IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Eksplorasi Karya Ulama Nusantara di Indonesia Bagian Barat

Rabu 15 Mei 2019 12:45 WIB
Eksplorasi Karya Ulama Nusantara di Indonesia Bagian Barat
KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung, pengarang Kitab Al-Nagham
Salah satu penelitian Balai Litbang Agama Jakarta, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2018 adalah terkait karya ulama Nusantara. Kajian ini sangat signifikan dilakukan, apalagi terkait dengan tema 'Nilai-Nilai Kebangsaan dan Keagamaan' yang disampaikan oleh para ulama melalui karya-karya mereka. Bangsa Indonesia membutuhkan kajian-kajian karya-karya ulama Nusantara yang mempererat dan memperkuat nasionalisme dan kebangsaan di tengah meningkatnya sikap intoleransi dalama kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini. 

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil di enam lokasi, disimpulkan hasil penelitian. Pertama, Zulkarnain Yani mengangkat tema tentang 'Semangat Kebangsaan dalam Kitab Al-Nagham Karya KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung, Sumatera Selatan'.
 
Ada dua alasan penelitian tersebut dilakukan. Kitab Al-Nagham ini belum pernah ada yang melakukan kajian dan penelitian. Maka, kajian terhadap kitab ini perlu untuk dilakukan. Selain itu, kandungan dari Kitab Al-Nagham, meskipun berupa syair-syair lagu, mengenai tema-tema kebangsaan dan nasionalisme.
 
Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan bahwa Kitab Al-Nagham karya KH Ahyauddin Ibn KH Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung merupakan salah satu mutiara yang terpendam yang ada di Pondok Pesantren Nurul Islam Seribandung, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Karya ulama seperti ini seharusnya dikenal luas oleh masyarakat.

KH Ahyauddin, melalui Kitab Al-Nagham ini, ingin menyampaikan pesan-pesan semangat kebangsaan berupa cinta tanah air, patriotisme, persatuan dan kesatuan bagi seluruh warga negara di manapun berada. Bahwa melalui syair-syair lagu dalam kitab ini, cinta tanah air, patriotisme, persatuan dan kesatuan dapat terwujud demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari rongrongan manapun, baik upaya menjatuhkan negara Indonesia dari dalam negeri maupun serangan dari luar negeri. 

Kedua, Saeful Bahri mengangkat 'Intelektual sebagai Akar Persatuan Muslim; Studi terhadap Misbah Al-Zhalam karya Syaikh Haji Mansur Datuak Nagari Basa (1908-1997)'. Syaikh Haji Mansur Dt Nagari Basa merupakan tokoh utama ulama tua yang aktif berjuang dalam bidang sosial keagamaan, sufi yang berjuang membebaskan kaumnya dalam penjajahan Kolonial, mempunyai genealogi intelektual yang mengakar kepada tokoh-tokoh sentral ulama Minangkabau sehingga representatif untuk mewakili ulama tua, dosen pada beberapa perguruan tinggi, pimpinan pondok pesantren dan surau suluk (zawiyah sufi), dan ulama yang produktif melahirkan karya tulis.

Kajian terhadap karya Syaikh Haji Mansur Dt Nagari Basa disimpulkan bahwa Kitab Mishbah Al-Zhalam adalah salah satu karya ulama Sumatera Barat yang mempunyai arti penting dalam pergumulan intelektual di Sumatera Barat. Pada awal abad 20 Sumatera Barat merupakan salah satu produsen berbagai corak pemikiran. Beragamnya pemikiran membuka peluang perdebatan dan perselisihan di kalangan masyarakat awam. Dalam konteks ini Mishbah Al-Zhalam hadir sebagai bentuk respons ulama kaum tua terhadap situasi yang terjadi.

Berdasarkan teks dan konteks Mishbah Al-Zhalam, ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Syaikh Mansur. Pertama, perpecahan di tengah masyarakat diakibatkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Kedua, memahami posisi adalah yang penting diketahui sebelum memberikan pendapat dan penilaian terhadap sesuatu hal. Ketika, berilmu adalah dasar untuk menjalin perdamaian dan persatuan. 

Berikutnya, Muhammad Tarobin yang mengkaji 'Agama dan Tradisi: Fiqih Salat, Teologi dan Filosofinya dalam Kitab Nur Al-Salah karyaTengku Muhammad Saleh (1901-1966)'. Berdasarkan hasil kajian tersebut, disimpulkan bahwa pengajaran tentang shalat dalam Kitab Nur Al-Salah tidak semata diajarkan sebagai fiqih-an sich, tetapi perlu disampaikan dengan pendekatan multidisiplin, dilengkapi dengan pendekatan-pendekatan lain yang sesuai dengan latar belakang masyarakatnya. Dengan kata lain para ulama terdahulu telah menggunakan pendekatan multidisiplin guna melakukan internalisasi nilai-nilai ibadah dan memotivasi masyarakat untuk melakukan ibadah sebagai bentuk ungkapan syukur bukan semata sebagai taklif bagi insan beragama.
 
Keempat, Mahmudah Nur yang mengkaji 'Kepemimpinan Abuya Muqri; Antara Agama dan Magi (Telaah terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri)'. Berdasarkan kajiannya terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri tersebut disimpulkan bahwa kemampuan dalam agama dan magi menjadi indikator paling penting bagi para kiai di wilayah Banten. Tanpa keduanya, para kiai tidak mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat Banten. Dengan kemampuan agama dan magi (ilmu hikmah) yang tertulis dalam NCHAM, Abuya Muqri berhasil diakui sebagai salah satu kiai yang terkenal di Banten dan menjadikannya sebagai simpul ilmu hikmah di Banten pada abad ke-20.
  
Kelima, Rakhmad Zailani Kiki yang mengkaji 'Pemikiran Keagamaan dan Kebangsaan KH Muhammad Ali Al-Hamidi Betawi dalam Kitab Ruh Al-Mimbar'. Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan bahwa Kitab Ruhul Mimbar ditulis dalam format teks khutbah dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat langsung kepada umat karena dapat dimanfaatkan oleh para khatib untuk khutbah Jumat dan ceramah-ceramah mereka.

Topik keagamaan dan kebangsaan diangkat oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dikarenakan pada saat dia menulis, dalam hal ini Kitab Ruhul Mimbar Jilid 1, suasana keadaan bangsa Indonesia baru saja merdeka, rentan terpecah belah, apalagi adanya Agresi Militer Belanda Pertama. Karenanya tema-tema keagamaan dan kebangsaan yang ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dalam ruang lingkup persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyemangati umat, menumbuhkan semangat nasionalisme melalui khatib-khatib yang membacakan tulisan-tulisan dari pemikirannya tentang keagamaan dan kebangsaan dari atas mimbar.

Keenam, Muhamad Rosadi yang mengkaji 'Pemikiran KH Abdullah bin Nuh (1905-1987) dalam Kitab Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun. Berdasarkan kajiannya, KH Abdullah bin Nuh merupakan sosok ulama pejuang yang turut serta merebut kemerdekaan bangsa Indonesia sekaligus mengisi kemerdekaan melalui pemikiran yang dituangkan dalam bentuk kitab. KH Abdullah bin Nuh juga mewajibkan agar menjauhi takfir kepada sesama Muslim; kewajiban untuk bersikap husnudzdzan (prasangka baik) kepada sesama Muslim. Juga, mencintai dan mengagungkan orang-orang shalih sebagian dari ajaran agama; keyakinan bahwa mencari keberkahan orang-orang shalih bukan bid’ah; keyakinan bahwa mencintai dan mengagumi orang shalih baik masih hidup atau sudah meninggal memperkuat keimanan. Pembahasan mengenai hal ini diperkuat dengan syair yang berjudul Pangeran Abdul Hamid Diponegoro Al Mujahid. (Kendi Setiawan)
Sabtu 11 Mei 2019 6:30 WIB
Praktik Literasi Al-Qur’an Anak Berkebutuhan Khusus Al-Achsaniyyah Kudus
Praktik Literasi Al-Qur’an Anak Berkebutuhan Khusus Al-Achsaniyyah Kudus
Suasana belajar di Pesantren Al-Achsaniyyah Kudus (foto: muaranews)
Salah satu penelitian Balai Litbang Agama Semarang, Badan Litbang Diklat Kemenag tahun 2018 adalah tentang praktik literasi Al-Qur'an di Pesantre Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Al-Achsaniyyah Kudus, Jawa Tengah. 
Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2018. Sasaran atau subjek penelitian penelitian adalah santri-santri di Pesantren ABK Al-Achsaniyyah Kudus, khususnya yang berada pada kelas dengan kategori 'mandiri', serta para pengurus dan pengajar di pondok.

Pendekatan penelitian yang digunakan kualitatif dengan wawancara dan observasi sebagai teknik utama pengambilan data. Wawancara dilakukan dengan pengurus pondok, guru, dan para santri ABK. Observasi dilakukan saat kegiatan belajar mengajar pagi dan kegiatan mengaji di siang hari. Studi dokumen digunakan sebagai pelengkap dalam pengumpulan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengumpulkan data, mereduksi data yang sesuai tema penelitian. Langkah selanjutnya adalah dengan mencari makna terdalam dari data yang telah terkumpul. Proses triangulasi data juga dilakukan untuk validasi data.
   
Pesantren Al-Achsaniyyah Kudus merupakan pesantren yang didirikan oleh HM Faiq Afthoni Rahman pada tahun 2007 yang sejak awal memang diperuntukkan pada Anak Berkebutuhan Khusus. Sejak tahun 2010, pesantren mulai menempati lokasi permanen yang merupakan tanah wakaf keluarga. Santri yang diterima di pesantren ini adalah mereka yang memiliki indikasi kebutuhan khusus. Meskipun bernama Pondok ABK, ternyata santrinya tidak hanya mereka yang berusia anak-anak. Jumlah santri saat penelitian dilakukan sebanyak 95 orang dengan jumlah staf pondok sebanyak 79 orang.

Tidak semua anak dengan gangguan perkembangan dapat diterima di pondok ini. Saat ini, pondok mengkhususkan pendidikannya untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme, ADHD, speech delay, slow learner, down syndrome, dan tuna rungu.

Santri Pesantren Al-Achsaniyyah berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, ada santri yang berasal dari luar negeri. Keberadaan pesantren  ini sebagai satu-satunya pondok di Indonesia yang fokus pada santri ABK menjadi nilai jual tersendiri bagi pondok sehingga peminatnya pun cukup banyak. Namun, pihak pondok membatasi jumlah santri yang mereka terima dikarenakan keterbatasan tempat serta staf untuk merawat para santri.

Di pondok ini, para santri tak hanya belajar agama, tetapi juga difasilitasi dengan pendidikan SLB yang waktu pelaksanaannya dilaksanakan pagi hari. Ada sebagian kecil santri yang juga bersekolah di luar pondok karena perkembangan mereka yang lebih baik dibanding santri lainnya. Proses pendidikan dilakukan setiap hari Senin–Jumat dan Sabtu-Ahad digunakan sebagai hari khusus kunjungan dari keluarga santri sehingga mereka dibebaskan dari pembelajaran. 

Visi dari pesantren ini adalah membentuk pribadi yang 'Mandiri dan Unggul dalam Imtak' sehingga proses pendidikan dalam keseharian pun disesuaikan dengan visi tersebut. Pondok berusaha memaksimalkan perkembangan kemandirian, bakat dan minat anak sehingga mereka diharapkan bisa berkarya dan memanfaatkan potensi yang mereka miliki di masa mendatang di dunia luar pondok.

Salah satu kegiatan untuk mendukung tercapainya visi pondok dan sebagai ciri dari sebuah pendidikan Islam adalah adanya pendidikan diniyah. Pendidikan diniyah yang diajarkan di pondok ini tidaklah sama dengan pondok pada umumnya. Pendidikan diniyah di sini lebih diutamakan untuk mengenalkan anak pada huruf Hijaiyah dan surat-surat pendek sehingga santri bisa lebih mencintai Al-Qur'an. Dalam penelitian ini, kegiatan pendidikan diniyah ini disebut dengan istilah 'Praktik Literasi Al-Qur'an'.   

Temuan

Praktik Literasi Al-Qur’an di pesantren ini dimulai sejak Subuh, yaitu dengan membiasakan para santri untuk bangun pagi dan melaksanakan Shalat Subuh. Pesantren juga membiasakan santri untuk melaksanakan shalat lima waktu sehingga bisa sambil melatih hafalan surat dari para santri itu sendiri. Kegiatan mengaji kemudian diteruskan kembali seusai istirahat siang, yaitu di pukul 13.30 WIB, atau yang disebut juga dengan kegiatan diniyah. Materi yang diberikan saat kegiatan diniyah adalah membaca buku mengaji satu per satu dan diteruskan dengan hafalan surat-surat pendek. 

Santri di Pesantren ABK Al-Achsaniyyah Kudus dibagi menjadi dua kategori, yaitu mandiri dan nonmandiri. Santri yang menjadi sasaran penelitian ini adalah santri pada kategori mandiri. Mereka dikatakan mandiri jika mereka telah bisa melakukan komunikasi dua arah dan  mampu merawat diri sendiri tanpa bantuan (makan, minum, mandi, ganti pakaian) meskipun tetap dalam pengawasan guru. Lokasi kamar dan tempat sekolah santri mandiri terpisah dengan anak non mandiri supaya masing-masing dapat lebih fokus dalam belajar. Santri mandiri belajar sejak pagi hingga sore hari dengan menempati masjid pondok.  

Pengajar di pesantren dibagi menjadi tiga shift waktu, yaitu pagi, siang, dan malam. Guru yang bertanggungjawab untuk kegiatan diniyah adalah guru siang. Terdapat tiga guru yang mengajar di kelas mandiri, dan masing-masing guru bertanggungjawab pada satu kelompok santri. Santri pada kategori mandiri rata-rata sudah mampu membaca buku mengaji dan buku yang digunakan adalah Thoriqoh Baca Tulis dan Menghafal Al-Qur’an Yanbu’a yang diterbitkan oleh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus.

Santri satu per satu mengaji sesuai dengan kemampuan mereka dan dicatat dalam kartu prestasi dan kemampuan tertinggi salah satu siswa kelompok mandiri sudah mencapai Jilid 3. Sebelum kegiatan mengaji dimulai, guru akan secara klasikal mengajak santri membaca berbagai doa dan shalawat. Kegiatan seusai mengaji satu per satu dilanjutkan dengan hafalan surat-surat pendek dalam juz amma. Pengkondisian semacam ini digunakan sebagai metode belajar oleh para guru di pondok.

Santri di Pesantren ABK Al-Achsaniyyah Kudus memiliki kecenderungan simtom yang hampir sama satu dengan lainnya. Salah satu simtom yang dimiliki santri yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran mengaji adalah kekonsistenan mereka dalam berperilaku. Beberapa santri ABK ini memiliki kecenderungan untuk mengulang-ulang perilaku yang sama. 

Oleh karena itu, setiap hari para guru terus menerus mengajak mereka untuk melaksanakan shalat lima waktu, mengaji, dan menghafal surat dalam Juz Amma. Jika setiap hari para santri mendapatkan stimulus yang sama dan berulang, mereka merekam dalam memori untuk kemudian mempraktikkannya dalam keseharian. Pembelajaran dengan conditioning atau pembiasaan menjadi salah satu metode yang cukup tepat diterapkan dalam Praktik Literasi Al-Qur'an di Pesantren ABK Al-Achsaniyyah Kudus.  Metode belajar lain yang juga digunakan oleh pengajar atau guru adalah dengan pemberian reinforcement (penguatan), dan punishment (hukuman) dalam proses pembelajaran. 

Guru menggunakan penguatan untuk mendorong santri mau memperhatikan guru untuk mengaji, menghafal, dan salat. Jika santri dapat menjawab pertanyaan atau mematuhi guru, guru akan memberikan penghargaan sederhana, misalnya pujian atau makanan kecil yang diizinkan untuk diberikan. Begitu juga sebaliknya dalam pemberian hukuman yang sifatnya hanya berupa ancaman. Jika santri terlihat kurang dapat dikendalikan maka guru akan memberikan gertakan hukuman, yaitu pemberian nilai rapor yang buruk. Sehingga, mereka tidak akan diizinkan pulang saat libur sekolah. Metode ini terlihat juga cukup mampu dalam mengendalikan santri.  

Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian ini, dihasilkan beberapa rekomendasi. Pertama, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Sosial perlu memfasilitasi berdirinya pondok pesantren di Indonesia, seperti Pesantren ABK Al-Achsaniyyah, mengingat tingginya antusiasme orang tua yang memiliki ABK untuk menyekolahkan putra-putri mereka di pondok ini.

Kedua, Kementerian Agama perlu merumuskan pedoman kurikulum tersendiri untuk pondok pesantren yang mengkhusukan diri pada pelayanan pendidikan bagi ABK, karena kurikulum pesantren yang umum belum tentu sesuai diterapkan pada pesantren ABK. (Kendi Setiawan)
Rabu 8 Mei 2019 19:0 WIB
Angka Keshalehan Sosial 2018 Sebesar 75,79 Persen
Angka Keshalehan Sosial 2018 Sebesar 75,79 Persen
Relawan membagikan kurma menjelang puasa salah satu tanda kesalehan (foto: LAZISNU Cilacap)
Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama merilis survei terbaru tentang Indeks Kesalehan Sosial (IKS) pada 2018. Hasil survei menunjukkan bahwa secara nasional, IKS sebesar 75,79 persen. Selanjutnya dengan simpangan baku 7,15 persen, maka IKS Tahun 2018 signifikan di angka 76,00 persen dengan cut off di angka 65,00 persen.

Survei IKS ini difokuskan pada sepuluh dimensi keshalehan sosial, yaitu sikap memberi (giving), sikap peduli (caring), sikap menghargai perbedaan nilai-nilai kehidupan, sikap tidak memaksakan nilai, sikap tidak menghina atau merusak nilai yang berbeda, keterlibatan dalam demokrasi, keterlibatan dalam perbaikan kinerja pemerintahan (good governance), pencegahan kekerasan fisik, budaya, dan struktur, konservasi lingkungan, dan restorasi lingkungan.

Secara rinci, dari sepuluh dimensi tersebut ditemukan fakta bahwa skor dimensi kesalehan sosial tertingi adalah dimensi keterlibatan dalam demokrasi dengan nilai 90,47 persen. Kemudian diikuti dengan dimensi tidak menghina dengan nilai 88,26 persen. Sedangkan dimensi keshalehan sosial terendah (di bawah skor nasional) adalah sikap menghargai perbedaan dengan nilai 50,10 persen; kemudian di atasnya adalah sikap peduli (caring) dengan nilai 61,09 persen. 

Aspek-aspek yang memengaruhi IKS di masyarakat antara lain aspek status perkawinan, perbedaan layanan keagamaan, pendidikan, pendapatan, habituasi keluarga, dan kegiatan kementerian. Sementara aspek-aspek yang tidak memengaruhi IKS di masyarakat, adalah aspek jenis kelamin dan pengetahuan.

Selain itu, hasil survei IKS Tahun 2018 juga menemukan bahwa kategori dimensi internal umat beragama berada pada skor terendah, 66,18 persen, di bawah kategori dimensi eksternal umat beragama (72,73 persen), dan kategori dimensi komitmen pada negara (81,00 persen).

Survei ini menggunakan instrumen kuesioner. Teknik yang digunakan adalah teknik sampling heterogen, Stratified Random Sampling, dengan PSU kabupaten dan kota tempat berkumpulnya umat beragama. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error persen. Survei ini menyasar pada 30 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia yang mewakili enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Survei dilaksanakan pada tanggal 15 Mei sampai 4 Juni 2018.

Skala pengukuran survei ini menggunakan skala sikap Thurstone 1- 10, dengan melibatkan 30 responden setiap kabupaten/kota, yang berasal dari unsur rohaniwan, pengurus rumah ibadah, dan umat. Adapun data yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan statistik Inferensial Structural Equation Modeling (SEM).

Berdasarkan hasil survei tersebut, setidaknya terdapat dua rekomendasi yang harus menjadi perhatian ke depan. Pertama, sikap menghargai perbedaan dan sikap peduli harus menjadi dimensi prioritas pembinaan masyarakat yang dilakukan semua Direktorat Jenderal Bimas Agama dan pihak-pihak terkait. Pasalnya, skor dua dimensi tersebut menjadi terendah hasil survei IKS 2018.

Kedua, beberapa aspek yang memengaruhi IKS pada survei tahun 2018 ini seyogianya menjadi perhatian para pemangku jabatan di lingkungan Kementerian Agama juga kementerian terkait, agar indeks keshalehan sosial masyarakat Indonesia lebih meningkat. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Senin 6 Mei 2019 19:0 WIB
Peran Masjid bagi Perkembangan Pemikiran Islam Awal Abad Ke-20
Peran Masjid bagi Perkembangan Pemikiran Islam Awal Abad Ke-20
Masjid At-Taqwa Pembusuang (placesmap.net)
Bagi seorang Muslim yang kerap mengunjungi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, mungkin tidak asing dengan Masjid Raya Campalagian. Masjid yang dibangun awal abab ke-20 tersebut ternyata memiliki banyak nilai sejarah yang bisa dipetik oleh kita sebagai generasi Islam modern.
 
Masjid yang dimanfaatkan masyarakat kawasan Indonesia Tengah itu telah banyak melahirkan ulama Nusantara terkemuka. Seperti KH Abdul Hamid yang juga merupakan perintis; kemudian Sayyid Alwi bin Abdullah bin Sahl, KH Maddappungan, KH Abdur Rahim, KH Muhammadiyah, KH Muh Zein, KH Mahmud Ismail, dan KH Najamuddin Thahir. 

Mengapa masjid banyak melahirkan ulama hebat seperti disebutkan di atas? Ternyata fungsi masjid di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan kala itu tidak hanya menjadi tempat shalat, melainkan juga tempat mengkader generasi Islam. 

Riset Balai Penelitian dan Pengembangan Keagamaan (BLA) Makassar Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada 2018 lalu mengungkap, masjid memiliki peranan penting untuk peradaban Islam termasuk melahirkan pemikir pemikir Islam yang mengarahkan masyarakat secara langsung. 

Di antara ulama Nusantara yang memiliki kaitan dengan budaya halakah di Masjid yang berhasil ditelusuri misalnya Gurutta/Gurunta Haji GH Abdurrahim/Cella’ Panrita, GH Muhammad Said Maulana, GH Paharuddin, GH Syahruddin, GH Usman Arif, GH Abdul Jalil, GH Abdul Mun’im, GH Muhammad Saleh, GH Abdurrasyid (Ulama Pangkep), GH Abdul Gaffar Puang Tobo, GH Muhammad Asaf/GH Cappa Jambatang, G Puang Sudding Tabbua, GH Dolla, GH Syamsuddin, GH Asnawi, GH Zainuddin (ulama Maros).
 
Kemampuan para kiai sepuh dalam memahami ajaran Islam diperoleh melalui jalur kekerabatan Sayyid seperti Sayyid Abd Hamid Petta Sampa dan Sayyid Abd Rahim Puang Raga. Peninggalan mereka seperti masjid yang mereka rintis dan hingga kini masih digunakan menjadi bukti eksistensi mereka dalam memberi pencerahan atau pemahaman agama kepada masyarakat.

Kemudian, jaringan intelektual yang dilakukan oleh para ulama di Kabupaten Pinrang misalnya, pada awal abad ke-20 mereka memperkuat basis intelektualnya melalui mangaji tudang yang dipusatkan di masjid. Sistem pendidikan mangaji tudang, memperkuat akar kultur pada karakter anak didik yang berbasis budaya moral yang telah dicontohkan oleh para santri ketika menimba ilmu maupun transmisi keilmuan itu berlangsung penuh keikhlasan tanpa tendensi material, dengan tata aturan moral yang begitu menggambarkan nilai kesopanan sebagai budaya Timur.

Hasil penelitian yang dipusatkan di Masjid At-Taqwa-Pembusuang itu juga merinci, jaringan ulama di Pangkep dan Maros terbentuk melalui dua hal yaitu melalui jaringan keilmuan dan jaringan kekerabatan. Sebagian besar ulama tersebut belajar di satu tempat yaitu Makkah. Seusai menuntut ilmu, mereka aktif mengabdikan ilmu di masyarakat dalam bentuk pengajian kitab/halaqah atau ceramah agama. 

Usaha halakah ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh keturunan keturunan Syekh Ady (Guru Ga’de) sebagai peletak dasar pembangunan Masjid At-Taqwa sekaligus sebagai imam masjid dan figur sentral dalam kaderisasi ulama. 

Kaderisasi mulai berkembang pada periode Imam KH Syahabuddin hingga ditawan oleh pihak Kolonial Belanda. Usahanya dilanjutkan oleh Habib Hasan bin Alwi bin Sahl (Puang Lero).  Pada masa inilah puncak keemasan kaderisasi ulama di Pambusuang dengan munculnya generasi penerus seperti KH Abdul Hafidz, KH Abd Hadi, KH Muh Said, KH Abdullah, KH Ismail, S Husen Alwy Alatas, KH Najamuddin, KH  Abdul Rasyid, dan lain sebagainya.

Sementara itu, dalam riset lanjutan itu, jaringan ulama di Majene dijabarkan dalam tiga poin. Pertama, jaringan keilmuan ulama di Majene terbentuk berkat peran serta beberapa ulama yang memiliki jaringan ke beberapa lokasi. 
Ada yang berjejaring ke Makkah, Sumatra, Jakarta, Mangkoso, Salemo, dan jaringan lokal seperti Campalagian, Pambusuang, dan Tinambung. Di antara tokoh ulama tersebut yakni KH Muhammad Shaleh, KH Muhammad As’ad Alias KH Daeng,KH Ahmad Ma’ruf dan beberapa tokoh lainnya.

Kedua, peran-peran ulama dalam pembentukan jaringan ulama di Kabupaten Majene lebih condong sebagai seorang guru yang melahirkan generasi ulama selanjutnya. Selebihnya, ada yang membangun pesantren, masjid, sebagai pusat kaderisasi ulama. 

Ketiga, dampak lebih jauh dari keberadaan para ulama tersebut hingga kini, yakni peninggalan-peninggalan ulama berupa pesantren Ihyaul Ulum DDI Baruga yang tetap eksis membina santri, ada juga beberapa masjid yang merupakan rintisan ulama yang hingga kini menjadi salah satu pembinaan keagamaan di Kabupaten Majene.

Jika ditelurusi secara mendalam terutama jika dikaji dari perkembangan islam Indonesia prakemerdekaan. Terdapat fleksibilitas jaringan ulama di daerah Bone, Wajo, dan Soppeng dalam merespons dan menjawab perubahan-perubahan sosial politik dalam konteks lebih luas. 

Pada dekade awal abad ke-20, ketika kontrol pemerintah Hindia Belanda menguat, transmisi keilmuan Islam yang diperankan oleh ulama bekerja secara nonformal melalui pengajian-pengajian di masjid-masjid.  Pada periode ini, Imam masjid memiliki peran yang sangat signifikan dalam mentransmisikan ajaran Islam. Ketika politik etis Hindia Belanda mulai menghasilkan elite baru yang terdidik, jaringan ulama pun dengan dukungan otoritas lokal merespons dengan membangun basis pendidikan yang lebih modern. 

Salah satu dampak positif dari kegiatan halawah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat itu misalnya telah membuka cakrawala berfikir masyarakat yang lebih berkembang. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya tokoh masyarakat yang merespon dengan mendirikan pesantren. Muhammad As’ad misalnya, ia membangun MAI di Sengkang dan Andi Mappanyukki mensponsori secara finansial berdirinya Madrasah Amiriah di Watampone itu. Pada periode berikutnya, MAI yang berubah menjadi Pesantren As’adiyah menjadi pusat transmisi keilmuan Islam di Sulawesi Selatan. 

Hal serupa terjadi di Enrekang dan Palopo, kapasitas keilmuan yang mumpuni menjadikan mereka mau ikut mengembangkan pendidikan agama kepada masyarakat. Mereka belajar ilmu agama secara berjejaring, seperti Puang Kali Abd Hamid yang berguru dari AGH Muhammad As’ad di MAI Wajo, kemudian membentuk jaringan intelektual di Enrekang dengan mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) di Enrekang pada tahun 1965. 

Demikian juga dengan Puang Kali Muhammad Hasyim yang juga berguru dari MAI Wajo, direkrut oleh Syekh Mahmud Abdul Jawad sebagai guru MAI Cimpu Belopa. Selanjutnya ia sendiri mendirikan Madrasah Alfakhriyah di Cimpu Belopa yang kemudian saat ini dikenal dengan MIW (Madrasah Islamiyah Wathaniyah). (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)