IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Dosen Unusia Jakarta: Penting Jaga Kekhasan Ekosistem Gambut

Rabu 29 Mei 2019 2:0 WIB
Dosen Unusia Jakarta: Penting Jaga Kekhasan Ekosistem Gambut
Lahan Gambut di Kalimantan Tengah (Foto: Kalteng Pos)
Jakarta, NU Online
Persoalan kesalahan mengelola lahan gambut di Indonesia menjadi perhatian sejumlah elemen bangsa. Dampak buruk yang dikhawatirkan menjadi tantangan tersendiri bagi pemegang kebijakan seperti Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk terus melakukan berbagai upaya di lapangan. 

Dosen Teknologi Agroindustri Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Adrinoviarini, mengatakan gambut memiliki sifat yang dinamis. Karena sifat dinamis itulah gambut menyebabkan fluktuasi angka inventarisasi pada luasan lahan gambut itu sendiri.

“Etika baik dalam pengelolaan lahan gambut ini penting untuk menjaga kekhasan ekosistem gambut dan sumber daya, lingkungan lokal, regional, dan global,” kata Adri saat dihubungi NU Online, Selasa (27/5). 

Adri, sapaan akrabnya, menyebut pada tahun 2011 Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian memperkirakan Indonesia memiliki 14,9 juta hektar lahan gambut. Lahan tersebut tersebar di tiga pulau besar di Indonesia. 

Menurut dia, sebaran lahan gambut tersebut ada di Pulau Sumatera seluas 6,4 juta hektar (43%), Pulau Kalimantan seluas 4,8 juta hektar  (32%) dan Pulau Papua seluas 3,7 hektar (25%). Hamparan 14,9 juta hektar lahan gambut tersebut, lanjut Adri, membuat Indonesia menjadi negara dengan luas lahan gambut terbesar kedua di dunia. 

Ia menjelaskan, lahan gambut merupakan ekosistem yang khas dari segi struktur, fungsi dan kerentanan yang besar terhadap usikan. Untuk itu, kegiatan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap usikan pada lahan gambut yaitu kegiatan produksi yang dilakukan oleh manusia tanpa memperhatikan etika baik terhadap lingkungan tersebut. 

“Sehingga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) menjadi landasan etika baik dalam pengelolaan lahan gambut. Dengan berpegang teguh dalam menjalankan AMDAL sebagai instrumen kebijakan lahan gambut,  lahan gambut dan lingkungan dapat diselamatkan,” ujarnya. (A Rahman Ahdori /Musthofa Asrori)


Rabu 29 Mei 2019 17:0 WIB
Manfaat Gambut Menurut Akademisi Teknologi Agroindustri
Manfaat Gambut Menurut Akademisi Teknologi Agroindustri
Ilustrasi lahan gambut (ikons.id)
Jakarta, NU Online
Sejak peristiwa kebakaran hutan di berbagai daerah yang memilliki lahan gambut pada 2015 lalu, gambut semakin diyakini sebagai lahan tidur yang tidak dapat dikelola. Pemahaman mengenai tanah gambut oleh masyarakat tersebut tentu sangat keliru.

Kawasan gambut sangat bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menghasilkan berbagai olahan yang bisa membangkitkan ekonomi rumah tangga dan menghijaukan kembali lingkungan hidup masyarakat.  

Dosen Teknologi Agroindustri Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Adrinoviarini, mengatakan luas lahan gambut di Indonesia mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat dengan banyak fungsi.  

Misalnya, lahan gambut berperan sebagai pendauran air dan pemendam karbon, peran itu merupakan bagian dari sistem lingkungan. Kemudian, dapat digunakan untuk keperluan domestik karena lahan gambut dapat menyimpan air secara maksimal. 

"Dengan  kemampuan gambut dalam menyimpan air dan menyediakan air kembali maka lahan gambut dapat berfungsi sebagai pengendalian banjir dan pemasok air," kata Adri dihubungi NU Online, Rabu (28/5). 

Adri menjelaskan, fungsi gambut paling baik untuk lingkungan antara lain dapat membersihkan air dari bahan sedimen dan cemaran. Sehingga, pengembangan gambut untuk kegiatan ekonomi masyarakat bisa diujicobakan pada bidang pertanian dan perikanan. 

"Potensi lahan gambut didasarkan pada hasil evaluasi lahan untuk berbagai komoditas yang akan dibudidayakan.  Sebagai parameter dalam pengelolaan potensi lahan gambut adalah fungsi lingkungan lahan gambut," tuturnya. 

Di sisi lain, Perikanan dan pertanian sangat cocok di kawasan gambut karena hasil pengambilan hasil budidaya hutan diatur dengan baik sehingga tetap menjaga gambut yang ada dan tata air. 

"Perikanan memanfaatkan badan-badan air yang ada," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Fathoni)
Senin 27 Mei 2019 23:15 WIB
RESTORASI GAMBUT
Lahan Gambut Dikelola Sistematis, LPP PBNU: Kita Bisa Untung
Lahan Gambut Dikelola Sistematis, LPP PBNU: Kita Bisa Untung
Jakarta, NU Online
Petani yang hidup di kawasan gambut tidak perlu cemas dan bingung. Lahan gambut memang bisa berakibat fatal jika keliru mengelolanya. Namun, sebaliknya lahan gambut bisa menjadi kawasan yang menguntungkan jika dikelola dengan baik, terencana, dan sistematis.

Pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU), Miftahuddin, mengatakan gambut merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada umat manusia. Sebab, ekosistem gambut memiliki banyak nilai manfaat yang bisa terus digali para petani. 

Untuk menggali ekosistem lahan gambut tersebut perlu ada pelatihan khusus yang dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG) kepada para petani di Kawasan Gambut. Ia meyakini, tanah gambut bisa dikelola seperti halnya tanah produktif lainnya. 

“Masalah alam, kita bersyukur kepada Allah diberikan anugerah berupa gambut yang begitu banyak kekayaan di dalamnya. Semoga kita bisa memaksimalkannya,” kata Miftahuddin kepada NU Online, Ahad (26/5) malam. 

Untuk itu, tambahnya, perlu ada kemauan kuat dari petani untuk mempelajari tata cara mengelola lahan gambut agar bisa subur dan menghasilkan berbagai tumbuhan bernilai ekonomi. Misalnya, dapat ditanam sayur-mayur dan beragam buah-buahan yang kaya manfaat.

Ia menegaskan, membakar gambut yang kerap dilakukan masyarakat harus segera ditinggalkan agar kesehatan gambut kembali pulih. Pembuatan kanal yang dilakukan BRG, lanjut Miftah, tak akan maksimal jika para petani tidak ikut serta menjaganya. 

“Kalau dulu membakar, sekarang kita ubah dengan tidak membakar. Membakar semangat boleh. Bakar gambut tidak boleh,” tandasnya. 

LPP PBNU, ucap Miftah, berkomitmen mengembangkan pertanian dari Sabang sampai Merauke terkhusus bagi para petani yang dibina NU.

"Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk ikut serta menjaga lingkungan, agar alam Indonesia tetap sehat dan memberikan manfaat," pungkas Miftah. (A Rahman Ahdori/Musthofa Asrori)

Senin 27 Mei 2019 20:45 WIB
PWNU Kalsel: Gambut Wasilah Penyerap Air Rawa Penahan Banjir
PWNU Kalsel: Gambut Wasilah Penyerap Air Rawa Penahan Banjir
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan, H Hasib Salim menyebut penyebab tidak pernah terjadinya banjir di Kalimantan Selatan karena memiliki lahan gambut yang mampu menyerap air. Untuk itu, ia berharap gambut  tidak disepelekan melainkan dikelola dengan cara cara yang baik.
 
"Kalau diperhatikan Alhamdulillah Kalsel jarang muncul di tv karena bencana banjir dan sebagainya, nah berarti kan gambut menjadi wasilah penyerap air rawa," kata H Hasib dihubungi NU Online di Jakarta, Ahad (26/5).
 
Ia menuturkan wasilah tersebut merupakan salah satu manfaat gambut yang tidak diketahui masyarakat luas. Sehingga, sosialisasi soal potensi dan manfaat tanah gambut di masyarakat perlu intens dilakukan.
 
Kemudian, gambut di Kalimantan Selatan menurut kiai yang juga anggota DPRD Kalsel ini, sempat dikelola pada zaman pemerintahan Soeharto untuk pengembangan pertanian. Namun, tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Sehingga, adanya Badan Restorasi Gambut (BRG) diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan kawasan gambut dalam berbagai bidang potensi alam, tidak hanya bidang pertanian.
 
"Alhamdulillah di Kalimantan Selatan gambutnya sangat banyak, dulu zaman Pak Harto ada lahan sejuta hektar yang dikelola, tapi masih perlu barangkali ditingkatkan," ujarnya.
 
Tanah di Kalimantan Selatan yang didominasi oleh rawa menjadi kekuatan tersendiri bagi para petani. Hal itu karena rawa bisa menjadi lahan yang bisa dikembangkan menjadi kawasan bisnis yang menggiurkan.
 
Makanya ilmu pengetahuan soal mengelola lahan gambut sangat diperlukan bagi masyarakat yang hidup di kawasan gambut. Gambut di Kalimantan masih banyak yang belum dimanfaatkan, padahal, alam itu bisa sangat berguna jika para petani menggarapnya.  
 
"Di Masyarakat sini petani itu dulu rumput kita bakar, karena dengan dibakar begitu lahannya akan semakin subur, ternyata bencananya yang akan besar," tuturnya.
 
Ia berharap BRG terus melakuan pertemuan dengan masyarakat kaitannya dengan pemanfaatan lahan gambut dan pelatihan bagi para petani dalam mengelola tanah gambut secara baik dan benar.  
 
"Sebagai petani harus banyak tahu agar bisa selamatkan gambut, apalagi kita muslim. Muslim dituntut jika ingin mencari dunia dan akhirat maka harus dengan ilmu pengetahuan," katanya mengumpamakan. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)