IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Walhi Tanggapi Bumi Selat Malaka yang Terus Alami Perusakan

Rabu 24 April 2019 10:15 WIB
Walhi Tanggapi Bumi Selat Malaka yang Terus Alami Perusakan
Keadaan hutan di Riau (bertuahpos.com)
Jakarta, NU Online
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memotret kondisi bumi Indonesia mengalami berbagai ancaman. Kesehatan bumi telah disepelekan oleh hampir sebagian masyarakat. Itu dapat dibuktikan dari sikap manusia terhadap bumi yang cuek bahkan mengeksploitasi bumi secara berlebihan. Sehingga, telah terjadi berbagai bencana alam yang menyebabkan dampak buruk di masyatakat itu sendiri.

Di antara wilayah yang menjadi objek kajian Walhi adalah Provinsi Riau. Walhi di Riau terus mengajak masyarakat untuk menjaga bumi dari berbagai potensi kerusakan. Momentum Hari Bumi Internasional pada Senin (22/4) kemarin menjadi waktu yang tepat bagi Walhi untuk mengkampanyekan pentingnya merawat bumi di Selat Malaka tersebut.

Provinsi Riau adalah salah satu daerah yang menjadi perhatian pemerintah. Hal itu karena selain banyak terjadi kerusakan alam, bumi di tanah Melayu tersebut dinilai rentan menimbulkan dampak buruk jika dikelola dengan cara yang salah. Penyebabnya, struktur tanah di provinsi riau termasuk tanah gambut dan memerlukan tekhnis tersendiri untuk mengolahnya.

Pengurus Walhi Provinsi Riau, Janes Sinaga, menuturkan menjaga bumi bagi masyarakat Riau adalah menjaga lahan hutan dan lahan gambut agar tidak terjadi lagi kebakaran, penebangan dan penggundulan hutan baik untuk konseservasi maupun untuk perkebunan kelapa sawit. Ia menjelaskan, upaya itu dapat dilakukan masyarakat dengan menguatkan komitmen masyarakat dan pemerintah untuk melaksanakan penegakan hukum dengan baik.

"Sehingga ada efek jera bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan terutama bagi pelaku usaha/pemegang izin usaha yang terbukti atau jelas-jelas terjadi kebakaran di konsesinya," kata Janes Sinaga saat dihubungi NU Online di Jakarta, Selasa (23/4) siang.

Selanjutnya ujar dia, perlu dilakukan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut dengan meningkatkan produksi tanpa merusak gambut itu sendiri. Solusi itu kata dia, dapat mendorong pelepasan gas rumah kaca yang lebih besar secara terus menerus.

"Dengan hal tersebut diharapkan kesejahteraan masyarakat dapat meningkatkan lingkungan hidup kita dan keadaan bumi tetap terjaga," tuturnya.

Kemudian, untuk menyelesaikan persoalan lingkungan hidup tersebut pemerintah juga perlu meningkatkan pengetahuan Sumber Daya Manusia (SDM) di internalnya. Misalnya, hakim di pengadilan yang memiliki pengetahuan lingkungan sehingga dapat memutuskan kasus kasus lingkungan secara lebih bijak. 

Termasuk harus meningkatkan kapasitas pendamping desa dengan mengkolaborasikan pengetahuan pembangunan desa berbasis lingkungan. Itu bisa membantu  masyarakat dalam menyelesaikan persoalan persoalan pengelolaan SDA tanpa melakukan perusakan lingkungan.

"Kondisi bumi di Riau bisa dibilang sudah parah, kebakaran terjadi setiap tahun. Asal musim kemarau panjang sedikit pasti kebakaran. Sungai-sungai banyak yang sudah kering, sungai besar seperti sungai di Kabupaten Siak sudah tidak bisa lagi jadi sumber kehidupan masyarakat," ujarnya.

Akibatnya, ikan-ikan sudah sulit untuk didapatkan. Para nelayan harus mulai belajar mengelola lahan sementara lahannya sudah sempit dan terbatas.

"Yang tersisa lahan gambut. Memang, lahan gambut sangat bisa untuk disehatkan, yang diperlukan adalah kesadaran dan komitmen bersama semua pihak antara lain masyarakat, pemerintah, perusahaan dan pihak lain yang terkait," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Senin 22 April 2019 21:10 WIB
Peringatan Hari Bumi, BRG Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Bumi
Peringatan Hari Bumi, BRG Ingatkan Pentingnya Menjaga Kesehatan Bumi
source: www.martechadvisor.com
Jakarta, NU Online
Bagi aktivis lingkungan, hari ini Senin (21/4) menjadi hari yang spesial karena bertepatan dengan Hari Bumi International. Hari besar ini biasanya dimanfaatkan para aktivis lingkungan untuk mengampanyekan penjagaan dan pemeliharaan bumi. 

Seperti diketahui, hari bumi adalah hari pengamatan tentang bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesedaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia. 

Hari Bumi sendiri pertama kali dicanangkan oleh Senator As, Gaylord Nelson pada tahun 1970. Senator Gaylord Nelson sendiri merupakan seorang pengajar di isu lingkungan hidup. Setelah puluhan tahun berlalu, kini Hari Bumi diperingati di lebih dari 175 negara dan dikoordinasi secara global oleh Jaringan Hari Bumi.

Peringatan hari bumi oleh masyarakat dunia tidak dibarengi dengan komitmen mereka untuk merawat bumi itu sendiri. Hal itu dapat dibuktikan masih banyaknya bencana alam di pelosok dunia disebabkan oleh kerusakan bumi.

Pada kesempatan ini, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG), Myrna A Safitri mengingatkan masyarakat agar terus memperhatikan bumi terutama lahan gambut. Ia menjelaskan, usaha usaha manusia di dunia dapat dilakukan dengan melakukan restorasi. 

“Upaya restorasi adalah mengembalikan ekosistem gambut pada fitrahnya sebagai lahan basah. Juga menjaga keseimbangan air di dalamnya. Ini sejalan dengan perintah agama Islam untuk berbuat baik dan adil terhadap alam,” kata Myrna saat dihubungi NU Online, Senin (22/4) sore.

Myrna merinci, penyebab munculnya berbagai bencana alam salah satunya adalah ketidakramahan manusia terhadap alam itu sendiri. Misalnya telah dilakukan eksploitasi berlebihan yang membuat daya dukung bumi semakin berkurang.

“Dampaknya adalah berbagai bencana lingkungan seperti banjir, kekeringan, longsor, kebakaran. Dampak lain juga ada seperti kesehatan dan kerugian ekonomi,” tuturnya. 

Pada momentum yang spesial kali ini, ia berharap ada kesadaran yang tinggi dari diri manusia untuk menjaga lingkungan dan bumi yang mulai disepelekan masyarakat. Menurut dia, komitmen itu bukan untuk kita semata melainkan untuk anak cucu kita puluhan tahun mendatang.“Jaga dan rawat bumi dengan tanggung jawab pada generasi kini dan akan datang,” ucapnya (Abdul Rahman Ahdori/Ahmad Rozali)
Senin 22 April 2019 21:0 WIB
HARI BUMI
Sikap Manusia terhadap Bumi agar Tetap Sehat
Sikap Manusia terhadap Bumi agar Tetap Sehat
Jakarta, NU Online
Tepat  hari ini, Senin (21/4) hampir seluruh negara di dunia memperingati Hari Bumi Internasional. Ada banyak hal yang dapat digali dari momentum peringatan hari bumi tersebut di antaranya, melihat kembali bumi yang sedang kita pijak, apakah masih sesuai dengan etika alam atau justru sebaliknya, bumi kita sudah tidak sehat karena sudah banyak yang mempergunakannya secara berlebihan.

Menjaga bumi merupakan kewajiban seorang manusia, sebab, Allah telah mengamanatkan melalui firman-Nya dengan menyebut manusia sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah, sikap seorang insan harus bisa terus merawat dan menjaga bumi ini agar tidak memberikan dampak yang buruk untuk seluruh anak adam yang ada. 

Dalam perspektif Islam, banyak sekali diterangkan soal kewajiban menjaga bumi dan lingkungan hidup. Dalil itu dapat dilihat dalam hadits nabi yang diriwayatkan Muslim dan qur’an surat Ar-Rahman ayat 10.

سنريهم اياتنا فى الأفاق وفى أنفسهم حتى يبين لهم أنه الحق
 

Artinya: “Dunia ini manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu khalifah diatasnya, dan dia melihat bagaimana kalian menunaikan kewajiban kalian..(HR Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri). 

والأرض وضعها للأنام
 

 Artinya: “Dan bumi telah dibentangkannya untuk makhluk-Nya, (Qs. Arrahman: 10). 

Dalam keterangan dalil di atas para ulama memiliki pandangan bahwa bumi dengan segala kekayaannya adalah nikmat Allah untuk dimakmurkan oleh semua manusia. Dengan tanggung jawab itu maka manusia memiliki kewajiban menjaga kelestarian lingkungan hidup termasuk didalamnya adalah menjaga bumi dari ancaman global. (Imam Ghazali dalam kitab Al-Hikmah fi Makhlukotillah)

Data dari Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, hampir setiap tahun ditemukan perusakan bumi oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kerusakan bumi itu misalnya terjadi di Provinsi Riau pada 2015 lalu, telah terjadi secara disengaja pembakaran hutan yang mengakibatkan 600 ribu orang menderita infeksi saluran pernafasan akut dan lebih dari 60 juta orang terkena polusi asap. Belum lagi di provinsi lain yang menyebabkan berbagai bencana alam.

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG RI, Myrna A Safitri, mengatakan ada berbagai sikap yang harus diperhatikan umat manusia di dunia agar bumi tetap terjaga dengan baik sehingga memberikan manfaat untuk manusia itu sendiri. Menurutnya, planet bumi terdiri dari berbagai ekosistem baik di daratan maupun perairan. Setiap ekosistem itu, memiliki keunikan  yang saling terhubung satu sama lain.

Ia menuturkan, penyelamatan planet bumi memerlukan kebijaksanaan dan keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan seluruh ekosistem yang ada. Manusia harus dapat  memanfaatkan ekosistem tersebut sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya. 

 “Artinya pemanfaatan melampaui batas harus ditinggalkan,”kata Myrna saat dihubungi NU Online, Senin (21/4) sore.

Myrna mengungkapkan, salah satu ekosistem penting di bumi adalah ekosistem gambut. Luas lahan gambut yang hanya 3% dari total lahan yg ada di dunia namun sekitar 20% karbon dunia tersimpan di lahan gambut.

“Jika karbon ini terlepas ke udara baik karena pembukaan lahan atau kebakaran maka efeknya besar pada pemanasan global,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Myrna, momentum hari bumi internasional adalah waktu yang tepat untuk menjaga bumi dari berbagai ancaman. Upaya itu salah satunya dapat dilakukan dengan menyelamatkan eksosistem gambut yang masih baik dan merestorasi ekosistem gambut yang sudah rusak. 

“Itu akan berkontribusi penting untuk menahan karbon terlepas ke udara dan mencegah kekeringan. Itulah salah satu cara menjaga "kesehatan" planet bumi kita,” tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Abdullah Alawi)

Kamis 11 April 2019 15:0 WIB
Harapan Warga Terdampak Kebakaran Hutan Gambut
Harapan Warga Terdampak Kebakaran Hutan Gambut
Siak,  NU Online
Kebakaran  hutan yang terjadi 4 tahun lalu (2015) di Provinsi Riau, sungguh mengerikan. Tidak hanya menghanguskan ribuan hektar lahan gambut, tapi juga menelan sejumlah korban jiwa. Warga sekitar, terserang sesak nafas dan tidak dapat beraktifitas akibat asap tebal yang menyelimuti udara. Apalagi asap itu membuat perih di mata. 

Kendati puncak kebakaran terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kota Dumai,  namun tidak sedikit masyarakat Kabupaten Siak yang juga terpapar dampak buruk dari kebakaran itu. 

Salah satunya adalah Marwati.  Wanita berusia 37 tahun asal Dusun Jatimulya, Desa Jatibaru Kabupaten Siak ini merasakan langsung dampak kebakaran di wilayah itu.  Menurutnya, selama hampir 6 bulan dirinya tidak beraktifitas karena takut menghirup gas beracun yang mengudara di lingkungannya.  Anak-anaknya juga diliburkan dari sekolah selama lima bulan. Karena trauma, iapun pernah berpikir untuk pindah tempat tinggal guna menghindari bahaya dari kebakaran. 

"Iya Mas ini sangat sedih,  kita tidak bisa ngapa-ngapain.  Kita cuma bisa pasrah sambil berdoa sama Yang Kuasa," ujarnya saat ditemui NU Online di kediamannya di Jatimulya, Siak, Rabu  (10/4). 

Marwati  berharap agar pemerintah tidak lalai sedikitpun untuk berusaha menjaga lahan gambut agar tidak terbakar guna keselamatan lingkungan dan jutaan manusia.  Yang paling ditakutkan, katanya, adalah gas beracun  yang keluar dari gambut yang terbakar, konon sangat membahayakan  kesehatan manusia. 

"Kami juga diingatkan terus.  Tapi ya bagaimana,  kita sedih dan bosan jika tidak ada aktifitas seperti biasa, " tuturnya.
Iapun bertekad akan terus berupaya untuk mengajak masyarakat agar menajga lingkungan sehingga tidak terjadi lagi kebakaran hutan di kawasan gambut. 

Harapan Marwati mendapat respon dari Ketua Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI), Nazir Foead. Menuruttnya, pemerntah (BRG) pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan mengelola gambut. Namun masyarakat tidak bisa menyandarkan sepenuhnya soal keamanan gambut kepada pemerintah. 

“Pokok  masalahnya ada di prilaku masyarakat.  Karena sekuat apapun usaha BRG, sementara masyarakat enggan mengubah kebiasaan buruk terhadap lingkungan, kebakaran akan tetap terjadi,” ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR),