IMG-LOGO
Trending Now:
Balitbang Kemenag

Perlunya Pendidikan Moderasi di Majelis Taklim

Jumat 22 Maret 2019 20:15 WIB
Perlunya Pendidikan Moderasi di Majelis Taklim
Ilustrasi: jamaah majelis taklim mengikuti pengajian.
Jakarta, NU Online
Perbedaan menjadi suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan di bumi Indonesia. Warna-warni identitas itu menjadi pemandangan indah. Namun, terkadang hal ini menjadi jurang pemisah jika tidak saling mengerti satu sama lain. Hal ini terjadi dalam beberapa kasus yang mengakibatkan beberapa pihak terugikan.

Melihat hal tersebut, pada tahun 2018, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama melakukan penelitian yang fokus pada pendidikan moderasi di majelis taklim. Penelitian dilakukan guna mengetahui tiga hal, yakni pengetahuan nilai tawasut (moderasi), tasamuh (toleransi), dan wathaniyah (kebangsaan); penghayatan atau sikap tentang tiga hal tersebut; dan pengamalannya.

Penelitian dilakukan di 15 kabupaten dan kota yakni Medan, Bangka, Lampung Selatan, Kuningan, Bandung, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Landak, Manado, Ambon, dan Denpasar. Penelitian melibatkan 150 lembaga majelis taklim, serta 1500 jamaah. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa aspek pengetahuan pendidikan moderasi di majelis taklim tergolong kategori rendah. Angkanya hanya sebesar 45,14 persen.

Aspek pengetahuan pendidikan moderasi ini meliputi nilai-nilai tawasut sebesar 40,75 persen; tasamuh sebesar 50 persen, dan wathaniyah sebesar 44,67 persen. Pengetahuan tentang nilai-nilai tasamuh lebih dominan dibanding dengan tawasut dan wathaniyah.

Sementara itu, aspek sikap pendidikan moderasi di majelis taklim juga tergolong masih rendah, yaitu sebesar 55,84 persen saja. Hal ini meliputi nilai-nilai tawasut sebesar 54,92 persen; tasamuh sebesar 76,10 persen; dan wathaniyah sebesar 36,50 persen. Dari sini, terlihat sikap tentang tasamuh lebih dominan dibanding dengan tawasut dan wathaniyah.

Adapun aspek perilaku pendidikan moderasi di majelis taklim juga tergolong masih rendah, yakni sebesar 51,41 persen. Hal ini mencakup nilai-nilai tawasut sebesar 58,81 persen; tasamuh sebesar 54,29 persen; dan wathaniyah sebesar 41,13 persen. Perilaku tentang tawasut lebih dominan dibanding dengan tasamuh dan wathaniyah.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai sikap moderasi lebih besar dibandingkan dengan nilai perilaku dan pengetahuan. Pada aspek pengetahuan dan sikap, nilai tasamuh lebih diperhatikan, sedangkan pada aspek perilaku, nilai-nilai tawasut telah diamalkan oleh responden, ketimbang nilai-nilai wathaniyah dan tasamuh. Nilai wathaniyah, baik pada aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku berada di posisi terendah daripada nilai tawasut dan tasamuh.

Oleh karena itu, merekomendasikan enam hal. Pertama, Kementerian Agama perlu menyusun grand design pengembangan dan penguatan pendidikan moderasi di kalangan majelis taklim. Kedua, Kementerian Agama perlu meningkatkan pengetahuan pendidikan moderasi melalui penerbitan buku atau panduan tentang pendidikan moderasi bagi para penyuluh atau ustadz dan ustadzah dan pengelola majelis taklim, penyusunan  kurikulum atau modul bahan ajar pendidikan moderasi di majelis taklim.

Berikutnya, Kementerian Agama melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) perlu melakukan pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi penyuluh agama, ustadz atau ustadzah dan pengelola majelis tentang pendidikan moderasi di majelis taklim.

Di samping itu, Kemenag juga perlu mendorong gerakan pengarusutamaan pendidikan moderasi agama melalui instutisi pendidikan formal maupun nonformal dan media sosial; menyusun konsep moderasi beragama versi pemerintah sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terakhir, Kemenag perlu membuat proyek percontohan majelis taklim berbasis moderasi. (Syakir NF/Kendi Setiawan)

Ikuti tulisan hasil riset keagamaan lainnya DI SINI.

Kamis 21 Maret 2019 21:45 WIB
Manuskrip Kuno tentang Bencana Alam di Sumbar, Jabar, Banten, dan NTB
Manuskrip Kuno tentang Bencana Alam di Sumbar, Jabar, Banten, dan NTB
Ilustrasi: bangunan roboh akibat gempad di NTB.
Jakarta, NU Online
Sejak tahun 2017 peneliti Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama melakukan penelitian kearifan lokal terkait bencana alam berbasis teks naskah. Penelitian dilakukan di dua lokasi, yakni Aceh dan Jawa Tengah. Sejumlah kearifan lokal terungkap di dua wilayah ini yang membedakan antara satu dengan lainnya. Pada umumnya ramalan atau lebih tepat disebut takwil gempa ditemukan dalam naskah Aceh.

Penelitian serupa dilakukan tahun 2018, difokuskan di empat lokasi, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Keempat lokasi ini dipilih berdasarkan hasil kajian terdahulu bahwa keempat lokasi rentan terhadap bencana alam dan menyimpan sejumlah naskah kuno. Temuan lapangan mengungkapkan adanya keunikan di daerah masing-masing.

Hasil penelitian wilayah Sumatera Barat tentang naskah Syair Nagari Taloe Tarendam. Naskah berbahasa Latin, menggambarkan tentang peran penting ulama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Ulama sebagai tempat mengadu, konsultasi tentang segala persoalan kehidupan, termasuk soal bencana alam. Ketika bencana alam terjadi, masyarakat diajarkan keutamaan kesabaran; dan juga dididik untuk melakukan suatu kebaikan, disiplin, sikap-sikap sosial kemanusiaan yang diisi dengan nilai-nilai agama.

Ditekankan bahwa gempa adalah takdir, tapi manusia tidak selalu harus menyerah. Ada penanganannya yaitu shalat lima waktu dan bersedekah. Sebaliknya bila masyarakat meninggalkan agama, maka gempa itu akan terjadi kembali. 

Naskah terkait bencana alam dari Nusa Tenggara Barat (NTB) menjelaskan bahwa masyarakat Lombok banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar. Hal ini memengaruhi cara pandang mereka terhadap letusan gunung berapi yang berdampak pada terjadinya gempa bumi, lalu tanah longsor dan akhirnya terjadi banjir. Gunung Rinjani sebelum meletus sangat tinggi sehingga disebut sebagai pasak bumi. Pulaunya kecil, tapi gunungnya tinggi dan besar. Pada abad ke-13 sudah ada orang Prancis melakukan riset di sana, dan menemukan bahwa letusan terjadi setelah era Majapahit. 

Di NTB ada enam naskah yang diteliti, yaitu Naskah Pelinduran, Naskah Cilinaya, Takepan Doyan Nada, Takepan Suwung, Babad Lombok, dan Naskah Dewi Anjani. Keenam naskah tersebut mengandung ajaran-ajaran tentang cara mengatasi gempa, ramalan gempa, dan pelajaran akan pentingnya menepati sebuah janji serta kesediaan untuk menghargai kearifan lokal dengan melaksanakan hal-hal positif.

Dalam manuskrip bencana alam Banten diungkapkan bahwa salah satu letusan gunung berapi yang dahsyat adalah letusan gunung Krakatau yang terjadi 27 Agustus1883, tsunami dengan gelombang yang tinggi. Bencana alam dalam manuskrip berisikan tentang letusan Krakatau yang hebat. Isi naskah tentang catatan gempa. Ada naskah ramalan gerhana; apa yang terjadi bila ada gerhana di bulan-bulan tertentu, misalnya bila terjadi di bulan Muharam tanda banyak fitnah dan orang miskin.

Berikutnya ada juga Naskah Kedutan. Ulama sudah secara rigid menjelaskan arti makna kedutan misalnya kedutan di alis kiri artinya akan melihat kekasih. Ada juga ditemukan tradisi lisan pada masyarakat Banten terkait bencana alam, misalnya sebelum terjadi bencana alam ada tanda-tanda dari hewan, masyarakat merasa cemas, dan tradisi tolak bala atau upacara ruwatan juga dikenal di sana.

Sementara itu, untuk memahami fenomena alam di Jawa Barat, tampaknya orang-orang terdahulu lebih cenderung menggunakan pendekatan-pendekatan kultural dibanding pendekatan scientific. Hal ini tampak dari pernyataan dan jawaban mereka terhadap terjadinya bencana alam. Ada anggapan kalau musibah itu sudah merupakan sebuah takdir, tanah nenek moyang harus dipertahankan, meskipun itu merupakan daerah yang rawan bencana. Karena bencana itu takdir, maka tidak perlu dihindari, pendekatan kultural masih dominan, sehingga shelter (penampungan/tempat mengungsi) seringkali tidak berfungsi.  

Naskah Cara Karuhun Sunda memitigasi bencana merupakan ramalan gempa. Dalam naskah tersebut diajarkan sikap patuh pada amanat leluhur, harmoni alam, tidak mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan sehingga bencana alam dapat dicegah, dan perlu melihat topografi hutan. 

Naskah kedua adalah Warugan Lemah. Naskah ini memberi pengetahuan bagaimana memilih lokasi tanah yang baik, cocok untuk ditempati. Misalnya untuk membangun candi, ada cara memilih tanah yang bagus, tanah digali satu meter dan diisi air. Jika cepat kering, berarti banyak pasir, kalau lama berarti ada banyak batu, tanah kuat, cocok untuk tempat bangunan candi.

Selain itu, ada juga naskah bunga rampai milik Cirebon yang mengandung narasi-narasi mitigasi bencana. Masyarakat di pesisir pantai selatan tidak banyak memilih jadi nelayan. Pesisir utara lebih banyak karena di sana lebih damai. Ada semacam insting masyarakat dulu yang menyatakan bahwa wilayah pesisir selatan lebih rawan bencana sehingga mereka lebih banyak memilih menjadi petani. 

Rekomendasi

Dari hasil temuan penelitian di atas, beberapa hal perlu dibidik untuk dijadikan rekomendasi dan tindak lanjut agar stakeholders dan masyarakat luas dapat mengenal lebih akrab dengan warisan leluhur mereka yang mengandung kearifan lokal yang patut dicontoh dan diterapkan ketika bencana alam menghampiri umat Indonesia ini.

Pertama, perlu diterbitkannya buku saku berseri sebagai pedoman bencana alam versi naskah kuno yang perlu disebarkan kepada stakeholders di Kementerian Agama khususnya, sehingga penyuluh-penyuluh dapat memanfaatkannya dengan baik.

Kedua, melakukan kerja sama dan kolaborasi dalam telaaah manuskrip dengan berbagai disiplin ilmu dan lembaga lainnya di luar Kementerian Agama, seperti dengan lembaga NGO yang consern dalam mitigasi bencana, Kemendiknas, lembaga pertanahan, dan lembaga kehutanan, agar dapat menghasilkan analisa tidak hanya bersifat sosial budaya, melainkan sisi lain yang dapat ditilik dan dimanfaatkan masyarakat luas.

Ketiga, hasil penelitian ini yang sudah dalam bentuk buku saku kemudian perlu disebarluaskan dalam bentuk sosialisasi secara online dan offline dan membuat e-book untuk dapat diakses oleh generasi milenial kapan dan di mana pun. 

Keempat, tahun berikutnya (2019) perlu tindak lanjut riset ini di wilayah-wilayah lain, agar dapat terdata semua naskah kuno yang membahas tentang bencana dan menganalisis secara kultural. (Kendi Setiawan)

Senin 19 November 2018 5:0 WIB
Mengulas Nilai-nilai Ritual Penjaroan Rajab di Masjid Saka Tunggal Banyumas
Mengulas Nilai-nilai Ritual Penjaroan Rajab di Masjid Saka Tunggal Banyumas
Gerbang Masjid Saka Tunggal (banyumasku.com)
Pada Jurnal Dialog Vol. 41, No.1, Juni 2018, dimuat tulisan Novitasiswayanti berjudul Penjaroan Rajab di Masjid Sakatunggal. Tulisan hasil penelitian peneliti Balitbang Diklat Kemenag ini menyebutkan Penjaroan Rajab berarti penggantian pagar pada kompleks pemakaman di Masjid Saka Tunggal, sebagai rangkaian dari upacara keagamaan yang terdiri dari ziarah kubur, haul Kiai Mustolih, selametan, pengajian dan gelar budaya. 

Penjaroan Rajab sebagai ritual oleh masyarakat Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, setiap tahun tanggal 26 Rajab bertepatan dengan haul Kiai Mustholih. Kiai Mustolih dipercaya sebagai tokoh penyebar Islam di Desa Cikakak pada abad 17 Masehi. Ia adalah keturunan Sunan Panggung, salah seorang murid Syeh Siti Jenar.Ia mendirikan masjid yang memiliki keunikan tersendiri dengan tiang utama tunggal sehingga masjid tersebut dinamai Masjid Saka Tunggal. 

Selain masyarakat setempat, Penjaroan Rajab diikuti keturunan dan murid Kiai Mustholih serta utusan dari keturunan kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat pada khususnya. Pihak Keraton Surakarta Hadiningrat mengaitkan hubungan kekerabatan Kiai Mustholih masuk silsilah Kraton Surakarta. Hal ini dikarenakan Kali Pakis yang mengalir di depan makam kramat Kiai Mustholih merupakan jejak Kraton Suarakarta. Padahal menurut KRH Palilo Diningrat (Kasepuhan Adat Paguyuban Keluarga Mataram) Kiai Mustholih berasal dari Mataram Kuno yang bernama Cakra Buana. Ritual ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat, aparat pemerintah desa dan kecamatan setempat, serta dinas kabupaten yang terkait. (Subagyo, 2013).

Ritual Penjaroan Rajab dilaksanakan secara bergotong royong dan bekerja sama baik itu kaum laki-laki maupun perempuan. Kaum perempuan tidak ikut serta dalam penggantian dan pemasangan pagar, tetapi mempersiapkan bahan makanan dan aneka konsumsi hidangan untuk kenduri slametan yang lokasinya berada di halaman Masjid Saka Tunggal dan rumah juru kunci. 

Tahapan Ritual 

Pada ritual tersebut, dilaksanakan sejumlah kegiatan atau tahapan. Pertama adalah pada jam enam pagi setelah Subuh. Kaum laki-laki berduyun-duyun datang ke Masjid Saka Tunggal dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah ladang, hutan, dan semak-semak. Mereka dengan suka rela membawa batang bambu yang akan digunakan untuk membuat pagar. Bambu itu diambil di sekitar pekarangan rumah mereka.

Kemudian jam sembilan pagi pekerjaan penggantian pagar dimulai dan dipimpin langsung oleh keturunan Kiai Mustholih yaitu Bambang Jauhari yang menjadi juru kunci makam Kiai Mustholih dan Sopani juru kunci Masjid Saka Tunggal.

Secara bergotong royong warga berbagi tugas terhadap bambu-bambu yang dibawanya untuk mengerjakan penggantian dan pemasangan pagar yang mengelilingi pemakaman. Ada yang memotong dan membelahnya dengan ukuran satu meter, ada yang mencucinya di sungai pintu masuk makam agar bersih dan terbebas dari kotoran, dan ada yang mengganti bambu lama dan memasangnya dengan bambu yang baru.

Selama melakukan penjarohan, warga dilarang berbicara dengan suara keras, serta tidak boleh mengenakan alas kaki. Sehingga, saat penggantian dan pemasangan pagar bambu di pemakaman, tidak terdengar suara warga. Yang muncul hanya suara dari pagar bambu yang dipukul oleh warga. Dengan bekerjasama saling tolong-menolong dan bahumembahu dalam suasana hening tanpa suara, penggantian dan pemasangan pagar di komplek pemakaman selesai dikerjakan dalam jangka waktu dua jam.

Ziarah Kubur

Setelah pelaksanaan penggantian dan pemasangan pagar bambu di kompleks pemakaman selesai, kaum laki-laki membersihkan dan menyucikan badan mereka di kali yang berada di halaman pemakaman untuk kemudian melakukan ziarah makam. Sebelum memasuki areal makam para warga melepaskan alas kaki dan melakukan persembahan dan sungkem kepada leluhur. Mereka menabur bunga dan membaca doa di makam para leluhur sebagai bentuk pengormatan kepada leluhur.

Rangkaian upacara penjaroan selanjutnya adalah kenduren atau slametan dalam bentuk upacara makan bersama. Slametan merupakan unsur terpenting dari ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa. Slametan diadakan untuk memelihara rasa solidaritas di antara peserta ritual keagamaan sekaligus dalam rangka menjaga hubungan baik dengan arwah leluhur.

Upacara slametan pada Penjaroan Rajab ini dimaksudkan agar dapat menciptakan suasana damai, rukun dan tenteram di antara peserta ritual penjaroan dan bebas dari rasa permusuhan dan prasangka terhadap orang lain. Selain itu ritual ini juga diyakini dapat menghilangkan berbagai sifat jahat dan tidak baik yang terdapat pada diri pribadi tiap orang. Upacara slametan bersifat keramat di mana orang-orang yang hadir dalam acara tersebut merasakan getaran emosi keramat penuh kekhusyukan dalam suasana penuh khidmat mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan terlepas dari insiden-insiden ataupun malapetaka yang tidak dikehendaki.

Pada ritual slametan disajikan gunungan tumpeng dan hasil bumi yang diusung dengan tandu mengelilingi kompleks Masjid Saka Tunggal. Gunungan terdiri dari dua tumpeng setinggi setengah meter, jajanan pasar, buah-buahan dan sayur-sayuran. Setelah dibacakan doa gunungan tersebut diarak-arak seperti kirab mengelilingi kompleks Masjid Saka Tunggal. Di titik akhir halaman masjid, warga memperebutkan isi gunungan. Warga meyakini apabila memperoleh salah satu isi dari gunungan tersebut dan dikonsumsi oleh mereka, maka akan memperoleh berkah berupa rezeki yang banyak. Sedangkan jika isi gunungan itu disebarkan di sawah pertanian, perkebunan atau pekarangan rumah, maka akan dapat memberikan kesuburan dan kesejahteraan, (Rohimah: 2013).

Beragam jenis makanan yang terdapat pada gunungan memiliki simbol dan makna tersendiri dalam tradisi Jawa. Tumpeng melambangkan sebuah pengharapan kepada Tuhan agar permohonan terkabul. Ingkung (ayam yang dimasak utuh) melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan. Pisang raja lambang pengharapan supaya kelak hidup bahagia. Jajan pasar simbol harapan berkah dari Tuhan; ketan, kolak, dan apem merupakan satu kesatuan yang bermakna permohonan ampun jika melakukan kesalahan. Kemenyan merupakan sarana permohonan pada waktu berdoa; dan bunga melambangkan keharuman doa yang keluar dari hati tulus.

Beraneka 'bawaan' ini merupakan unsur sesaji sebagai dasar landasan doa. Setelah berdoa, makanan-makanan tersebut menjadi rebutan para peziarah yang hadir. Inilah arti kebersamaan dalam penjarohan. Di dalam penjarohan juga terdapat inti budaya Jawa, yaitu harmoni atau keselarasan, (w. Suegito: 2013).

Pengajian
Setelah Magrib, ritual penjarohan ditutup dengan serangkaian prosesi pengajian dan sarasehan budaya yang menghadirkan penceramah yang didatangkan dari luar Desa Cikakak. Dalam tradisi keagamaan Jawa kekinian prosesi pengajian disebut juga mujahadah yang mengacu pada ‘disiplin asketis dan perjuangan di jalan sufi.’ Inti mujahadah adalah pembacaan tahlil dan surat-surat pendek Al-Qur ’an, barjanjen, yasinan, ceramah agama dan pembacaan doa, (Pranowo, 2011:141).

Pengajian dilaksanakan di Masjid Saka Tunggal dan dipimpin oleh seorang modin yang berperan sebagai pemimpin acara pengajian. Modin adalah pejabat agama tingkat desa bisa saja seorang ulama atau keturuan Mbah Tolih. Sebagai tuan rumah juru kunci Makam Mbah Mustholih memberikan sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan bambu, makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya.

Setelah itu, modin maju untuk memimpin zikir tahlilan dan yasinan. Kemudian menutupnya dengan doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Juga doa keselamatan, agar Tuhan senantiasa memberkahi hidup mereka dengan kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Acara inti pengajian adalah ceramah agama dan pertunjukan seni tradisional yang menampilkan genjring Banyumasan yaitu pembacaan shalawatan barzanji yang diirimgi dengan tabuhan rebana, (w. Puwoko: 2013).

Nilai-nilai yang Terkandung

Pada ritual Penjaroan Rajab, terkandung nilai-nilai. Pertama, nilai keikhlasan. Ikhlas dalam bekerja berarti tidak melihat pada besar-kecilnya hasil yang harus dicapai, tetapi lebih mementingkan apa yang harus dikerjakan (sepi ing pamrih, rame ing gawe). Mereka selalu bersikap menerima apa pun yang telah diberikan Tuhan (nrimo ing pangdum). Sebuah keyakinan bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima dan terus berusaha dan berdoa, (Herusatoto, 2000:72).

Keikhlasan warga dalam penjaroan tampak terlihat dari kesediaan dan kesukarelaan mereka untuk ikut serta dalam ritual itu dengan tanpa mengharap pamrih atau balas. Mereka rela mengumpulkan bambu-bambu dari hutan dan dibawanya ke Masjid Saka Tunggal dengan berjalan kaki. Kemudian bambu-bambu tersebut dipasang dijadikan pagar yang mengelilingi pemakaman. Selain itu kaum perempuannya ikhlas memasak dan menyediakan makanan untuk kenduren atau slametan yang nantinya akan dinikmati bersama-sama sebagai perwujudan solidaritas dan kebersamaan, (w. Tohari: 2013).

Kedua, nilai kerukunan. Etika Jawa berpegang teguh pada filsafat budaya damai rukun agawe santosa (kerukunan akan menyebabkan seseorang kuat dan sentosa). Kerukunan hidup terjadi karena masing-masing saling menghormati, saling mengasihi, sopan santun, dan saling menghargai satu sama lain. (Endraswara, 2003: 38-39) Hubungan antarsesama seluruh ingin menjaga ketentraman, hayuning bawana) (Suseno, 1984: 39). Nilaikerukunan identik dengan kaidah dasar etika Jawa yang berada dalam keadaan selaras, tenang, dan tentram tanpa perselisihan dan pertentangan. (w. Bambang 2013).

Dalam ritual penjaroan nilai kerukunan tampak terlihat adanya sikap dan perilaku warga yang saling lung tinulung; tolong-menolong untuk melakukan pekerjaan penggantian pagar bambu secara bergotong-royong dan bersama-sama. Mereka ber-tepo seliro saling mengontrol diri dan menjaga hubungan baik antarsatu dengan lainnya, saling menghormati dan menghindari terjadinya persinggungan maupun pertengkaran antarteman.

Berikutnya, nilai keberagamaan (religiusitas). Enkulturasi budaya Jawa yang animistis magis dengan unsur budaya Islam yang monotheistis telah melahirkan Jawa Sinkretis. Nilai budaya yang religius magis ikut memberikan arah pembentukan sistem budaya, sistem sosial dan hasil kebudayaan fisik ynag bercorak Islam Jawa. (Amin, 2002: 279-281). Dalam ritual penjaroan religiusitas yang telah tertanam dan menjadi adat-istiadat sebagai warisan leluhur budaya Jawa berakulturasi dengan nilai-nilai keislaman yang berperan dalam pengemasan isi dari ritual keagamaan Jawa.

Ritual penjarohan sebagai refleksi ziarah kubur persembahan kepada arwah leluhur menjadi sarana untuk mendoakan agar arwah leluhur tentram dan diampuni Allah. Slametan merefleksikan solidaritas kerukunan antarsesama diberi warna keislaman dengan adanya kajian keislaman, pembacaan tahlilan dan yasinan serta doa. Sesajen yang semula berupa daging mentah diganti dengan makanan hasil bumi atau pertanian dan peternakan yang sudah dimasak kemudian dimakan bersama sebagai perwujudan syukur kepada Allah. Dalam ritual Penjaroan Rajab tampak identitas kepribadian bangsa sekaligus elemen perekat lintas warga serta lintas agama dan kepercayaan yang dapat memberikan warna kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Cikakak.

Keempat, nilai kebangsaan dan nasionalisme. Dalam konteks sosial dan budaya, ritual penjarohan dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. (Priyadi, 2011: 23). Dalam prosesi ritual atau tradisi penjarohan warga  berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai. Penjaroan menjadi ajang untuk bersilaturahmi berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. (w. Sugeng Priyadi: 2013).

Apabila penjarohan ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun dan tenteram. (Kendi Setiawan)

Senin 19 November 2018 1:0 WIB
Mengulas Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul
Mengulas Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul
Jalan di Kecamatan Panggang (kabarhandayani.com)
Salah satu hasil penelitian Balitbang Diklat Kemenag yang kemudian dimuat dalam Jurnal Harmoni edisi Januari-April 2016 adalah Relasi Muslim-Buddhis di Panggang, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Akmal Salim Ruhana, peneliti pada Balitbang Diklat Kemenag mengutarakan bahwa relasi tersebut terjadi karena adanya ‘sabuk’ relasi Muslim-Buddhis di Panggang.

Akmal menyebutkan jika upaya modal sosial berfokus pada penguatan soliditas internal untuk mempertahanan eksistensi kelompok, social bridging lebih melintas batas identitas kelompok untuk pemerkuatan kehidupan bersama. Dalam konteks relasi mayoritas Muslim dan minoritas Buddha di Panggang, jaring-jaring yang menguatkan ikatan antarwarga berbeda identitas tampak nyata. Dalam civic engagement sebagaimana dibagi dua oleh Ashutosh Varshney, asosiasional dan quotidian, temuan lapangan penelitian ini mengonfirmasi teori tersebut.

Secara asosiasional, relasi antara Muslim-Buddhis terjalin dengan adanya sejumlah forum bersama yang merekatkan relasi antarwarga (baca: antarumat). Forum-forum tersebut seperti arisan warga sepuluhan, arisan RW/dukuh, organisasi pemelihara kambing oleh kaum pria, dan tim bola voli di setiap RT yang berlomba antar-RT setiap 17-an.

Adapun secara quotidian yang terjadi adalah adanya budaya saling kunjung saat kenduren reroyo (Idul Fitri), makan bersama dalam acara kenduren ruwahan atau sedekah bumi, saling partisipasi saat hari besar keagamaan, saling mengunjungi, budaya sambatan jika ada tetangga yang membangun rumah, serta gotong royong warga membangun fasilitas publik.

Dari pengamatan dan live in di lokasi, ikatan quotidian tampak lebih kuat dibanding asosiasional. Pergaulan sehari-hari antarwarga berbeda agama tampak lebih menonjol mendekatkan, dibanding forum-forum, yang bahkan tak ada forum lintas agama di sini. Hal ini cocok atau mengonfirmasi pendapat Varshney, bahwa dalam kategori masyarakat perdesaan kerja sama sehari-hari (quotidian) lebih menonjol dibanding kerja sama asosiasional. Berbanding terbalik kondisinya dengan di perkotaan. 

Last but not least, yang menguatkan kerukunan di daerah ini adalah adanya nilai-nilai budaya Jawa yang dipertahankan. Meski beragama Islam ataupun Buddha, masyarakat masih melakukan acara kenduren ruwahan, sedekah bumi, dan lainnya secara bersama-sama. Bahkan, ada mekanisme kontrol, jika ada yang tidak ikut akan ditegur oleh kawan lainnya atau bahkan dihukum
sosial, dikucilkan.

Mengapa Mau Berrelasi-Harmonis?

Dari hal itu, tampak bahwa terbangun relasi antara umat Buddha dan Islam di Girikarto, Panggang, Gunung Kidul. Merujuk pada konsep 'relasi' sebagaimana didefinisikan Koentjaraningrat, maka di antara kedua umat yang notabene mayoritas dan minoritas itu telah melakukan interaksi dan bentuk-bentuk aksi-reaksi dalam bermasyarakat. Relasi antarumat tercipta lebih karena adanya kebutuhan bersama untuk hidup bersama, guyub, rukun, saling menolong.

Selain itu, masyarakat juga telah menyejarah mengalami pluralitas agama dan toleransi. Hal ini misalnya tersirat dari pernyataan Mur, pemuka agama Buddha, "Kalau masalah kerukunan di sini itu gak ada bandingnya, Mas, dibanding kalau lain kecamatan. Lain kecamatan kan kadangkala itu ada bentrok. Kalau di sini gak ada [kenapa?] ya karena... ya meskipun lain agama kepercayaan orang sini kan satu jalan, Tuhan, sama, Tuhannya sama. Yang bedanya ya pada waktu kita ibadah, atau kalau kita berdoa di wihara, kalau Islam di masjid. Lain tempatnya tapi kan tujuannya sama, Tuhan." (Wawancara 24 Mei 2015)

Modal sosial dalam agama Islam dan Buddha tentang budaya damai cukup tersedia. Namun, modal sosial berupa budaya bersama juga sangat menonjol. Bahwa meskipun beragama berbeda, masyarakat sangat menjunjung budaya Jawa/Kejawen, dengan mengatakan “karena itu sudah kebiasaan orang tua kami.” ‘Sabuk budaya’ ini bahkan melampaui keberbedaan identitas agama dan lainnya.

Dalam membangun relasi antarumat beragama, umat Islam dan Buddha di Panggang melandaskan pada kebutuhan bersama untuk guyub, hidup rukun. Selain ada landasan perintah teologis untuk hidup bersama dalam damai, masing-masing umat agama terikat kuat dalam 'sabuk budaya' leluhur Jawa, yang bahkan di atas ikatan keagamaan.

Dengan adanya relasi bersifat social bridging, yakni dalam lingkup asosiasional dan quotidian di atas, kedua kelompok umat beragama dapat hidup bersama dalam damai. Social bonding yang dilakukan masing-masing kelompok agama tidak mendorong pada eksklusivisme kelompok, melainkan sebentuk pemerkuatan eksistensi untuk mendukung tujuan bersama yang dicita-citakan. (Kendi Setiawan)