IMG-LOGO
Trending Now:
Lingkungan

BRG Ajak Petani NU Implementasikan Aswaja dalam Pertanian di Lahan Gambut

Ahad 31 Maret 2019 18:30 WIB
BRG Ajak Petani NU Implementasikan Aswaja dalam Pertanian di Lahan Gambut
Jakarta, NU Online
Lokakarya yang diselenggarakan antara Badan Restorasi Gambut dan Lembaga Pengembangan Pertanian PBNU di Hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat, dari 30 Maret hingga 2 April mengusung tema "Mengimplementasikan Konsep Aswaja dalam Pertanian di Lahan Gambut". 

Menurut Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna A Safitri pengangkatan tema tersebut agar tidak terjadi pemahaman yang memisahkan antara persoalan keagamaan dan non-agama, seperti dalam hal pertanian. Baginya, aktivitas bertani bagian dari ibadah.

"Ini kan konsep yang kita bawa agar tidak ada pemisahan antara keagamaan dan non-agama karena bertani juga bagian dari ibadah," kata Myrna di Hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat, Sabtu (31/3).

Oleh karena itu, sambungnya, para petani NU juga perlu memahami prinsip-prinsip tentang ketidakbolehkan berbuat zalim dalam menjalin hubungan yang harmonis, baik dengan sesama manusia maupun dengan alam, yakni dengan cara mengatur tata air dan menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, Ahlussunnah wal Jamaah memiliki konsep hubungan antara manusia dengan sesama manusia dan alam.

"Itu semua kan konsep-konsep Aswaja sangat kuat dan kental. Tinggal implementasinya saja," ucapnya.

Ia juga mengatakan bahwa pelibatan warga NU dalam lokakarya karena pihaknya mmeandang, selama menangani ratusan desa di area lokasi gambut, sebagian besar berisi warga NU. "Dalam pengamatan kami, selama kami bekerja dengan ratusan desa, sebagian besar dari warga NU," kata Myrna.

Untuk itu, sambungnya, NU sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia pun sudah sepantasnya diajak dalam pelibatan melestarikan ekosistem gambut.

"Jadi kader-kader NU yang banyak dan mempunyai banyak keahlian untuk ikut bersama memberikan sumbangsih sebagai upaya pelestarian ekosistem," ucapnya. (Husni Sahal/Mahbib)
Ahad 31 Maret 2019 15:15 WIB
BRG dan LPP PBNU Bahas Praktik Pertanian di Lahan Gambut
BRG dan LPP PBNU Bahas Praktik Pertanian di Lahan Gambut
Jakarta, NU Online
Badan Restorasi Gambut (BRG) bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU) menggelar lokakarya bertajuk "Mengimplementasikan Konsep Aswaja dalam Pertanian di Lahan Gambut" di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. Lokakarya berlangsung selama empat hari, yakni 30 Maret hingga 2 April 2019.

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna A Safitri mengemukakan bahwa tujuan lokakarya ini untuk menggali informasi-informasi terkini mengenai praktik pertanian di lahan gambut oleh warga NU yang tinggal di area restorasi gambut dan membahas tantangan-tantangannya.

"Kemudian merumuskan strategi-strategi apa yng bisa digunakan oleh para petani dan yg ada di lahan gambut agar mereka tetap meneruskan aktivitas pertanian, tetapi dengan cara-cara yang tidak merusak ekosistem gambut," kata Myrna.

Menurutnya, dalam upaya memaksimalkan lokakarya ini, pihak panitia menghadirkan mentor dan kader sekolah lapang gambut yang telah dibina BRG selama setahun terakhir. Nantinya, mentor dan kader tersebut berbagi tentang pengalamannya dalam mengembangkan pertanian yang baik.

"Tujuan menghadirkan mereka agar mereka membagi pengalaman bagaimana mengembangkan pertanian tanpa membakar dan tanpa pupuk kimia di desanya," ucapnya.

Lebih lanjut, ia berharap, para peserta yang berasal dari berbagai daerah ini dapat menyusun langkah-langkah taktis ketika berada di daerahnya, dengan mendorong pertanian gambut yang tidak membakar dan menggunakan pupuk kimia.

Selain dihadiri warga NU, kegiatan ini juga dihadiri kader sekolah lapang BRG dan dai-dai restorasi gambut dari berbagai daerah seperti dari Riau.

Menurutnya, Riau termasuk daerah yang mempunyai ekosistem gambut yang luas, namun sebagian besar dalam keadaan rusak dan terbakar. Daerah tersebut juga dinilai mulai muncul kebakaran di beberapa titik.

"Melalui kegiatan ini, kami juga mendorong lagi Nahdliyin, petani-petani yang ada di riau agar mengelola lahan-lahan gambut di Riau, agar mengelola pertanian tanpa terbakar," ucapnya. (Husni Sahal/Mahbib)

Ahad 30 Desember 2018 17:30 WIB
Ketika Ansor di Provinsi Bali Ini Sukses Kelola Hutan
Ketika Ansor di Provinsi Bali Ini Sukses Kelola Hutan
Kursus Bahasa Inggris di Taman Nasional Bali Barat

Buleleng, NU Online

Ada suasana menarik di barat pulau Bali, tepatnya di Desa Sumberklampok, sebuah desa paling ujung barat Kabupaten Buleleng. Disini, jika berkunjung pada hari Rabu dan Ahad,kita akan menyaksikan anak anak sedang belajar Bahasa Inggris di tengah hutan.

Kegiatan kursus gratis bagi anak anak Desa Sumberklampok ini sengaja diadakan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Sawo Kecik, sebuah kelompok pemuda setempat yang peduli akan kondisi lingkungan dan sosial.

Lahan tempat kursus berlangsung, merupakan lahan RPH Bali Utara yang pengelolahannya dipercayakan kepada KTH Sawo Kecik seluas 6,2 Hektar, berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Dengan suasana alam terbuka tersebut, kegiatan kursus menjadi lebih rileks dan menyenangkan. Kini, tercatat ada sekitar 43 anak anak yang dengan aktif mengikuti kursus di Desa yang terisolir dan dikelilingi oleh kawasan hutan tersebut.

Ahmad Yanto, Ketua KTH Sawo Kecik saat ditemui menceritakan awal berdirinya kelompok tersebut. Sambil minum kopi di kedai yang dikelola KTH Sawo Kecik, dengan semangat ia menceritakan bahwa apa yang dilakukan bersama pemuda lainnya merupakan keinginan akan kepeduliannya terhadap lingkungan.

Menurutnya, ia miris melihat kondisi hutan yang mulai tak terawat. Belum lagi maraknya penebangan pohon  yang mulai mengancam ekosistem hutan yang terancam punah.

Kesadaran tersebut, juga menjadi kerisauan bersama para pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ranting Sumberklampok, organisasi badan otonom NU, yang kebetulan Yanto pun menjadi anggotanya.

Sehingga, dari GP Ansor ini kemudian membentuk organ taktis yang khusus untuk melakukan konservasi lingkungan hutan dan sosial, yang kemudian diberi nama KTH Sawo Kecik pada tanggal 18 Agustus 2017.

"Jadi, pemuda yang tergabung dalam KTH ini, adalah pemuda-pemuda GP Ansor Sumberklampok, sebagai inisiator dan penggeraknya" tegasnya.

Dari penjelasannya, setelah mendapat respon positif baik dari tokoh masyarakat dan pemerintah desa, ada beberapa kegiatan yang dilakukan KTH Sawo Kecik. Salah satunya adalah adopsi pohon jenis Sawo Kecik, yang ditanam oleh wisatawan dan bagi siapapun yang peduli lingkungan.
 
Dengan lahan yang cukup luas, KTH Sawo Kecik ini juga membuka bumi perkemahan dan wisata edukasi alam.Di area itu juga, KTH membuka kedai yang menyediakan berbagai minuman dan makanan ringan.

Untuk anak anak setempat, selain melaksanakan kursus Bahasa Inggris gratis, disediakan juga taman baca yang buku bukunya disimpan dalam satu atap dengan kedai.

Dan yang terbaru, pada pertengahan Bulan Desember ini, lahan KTH Sawo Kecik dipercaya untuk ditempati penangkaran burung endemik Jalak Bali, burung langka yang habitatnya di dunia hanya ada di Pulau Bali.

Kedepan, Yanto berharap bisa terus mengembangkan lagi, mengingat sampai saat ini masih sangat terbatas dengan sumber daya manusia dan sumber dana yang dimiliki oleh KTH Sawo Kecik.

"Lahan kita luas, butuh banyak kerjasama dengan pihak manapun yang memiliki misi yang sama, yakni lingkungan dan pemberdayaan sosial berbasis hutan" harapnya sambil meneguk kopi hitam di depannya. (Abaraham Iboy/Muhammad Faizin)

Kamis 25 Oktober 2018 13:45 WIB
HARI SANTRI 2018
LPBI PBNU dan KLHK Luncurkan Program 'Ngaji Plastik Nusantara'
LPBI PBNU dan KLHK Luncurkan Program 'Ngaji Plastik Nusantara'
Ngaji Plastik Nusantara
Jakarta, NU Online
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan dan melakukan sosialisasi program 'Ngaji Plastik Nusantara' di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (25/10). Peluncuran ini dalam rangka memperingati Hari Santri 2018.

Peluncuran sendiri dilakukan oleh Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi yang didampingi Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidiq dan Direktur Bank Sampah LPBI PBNU Fitria Aryani.

Dalam sambutannya, Wasekjen PBNU HAndi Najmi mengatakan bahwa pihak KLHK sudah tepat menjalin kerja sama dengan LPBI PBNU. Logikanya, kata Andi, jika mau melakukan pembersihan, maka harus kerja sama dengan lembaga yang bersih juga.

Andi mengutip hasil survei Universitas Hasanuddin pada 2015 yang menyatakan bahwa 80 persen sampah plastik disumbangkan oleh masyarakat kota. Sementara mayoritas warga NU, sambungnya, berada di kampung. Oleh karena itu, NU tidak banyak menyumbang sampah plastik.

“Jadi NU tidak banyak menyumbang sampah itu. Bapak sudah benar kerja sama dengan Nahdlatul Ulama,” katanya diikuti tawa hadirin.

Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidiq sendiri menyambut baik kerja sama ini sebab NU memiliki warga yang jumlahnya sangat banyak.

"NU mempunyai warga yang banyak. Ini jadi modal sosial yang kuat. Tapi kuncinya, merevolusi mental itu sangat penting agar peduli terhadap sampah plastik," katanya.

Ia mengatakan, Indonesia sebagai negara yang jumlah penduduknya banyak dan wilayahnya luas, merupakan tantangan berbagai pihak termasuk NU dalam menanggulangi krisis sampah plastik.

"Saya kira supaya progam ini efektif, LPBI PBNU bisa memanfatkan jaringan di semua daerah dan harus menciptakan agen-agen perubahan seperti Mbak Fitri," ucapnya. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)