IMG-LOGO
Trending Now:
Diktis

Tata Cara Pembuatan Ekstrak Gaharu dan Produksi Komponen Inokulan

Kamis 27 Juni 2019 18:45 WIB
Share:
Tata Cara Pembuatan Ekstrak Gaharu dan Produksi Komponen Inokulan
Kayu gaharu yang mulai diolah (foto: apamanfaat)
Pada riset yang dilakukan Megga Ratnasari Pikoli, Suhendra, Baihaki Ulma, dan Dinda Ikhwati dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018, terungkap manfaat gaharu untuk pengayaan pengondisian pertumbuhan fungsi. Upaya itu dilakukan sebagai percobaan atas bahan kimiawi yang terdapat pada batang gaharu. 

Riset yang didukung Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI ini dijelaskan mengenai teknik pembuatan ekstrak gaharu. Pertama, batang gaharu dikeringkan, dicacah dengan blender, dan ditempatkan dalam labu erlenmeyer. Aquades ditambahkan sebanyak volume cacahan batang dan didiamkan selama tiga hari. 

Larutan yang telah berwarna kecoklatan dipisahkan dari ampas batang. Ekstrak-air batang gaharu selanjutnya ditambahkan ke dalam larutan potato dextrose broth (PDB) sebanyak 4% dan 8% (v/v) dan disterilisasi dengan autoklaf.


Selanjutnya, dilakukan produksi komponen inokulan yang terdiri dari isolat fungi dan ekstrak mikroalga. Yaitu setiap isolat yang telah dimurnikan pada medium potato dextrose agar diperbanyak pada medium potato dextrose broth yang diberi 4% (v/v) atau 8% (v/v) ekstrak-air batang gaharu sebagai enrichment. 

Kultur diinkubasi pada suhu ruang sambil digoyang-goyang selama tiga hari. Pertumbuhan fungi dalam kedua medium berbeda konsentrasi ekstrak tersebut diamati secara kualitatif. Sementara itu, ekstrak mikroalga disiapkan, seperti yang telah dijelaskan. 

Selanjutnya fungi dan ekstrak ini dijadikan sebagai inokulan tunggal atau dikombinasikan. Sementara dalam analisis kimia gubal, dari setiap perlakuan dicuplik dengan cara dikikis dari setiap titik injeksi, untuk kemudian dibawa ke laboratorium. 

Sampel gubal dihaluskan dengan blender secara kering, lalu direndam dalam pelarut hexane selama 24 jam. Kemudian larutan didekantasi ke dalam microtube dan dipindahkan sebanyak 300 ul dalam microvial

Macam kandungan di dalam ekstrak diketahui dari analisis ekstrak dengan GC-MS, mengikuti kondisi yang diberikan. Kemudian pada injeksi ikolun, batang utama pohon gaharu yang berusia minimal tujuh tahun dilubangi dengan bor kayu berdiameter 6 mm. 

Lingkar pohon adalah sekitar 60 cm, kedalaman lubang adalah 8 cm, dengan kemiringan 15°. Setiap lingkar pohon ditandai empat titik bor, yang berseling dengan lingkar di atas atau bawahnya. Jarak horizontal antar titik adalah 15 cm. 

Inokulan diinjeksi dengan volume 3 ml, kemudian ditutup dengan selotip plastik. Injeksi dilakukan pada 2 pohon, dengan 3 ulangan per formula per pohon.

Terkahir, pengamatan pembentukan gubal dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada bulan pertama dan kedua sejak diinjeksi. Kulit pohon di sekitar lubang injeksi dikupas sedalam 2 cm, dan gubal yang terbentuk diamati secara visual dengan melihat pembentukan warna coklat di sekitar lubang injeksi, diukur panjang vertikal dan horizontalnya, dan didokumentasi dengan kamera. Setelah selesai pengamatan pada bulan pertama, lubang dan kulit batang dibiarkan terbuka.

Pada bulan kedua, gubal kembali diamati, diukur dan didokumentasikan. Setelah itu, sampel gubal dikupas sedalam ±2-3 mm dan dikering-anginkan. Gubal kering dibakar dengan pemantik api, dan asap yang keluar setelahnya dibaui. Lima orang responden yang sebagian besar belum pernah mencium wangi gubal menilai wangi dari sampel gubal lalu memberi skor, yaitu 0= tidak wangi, 1= wangi halus, 2= wangi sama dengan gaharu standar, 3= wangi lebih kuat, 4= wangi lebih kuat lagi. Standar wangi gubal yang digunakan berasal dari Papua. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)

Baca tulisan lainnya terkait hasil penelitian Kemenag lainnya DI SINI.
Rabu 26 Juni 2019 20:30 WIB
Mengenal Gaharu dan Manfaatnya untuk Kehidupan
Mengenal Gaharu dan Manfaatnya untuk Kehidupan
Pohon gaharu (foto: stewartflowers.net)
Gaharu merupakan tumbuhan tropis yang memiliki banyak manfaat, terutama pada bagian getah membeku dari batang, yang biasanya disebut sebagai gubal. Komposisi kimia dalam gubal gaharu memberikan manfaat tersendiri, antara lain sebagai parfum, obat batuk, anti bakteri, anti jamur, dan insektisida. 

Mega Ratnasari, Suhendra, Baihaki Ulma, Dinda Ikhwati dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam artikel hasil penelitian Aplikasi Formula Inokulan Baru untuk pembentukan gubal Tanaman Gaharu di Cijeruk, Bogor, menyebutkan dalam persfektif Islam, wangi dari pembakaran kayu gaharu merupakan sunnah Rasulullah Saw.

Penelitian yang bekerjasama dengan Diktis Pendis Kementerian Agama RI itu disebutkan di antara hadits yang mendukung hal ini yaitu dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasulullah Sawtelah bersabda, "Golongan penghuni surga yang pertama kali masuk surga adalah berbentuk rupa bulan pada malam bulan purnama, … (sampai ucapan beliau) …, nyala perdupaan mereka adalah gaharu."

Imam Abul Yaman berkata, maksudnya adalah kayu gaharu (HR Imam Bukhari). Karenanya, sampai saat ini gaharu digunakan sebagai pewangi di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Gaharu sebenarnya merupakan istilah untuk tumbuhan yang menghasilkan resin aromatik berbau wangi, yang bukan hanya dari satu jenis tumbuhan. 

Di Indonesia gaharu terutama berasal dari tumbuhan Aquilaria malaccensis, A. microcarpa, A. filaria, dan Gyrinops verstegii genus lainnya, seperti Gonystylus, Wikstroemea, Dalbergia, dan Excocaria

Pemerintah Indonesia telah memulai ekspor kayu gaharu yang bernilai tinggi ini sejak tahun 1990-an, dengan tujuan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Taiwan, Singapura, Hong Kong, Amerika, dan Eropa; dan sejak 2011 ke China.  

Gubal gaharu atau bagian kayu yang masih muda terdiri dari sel-sel yang masih hidup, terletak di sebelah dalam kambium dan berfungsi sebagai penyalur cairan dan tempat penimbunan zat-zat makanan, terbentuk sebagai respons infeksi oleh perlakuan fisik, fungi, ataupun serangga, baik secara alami maupun diinduksi dengan sengaja, sehingga fitoaleksin terbentuk sebagai pertahanan diri tumbuhan. 

Kebutuhan pasar yang tinggi dan lahan yang semakin terbatas menyebabkan harga gaharu meningkat dan eksploitasi yang berakibat menurunnya populasi di alam. Meskipun telah dimasukkan ke dalam tumbuhan yang dilindungi, penebangan liar gaharu tetap terjadi, bahkan meningkat.

Oleh karena itu, penanaman gaharu dan panen gubal yang dihasilkan dari proses induksi yang disengaja merupakan salah satu solusi untuk menghindari eksploitasi liar. Potensi ekspor dan harga yang tinggi telah menggairahkan petani atau pemilik tanah untuk menanam gaharu, meskipun panennya baru akan dirasakan bertahun-tahun kemudian. 

Kementerian Kehutanan telah melakukan pengumpulan data penanaman gaharu secara nasional, sebesar lebih dari 2,2 juta batang pohon yang tersebar di 29 provinsi pada tahun 2011 yang diduga saat ini jumlah penanam telah bertambah.

Berbagai inokulan telah diproduksi dan dijual, baik dari hasil riset maupun coba-coba tanpa dasar ilmiah. Inokulan bisa berisi bahan hidup, seperti jamur Fusarium dan Acremonium, dan bahan-bahan kimia, seperti asam salisilat, jasmonat, metil jasmonat, etilen, hidrogen peroksida dan superoksida radikal. 

Ada pula inokulan yang dirahasiakan kandungannya karena terkait hak paten, inokulan yang diklaim dapat menginduksi pembentukan gubal banyak ditawarkan dengan harga yang cukup tinggi, yaitu dalam ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Namun, terdapat ketidakpastian kualitas gubal yang dihasilkan. 

Oleh karena itu, diperlukan formula inokulan baru yang lebih baik daripada yang pernah diterapkan. Penelitian ini menguji kemampuan empat macam isolat fungi dan ekstrak mikroalga sebagai calon inokulan baru. 

Penelitian difokusikan mengenai fungi diisolasi dari tanah. Penelitian dilakukan di sekitar kebun gaharu Cijeruk, Bogor, yang diduga telah teradaptasi terhadap lingkungan setempat, termasuk pada tumbuhan gaharu. 

Sementara itu, ekstrak mikroalga yang dicoba diperoleh dari Situ Gintung, Tangerang Selatan, Banten berdasarkan penelitian pendahuluannya, ekstrak mikroalga diketahui memiliki efek antibiosis, sehingga diduga dapat digunakan sebagai induser dalam pembentukan gubal gaharu. 

Dari hasil penelitian tersebut, dapat ditemukan bahwa karakteristik tanaman, termasuk tanaman gaharu, tergantung pada kondisi lingkungan biotik dan abiotik tempat ia ditumbuhkan, seperti tanah, iklim, dan mikroorganisme yang berasosiasi. Keberadaan mikroorganisme yang diberikan dapat memberikan respon pada tanaman. 

Oleh karena itu, kegiatan penelitian yang dilakukan bertujuan menguji kecocokan formula inokulan baru pada tanaman gaharu di Cijeruk, Bogor, dengan harapan dapat diperoleh manfaat berupa terbentuknya gubal yang lebih berkualitas dibandingkan dengan menggunakan inokulan lain. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Rabu 26 Juni 2019 11:10 WIB
Pengembangan Alhurriyah Menuju Jurnal Terakreditasi Nasional
Pengembangan Alhurriyah Menuju Jurnal Terakreditasi Nasional
Tampilan Jurnal Alhurriyah versi elektronik.
Lemahnya kualitas tulisan ilmiah menjadi salah satu kendala yang dapat menghambat pertumbuhan serta produktivitaas lembaga keilmuan, lembaga penelitian atau para ahli dalam menerbitkan artikel-artikel. Hadirnya jurnal yang difasiliasi berbagai lembaga untuk mempublikasikan karya ilmiah dinilai penting karena sangat membantu ikut serta dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan. 

Penerbitan jurnal ditujukan untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan informasi lain yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali jurnal Alhurriyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, di Sumatera Barat. 

Jurnal Alhurriyah terbit berdasarkan Surat Keputusan Ketua STAIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi Nomor: Sti.04.1/KP.00.31/091/2005, tanggal 3 Mei 2005. Jurnal Alhurriyah merupakan media publikasi hasil penelitian dan kajian konseptual tentang tema-tema kajian hukum Islam. Jurnal ini terbit dua edisi dalam satu tahun ditujukan untuk kalangan pakar akademisi, praktisi, LSM, lembaga kajian, dan lembaga penelitian sosial keagamaan. Jurnal Alhurriyah bersifat terbuka. Artikel yang dikirim adalah hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan melalui penerbitan mana pun. 

Terbit pertama kali tahun 2006 dan secara rutin diterbitkan sampai Vol. 15, No.2 Juli-Desember 2015 dalam versi cetak. Jurnal versi cetak ini sudah memiliki ISSN 1411-2647. Namun sejak tahun 2016, tampilan baik sampul maupun template penulisan berubah menyesuaikan perubahan sistem penerbitan menjadi Open Journal System (OJS). Dengan demikian, Jurnal Alhurriyah memiliki electronic ISSN (2549-4198) dan print ISSN yang baru (2549-3809). 

Jurnal Alhurriyah adalah satu dari beberapa jurnal ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang mengalami beberapa kendala serius mulai dari pengelolaan, kualitas tulisan dan sosialisasi media atau e-journal. 

Melalui program pengembangan dan pembinaan jurnal Alhurriyah menuju jurnal terakreditasi nasional pada 2019 ini oleh Direktorat Jendral Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) RI diharapkan dapat merekontruksi keadaan Jurnal Alhuriyyah IAIN Bukittinggi ke arah yang lebih baik sehingga mampu berkontribusi penuh terhadap kualitas ilmu pengetahuan di Indonesia. 

Hal itu dilandasi penelitian oleh Muhammad Rezi tahun 2018 yang menggunakan metode analisis SWOT yaitu perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu spekulasi bisnis.  

Menurut Rezi, untuk membangkitkan harapan itu setidaknya ada empat tahapan yang harus diperhatikan pengelola, antara lain asesmen, workhsop penulisan, workshop pengelolaan, dan evaluasi kegiatan. 

"Program asesmen dan pemetaan potensi jurnal dilakukan dengan meneliti dan mengungkap potensi kelemahan dan kekuatan dengan analisis SWOT dan kemudian mengusahakan pengembangan jurnal menuju jurnal akreditasi nasional," tulis Rezi dalam Laporan Akademiknya.

Selanjutnya, workshop penulisan jurnal ilmiah bagi para dosen dan peneliti IAIN Bukittinggi yaitu dengan memberikan pembekalan tentang tekhnik dan aturan menulis karya ilmiah berdasarkan standar akreditasi nasional dan internasional.

Sementara workshop pengelolaan kata Ruzi, dapat diiringi dengan program pendampingan dengan beberapa jurnal nasional ternama. Workshop tersebut memberikan bekal bagi pengelola seperti jaringan redaktur, tim redaksi dan pelaksana dalam tugas pokok mereka menyajikan jurnal yang bermutu.

Terkahir, evaluasi dan monitoring. Kegiatan ini merupakan siklus kegiatan akhir dalam setiap program dan workshop diadakan evaluasi dan monitoring untuk mendapatkan hasil program yang memadai. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)