IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Singapura Apresiasi Indonesia soal Penanganan Kabut Asap

Ahad 5 Mei 2019 17:45 WIB
Singapura Apresiasi Indonesia soal Penanganan Kabut Asap
Menteri Singapura Masagos Zulkifli. Foto: Antara
Jakarta, NU Online
Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Air Singapura Masagos Zulkifli berterima kasih pada Indonesia karena dalam beberapa tahun terakhir kawasan ASEAN bebas dari polusi asap lintas batas.

“Berkenaan dengan polusi asap lintas batas, ASEAN telah menikmati langit yang bersih dalam beberapa tahun terakhir berkat kepemimpinan dan upaya yang kuat Presiden Jokowi dan Menteri (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Siti Nurbaya. Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya menghargai upaya ini,” kata Masagos dalam The 6th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources di Singapura, Kamis, seperti dikutip Antara.

Namun demikian, ia mengatakan ASEAN masih tetap harus waspada. Insiden kebakaran hutan baru-baru ini terjadi di sebelah utara kawasan Asia Tenggara menunjukkan cuaca yang lebih hangat dan lebih kering ke depan.

Ketua Singapore Institute of International Affairs (SIIA) Simon Tay sebelumnya mengatakan El Nino diperkirakan akan mulai terjadi di perempat kedua 2019. Namun demikian, dirinya optimistis kabut asap tidak akan terjadi seperti 1997 dan 2015.

Dalam tiga tahun terakhir Singapura menikmati langit biru. Kepemimpinan Presiden Joko Widodo, keterlibatan sektor swasta, peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga masyarakat menjadi kunci utama.

Harapannya langkah-langkah yang telah dilakukan Indonesia untuk mengatasi polusi asap lintas juga diikuti negara-negara ASEAN lainnya, ujar dia.

Badan Restorasi Gambut (BRG) mempunyai mandat merestorasi lebih dari dua juta hektare lahan gambut yang terbakar di 2015. Harapannya kemampuan menangani lahan gambut semakin baik mengingat berbagai teknologi baru juga digunakan, termasuk melakukan pemantauan dengan satelit, ujar Simon.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead dalam kesempatan yang sama mengatakan pada forum dialog yang sama di 2016 dirinya sempat mengatakan Singapura tidak akan mendapat asap seperti 2015. Pemerintah pusat hingga daerah, perguruan tinggi, LSM, pihak swasta dan masyarakat melakukan perubahan, harapannya ini terus berlanjut dan kabut asap tidak terulang.

Data BRG menunjukkan jumlah titik panas di area 2,5 juta hektare yang menjadi area prioritas restorasi gambut telah berkurang. Pada 2015-2016, titik panas di wilayah konsesi turun 98,57 persen sedangkan di nonkonsesi turun 98,6 persen.

Pada 2015-2017, jumlah titik panas di wilayah konsesi turun 99,32 persen sedangkan nonkonsesi 99,37 persen. Sedangkan di 2015-2018, jumlah titik panas di wilayah konsesi mencapai 92,98 persen dan di nonkonsesi 91,39 persen.

Tidak adanya polusi lintas batas dalam tiga tahun terakhir Nazir mengatakan karena upaya yang dibangun dipimpin Presiden Joko Widodo dan dijalankan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan didukung oleh BNPB, TNI/Polri, serta BRG.

Sementara Global Director, Forests, World Resources Institute (WRI) Rod Taylor mengatakan kekeringan memburuk di kawasan Asia Tenggara. Dirinya mengikuti isu deforestasi kawasan ini sejak 15 tahun lalu, mengikuti masalah kebakaran hutan dan lahan sejak 20 tahun lalu, dan isu tersebut masih ada.

Meski demikian, ia mengatakan Indonesia melakukan perubahan, terlihat angka deforestasi menurun meski di negara-negara pemilik hutan lainnya di dunia angkanya justru meningkat.

Dirinya mengaku optimistis, pertemuan-pertemuan seluruh pemangku kepentingan, keikutsertaan pihak swasta, dan pemerintah yang terus mendorong sektor swasta untuk berubah dengan program-program yang baik akan memberikan perubahan. (Red: Mahbib)
Tags:
Rabu 24 April 2019 10:15 WIB
Walhi Tanggapi Bumi Selat Malaka yang Terus Alami Perusakan
Walhi Tanggapi Bumi Selat Malaka yang Terus Alami Perusakan
Keadaan hutan di Riau (bertuahpos.com)
Jakarta, NU Online
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memotret kondisi bumi Indonesia mengalami berbagai ancaman. Kesehatan bumi telah disepelekan oleh hampir sebagian masyarakat. Itu dapat dibuktikan dari sikap manusia terhadap bumi yang cuek bahkan mengeksploitasi bumi secara berlebihan. Sehingga, telah terjadi berbagai bencana alam yang menyebabkan dampak buruk di masyatakat itu sendiri.

Di antara wilayah yang menjadi objek kajian Walhi adalah Provinsi Riau. Walhi di Riau terus mengajak masyarakat untuk menjaga bumi dari berbagai potensi kerusakan. Momentum Hari Bumi Internasional pada Senin (22/4) kemarin menjadi waktu yang tepat bagi Walhi untuk mengkampanyekan pentingnya merawat bumi di Selat Malaka tersebut.

Provinsi Riau adalah salah satu daerah yang menjadi perhatian pemerintah. Hal itu karena selain banyak terjadi kerusakan alam, bumi di tanah Melayu tersebut dinilai rentan menimbulkan dampak buruk jika dikelola dengan cara yang salah. Penyebabnya, struktur tanah di provinsi riau termasuk tanah gambut dan memerlukan tekhnis tersendiri untuk mengolahnya.

Pengurus Walhi Provinsi Riau, Janes Sinaga, menuturkan menjaga bumi bagi masyarakat Riau adalah menjaga lahan hutan dan lahan gambut agar tidak terjadi lagi kebakaran, penebangan dan penggundulan hutan baik untuk konseservasi maupun untuk perkebunan kelapa sawit. Ia menjelaskan, upaya itu dapat dilakukan masyarakat dengan menguatkan komitmen masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan penegakan hukum dengan baik.

"Sehingga ada efek jera bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan terutama bagi pelaku usaha/pemegang izin usaha yang terbukti atau jelas-jelas terjadi kebakaran di konsesinya," kata Janes Sinaga saat dihubungi NU Online di Jakarta, Selasa (23/4) siang.

Selanjutnya ujar dia, perlu dilakukan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut dengan meningkatkan produksi tanpa merusak gambut itu sendiri. Solusi itu kata dia, dapat mendorong pelepasan gas rumah kaca yang lebih besar secara terus menerus.

"Dengan hal tersebut diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat meningkatkan lingkungan hidup kita dan keadaan bumi tetap terjaga," tuturnya.

Kemudian, untuk menyelesaikan persoalan lingkungan hidup tersebut pemerintah juga perlu meningkatkan pengetahuan Sumber Daya Manusia (SDM) di internalnya. Misalnya, hakim di pengadilan yang memiliki pengetahuan lingkungan sehingga dapat memutuskan kasus kasus lingkungan secara lebih bijak. 

Termasuk harus meningkatkan kapasitas pendamping desa dengan mengkolaborasikan pengetahuan pembangunan desa berbasis lingkungan. Itu bisa membantu  masyarakat dalam menyelesaikan persoalan persoalan pengelolaan SDA tanpa melakukan perusakan lingkungan.

"Kondisi bumi di Riau bisa dibilang sudah parah, kebakaran terjadi setiap tahun. Asal musim kemarau panjang sedikit pasti kebakaran. Sungai-sungai banyak yang sudah kering, sungai besar seperti sungai di Kabupaten Siak sudah tidak bisa lagi jadi sumber kehidupan masyarakat," ujarnya.

Akibatnya, ikan-ikan sudah sulit untuk didapatkan. Para nelayan harus mulai belajar mengelola lahan sementara lahannya sudah sempit dan terbatas.

"Yang tersisa lahan gambut. Memang, lahan gambut sangat bisa untuk disehatkan, yang diperlukan adalah kesadaran dan komitmen bersama semua pihak antara lain masyarakat, pemerintah, perusahaan dan pihak lain yang terkait," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Senin 22 April 2019 21:10 WIB
Peringatan Hari Bumi, BRG Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Bumi
Peringatan Hari Bumi, BRG Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Bumi
source: www.martechadvisor.com
Jakarta, NU Online
Bagi aktivis lingkungan, hari ini Senin (21/4) menjadi hari yang spesial karena bertepatan dengan Hari Bumi International. Hari besar ini biasanya dimanfaatkan para aktivis lingkungan untuk mengampanyekan penjagaan dan pemeliharaan bumi. 

Seperti diketahui, hari bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesedaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia. 

Hari Bumi sendiri pertama kali dicanangkan oleh Senator As, Gaylord Nelson pada tahun 1970. Senator Gaylord Nelson sendiri merupakan seorang pengajar di isu lingkungan hidup. Setelah puluhan tahun berlalu, kini Hari Bumi diperingati di lebih dari 175 negara dan dikoordinasi secara global oleh Jaringan Hari Bumi.

Peringatan hari bumi oleh masyarakat dunia tidak dibarengi dengan komitmen mereka untuk merawat bumi itu sendiri. Hal itu dapat dibuktikan masih banyaknya bencana alam di pelosok dunia disebabkan oleh kerusakan bumi.

Pada kesempatan ini, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG), Myrna A Safitri mengingatkan masyarakat agar terus memperhatikan bumi terutama lahan gambut. Ia menjelaskan, usaha usaha manusia di dunia dapat dilakukan dengan melakukan restorasi. 

“Upaya restorasi adalah mengembalikan ekosistem gambut pada fitrahnya sebagai lahan basah. Juga menjaga keseimbangan air di dalamnya. Ini sejalan dengan perintah agama Islam untuk berbuat baik dan adil terhadap alam,” kata Myrna saat dihubungi NU Online, Senin (22/4) sore.

Myrna merinci, penyebab munculnya berbagai bencana alam salah satunya adalah ketidakramahan manusia terhadap alam itu sendiri. Misalnya telah dilakukan eksploitasi berlebihan yang membuat daya dukung bumi semakin berkurang.

“Dampaknya adalah berbagai bencana lingkungan seperti banjir, kekeringan, longsor, kebakaran. Dampak lain juga ada seperti kesehatan dan kerugian ekonomi,” tuturnya. 

Pada momentum yang spesial kali ini, ia berharap ada kesadaran yang tinggi dari diri manusia untuk menjaga lingkungan dan bumi yang mulai disepelekan masyarakat. Menurut dia, komitmen itu bukan untuk kita semata melainkan untuk anak cucu kita puluhan tahun mendatang.“Jaga dan rawat bumi dengan tanggung jawab pada generasi kini dan akan datang,” ucapnya (Abdul Rahman Ahdori/Ahmad Rozali)
Senin 22 April 2019 21:0 WIB
HARI BUMI
Sikap Manusia terhadap Bumi agar Tetap Sehat
Sikap Manusia terhadap Bumi agar Tetap Sehat
Jakarta, NU Online
Tepat  hari ini, Senin (21/4) hampir seluruh negara di dunia memperingati Hari Bumi Internasional. Ada banyak hal yang dapat digali dari momentum peringatan hari bumi tersebut di antaranya, melihat kembali bumi yang sedang kita pijak, apakah masih sesuai dengan etika alam atau justru sebaliknya, bumi kita sudah tidak sehat karena sudah banyak yang mempergunakannya secara berlebihan.

Menjaga bumi merupakan kewajiban seorang manusia, sebab, Allah telah mengamanatkan melalui firman-Nya dengan menyebut manusia sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah, sikap seorang insan harus bisa terus merawat dan menjaga bumi ini agar tidak memberikan dampak yang buruk untuk seluruh anak adam yang ada. 

Dalam perspektif Islam, banyak sekali diterangkan soal kewajiban menjaga bumi dan lingkungan hidup. Dalil itu dapat dilihat dalam hadits nabi yang diriwayatkan Muslim dan qur’an surat Ar-Rahman ayat 10.

سنريهم اياتنا فى الأفاق وفى أنفسهم حتى يبين لهم أنه الحق
 

Artinya: “Dunia ini manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu khalifah diatasnya, dan dia melihat bagaimana kalian menunaikan kewajiban kalian..(HR Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri). 

والأرض وضعها للأنام
 

 Artinya: “Dan bumi telah dibentangkannya untuk makhluk-Nya, (Qs. Arrahman: 10). 

Dalam keterangan dalil di atas para ulama memiliki pandangan bahwa bumi dengan segala kekayaannya adalah nikmat Allah untuk dimakmurkan oleh semua manusia. Dengan tanggung jawab itu maka manusia memiliki kewajiban menjaga kelestarian lingkungan hidup termasuk didalamnya adalah menjaga bumi dari ancaman global. (Imam Ghazali dalam kitab Al-Hikmah fi Makhlukotillah)

Data dari Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, hampir setiap tahun ditemukan perusakan bumi oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kerusakan bumi itu misalnya terjadi di Provinsi Riau pada 2015 lalu, telah terjadi secara disengaja pembakaran hutan yang mengakibatkan 600 ribu orang menderita infeksi saluran pernafasan akut dan lebih dari 60 juta orang terkena polusi asap. Belum lagi di provinsi lain yang menyebabkan berbagai bencana alam.

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG RI, Myrna A Safitri, mengatakan ada berbagai sikap yang harus diperhatikan umat manusia di dunia agar bumi tetap terjaga dengan baik sehingga memberikan manfaat untuk manusia itu sendiri. Menurutnya, planet bumi terdiri dari berbagai ekosistem baik di daratan maupun perairan. Setiap ekosistem itu, memiliki keunikan  yang saling terhubung satu sama lain.

Ia menuturkan, penyelamatan planet bumi memerlukan kebijaksanaan dan keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan seluruh ekosistem yang ada. Manusia harus dapat  memanfaatkan ekosistem tersebut sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya. 

 “Artinya pemanfaatan melampaui batas harus ditinggalkan,”kata Myrna saat dihubungi NU Online, Senin (21/4) sore.

Myrna mengungkapkan, salah satu ekosistem penting di bumi adalah ekosistem gambut. Luas lahan gambut yang hanya 3% dari total lahan yg ada di dunia namun sekitar 20% karbon dunia tersimpan di lahan gambut.

“Jika karbon ini terlepas ke udara baik karena pembukaan lahan atau kebakaran maka efeknya besar pada pemanasan global,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Myrna, momentum hari bumi internasional adalah waktu yang tepat untuk menjaga bumi dari berbagai ancaman. Upaya itu salah satunya dapat dilakukan dengan menyelamatkan eksosistem gambut yang masih baik dan merestorasi ekosistem gambut yang sudah rusak. 

“Itu akan berkontribusi penting untuk menahan karbon terlepas ke udara dan mencegah kekeringan. Itulah salah satu cara menjaga "kesehatan" planet bumi kita,” tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)