IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Temuan dan Rekomendasi Penelitian Aplikasi Qur'an Kemenag 2018

Senin 27 Mei 2019 19:30 WIB
Share:
Temuan dan Rekomendasi Penelitian Aplikasi Qur'an Kemenag 2018
Screenshot tampilan aplikasi Al-Qur'an Digital Kemenag versi website.
Hasil temuan penelitian Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kemeterian Agama RI tahun 2018 memperlihatkan bahwa aplikasi 'Qur’an Kemenag' kurang banyak dikenal dan diketahui oleh masyarakat. Meskipun mayoritas responden, yaitu 96,2% mengaku tahu bahwa sekarang ada aplikasi Al-Qur’an digital di smartphone mereka, tetapi mayoritas responden sebanyak 69,7% mengaku tidak tahu aplikasi 'Qur’an Kemenag', dan hanya 30% yang mengaku mengetahuinya.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa institusi LPMQ selaku lembaga yang bertanggungjawab terhadap urusan terkait Al-Qur’an digital, kurang dikenal oleh instansi vertikal Kemenag di tingkat bawah (KUA, Kantor Kabupaten/Kota termasuk jajaran Kanwil Kementerian Agama). Beberapa karyawan ASN/ PNS Kemenag yang di wawancara mengaku tidak mengetahui apa dan bagaimana LPMQ serta tugas dan fungsinya terkait Al-Qur’an. 

Dari 30% masyarakat yang mengetahui 'Al-Qur’an Digital' Kemenag, sebagian besar mengetahui dari Plyastore sebanyak 66%, mesin pencari (search engine) seperti google, yahoo, bing dan lainnya sebanyak 13,6%, dari website 12% dan sisanya kurang 10% dari lain lain. 

Data memperlihatkan juga bahwa selama ini masih belum maksimalnya sosialisasi pengenalan 'Al-Qur'an Digital' produk Kemenag. Tidak hanya kepada masyarakat luar tapi juga kepada jajaran internal ASN/ PNS Kemenag mulai tingkat pusat sampai tingkat bawah. Para ASN/PNS Kemenag sebagaian besar tidak menggunakan atau memasang aplikasi 'Al-Qur’an Digital' dalam smartphone. 

Dari 30,1% responden yang mengaku tahu aplikasi 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag, berdasarkan jenis penggunaannya sebagian besar masyarakat lebih banyak menggunakan Al-Qur’an Digital dalam versi smartphone, dan sedikit yang menggunakan versi website. Pengguna 'Al-Qur’an Digital' versi smartphone hampir merata kesemua kategori responden kecuali untuk responden yang berasal dari dosen, di mana mereka selisih tipis yaitu lebih banyak yang menggunakan Al-Qur’an versi website sebanyak 29,5% ketimbang smartphone sebanyak 28,7%.

Pengguna 'Al-Qur’an Digital' versi smartphone sebanyak 21,7 % dan website sebanyak 13,5%. Sedangkan penggunaan 'Al-Qur’an Digital' versi website yang sedikit lebih besar dibandingkan versi smartphone di kalangan para dosen, karena fungsinya yang sangat membantu untuk kebutuhan tidak hanya untuk aktifvtas keagamaan, melainkan juga non-keagamaan seperti kebutuhan akademik. 

Secara nasional, dari 14 lokasi penelitian, hampir sebagian besar masyarakat mengatakan tidak tahu dan tidak mengenal 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag. Responden Jakarta dan Banjarmasin yang banyak mengetahui dan mengenal 'Al-Qur’an Digital', sisanya rata rata di bawah lima puluh persen tahu ada 'Al-Qur’an Digital' produk Kemenag. Temuan menarik adalah beberapa kota besar yang selama ini diidentikan memiliki kultur keagamaan sangat kuat, justru tidak mengetahui adanya aplikasi 'Al-Qur’an Digital' Kemenag seperti Makassar, Aceh, Padang, Ternate dengan prosentase dibawah lima puluh persen.  

Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan temuan di atas, implikasi rekomendasi kebijakan yang bisa dilakukan untuk lebih memperkenalkan produk 'Al-Qur’an Digital' kepada masyarakat adalah, pertama, perlunya sosialisasi 'Al-Qur’an Digital' secara lebih intensif, baik secara online maupun offline. Sosialisasi secara online dengan memasang aplikasi 'Al-Qur’an Digital' dalam bentuk referral link pada semua situs website yang ada lingkungan Kemenag, baik ditingkat pusat maupun regional. Berikutnya menaikkan rating pada mesin pencari search engine pada google, yahoo, Bing, plyastore, appstore pada urutan pertama.

Langkah lainnya menggunakan platform media sosial (medsos) seperti instagram, facebbok, twitter, wechat, youtube dan lainya; pemasangan iklan inforial atau advertorial tentang 'Al-Qur’an Digital' pada media massa baik cetak maupun elektronik (situs berita online). Secara offline, sosialisasi dilakukan dalam forum forum pertemuan internal Kemenag di semua tingkatan dan satuan kerja pada semua tingkatan, serta pertemuan Kemenag dengan stakeholder terkait.

Rekomendasi berikutnya, untuk sosialisasi online dapat menggunakan GPR (Goverment Public Relation) atau dalam intern Kemenag disebut dengan THP (Tenaga Humas Pemerintah dengan skema 'Narasi Tunggal' yang terdiri dari rlis, infografis penunjang rilis, kultwit terkait rilis. Dengan Narasi Tunggal ini akan dipublikasikan di seluruh kanal media K/L, Pemprov dan Pemda.

Ketiga, Kementerian Agama dalam hal ini Kepala Badan Litbang dan Diklat, Sekretaris Jenderal (Sekjen) atau Dirjen Bimas Islam perlu membuat surat edaran yang mewajibkan seluruh ASN/PNS dilingkungan kemenag untuk menggunakan aplikasi Al-Qur'an digital baik versi smartphone dan website, baik ditingkat pusat sampai daerah.

Keempat, perlunya ada alokasi anggaran untuk program dan kegiatan sosialisasi aplikasi 'Al-Qur’an Digital', baik dalam bentuk online maupun offline. Anggaran sosialisasi ini untuk program kerja sama dengan pihak luar, pengembangan SDM berupa pelatihan dan lainnya. (Kendi Setiawan)

Selasa 21 Mei 2019 13:0 WIB
Tantangan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik
Tantangan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik
Papan pengumuman di depan Datoe Abee (bacaberita96.com)
Salah satu tantangan yang sedang dihadapi dunia penelitian dan akademisi terutama dalam bidang keagamaan adalah minimnya naskah klasik yang terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, para peneliti dan akademisi hingga pembuat kebijakan kesulitan untuk menemukan kekayaan khazanah keagamaan di masa lalu untuk dimanfaatkan lebih lanjut. 

Berangkat dari keadaan demikian, pendokumentasian terhadap hasil kekayaan intelektual di masa lalu menjadi sangat penting dilakukan. Proses inventarisasi selanjutnya perlu dikembangkan dalam bentuk digital, sehingga memudahkan setiap orang memnafaatkan kekayaan tersebut dengan cara yang lebih kontekstual.
 
Tantangan tersebut yang hendak dijawab oleh Kementerian Agama melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, Badan Litbang dan Diklat dengan melakukan penelitian inventarisasi dan digitalisasi naskah klasik keagamaan di wilayah Sumatera yakni Aceh, Sumatera Barat dan Lampung pada tahun 2018 lalu.

Tiga wilayah tersebut dipilih karena: pertama, Aceh sebagai wilayah bekas kesultanan dan pusat penyebaran Islam pertama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan naskah keagamaan. Aceh menyimpan banyak naskah peninggalan para ulama dan bangsawan masa lalu. Beberapa katalog yang telah diterbitkan menunjukkan betapa kayanya khazanah naskah Aceh. 

Sebut saja Katalog Dayah Tanoh Abe yang memperlihatkan naskah keagamaan yang disimpan di Dayah Tanoh Abe yang menjadi pusat pengajaran Islam hingga saat ini. Katalog Ali Hasjmy juga menunjukkan betapa kayanya khazanah naskah keagamaan di wilayah Aceh. Keberadaan kedua katalog tersebut memungkinkan masih adanya naskah-naskah keagamaan yang belum didata keberadaannya dalam bentuk katalog.

Kedua, selain Aceh, wilayah lain yang dikenal kaya dengan peninggalan naskah keagamaan adalah Sumatera Barat. Sumatera Barat dengan mayoritas penduduknya yang beretnis Minangkabau adalah salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang mempunyai koleksi naskah yang banyak dan beragam. Dari ratusan naskah yang telah diidentifikasi, jumlah naskah keislaman sangat mendominasi.
 
Hal ini membuktikan bahwa Minangkabau di masa lampau pernah memainkan peran intelektual yang signifikan. Aktivitas keilmuan Islam Minangkabau telah meninggalkan kekayaan intelektual yang tersimpan di berbagai lokasi, seperti surau, rumah gadang, dan pribadi-pribadi.

Dari berbagai lokasi yang telah dilacak oleh peneliti sebelumnya, surau merupakan tempat yang banyak menyimpan koleksi naskah. Hampir semua naskah yang telah diidentifikasi oleh filolog berasal dan atau tersimpan di surau. 
Di masa lalu, bagi Suku Minangkabau, surau tidak hanya tempat mengaji saja seperti kita kenal saat ini. Akan tetapi surau merupakan merupakan institusi pendidikan agama yang bersifat tradisional yang menjamur. Ia juga menempati posisi penting dalam konteks masyarakat adat Minangkabau, seperti berperan sebagai tempat transmisi keilmuan. 

Proses belajar mengajar antara anaksiak (santri) dengan tuanku syaikh (guru) memungkinkan surau sebagai skriptorium naskah-naskah keagamaan. Naskah-naskah ini kemudian terwariskan kepada generasi masa kini meskipun surau-surau yang memainkan peran penting tersebut tidak lagi ada.

Ketiga, wilayah Lampung, memiliki kondisi yang berbeda dengan dua wilayah sebelumnya. Lampung tidak dikenal sebagai wilayah yang banyak menghasilkan naskah keagamaan. Namun demikian, melihat letak geografisnya yang strategis dan minimnya kajian naskah yang  dilakukan, maka wilayah Lampung dipertimbangkan menjadi salah satu lokasi penelitian ini.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian pada tiga lokasi penelitian Aceh, Sumatera Barat dan Lampung, naskah keagamaan yang berhasil didata berjumlah 117 dengan rincian 22 naskah dari Aceh, 63 naskah dari Sumatera Barat, 32 naskah dari Lampung.

Naskah keagamaan yang berhasil didata dan dideskripsikan di wilayah Aceh seluruhnya difokuskan pada naskah koleksi Tarmizi Abdul Hamid seorang kolektor naskah yang sudah dikenal di dunia pernaskahan. Sedangkan di wilayah Sumatera Barat naskah yang didata merupakan koleksi pribadi dan sebagian masih tersimpan di surau-surau. Untuk wilayah Lampung, naskah yang didata difokuskan pada naskah koleksi Museum Negeri Lampung. 

Sementara itu, tema 117 naskah yang didata sangat beragam, mulai dari naskah Al Qur’an, Tauhid, Tarekat, Fiqih hingga doa doa dan mujarobat

Penelitian ini melahirkan dua rekomendasi. Pertama, beragamnya tema naskah keagamaan yang ditemukan menunjukkan bukti adanya transmisi pengetahuan keislaman yang pernah terjadi pada masa lalu. Oleh karena itu, perlu kiranya inventarisasi lebih lanjut dari penelitian naskah keagamaan.

Kedua, rentannya kondisi naskah yang ditemukan perlu perhatian dari berbagai pihak untuk turut serta melakukan konservasi dan preservasi agar dapat menyelamatkan keberadaan naskah di berbagai daerah.

Dengan hasil dan rekomendasi tersebut, diharapkan Inventarisasi dan Digitalisasi Naskah Klasik Keagamaan di Indonesia semakin lengkap sehingga bermanfaat bagi masyarakat khususnya akademisi, peneliti, para pengambil kebijakan dan stakeholder yang lain. (Ahmad Rozali/Kendi Setiawan)
Jumat 17 Mei 2019 4:30 WIB
Signifikansi dan Rekomendasi Penelitian Karya Ulama Nusantara di Indonesia Barat
Signifikansi dan Rekomendasi Penelitian Karya Ulama Nusantara di Indonesia Barat
Syaikh Haji Mansur Datuak Nagari Basa (foto: andikapal)
Perkembangan Islam di Indonesia telah melahirkan banyak ulama-ulama besar yang memiliki kemampuan tinggi dalam menulis karya-karya Islam yang juga diakui di dunia internasional. Salinan dari karya mereka yang tertulis dalam bahasa dan aksara Arab, Melayu, maupun lokal atau daerah masih dapat kita temukan pada saat ini terutama di pondok-pondok pesantren. Dengan kata lain para ulama atau kiai di pesantren tidak hanya mengajar dengan kitab kuning karya ulama Timur Tengah, tetapi mereka juga mengarang dan menulis kitab sendiri. 

Para ulama tradisional menulis karya mereka, baik dalam bentuk karangan asli, terjemahan, syarah atau hasyiyah atas teks klasik para ulama terdahulu. Tulisan mereka dengan menggunakan bahasa Arab dan atau bahasa daerah setempat dan menggunakan aksara Arab.

Karya-karya ulama tersebut, baik yang berbentuk manuskrip atau teks tercetak, merupakan salah satu elemen terpenting dalam upaya merekonstruksi berbagai pemikiran intelektual Islam, bahkan aneka kehidupan sehari-hari. Hal itu memungkinkan, karena di dalamnya terkandung teks-teks lama yang mencerminkan adanya pertemuan unsur budaya, sosial, politik dan intelektual lokal dengan Islam dalam suatu wilayah tertentu. 

Oleh karena itu, berbicara mengenai naskah keagamaan tidak akan terlepas dari teks dan konteks naskah tersebut dilahirkan. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, memiliki dan tugas dan kewajiban untuk melakukan kegiatan penelitian berupa eksplorasi berbagai karya ulama Nusantara, baik dalam bentuk manuskrip maupun kitab cetakan karya para ulama, dalam bentuk kajian kitab yang mendalam dengan berbagai pendekatan. Salah satunya penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2018, yaitu Eksplorasi Karya Ulama Nusantara di Lembaga Pendidikan Agama di Indonesia Bagian Barat: Kajian Teks dan Konteks.

 
Penelitian ini juga sebagai bagian upaya penguatan peran agama dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa, sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2015-2019, yaitu 'Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama', yang Islam inklusif, moderat, dan wasthaiyah. 

Penelitian ini dilakukan di enam lokasi dengan enam orang peneliti yaitu Zulkarnain Yani di Sumatera Selatan); H Saeful Bahri di Sumatera Barat; Muhammad Tarobin di Kepulauan Riau; Mahmudah Nur di Banten; Rakhmad Zailani Kiki di DKI Jakarta; dan Muhamad Rosadi penelitian di Bogor, Jawa Barat. 

Rekomendasi Kebijakan 

Ada tiga rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari penelitian ini. Pertama, Kementerian Agama dalam hal ini Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren agar menjadikan karya-karya ulama Nusantara sebagi materi ajar di berbagai pondok pesantren yang ada di wilayah Indonesia. Kedua, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI agar dapat memproduksi atau mencetak ulang karya-karya ulama tersebut dan mendistribusikan karya-karya ulama tersebut keberbagai pondok pesantren yang ada di wilayah Indonesia. 

Ketiga, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI agar melakukan pendataan ulang (reinventarisasi) terhadap karya-karya ulama Nusantara yang ada di berbagai pondok pesantren yang kajiannya mengenai ajaran atau nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan keagamaan sebagai wujud dari penguatan paham dan ajaran keagamaan yang inklusif, moderat dan wasthatiyah. (Kendi Setiawan)
Rabu 15 Mei 2019 12:45 WIB
Eksplorasi Karya Ulama Nusantara di Indonesia Bagian Barat
Eksplorasi Karya Ulama Nusantara di Indonesia Bagian Barat
KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung, pengarang Kitab Al-Nagham
Salah satu penelitian Balai Litbang Agama Jakarta, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2018 adalah terkait karya ulama Nusantara. Kajian ini sangat signifikan dilakukan, apalagi terkait dengan tema 'Nilai-Nilai Kebangsaan dan Keagamaan' yang disampaikan oleh para ulama melalui karya-karya mereka. Bangsa Indonesia membutuhkan kajian-kajian karya-karya ulama Nusantara yang mempererat dan memperkuat nasionalisme dan kebangsaan di tengah meningkatnya sikap intoleransi dalama kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini. 

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil di enam lokasi, disimpulkan hasil penelitian. Pertama, Zulkarnain Yani mengangkat tema tentang 'Semangat Kebangsaan dalam Kitab Al-Nagham Karya KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung, Sumatera Selatan'.
 
Ada dua alasan penelitian tersebut dilakukan. Kitab Al-Nagham ini belum pernah ada yang melakukan kajian dan penelitian. Maka, kajian terhadap kitab ini perlu untuk dilakukan. Selain itu, kandungan dari Kitab Al-Nagham, meskipun berupa syair-syair lagu, mengenai tema-tema kebangsaan dan nasionalisme.
 
Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan bahwa Kitab Al-Nagham karya KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung merupakan salah satu mutiara yang terpendam yang ada di Pondok Pesantren Nurul Islam Seribandung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Karya ulama seperti ini seharusnya dikenal luas oleh masyarakat.

KH Ahyauddin, melalui Kitab Al-Nagham ini, ingin menyampaikan pesan-pesan semangat kebangsaan berupa cinta tanah air, patriotisme, persatuan dan kesatuan bagi seluruh warga negara di manapun berada. Bahwa melalui syair-syair lagu dalam kitab ini, cinta tanah air, patriotisme, persatuan dan kesatuan dapat terwujud demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari rongrongan manapun, baik upaya menjatuhkan negara Indonesia dari dalam negeri maupun serangan dari luar negeri. 

Kedua, Saeful Bahri mengangkat 'Intelektual sebagai Akar Persatuan Muslim; Studi terhadap Misbah Al-Zhalam karya Syaikh Haji Mansur Datuak Nagari Basa (1908-1997)'. Syaikh Haji Mansur Dt Nagari Basa merupakan tokoh utama ulama tua yang aktif berjuang dalam bidang sosial keagamaan, sufi yang berjuang membebaskan kaumnya dalam penjajahan Kolonial, mempunyai genealogi intelektual yang mengakar kepada tokoh-tokoh sentral ulama Minangkabau sehingga representatif untuk mewakili ulama tua, dosen pada beberapa perguruan tinggi, pimpinan pondok pesantren dan surau suluk (zawiyah sufi), dan ulama yang produktif melahirkan karya tulis.

Kajian terhadap karya Syaikh Haji Mansur Dt Nagari Basa disimpulkan bahwa Kitab Mishbah Al-Zhalam adalah salah satu karya ulama Sumatera Barat yang mempunyai arti penting dalam pergumulan intelektual di Sumatera Barat. Pada awal abad 20 Sumatera Barat merupakan salah satu produsen berbagai corak pemikiran. Beragamnya pemikiran membuka peluang perdebatan dan perselisihan di kalangan masyarakat awam. Dalam konteks ini Mishbah Al-Zhalam hadir sebagai bentuk respons ulama kaum tua terhadap situasi yang terjadi.

Berdasarkan teks dan konteks Mishbah Al-Zhalam, ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Syaikh Mansur. Pertama, perpecahan di tengah masyarakat diakibatkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Kedua, memahami posisi adalah yang penting diketahui sebelum memberikan pendapat dan penilaian terhadap sesuatu hal. Ketika, berilmu adalah dasar untuk menjalin perdamaian dan persatuan. 

Berikutnya, Muhammad Tarobin yang mengkaji 'Agama dan Tradisi: Fiqih Salat, Teologi dan Filosofinya dalam Kitab Nur Al-Salah karyaTengku Muhammad Saleh (1901-1966)'. Berdasarkan hasil kajian tersebut, disimpulkan bahwa pengajaran tentang shalat dalam Kitab Nur Al-Salah tidak semata diajarkan sebagai fiqih-an sich, tetapi perlu disampaikan dengan pendekatan multidisiplin, dilengkapi dengan pendekatan-pendekatan lain yang sesuai dengan latar belakang masyarakatnya. Dengan kata lain para ulama terdahulu telah menggunakan pendekatan multidisiplin guna melakukan internalisasi nilai-nilai ibadah dan memotivasi masyarakat untuk melakukan ibadah sebagai bentuk ungkapan syukur bukan semata sebagai taklif bagi insan beragama.
 
Keempat, Mahmudah Nur yang mengkaji 'Kepemimpinan Abuya Muqri; Antara Agama dan Magi (Telaah terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri)'. Berdasarkan kajiannya terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri tersebut disimpulkan bahwa kemampuan dalam agama dan magi menjadi indikator paling penting bagi para kiai di wilayah Banten. Tanpa keduanya, para kiai tidak mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat Banten. Dengan kemampuan agama dan magi (ilmu hikmah) yang tertulis dalam NCHAM, Abuya Muqri berhasil diakui sebagai salah satu kiai yang terkenal di Banten dan menjadikannya sebagai simpul ilmu hikmah di Banten pada abad ke-20.
  
Kelima, Rakhmad Zailani Kiki yang mengkaji 'Pemikiran Keagamaan dan Kebangsaan KH Muhammad Ali Al-Hamidi Betawi dalam Kitab Ruh Al-Mimbar'. Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan bahwa Kitab Ruhul Mimbar ditulis dalam format teks khutbah dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat langsung kepada umat karena dapat dimanfaatkan oleh para khatib untuk khutbah Jumat dan ceramah-ceramah mereka.

Topik keagamaan dan kebangsaan diangkat oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dikarenakan pada saat dia menulis, dalam hal ini Kitab Ruhul Mimbar Jilid 1, suasana keadaan bangsa Indonesia baru saja merdeka, rentan terpecah belah, apalagi adanya Agresi Militer Belanda Pertama. Karenanya tema-tema keagamaan dan kebangsaan yang ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dalam ruang lingkup persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyemangati umat, menumbuhkan semangat nasionalisme melalui khatib-khatib yang membacakan tulisan-tulisan dari pemikirannya tentang keagamaan dan kebangsaan dari atas mimbar.

Keenam, Muhamad Rosadi yang mengkaji 'Pemikiran KH Abdullah bin Nuh (1905-1987) dalam Kitab Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun. Berdasarkan kajiannya, KH Abdullah bin Nuh merupakan sosok ulama pejuang yang turut serta merebut kemerdekaan bangsa Indonesia sekaligus mengisi kemerdekaan melalui pemikiran yang dituangkan dalam bentuk kitab. KH Abdullah bin Nuh juga mewajibkan agar menjauhi takfir kepada sesama Muslim; kewajiban untuk bersikap husnudzdzan (prasangka baik) kepada sesama Muslim. Juga, mencintai dan mengagungkan orang-orang shalih sebagian dari ajaran agama; keyakinan bahwa mencari keberkahan orang-orang shalih bukan bid’ah; keyakinan bahwa mencintai dan mengagumi orang shalih baik masih hidup atau sudah meninggal memperkuat keimanan. Pembahasan mengenai hal ini diperkuat dengan syair yang berjudul Pangeran Abdul Hamid Diponegoro Al Mujahid. (Kendi Setiawan)