IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

PWNU Kalsel Minta Warga Kelola Lahan Gambut dengan Nilai Manfaat

Sabtu 18 Mei 2019 9:30 WIB
PWNU Kalsel Minta Warga Kelola Lahan Gambut dengan Nilai Manfaat
Sosialisasi pengelolaan lahan gambut di Kalsel
Hulu Sungai Utara, NU Online
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan, Hasib Salim, meminta kepada seluruh warga Kalimantan Selatan yang hidup di sekitaran lahan gambut untuk dapat mengolahnya menjadi lahan yang bernilai manfaat.

Menurutnya, lahan yang bernilai manfaat tersebut adalah pengelolaan yang memberikan dampak baik untuk lingkungan hidup dan untuk kesejahteraan masyarakat. Penduduk yang didominasi petani di Kalimantan Selatan menjadi kekuatan tersendiri untuk memanfaatkan lahan gambut.

"Saya meminta kepada masyarakat untuk belajar mengelola lahan gambut dengan baik dan benar sehingga yang dilakukan bermanfat dan tidak memberikan dampak buruk," kata Hasib seusai mengisi kegiatan Doa Bersama Menuju Kalimantan Selatan Hijau dan Sosialisasi Mengelola Lahan Gambut tanpa Bakar di Pondok Pesantren Darul Yatama, Pinang Habang Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (17/5).

Ia bersyukur Badan Restorasi Gambut (BRG) intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga secara perlahan masyarakat tersadarkan mengenai dampak lingkungan yang menyangkut lahan gambut. Dia meminta kepada seluruh masyarakat untuk membantu BRG dalam menuntaskan kewajiabnnya sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas restorasi gambut di 7 provinsi di Indonesia. Masyarakat harus mampu menguasai ilmu pertanian agar bisa menjaga kesehatan gambut dengan maksimal.

"Kami mengucapkan terima kasih atas program yang telah dilakukan, bagaimana mengelola lahan gambut agar menjadi bermanfaat," ucapnya.

Seperti diketahui, gambut merupakan hamparan yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut dan jasad hewan. Semuanya menumpuk sejak ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pada umumnya, gambut berada di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai maupun daerah pesisir. Gambut yang terbentuk di atas tanah liat atau lempung relatif lebih kayak mineral dibanding gambut di atas pasir. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz
Sabtu 18 Mei 2019 8:30 WIB
Pemulihan Lahan Gambut Perlu Dukungan Penuh Masyarakat
Pemulihan Lahan Gambut Perlu Dukungan Penuh Masyarakat
Sosialisasi pengelolaan lahan gambut di Kalsel
Hulu Sungai Utara, NU Online
Kepala Sub Kelompok Kerja Edukasi Sosialisasi dan Pelatihan BRG, Deasy Efnidawesty meyakini jika yang disentuh adalah masyarakat, maka usaha untuk memulihkan lahan gambut di 7 provinsi di Indonesia bisa cepat tercapai. Masyarakatlah yang mampu melakukan pendekatan secara intens dengan semua warga yang ada di kawasan gambut.

Hal itu disampaikan Deasy saat mengisi kegiatan Doa Bersama Menuju Kalimantan Selatan Hijau dan Sosialisasi Mengelola Lahan Gambut tanpa Bakar di Pondok Pesantren Darul Yatama, Pinang Habang Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (17/5).  

"Ketika sudah terbakar, api terus meluas termasuk bara api yang masuk ke dalam gambut. Itulah sebabnya api tersebut tidak dapat dipadamkan oleh apapun kecuali turun air hujan," paparnya.

Seperti diketahui, gambut merupakan hamparan yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut dan jasad hewan. Semuanya menumpuk sejak ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pada umumnya, gambut berada di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai maupun daerah pesisir. Gambut yang terbentuk di atas tanah liat atau lempung relatif lebih kayak mineral dibanding gambut di atas pasir.

Konon, sampai saat ini masyarakat belum yakin jika lahan gambut bisa diolah dan memiliki banyak manfaat untuk dikembangkan. Lahan gambut dinilai mampu menjaga kestabilan iklim dunia khususnya mencegah pemanasan global.

Berdasarkan data yang diolah BRG, setiap lapisan gambut dari permukaan terluar hingga terdalam dapat menyerap gas karbon. Meski hanya mengisi 3 persen dari luas daratan bumi, lahan gambut dapat menyimpan 550 gigaton karbon. 

Jumlah tersebut setara dengan 75 persen karbon yang ada di atmosfer atau dua kali jumlah karbon yang dikandung seluruh hutan non gambut. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)

Sabtu 18 Mei 2019 7:30 WIB
Pemerintah Ajak Masyarakat Kalsel Antisipasi Kebakaran Gambut
Pemerintah Ajak Masyarakat Kalsel Antisipasi Kebakaran Gambut
Sosialisasi pengelolaan lahan gambut di Kalsel
Hulu Sungai Utara, NU Online
Kebakaran gambut di 7 Provinisi di Indonesia masih menjadi kekhawatiran serius bagi Badan Restorasi Gambut (BRG). Selain berbahaya bagi kesehatan masyarakat, gambut yang sudah terbakar sulit dipadamkan dan berdampak buruk bagi lingkungan termasuk merugikan ekonomi Indonesia.

Kepala Sub Kelompok Kerja Edukasi Sosialisasi dan Pelatihan BRG, Deasy Efnidawesty mengatakan, lahan gambut harus terus dijaga dengan melakukan pembasahan secara teratur. Hal itu karena ketika mengering, gambut seperti sampah kering yang mudah terbakar."Ketika sudah terbakar, api terus meluas termasuk bara api yang masuk ke dalam gambut. Itulah sebabnya api tersebut tidak dapat dipadamkan oleh apapun kecuali turun air hujan," paparnya.

Hal itu disampaikan Deasy saat mengisi kegiatan Doa Bersama Menuju Kalimantan Selatan Hijau dan Sosialisasi Mengelola Lahan Gambut tanpa Bakar di Pondok Pesantren Darul Yatama, Pinang Habang Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (17/5). 

"Musuh dari Gambut itu adalah api, ketika gambut kekurangan air, dia seperti sampah yang mudah terbakar. Nah ketika dia terbakar, kedalamannya bisa mencapai 13 meter dan baranya masih hidup. Nah itu yang bahaya, kalau api di permukaan itu bisa di padamkan, tapi kalau di dalam gambut itu tidak kecuali dengan air hujan," kata Desy. 

Ia mengungkapkan alat apapun yang diturunkan ketika lahan gambut terbakar tidak akan padam. Sebab bara api tersebut masuk ke kedalaman gambut bukan di permukaanya. Untuk itu ia mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyepelekan keringnya gambut yang ada di sekitaran warga.

"Lahan Gambut kita sedang sakit karena 2015 lalu, hutan kita kebakaran hebat. Akibat kebakaran hutan itu gambut kita rusak parah sehingga tidak berjalan sesuai dengan fungsinya, yaitu menyerap air dan menyerap karbon tidak berjalan sebagaimana mestinya," tuturnya.

Untuk mengantisipasi itu harus ada pemulihan lahan gambut oleh semua masyarakat dengan mengelola lahan gambut dengan baik dan benar. Jika tidak dipulihan, kemungkinan kebakaran hutan di Kalimantan Selatan maupun di 6 daerah lain akan terus terjadi.  

"Nah kita harapkan tidak terjadi, oleh karena itu Bapak Presiden pada tahun 2016 lalu membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG), BRG diberi waktu untuk bekerja memulihkan gambut di 7 provinsi ini  selama 5 tahun, 2020 telah selesai," ucapnya. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)
Jumat 17 Mei 2019 23:15 WIB
LPP PBNU: Mengelola dan Menjaga Gambut Perintah Nabi
LPP PBNU: Mengelola dan Menjaga Gambut Perintah Nabi
Sosislaisasi lahan Gambut di Kalsel
Hulu Sungai Utara, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU), Miftahuddin mengatakan, merawat dan menjaga lahan gambut  merupakan perintah yang diajarkan nabi Muhammad SAW. Hal itu karena Islam telah menugaskan kepada setiap manusia untuk terus menjaga kesehatan bumi dari berbagai ancaman.

Bahkan, mengelola lahan gambut dengan cara menanam pohon adalah pekerjaan yang bernilai pahala dan telah tertulis dalam Hadits nabi. Hadis tersebut kata Miftah, adalah:

ما من مسلم غرس غرسا فأكل منه إنسان أو دابة إلا كان له به صدقة

Artinya, barang siapa di antara umat muslim yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.

Pernyataan terkait dengan menjaga lingkungan dan merawat kesehatan gambut itu disampaikan Miftahuddin saat mengisi kegiatan Doa Bersama Menuju Kalimantan Selatan Hijau dan Sosialisasi Mengelola Lahan Gambut tanpa Bakar di Pesantren Darul Yatama, Pinang Habang Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (17/5).

Ia menambahkan, pohon yang ditanam lantas memberikan manfaat untuk makhluk lain kemudian akan menjadi aset pahala yang terus mengalir meski orang yang menanamnya tersebut telah meninggal dunia. "Jadi kita melestarikan alam meningkatkan produktifitas alam niscaya akan menjadi pahala meski sudah mati," tuturnya.

Miftahuddin mengajak kepada masyarakat Kalimantan Selatan untuk serius menjaga kesehatan gambut dengan tidak membakar tanah gambut secara serampangan. Karena akan mengakibatkan berbagai dampak buruk untuk lingkungan dan kesehatan masyakat.

Miftah mengaku upaya itu tidak akan maksimal jika hanya dilakukan oleh LPP PBNU dan BRG, perlu kesadaran masyarakat dan keterlibatan pemerintah daerah dalam memantau serta mengelola lahan gambut di pulau burneo itu.

"Dalam pelaksanaanya tidaklah cukup dalam memasimalkan pengelolaan lahan gambut. Karena itu kami dari LPP PBNU berharap baik para pimpinan daerah di desa, kecamatan dan kabupaten harus bersama sama mengupayakan program mengelola lahan gambut tanpa bakar secara maksimal," katanya.

Ia meyakini pertemuan sederhana itu tidak akan sia-sia, karena tidak ada usaha yang tidak memiliki hasil. Persoalan gambut, ujar dia, adalah persoalan lingkungan yang bisa berakibat fatal jika tidak dikendalikan oleh masyarakat dan lembaga terkait seperti BRG. 

Dampak yang sudah terjadi misalnya, kebakaran gambut telah mengakibatkan jutaan orang terkena zat berbahaya yang ditimbulkan dari asap gambut yang terbakar. 

Hadir pada kegiatan itu, Pengurus Yayasan Darul Yatama, Umailah, Kepala Sub Kelompok Kerja Edukasi Sosialisasi dan Pelatihan pada Badan Restorasi Gambut (BRG), Deasy Efnidawesty, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan, H Amin, ratusan santri Pondok Pesantren Darul Yatama dan masyarakat Pinang Habang.
(Abdul Rahman Ahdori/Muiz)