lebih memperkenalkan produk 'Al-Qur’an Digital' kepada masyarakat adalah, pertama, perlunya sosialisasi 'Al-Qur’an Digital' secara lebih intensif, baik secara online maupun offline. Sosialisasi secara online dengan memasang aplikasi 'Al-Qur’an Digital' dalam bentuk referral link pada semua situs website yang ada lingkungan Kemenag, baik ditingkat pusat maupun regional. Berikutnya menaikkan rating pada mesin pencari search engine pada google, yahoo, Bing, plyastore, appstore pada urutan pertama.

Langkah lainnya menggunakan platform media sosial (medsos) seperti instagram, facebbok, twitter, wechat, youtube dan lainya; pemasangan iklan inforial atau advertorial tentang 'Al-Qur’an Digital' pada media massa baik cetak maupun elektronik (situs berita online). Secara offline, sosialisasi dilakukan dalam forum forum pertemuan internal Kemenag di semua tingkatan dan satuan kerja pada semua tingkatan, serta pertemuan Kemenag dengan stakeholder terkait.

Rekomendasi berikutnya, untuk sosialisasi online dapat menggunakan GPR (Goverment Public Relation) atau dalam intern Kemenag disebut dengan THP (Tenaga Humas Pemerintah dengan skema 'Narasi Tunggal' yang terdiri dari rlis, infografis penunjang rilis, kultwit terkait rilis. Dengan Narasi Tunggal ini akan dipublikasikan di seluruh kanal media K/L, Pemprov dan Pemda.

Ketiga, Kementerian Agama dalam hal ini Kepala Badan Litbang dan Diklat, Sekretaris Jenderal (Sekjen) atau Dirjen Bimas Islam perlu membuat surat edaran yang mewajibkan seluruh ASN/PNS dilingkungan kemenag untuk menggunakan aplikasi Al-Qur'an digital baik versi smartphone dan website, baik ditingkat pusat sampai daerah.

Keempat, perlunya ada alokasi anggaran untuk program dan kegiatan sosialisasi aplikasi 'Al-Qur’an Digital', baik dalam bentuk online maupun offline. Anggaran sosialisasi ini untuk program kerja sama dengan pihak luar, pengembangan SDM berupa pelatihan dan lainnya. (Kendi Setiawan)

Selasa 21 Mei 2019 13:0 WIB
Tantangan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik
Tantangan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik
Papan pengumuman di depan Datoe Abee (bacaberita96.com)
Salah satu tantangan yang sedang dihadapi dunia penelitian dan akademisi terutama dalam bidang keagamaan adalah minimnya naskah klasik yang terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, para peneliti dan akademisi hingga pembuat kebijakan kesulitan untuk menemukan kekayaan khazanah keagamaan di masa lalu untuk dimanfaatkan lebih lanjut. 

Berangkat dari keadaan demikian, pendokumentasian terhadap hasil kekayaan intelektual di masa lalu menjadi sangat penting dilakukan. Proses inventarisasi selanjutnya perlu dikembangkan dalam bentuk digital, sehingga memudahkan setiap orang memnafaatkan kekayaan tersebut dengan cara yang lebih kontekstual.
 
Tantangan tersebut yang hendak dijawab oleh Kementerian Agama melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, Badan Litbang dan Diklat dengan melakukan penelitian inventarisasi dan digitalisasi naskah klasik keagamaan di wilayah Sumatera yakni Aceh, Sumatera Barat dan Lampung pada tahun 2018 lalu.

Tiga wilayah tersebut dipilih karena: pertama, Aceh sebagai wilayah bekas kesultanan dan pusat penyebaran Islam pertama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan naskah keagamaan. Aceh menyimpan banyak naskah peninggalan para ulama dan bangsawan masa lalu. Beberapa katalog yang telah diterbitkan menunjukkan betapa kayanya khazanah naskah Aceh. 

Sebut saja Katalog Dayah Tanoh Abe yang memperlihatkan naskah keagamaan yang disimpan di Dayah Tanoh Abe yang menjadi pusat pengajaran Islam hingga saat ini. Katalog Ali Hasjmy juga menunjukkan betapa kayanya khazanah naskah keagamaan di wilayah Aceh. Keberadaan kedua katalog tersebut memungkinkan masih adanya naskah-naskah keagamaan yang belum didata keberadaannya dalam bentuk katalog.

Kedua, selain Aceh, wilayah lain yang dikenal kaya dengan peninggalan naskah keagamaan adalah Sumatera Barat. Sumatera Barat dengan mayoritas penduduknya yang beretnis Minangkabau adalah salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang mempunyai koleksi naskah yang banyak dan beragam. Dari ratusan naskah yang telah diidentifikasi, jumlah naskah keislaman sangat mendominasi.
 
Hal ini membuktikan bahwa Minangkabau di masa lampau pernah memainkan peran intelektual yang signifikan. Aktivitas keilmuan Islam Minangkabau telah meninggalkan kekayaan intelektual yang tersimpan di berbagai lokasi, seperti surau, rumah gadang, dan pribadi-pribadi.

Dari berbagai lokasi yang telah dilacak oleh peneliti sebelumnya, surau merupakan tempat yang banyak menyimpan koleksi naskah. Hampir semua naskah yang telah diidentifikasi oleh filolog berasal dan atau tersimpan di surau. 
Di masa lalu, bagi Suku Minangkabau, surau tidak hanya tempat mengaji saja seperti kita kenal saat ini. Akan tetapi surau merupakan merupakan institusi pendidikan agama yang bersifat tradisional yang menjamur. Ia juga menempati posisi penting dalam konteks masyarakat adat Minangkabau, seperti berperan sebagai tempat transmisi keilmuan. 

Proses belajar mengajar antara anaksiak (santri) dengan tuanku syaikh (guru) memungkinkan surau sebagai skriptorium naskah-naskah keagamaan. Naskah-naskah ini kemudian terwariskan kepada generasi masa kini meskipun surau-surau yang memainkan peran penting tersebut tidak lagi ada.

Ketiga, wilayah Lampung, memiliki kondisi yang berbeda dengan dua wilayah sebelumnya. Lampung tidak dikenal sebagai wilayah yang banyak menghasilkan naskah keagamaan. Namun demikian, melihat letak geografisnya yang strategis dan minimnya kajian naskah yang  dilakukan, maka wilayah Lampung dipertimbangkan menjadi salah satu lokasi penelitian ini.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian pada tiga lokasi penelitian Aceh, Sumatera Barat dan Lampung, naskah keagamaan yang berhasil didata berjumlah 117 dengan rincian 22 naskah dari Aceh, 63 naskah dari Sumatera Barat, 32 naskah dari Lampung.

Naskah keagamaan yang berhasil didata dan dideskripsikan di wilayah Aceh seluruhnya difokuskan pada naskah koleksi Tarmizi Abdul Hamid seorang kolektor naskah yang sudah dikenal di dunia pernaskahan. Sedangkan di wilayah Sumatera Barat naskah yang didata merupakan koleksi pribadi dan sebagian masih tersimpan di surau-surau. Untuk wilayah Lampung, naskah yang didata difokuskan pada naskah koleksi Museum Negeri Lampung. 

Sementara itu, tema 117 naskah yang didata sangat beragam, mulai dari naskah Al Qur’an, Tauhid, Tarekat, Fiqih hingga doa doa dan mujarobat

Penelitian ini melahirkan dua rekomendasi. Pertama, beragamnya tema naskah keagamaan yang ditemukan menunjukkan bukti adanya transmisi pengetahuan keislaman yang pernah terjadi pada masa lalu. Oleh karena itu, perlu kiranya inventarisasi lebih lanjut dari penelitian naskah keagamaan.

Kedua, rentannya kondisi naskah yang ditemukan perlu perhatian dari berbagai pihak untuk turut serta melakukan konservasi dan preservasi agar dapat menyelamatkan keberadaan naskah di berbagai daerah.

Dengan hasil dan rekomendasi tersebut, diharapkan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik Keagamaan di Indonesia semakin lengkap sehingga bermanfaat bagi masyarakat khususnya akademisi, peneliti, para pengambil kebijakan dan stakeholder yang lain. (Ahmad Rozali/Kendi Setiawan)