IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Dukung Mappi Jadi Sentra Sagu, BRG Sediakan 20 Paket

Sabtu 25 Mei 2019 4:0 WIB
Dukung Mappi Jadi Sentra Sagu, BRG Sediakan 20 Paket
Kepala BRG Nazir Foead (kedua dari kiri) mengunjungi lahan yang telah dialihfungsikan menjadi lahan budidaya sagu

Jakarta, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG) terus melakukan pemulihan lahan gambut di Provinsi Papua. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan dan memulihkan fungsi hidrologis ekosistem gambut yang telah terdegradasi.

Program pemulihan gambut dilaksanakan dengan program pendampingan budidaya sagu oleh masyarakat Papua. Program tersebut diarahkan untuk menjadikan Papua sebagai sentra sagu di Indonesia, khususnya di Kabupaten Mappi.

Kepala BRG Nazir Foead mengatakan Provinsi Papua merupakan salah satu dari tujuh provinsi prioritas restorasi gambut. Di Kawasan Indonesia Timur itu, BRG melakukan revitalisasi ekonomi masyarakat melalui pengembangan peternakan, pengolahan hasil perikanan dan budidaya sagu.

"Pada 2018, 11 paket revitalisasi ekonomi sudah dilaksanakan di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Mappi, yang berdampak pada upaya restorasi 1.100 hektar ekosistem gambut di Papua," katanya sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Jumat (24/5).

Menurut Nazir, tahun ini pihaknya merencakan 20 paket revitalisasi ekonomi yang akan diberikan kepada kelompok masyarakat di 20 kampung di Kabupaten Merauke, antara lain 5 kampung di Kabupaten Merauke dan 15 Kampung di Kabupaten Mappi.

Dikatakannya, karakteristik gambut di Papua tergolong gambut muda yang masih lestari dan belum banyak diubah menjadi lahan pertanian. Sedangkan di sekitar ekosistem gambut di Papua belum memiliki kanal sehingga air tetap menggenangi gambut dengan baik.

"Maka dari itu infrastruktur pembasahan ekosistem gambut tidak perlu untuk dibangun. Fokus BRG adalah mendampingi masyarakat sekitar memanfaatkan ekosistem gambut secara tradisional namun memberikan manfaat optimal ekonomi dan ekologis," ucapnya.

Di Kabupaten Mappi, tahun 2019, BRG merencanakan menyerahkan 15 paket revitalisasi ekonomi kepada 15 kelompok masyarakat di sekitar ekosistem gambut.  Mereka tersebar di empat kecamatan yaitu di Obaa, Nambloman Bapai, Haju dan Passue.

"Bantuan yang diberikan adalah demplot budidaya sagu dan merupakan kelanjutan paket revitalisasi ekonomi pada 2018," ujarnya.

Sebelumnya, budidaya sagu dan pengolahan sagu menjadi salah satu fokus kegiatan pemberdayaan pendampingan masyarakat oleh BRG di Kabupaten Mappi. Budidaya dilakukan dengan merawat tumbuhan sagu. Sementara pengolahannya dilakukan dengan mengolah sagu menjadi aneka makanan yang bernilai ekonomi, termasuk memproduksi sagu menjadi bahan setengah jadi yang siap dipasarkan ke sejumlah daerah yang membutuhkan.

Bupati Mappi, Papua, Kristosimus Yohanes Agawemu, mengatakan pemilihan sagu sebagai objek program BRG di Kabupaten Mappi semata mata karena ingin sagu yang berfungsi sebagai makanan pokok, tidak hilang dari tanah Papua. Menurutnya, saat ini masyarakat Papua mulai banyak yang meninggalkan budidaya sagu karena menganggap sudah ada makanan pokok lain, misalnya beras.

“Padahal, beras yang dikirim dari daerah lain kerap terganjal oleh berbagai kendala misalnya jaraknya yang sangat jauh yang menyebabkan tidak terkirimnya beras tersebut. Juga tidak ada petani yang melakukan budidaya padi,” ujarnya.

Ia menuturkan, ada dua priortas dalam pengembangan budidaya sagu di Kabupaten , antara lain pemeliharaan terhadap sagu yang tumbuh secara alami dan budidaya sagu yang dikelola sejak awal oleh masyarakat.

"Itu sudah kami bicarakan dengan BRG, BRG telah memberikan kami ruang untuk ada pengembangan bagaimana pengelolaan dan pemanfaatan sagu untuk menghasilkan produk produk turunan yang bisa menghasilkan ruang manfaat ekonomi rumah tangga yang lebih baik," urainya kepada NU Online beberapa waktu lalu. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR).

Tags:
Sabtu 25 Mei 2019 5:0 WIB
Kepala BRG Bertekad Pemulihan Gambut Berjalan Maksimal
Kepala BRG Bertekad Pemulihan Gambut Berjalan Maksimal

Jakarta, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG) sedang mempersiapkan 20 paket untuk merevitalisasi ekonomi kawasan gambut di Provinsi Papua, khususnya di Kabupaten Mappi dan Merauke. Penggelontoran dua paket revitalisasi tersebut dimaksudkan agar pemulihan lahan gambut di Provinsi Papua berjalan maksimal, terutama di Kabupaten Merauke yang perlu perhatian lebih.

Kepala BRG, Nazir Foead mengatakan upaya itu dilakukan semata untuk mensukeskan program pemerintah dalam merestorasi tanah gambut di Papua. Menurut Nazir, pihaknya memberikan 5 paket revitalisasi ekonomi kepada masyarakat Merauke, yang terdiri dari 1 paket budidaya sagu, 2 paket peternakan dan 2 paket pengolahan ikan.

"Tentu kami berharap semua bisa berjalan dengan maksimal, sehingga banyak masyarakat yang menerima dampaknya," ucap Nazir seperti rilis yang diterima NU Online, Jumat (24/5).

Selain itu, lanjut Nazir Foead, kegiatan pendampingan masyarakat dilakukan melalui program Desa Peduli Gambut (DPG). Program itu sudah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu. DPG memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk dapat mengolah produk potensi unggulannya.

"Program DPG dilakukan di 5 kampung di Kabupaten Mappi dan 3 kampung di Kabupaten Merauke. Tahun 2019, program DPG akan dilakukan di 2 kampung di Kabupaten Merauke melalui APBN," tuturnya.

Nazir mengungkapkan, tanaman sagu dipilih berdasarkan hasil runding antara BRG dan Pemerintah Kabupaten Mappi, dengan harapan dapat membangkitkan geliat ekonomi masyarakat sebagai sentra budidaya sagu.

Seperti diketahui sepanjang 2016-2018 di Provinsi Papua telah dilaksanakan 11 paket revitalisasi ekononomi pada 1.100 haktare  kawasan gambut. BRG juga telah berhasil menjalankan program Desa Peduli Gambut (DPG), 5 Desa di Kabupaten Mappi dan 3 Desa di Kabupaten Merauke.

Selain itu, BRG juga melakukan pembinaan bagi guru SD terkait dengan pendidikan gambut, juga memberikan edukasi ilmu tentang pangan (seniman pangan).

“Dan paling penting BRG juga mampu menurunkan bencana asap di Papua,” jelas Nazir.

Katanya, dari jumlah 172 titik panas di tahun 2015, turun menjadi 115 titik panas pada tahun 2018, dan dari 37.484 hektar luas kebakaran gambut tahun 2015, turun menjadi 1.755 tahun 2018.

Prestasi itu dilengkapi  dengan kemampuan BRG dalam membangun infrastuktur pembasahan gambut dan pemasangan dua alat pemantau tinggi muka air di Kawasan Gambut di Provinsi Papua.

“Semoga Kehadiran BRG mampu mencegah terjadinya kebakaran gambut di masa-masa mendatang, sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR).

Ahad 19 Mei 2019 21:15 WIB
Menyehatkan Lahan Gambut Butuh Kemauan Kuat Petani
Menyehatkan Lahan Gambut Butuh Kemauan Kuat Petani
Lahan gambut di Kalsel
Hulu Sungai Selatan, NU Online
Banyak petani yang tinggal di kawasan gambut merasa kebingungan saat hendak mengolahnya, mereka masih yakin tanah gambut sebagai tanah yang susah untuk dirubah menjadi tanah yang bisa produktif, sehingga cara lama yaitu membakar gambut adalah solusi yang dianggap paling baik.

Ternyata keyakinan masyarakat itu salah, lahan gambut bisa diolah dengan maksimal, tergantung masyarakat itu mau atau tidak melakukannya.

Kader Sekolah Lapang BRG, Sodikun telah membuktikannya, beragam sayuran ia tanam di kawasan gambut dan semuanya tumbuh secara normal bahkan telah lebih terlihat bagus dibanding dengan sayuran pada umumnya.

Menurut Sodikun, untuk mengolah lahan gambut butuh waktu yang lumayan panjang, sebab, harus ada pengolahan tanah termasuk membuat pupuk organik yang harus diolah petani itu sendiri.

"Misalnya kayapo (rumput sawah), kayapo ini manfaatnya besar, dari akarnya saja menurut pengetahuan itu mampu menyerap unsur unsur kimia yang menjadi racun di dalam tanah bisa diserap menjadi nutrisi," kata Sodikun saat memaparkan materi pada Doa Bersama Menuju Kalimantan Selatan Hijau dan Mengelola Lahan Gambut Tanpa Bakar di Pesantren Murodiyah di Pandak Daun, Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Sabtu (18/5) sore.

Ia mengatakan, karena tidak tahu masyarakat seolah menganggap tidak penting untuk mengolah lahan gambut tersebut. Sehingga bercocok tanamnya masih menggunakan cara-cara instan seperti penggunaan pupuk kimia yang berbahaya untuk kesehatan tanah.

Seperti diketahui, Gambut merupakan hamparan yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan. Semuanya menumpuk sejak ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pada umumnya, gambut berada di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai maupun daerah pesisir. Gambut yang terbentuk di atas tanah liat atau lempung relatif lebih kayak mineral dibanding gambut diatas pasir.

Berdasarkan data yang diolah BRG, setiap lapisan gambut dari permukaan terluar hingga terdalam dapat menyerap gas karbon. Meski hanya mengisi 3 persen dari luas daratan bumi, lahan gambut dapat menyimpan 550 gigaton karbon. Jumlah tersebut setara dengan 75 persen karbon yang ada di atmosfer atau dua kali jumlah karbon yang dikandung seluruh hutan non gambut.

Selain itu, di Indonesia lahan gambut berfungsi sebagai pintu air alamai, padat akan serat. Lahan gambut dapat menyerap air sebanyak lima sampai belas kali bobot keringnya.

Pada musim hujan, ekosistem gambut menghalau aliran air sehingga tidak membanjiri daerah sekitar. Sementara pada musim kemarau gambut berfungsi cadangan air bagi lahan dan warga sekitar. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)

Ahad 19 Mei 2019 19:0 WIB
Bupati HSU: Masyarakat Antusias Sambut Kehadiran BRG
Bupati HSU: Masyarakat Antusias Sambut Kehadiran BRG
Bupati Hulu Sungai Utara, Abdul Wahid (dua dari kanan)
Hulu Sungai Utara, NU Online
Bupati Hulu Sungai Utara, Abdul Wahid, merespon positif kehadiran Badan Restorasi Gambut (BRG) di Kalimantan Selatan terutama di kawasan gambut yang ada di 16 desa di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Menurutnya, sejak hadirnya BRG di wilayahnya itu, masyarakat sangat antusias melakukan pengembangan program desa.

Status Kabupaten Hulu Sungai Utara yang masih tergolong tertinggal mengakibatkan pendapatan ekonomi daerah masih minim. Sehingga, Abdul Wahid merasa hadirnya BRG sangat membantu membawa dinamika yang sangat baik untuk kemajuan derahnya.

"Dengan hadirnya BRG selain telah ditetapkan adanya 16 desa peduli gambut, desa-desa kami juga mendapatkan pembinaan, jadi kami merasakan masyarakat desa dan desa-desa mendapat dukungan dari BRG, dan masyarakat terlihat antusias," kata Abdul Wahid kepada NU Online,  Sabtu (18/5).

Ia mendukung langkah BRG yang kerap terjun di masyarakat untuk mengolah lahan gambut menjadi kawasan yang produktif. Program itu secara bertahap telah menunjukan dampaknya, yakni munculnya petani gambut yang bisa menghasilkan olahan bernilai ekonomi.

"Kami berharap lahan gambut bisa terus dimanfaatkan potensinya oleh masyarakat, dan kami mengakui pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam mengembangkan potensi gambut karena daerah yang sangat terbatas potensi ekonominya," ucapnya.

Selama ini, kata bupati yang tengah menjabat periode kedua ini, kerajinan petani yang dibina oleh BRG banyak diminati oleh berbagai pihak. Mereka adalah petani yang mengolah lahan perikanan dan sayur-sayuran di kawasan gambut di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Sebagai kepala daerah tentu ia menginginkan BRG melanjutkan program positif yang telah dilaksanakan selama hampir 4 tahun tersebut. Hal itu sebagai upaya merubah perekonomian masyarakat secara bertahap terutama bagi mereka yang hidup di sekitaran gambut.

Seperti diketahui, BRG merupakan badan yang bertugas untuk mempercepat pemulihan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut yang rusak akibat kebakaran dan pengeringan.  

Ada 7 daerah yang menjadi fokus BRG dalam melaksanakan tugasnya antara lain  di Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi Papua

Kegiatan restorasi gambut tiga tahun terakhir banyak dilakukan bersama masyarakat. Selama tiga tahun BRG telah mendampingi 262 desa dan kelurahan untuk ikut terlibat program desa peduli gambut (DPG).

Kegiatan itu dibina langsung pihak BRG dan masyarakat melalui Kader restorasi di tingkat tapak berjumlah lebih 10 ribu orang yang terdiri dari guru, tokoh agama (da'i dan pendeta), petani kader sekolah lapang, perempuan, dan anggota kelompok masyarakat. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)