IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

Jangan Biasakan Membuka Lahan dengan Membakar

Kamis 11 April 2019 14:30 WIB
Jangan Biasakan Membuka Lahan dengan Membakar
Pekanbaru, NU Online
Ketua Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI), Nazir Foead berharap agar sinergi BRG dan NU Provinsi Riau tetap terjalin di masa-masa mendatang untuk memastikan ‘keamanan’ lahan gambut dan pengelolaannya dengan benar. Sebab, jika dikelola dengan benar, maka gambut akan mendatangkan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat.

"Kami memiliki komitmen yang kuat agar lingkungan di kawasan gambut tetap sehat. Untuk itu, BRG kemudian menggandeng Nahdlatul Ulama untuk ikut serta menyadarkan masyarakat terutama petani-petani yang berada di bawah naungan LPPNU (Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama),” tukasnya kepada NU Online di Pekanbaru, Riau, Rabu (10/4).

Menurut Nazir, NU juga memiliki komitmen yang kuat untuk ‘menyelamatkan’ lahan gambut. Terbukti, ketika Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat (1994),  NU memasukkan pembahsan gambut dalam di dua komisi pembahasan keagamaan.  Di forum itu para ulama NU mengangkat kedudukan hukum Islam terkait tindakan pencemaran lingkungan. 

“Siapa yang bertanggung jawab atas fenomena itu dan apa sanksi untuk pelaku pencemaran lingkungan,” tambah Nazir.

Nazir melanjutkan, dalam  Muktamar  2015 di Jombang-Jawa Timur, NU membahas pula eksploitasi secara berlebihan kekayaan alam Indonesia yang merusak lingkungan, perizinan eksploitasi lahan oleh pemerintah dan sikap masyarakat atas perusakan lingkungan dari sudut pandang hukum Islam. 

“Itu menunjukkan bahwa NU sangat peduli lingkungan,” urainya.

Lebih jauh ia menjelaskan, pihaknya menentingkan kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat langsung. Sebab manusia (masyarakat) merupakan subyek atas semua sumber daya alam. Sehingga baik buruknya kekayaan alam tergantung pada manusianya.

"Hasil pertemuan kami dengan masyarakat, menunjukan hasil yang lumayan. Pengolahan gambut yang terbakar merubah menjadi kebun nanas,  kopi, jahe,  juga perikanan peternakan sapi bebek dan seterusnya," katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga kawasan gambut dengan tidak membakar melainkan mengolah wilayah gambut dengan berbagai langkah yang ramah lingkungan. Sehingga semua masyarakat tidak terkena dampaknya.  

“Jangan biasakan membuka lahan dengan membakar. Itu berbahaya bagi manusia dan lingkungan,” pungkasnya. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR).

Tags:
Kamis 11 April 2019 15:0 WIB
Harapan Warga Terdampak Kebakaran Hutan Gambut
Harapan Warga Terdampak Kebakaran Hutan Gambut
Siak,  NU Online
Kebakaran  hutan yang terjadi 4 tahun lalu (2015) di Provinsi Riau, sungguh mengerikan. Tidak hanya menghanguskan ribuan hektar lahan gambut, tapi juga menelan sejumlah korban jiwa. Warga sekitar, terserang sesak nafas dan tidak dapat beraktifitas akibat asap tebal yang menyelimuti udara. Apalagi asap itu membuat perih di mata. 

Kendati puncak kebakaran terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kota Dumai,  namun tidak sedikit masyarakat Kabupaten Siak yang juga terpapar dampak buruk dari kebakaran itu. 

Salah satunya adalah Marwati.  Wanita berusia 37 tahun asal Dusun Jatimulya, Desa Jatibaru Kabupaten Siak ini merasakan langsung dampak kebakaran di wilayah itu.  Menurutnya, selama hampir 6 bulan dirinya tidak beraktifitas karena takut menghirup gas beracun yang mengudara di lingkungannya.  Anak-anaknya juga diliburkan dari sekolah selama lima bulan. Karena trauma, iapun pernah berpikir untuk pindah tempat tinggal guna menghindari bahaya dari kebakaran. 

"Iya Mas ini sangat sedih,  kita tidak bisa ngapa-ngapain.  Kita cuma bisa pasrah sambil berdoa sama Yang Kuasa," ujarnya saat ditemui NU Online di kediamannya di Jatimulya, Siak, Rabu  (10/4). 

Marwati  berharap agar pemerintah tidak lalai sedikitpun untuk berusaha menjaga lahan gambut agar tidak terbakar guna keselamatan lingkungan dan jutaan manusia.  Yang paling ditakutkan, katanya, adalah gas beracun  yang keluar dari gambut yang terbakar, konon sangat membahayakan  kesehatan manusia. 

"Kami juga diingatkan terus.  Tapi ya bagaimana,  kita sedih dan bosan jika tidak ada aktifitas seperti biasa, " tuturnya.
Iapun bertekad akan terus berupaya untuk mengajak masyarakat agar menajga lingkungan sehingga tidak terjadi lagi kebakaran hutan di kawasan gambut. 

Harapan Marwati mendapat respon dari Ketua Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG RI), Nazir Foead. Menuruttnya, pemerntah (BRG) pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dan mengelola gambut. Namun masyarakat tidak bisa menyandarkan sepenuhnya soal keamanan gambut kepada pemerintah. 

“Pokok  masalahnya ada di prilaku masyarakat.  Karena sekuat apapun usaha BRG, sementara masyarakat enggan mengubah kebiasaan buruk terhadap lingkungan, kebakaran akan tetap terjadi,” ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Aryudi AR), 

Rabu 10 April 2019 23:30 WIB
Catatan dari Doa Bersama menuju Riau Hijau di Pesisir Selat Malaka
Catatan dari Doa Bersama menuju Riau Hijau di Pesisir Selat Malaka
Doa Bersama menuju Riau Hijau dan Pengolahan Lahan Gambut Tanpa Bakar.
Kepulauan Meranti, NU Online
Setelah beberapa hari mengunjungi beberapa pondok pesantren di empat kabupaten di Provinsi Riau dengan jarak tempuh yang jauh, akhirnya kegiatan Road Show Doa Bersama menuju Riau Hijau dan Pengolahan Lahan Gambut Tanpa Bakar oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) selesai dengan sukses.  

Ada momen yang tidak dapat dilupakan dari kegiatan tersebut. Jarak dan medan tempuh yang jauh dengan kondisi  infrastrukutur agak sulit membuat seluruh personalia kepanitaan merasa mendapatkan ruh dari sebuah pengabdian untuk masyarakat Indonesia. 

Empat pondok pesanten yang dikunjungi BRG pada kegiatan itu antara lain Pondok Pesantren Darul Fattah, di Kabupaten Kampar; Pondok Pesantren Al-Muttaqin di Kabupaten Siak; Pondok Pesantren Al-Amin di Kabupaten Bengkalis; dan Pondok Pesantren Annur di Kabupate Kepulauan Meranti. 

Doa bersama diawali di Pondok Pesantren Daarul Fattah pada Ahad (7/4) dan ditutup di Pondok Pesantren Annur Kabupaten Meranti  Selasa (9/4) malam. Semua terlaksana dengan penuh khidmat dan khusyuk. Ribuan santri dan masyarakat yang hadir tampak atusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir.

Program yang digagas BRG ini berjalan sesuai dengan rencana. Rangkaian kegiatan antara lain Dialog dan Sosilisasi Pengelolaan lahan gambut tanpa bakar serta pengajian dan istigotsah.  

Suasana penutupan sangat khidmat. Ratusan santri di Pesantren Annur nampak dengan semangat secara bersamaan melantunkan Shalawat Asyghil. Shalawat yang kerap dilantunkan ulama NU ini berbuah jadi bait indah nan sakral malam itu. 

Ratusan hadirin begitu fokus mengikuti shawlatan secara berulang-ulang. Saat shalawat dibaca jamaah, mendadak mati lampu. Beruntung, alat pengeras suara tetap menyala sehingga shalawat tetap dilanjutkan.

Haru bingar dari penanggungjawab kegiatan ini terlihat. Adalah Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan pada BRG, Myrna A Safitri. Sejak hari pertama semangatnya tidak surut untuk tetap menjalankan tugasnya.

Meski memiliki latar belakang pendidikan di luar negeri, perempuan berkacamata ini tetap sederhana dengan gaya sosialnya yang merakyat. Malam itu ia ikit serta melafalkan Shalawat Asyghil dengan penuh kefasihan. 

Tidak ada yang menyangka di balik jabatan dan kebijakan, ternyata Myrna mampu mejadi perempuan yang tahu kodratnya. Itu dapat terlihat dari gayanya yang penuh keibuan ketika bertemu dengan masyarakat dan santri. Termasuk kemahirannya dalam melantunkan shalawat, bukti Myrna A safitri seorang yang memiliki keilmuan agama yang kuat. 

"Meski saya sekolah di luar negeri, di Belanda, insyaallah amalan-amalan saya masih NU. Saya masih shalawatan, tahlilan, manakiban," kata Myrna di hadapan santri dan masyarakat.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dijadikan pelajaran untuk semuanya termasuk untuk dirinya. Dia juga meminta kepada masyarakat untuk melakukan hal-hal baru dalam pengolahan lahan gambut. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Rabu 10 April 2019 22:45 WIB
Tata Kelola Gambut dalam Perspektif Islam
Tata Kelola Gambut dalam Perspektif Islam
Myra A Safitri
Kepulauan Meranti, NU Online
Syariat Islam turun ke dunia bukan untuk mengatur manusia saja, ada berbagai dimensi yang menjadi objek dari hukum Allah tersebut. Dimensi itu antara lain agama, akal, harta kepemilikan, kehormatan manusia, dan jiwa manusia itu sendiri temasuk linkungan hidup. Islam lahir untuk mengatur tata kelola lingkungan agar tidak membahayakan jiwa manusia. 

Imam Gazali dalam kitabnya, Al-Hikmah FI Makhluqatillahi menguraikan, bumi diciptakan Allah dalam keadaan seimbang. Variasi karakter permukaannya memungkinkan keragaman hayati tumbuh dan menjadi sumber kehidupan masnusia 

Syariat Islam yang dipelajari oleh Nahdlatul Ulama tidak melarang mengolah alam semesta, hanya saja ada batasan batasan terkait penataan lingkungan hidup tersebut. Hal itu tentu untuk kebaikan manusia dan alam itu sendiri, sebab, dalam islam sikap berlebihan sangat tidak diperbolehkan. 

Dalam buku Merintis Fiqih Lingkungan Hidup, Rais 'Aam PBNU 1991-1992, KH Ali Yafie menjabarkan sikap manusia atas alam yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, manusia tidak harus mengacak-acak ekosistem yang sudah diatur rapih oleh Sang Pencipta. 

Pandangan itu, kata Kiai Alie, selaras dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan misi kenabian adalah membawa rahmat bagi alam semesta. Artinya, bukan manusia semata yang patut kita muliakan alam dan seisinya harus diperhatikan. 

Dalam buku tersebut Kiai Alie menyebut tindakan dan aksi pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup (hifdul bi’ah) termasuk komponen primer dalam setiap langkah manusia (addaruriyat-al-kulliyat). 

Banyaknya aksi pembakaran hutan di Provinsi Riau tentu tidak sejalan dengan pemikiran Kiai Alie di atas. Untuk itu harus ada ajakan bagi semua umat Islam agar terus menjaga alam yang ada di sekitarnya. Apalagi suatu tempat atau lingkungan memiliki perbedaan dengan lingkungan lainnya, seperti lahan gambut yang tersebar di Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Dampak yang disebabkan kebakaran hutan di Provinsi Riau tahun 2015 di antaranya selama lima bulan Riau diselimuti asap tebal yang mengandung zat berbahaya. Kedua, tingkat pertumbuhan pdb tergelincir 0,2 persen yang mengakibatkan laju pembangunan menurun karena gangguan kegiatan ekonomi. Dan, 600 ribu orang menderita infeksi saluran pernafasan akut serta lebih dari 60 juta terkena polusi asap. 

Fenomena ini harus dihentikan, berapa jiwa yang akan menjadi korban dari kerasnya ancaman alam yang dilakukan manusia tersebut. Untuk itu, sebagai badan yang bertanggung jawab langsung kepada seorang Presiden, Badan Restorasi Gambut (BRG) tidak bosan-bosan mengajak warga untuk mengolah lahan gambut dengan tidak dibakar. 

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG, Myra A Safitri, mengatakan kebakaran hutan di lahan gambut sulit untuk menanggulanginya karena tidak mudah dan memakan biaya yang sangat tinggi. 

"Pemadaman menggunakan helikopter biayanya luar biasa besarnya, berbulan bulan api tidak bisa padam, jadi saatnya sekarang kita merenungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai sebuah cara megelola alam gambut yang benar berdasarkan perintah Al-Qur’an," kata Myrna saat sambutan pada kegiatan Doa Bersama menuju Riau Hijau dan Pengolahan Lahan Gambut Tanpa Bakar di Pondok Pesantren Annur, Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti, Selasa (9/4) malam.

Ia meminta masyarakat untuk terus menjaga alam dengan sebaik baiknya. Kemudian, agar alam tersebut memberikan manfaat dikelola dengan cara cara yang baik yang tidak menimbulkan dampak buruk untuk manusia dan lingkungan. (Abdul Rahman Ahdori)